Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 15)


"Melamar? Tapi apakah Oliver tahu? Maaf Tante eh..mommy, aku belum siap menikah." Kata Alexa sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau Oliver memang serius untuk melamar anak kami, maka dia yang harus lebih dulu datang untuk melamar Alexa." Joana tiba-tiba muncul lalu duduk diantara mereka.


Orlando dan Elvira Pregonas menatap Joana.


"Saya Joana Purwanto. Ibu sambungnya Alexa." Joana memperkenalkan diri.


"Oh... begitu. Ibu kandung Alexa kemana?" Tanya Elvira.


"Sudah meninggal sejak Alexa kecil."Jawab Joana.


"Maafkan saya, atas pertanyaan bodoh ini." Kata Elvira.


"Tidak apa-apa. Menyangkut lamaran tuan dan nyonya Pregonas terhadap anak kami Alexa, saya dan suami menyerahkan semuanya pada Alexa. Hanya saja, kami ingin Oliver sendiri yang datang ke sini. Kami tidak suka ada perjodohan dan yang sejenisnya." Kata Joana terus terang.


"Oliver memang pernah terluka. Makanya ia tak percaya lagi dengan cinta. Tapi kami melihat kalau kepada Alexa,anak kami sungguh berbeda. Ia selalu mengirimi bunga, melakukan tindakan konyol dengan menunggu di bandara sambil memegang setangkai bunga, mengelilingi Jakarta hanya untuk mencari boneka terbaik bagi Alexa di hari Valentine. Bahkan coklat yang dia berikan diambil dari 9 negara penghasil coklat terbaik di dunia ini. Dan tindakan paling gila lainnya adalah mengikuti Alexa di hari pertama dia bekerja di maskapai yang lain. Ia tak memperdulikan luka yang dialaminya. Hanya kepada Alexa, anak kami menjadi sangat berbeda dari sifatnya yang asli. Makanya aku dan suamiku datang ke sini untuk melamar Alexa. Kami yakin kalau Oliver tak akan menolaknya." Kata Elvira panjang lebar.


Wajah Alexa menjadi merah saat mendengar kalau orang tua Oliver tahu semua kegilaan yang Oliver lakukan untuknya.


"Saya tahu. Hanya saja, saya takut kalau perasaan Oliver pada Alexa hanya sebuah obsesi karena anak kami sudah menolak Oliver berulang kali." Ujar Joana dengan sangat lembut membuat orang tua Oliver mengerti.


"Ya. Kami juga awalnya sudah memikirkan itu. Kami tak ingin Alexa terluka karena sifat anak kami yang banyak mempermainkan para gadis. Namun kami akhirnya berkesimpulan kalau Oliver pasti jatuh cinta pada Alexa." Orlando akhirnya bicara. Sebagai orang tua, ia sudah meneliti dengan baik, siapa Alexa, dan dia mendapatkan kesimpulan kalau gadis itu memang gadis yang baik.


Joana menatap Alexa. "Bagaimana menurutmu, Eca?"


Alexa menatap mami bulenya. Kemudian kedua orang tua Oliver. Ia dapat melihat kalau tatapan mereka penuh harap kepadanya. Ada rasa tak tega untuk menolaknya.


"Daddy, mommy, berikan aku waktu untuk berbicara dengan Oliver. Aku juga belum tahu bagaimana perasaanku padanya." Alexa berusaha berkata bijak agar tak mengecewakan orang tua Oliver.


Akhirnya, mereka pun pamit dan meninggalkan rumah Alexa.


"Eca, bagaimana tanggapan mu?"


Alexa menggeleng. "Aku nggak suka, Oliver. Sebaiknya aku bicara dengannya." Alexa segera ke kamarnya untuk mandi dan menuju ke kantor Oliver.


*********


Wajah Oliver langsung tersenyum senang saat ia melihat Alexa yang masuk ke ruangannya.


"Hallo sayang, apakah kita akan merayakan hari kasih sayang ini bersama?" tanya Oliver sambil berdiri dari kursi kerjanya dan mendekati Alexa yang duduk di sofa ruangannya.


"Oliver, marilah kita bicara baik-baik." kata Alexa sambil mempersilahkan Oliver duduk di depannya.


"Ada apa?" tanya Oliver. Ia memilih untuk duduk di samping Alexa.


"Tolong, hentikan semua kegilaan mu yang selalu mengirimi aku bunga, menjemput aku di bandara, mengirimiku berbagai macam hadiah. Dan tarik semua bodyguard mu yang sering mengikutiku ke mana-mana. Aku merasa sangat terganggu. Aku merasa tak nyaman dengan semua itu."


"Aku ingin membuatmu senang dengan semua itu."


"Tapi aku nggak senang. Aku justru merasa kalau kau sangat memaksaku untuk menerima semua perhatianmu ini." Kata Elina tegas sambil memandang Oliver dengan tatapan tak suka.


"Alexa....." Oliver berusaha menyentuh tangan Alexa namun gadis itu menepiskannya.


"Hentikan semua ini, Oliver. Kau hanya terobsesi padaku."


Oliver menggeleng. "Aku jatuh cinta padamu, Eca. Selama beberapa bulan ini, aku memang sangat ingin membawamu ke tempat tidurku karena hanya kau yang menolakku. Tapi, semakin hari aku semakin merasa rindu padamu. Aku sering gelisah jika kau pergi mengudara dan cuaca sedang buruk. Aku stres karena tak dapat mengontrol jadwal keberangkatanmu akibat kau sudah tak bekerja di maskapai ini." Oliver meraih tangan Alexa dan digenggamnya erat.


"Selama 6 bulan ini aku tenggelam dalam hasratku untuk memiliki tubuhmu. Namun hari ini aku mengakui, bahwa aku ingin memiliki hatimu."


Alexa memberanikan diri menatap mata bule di depannya. "Aku tak mencintaimu. Aku tak bisa memaksa perasaanku. Oliver, lupakan semua ini. Aku sudah tahu kalau kau pernah terluka di masa lalu. Karena itu jangan pernah lagi membalas dendam atas apa yang pernah membuatmu tak percaya lagi akan adanya cinta. Cinta itu pasti akan hadir. Kau akan mendapatkan gadis yang akan mencintaimu dengan penuh ketulusan. Percayalah." Alexa menarik tangannya dari genggaman Oliver. Ia berdiri dan meraih tasnya yang ada di atas meja.


"Terima kasih untuk semua bunga, boneka dan coklat serta hadiah lainnya yang kau kirimkan untukku. Aku hanya ingin menjadi temanmu. Tidak lebih." Alexa segera melangkah namun Oliver tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Mengapa kau tak percaya padaku, Eca?"


"Karena kau tak membuat dirimu bisa dipercayai oleh orang lain."


Oliver semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya sakit mendengar kata-kata Alexa. Inikah balasan atas semua yang pernah ia lakukan pada semua gadis sebelum Alexa?


"Oliver, please. Let me go!" Alexa melepaskan tangan Oliver yang melingkar di pinggangnya. Ia segera membuka pintu ruangan Oliver dan bergegas pergi.


Oliver terdiam di tempatnya berdiri. Ia merasa bisa menaklukan Alexa dengan semua perhatian dan hadiah yang dia kirimkan. Oliver sungguh-sungguh saat mengatakan kalau ia ingin memenangkan hati Alexa.


Kemarin, Kevin menyadarkannya bahwa semua yang ia lakukan untuk Alexa adalah sebuah perasaan cinta. Oliver selalu merindukan Alexa. Ia sangat bersemangat setiap kali menjemput Alexa di bandara. Walaupun Alexa tak pernah menyambutnya dengan senyum manis namun hatinya selalu bergetar setiap kali mereka duduk bersama di mobil Oliver.


"Tuan.....!" panggil Kevin.


Oliver masih berdiri di tempatnya yang tadi saat Alexa meninggalkannya. "Ada apa, Kev?"


"Ini sudah jam makan siang? Mau makan siang di sini atau aku pesankan tempat di sebuah restoran?"


"Aku tak lapar." Oliver berjalan kembali ke tempat duduknya. Ia menghempaskan pantatnya di atas kursi sambil menarik napas panjang beberapa kali.


"Ada apa, tuan?"


Oliver tersenyum sumbang. "Alexa menolakku."


"Bukankah tuan sudah selalu ditolak olehnya?"


"Itu sebelum aku menyadari kalau aku mencintainya." Oliver menyandarkan punggungnya sambil kedua tangannya memijat kepalanya.


"Kalau memang tuan mencintainya, kenapa tak mengejar dia terus?"


"Alexa mengatakan kalau ia tersiksa dengan perhatianku. Mungkin dia juga muak."


"Jadi tuan akan berhenti?"


Oliver mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku tak ingin Alexa membenciku."


Oliver menggeleng. "Aku butuh Russo Baltique Vodka."


"Betapa banyak?"


"Sampai kita berdua tak bisa bangun lagi karena terlalu mabuk."


Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Minuman yang baru saja Oliver sebutkan adalah salah satu minuman beralkohol termahal di dunia. Dan Oliver pasti akan menghabiskannya. Sungguh, bosnya ini sudah jatuh cinta.


"Menurut mu, apakah Alexa sama sekali tak ada hati padaku? 6 bulan aku mengejarnya seperti orang gila. Sering meninggalkan rapat penting saat harus menjemputnya di bandara. Apakah tak ada suatu rasa walaupun hanya kecil di hatinya?"


"Cari tahu sendiri saja, tuan."


"Bagaimana mau cari tahu kalau dia sudah melarang aku mendekatinya?"


Kevin tersenyum sedikit mengejek. "Masakan seorang Casanova kehilangan akal untuk menaklukan cewek?"


Oliver menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap foto Alexa yang selalu menghiasi layar depan ponselnya. Eca, kau membuat aku patah hati untuk yang kedua kalinya.


*******


"Alexa, kamu akan segera pulang? Nggak ingin ikut dengan kita ke pub?" Tanya Susan, teman pramugarinya. Mereka baru saja tiba dari penerbangan Istanbul-Jakarta.


"Nggak. Aku capek banget. Ingin langsung mandi dan tidur. Soalnya besok siang aku akan terbang ke Bangkok."


Keduanya mendekati pintu keluar.


"Eh, tumben pacarmu si sultan Pregonas nggak jemput. Sibuk ya?" Tanya Susan.


Alexa melihat pintu tempat Oliver biasa berdiri dan menunggunya dengan setangkai bunga mawar, terlihat sepi. Tak ada lagi senyum menawan cowok itu yang membuat teman-teman Alexa menggodanya.


"Oliver sibukkah?" Susan sangat penasaran.


"Kami sudah putus." Eh, memangnya sejak kapan jadian? Alexa heran dengan jawaban yang ia berikan.


"Sayang sekali. Pada hal dia sangat manis. Aku sering bilang pada pacarku, coba sesekali datang ke bandara dan jemput aku kayak, Oliver. Duh, dia terlihat sangat manis dengan bunga mawar di tangannya. Aku melihat bagaimana matanya selalu bersinar setiap kali melihatmu. Makanya, aku nggak percaya saat ada yang bilang kalau cowok itu play boy."


Alexa merasakan ada sesuatu yang mengusik hatinya mendengar kata-kata sahabatnya itu. Namun Alexa buru-buru menepisnya. Bukankah itu yang dia inginkan? Oliver tak akan pernah muncul di bandara setiap kaki ia selesai bekerja.


Saat sampai ke rumah, Alexa melirik vas bunga yang ada di dekat tangga. Biasanya bunga pemberian Oliver ada di sana. Dengan cepat Alexa menaiki tangga. Ia ingin mandi dan segera tidur. Karena ia memang merasa sangat lelah.


Saat ia memasuki kamarnya, ia melihat boneka pemberian Oliver masih ada di atas rak bukunya. Alexa dengan cepat mengambil boneka-boneka itu dan memasukannya ke dalam walk in closet.


*******


1 bulan telah berlalu......


Alexa merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Apakah karena ia tak pernah lagi menerima kiriman bunga dari Oliver. Ataukah karena ia tak pernah lagi melihat Oliver berdiri di depan pintu keluar bandara untuk menjemputnya?


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Ini tidak mungkin. Aku harus mencari lelaki yang sesuai dengan kriteriaku." Dengan cepat Alexa mendorong kopernya keluar kamar. Hari ini, ia ada penerbangan ke Seoul. Mereka akan transit di Singapura sebelum kembali terbang ke Seoul. Di sana, Alexa akan tidur satu malam, nanti lusa ia akan kembali ke Jakarta.


Saat ia menuruni tangga, dilihatnya kalau di ruang tamu, papa Aldo sedang berbincang dengan seorang pria. Alexa melihat kalau pria itu masih muda dan wajahnya tampan Indonesia.


"Siapa, mi?" tanya Alexa pada Joana yang sedang mengatur makan siang.


"Namanya Hardiansa Putra Pratama. CEO PT. Langit Pratama."


"Anak om Hari Pratama?"


"Eca mengenalnya?"


"Waktu Eca kecil mereka sering main ke sini. Mamanya sahabat baik mama Finly. Setahu aku sejak SMP kak Hardi sudah sekolah di luar negeri."


Tepat di saat itu Aldo dan Hardi memasuki ruang makan. Saat melihat Alexa, ia langsung tersenyum. "Eca, kau sungguh cantik. Aku melihat beritamu di internet dan TV. Kau salah satu pramugari terbaik di negara ini."


"Apa kabar, kak?" tanya Alexa sedikit tersipu mendapatkan pujian dari Hardi.


"Seperti yang kau lihat, aku sehat, lebih tinggi darimu dan masih jomblo."


Alexa tertawa. Hardi masih seperti dulu. Hangat dan asyik di ajak mengobrol. Mereka pun makan siang bersama. Setelah itu Alexa dan Hardi saling tukar nomor telepon. Hardi bahkan mengantarkan Alexa ke bandara.


*******


Penerbangan ke Seoul dijadwalkan jam 4 sore. Alexa seperti biasa bertugas di kelas bisnis. Untungnya pesawat ini tak bertingkat dua. Jadi Alexa tak akan merasa lelah untuk naik turun tangga.


Seorang wanita tua berusia sekitar 70an kebingungan membawa barangnya dan tak tahu akan duduk di mana. Alexa menolongnya. Wanita itu sangat cerewet dan sedikit pemarah namun Alexa berusaha menghadapinya dengan sabar.


Saat ia selesai menolong wanita itu, Alexa segera berbalik dan akan melayani penumpang yang lain. Alexa merasakan kalau lututnya menjadi goyah saat melihat pria bule yang berdiri diantara tirai pembatas kelas bisnis dan kelas ekonomi.


Oliver? Jantung Alexa seakan hendak melompat dari tempatnya. Ia tersenyum. Hendak menyapa Oliver, namun seorang gadis bule tiba-tiba muncul. Ia sangat cantik dan seksi. Ia segera menggandeng lengan Oliver..


"Honey, where do we sit?" tanyanya manja.


"we will ask the steward." Keduanya melangkah mendekati Alexa. "Numbers 3a and 3b, please." Ujar Oliver.


Alexa terkejut. Mereka bagaikan dua orang tak saling mengenal. Namun Alexa tersenyum walaupun ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ia dengan manis menunjukan tempat duduk Oliver dan gadis itu. Lalu dengan cepat ia pergi ke bagian galley. Kenapa mereka harus berada di pesawat ini?


Pesawat akhirnya take off dengan sempurna. Alexa ingin meminta gantian dengan temannya. Namun akhirnya ia memutuskan untuk tetap ada di sini. Ia akan menunjukan pada Oliver kalau dia baik-baik saja.


Ayo...siapakah yang telah bucin duluan? Bagaimana juga perjalanan ke Seoul akan dilalui oleh Alexa?


Dukung emak ya guys...


maaf kalau di mata kalian emak lambat untuk up. Emak juga kan punya pekerjaan di dunia nyata. Tapi semua novel emak pasti tamat.


Happy reading aja ya