Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 12)


Senyum ramah Alexa menyapa para penumpang yang mulai menaiki pesawat. Ia dan beberapa pramugari lainnya membantu para penumpang menuju ke kursi mereka dan membantu mereka mengatur barang-barang lainnya mereka.


Tak lama kemudian pesawat pun meninggalkan bandara. Penerbangan yang akan memakan waktu 7 jam lebih ini justru membuat Alexa bersemangat. Ada 4 pramugari dan 1 pramugara yang bertugas saat ini.


Saat lampu tanda penggunaan sabuk pengaman dimatikan, Alexa segera bergabung dengan yang lain untuk menyiapkan makan malam bagi para penumpang.


"Alexa, kamu saja yang bertugas di kelas satu ya? Penumpangnya hanya 5 orang." Kata Indah, pramugari senior di maskapai ini. Seorang ibu beranak 2 yang masih terlihat cantik diusianya yang hampir mencapai kepala empat.


"Baik, bu." Ujar Alexa. Ia pun segera naik ke lantai dua pesawat ini. Menyiapkan makanan khusus penumpang kelas satu.


Dengan senyum ramah dan sikap yang sangat lembut, Alexa mulai membawakan makanan dan minuman bagi para penumpang.


"Kamu Alexa Purwanto kan? Pramugari yang mendapatkan penghargaan karena menyelamatkan seorang ibu yang melahirkan di pesawat?" Seorang nyonya langsung berdiri saat Alexa berdiri di samping kursinya.


Alexa hanya mengangguk sambil tersenyum kepalanya.


"Duh senangnya aku bisa bertemu langsung denganmu." Nyonya itu memegang tangan Alexa ia menatap suaminya yang sedang menatap Alexa juga sambil tersenyum. Pasangan suami istri ini kelihatan berusia sekitar 50-an tahun.


"Tapi kenapa kamu bekerja di maskapai ini? Bukankah kamu bekerja di maskapai sebelah?" Tanya nyonya itu tanpa melepaskan pegangan tangannya.


"Aku hanya ingin mencari pengalaman baru saja." Jawab Alexa tanpa melepaskan senyumnya.


"Kita foto bersama ya? Bolehkan? Sayang, tolong ambil ponselku dan foto kami."


Suami wanita itu mengambil ponsel istrinya dari dalam tas lalu segera mengambil beberapa gambar.


"Kamu sangat baik hati. Sudah punya pacar, belum? Anakku seorang laki-laki. Usianya sudah 26 tahun. Bolehkan aku mengenalkannya denganmu. Kebetulan ia ada di Tokyo untuk urusan bisnis. Bolehkah aku meminta nomor ....."


"Honey......!"


Kalimat wanita itu terhenti. Ia dan Alexa sama-sama menoleh ke depan. Jantung Alexa rasanya mau copot melihat siapa yang berdiri di sana.


Oliver mendekat dengan senyum manisnya yang membuat Alexa ingin saat itu juga terjun dari atas pesawat.


"Aku sudah lapar namun kau begitu lama sampai di kursiku. Apa kabar nyonya Surya?" Sapa Oliver bersahaja.


"Oliverio...!" Suami nyonya itu langsung berdiri melihat Oliver.


"Apa kabar tuan, Surya. Senang bertemu denganmu."


Surya merasa senang karena perusahaannya sedang melaksanakan kerja sama dengan peusahaan milik Oliver.


"Apakah kalian sudah mendapat layanan makan dan minum? Kalau sudah, bolehkah aku meminta kekasihku untuk melayani aku dulu? Aku sudah sangat lapar." Oliver berkata dengan penuh wibawa. Ia tak memperdulikan mata Alexa yang melotot kepadanya.


"Aku bukan...." Alexa ingin mengatakan kebenarannya tapi Surya tiba-tiba memotong ucapannya.


"Tentu saja tuan Oliverio. Istriku, ayo duduk!" Surya menarik tangan istrinya.


"Sayang, cepatlah. Aku sangat lapar!" Oliver melangkah lebih dulu. Alexa mendorong meja yang berisi makanan ke deretan kursi paling depan. Oliver duduk agak jauh dari penumpang yang lain.


"Anda mau makan apa, tuan? Ayam atau daging sapi?" tanya Alexa berusaha bersikap profesional sekalipun hatinya sangat kesal.


Oliver memandang Alexa dengan sangat dalam. Alexa bahkan harus memalingkan wajahnya saat bertatapan dengan mata abu-abu milik Oliver.


"Haruskah kau bersikap sangat formal padaku setelah kau membuat aku hampir mati kedinginan karena selama tiga jam lebih harus telanjang di kamar yang dingin?" Tanya Oliver sambil terus menatap Alexa dengan tajam.


"Minuman apa yang anda pilih? Kopi, teh, air mineral atau anggur?" Tanya Alexa tanpa memperdulikan perkataan Oliver.


Oliver tersenyum tipis. "Daging sapi dan anggur."


Alexa menarik meja yang ada di depan kursi Oliver. Ia menaruh semua pesanan Oliver di situ. Saat ia menunduk, Oliver dengan cepat memberikan ciuman di pipi Alexa membuat wajah gadis itu menjadi panas. Hampir saja tangannya melayang untuk menampar cowok yang dianggapnya sangat kurang ajar itu. Namun Alexa menahan dirinya. Ini adalah hari pertama ia kerja. Ia tak mau ada penumpang yang mengeluh.


"Silahkan menikmati tuan...!" Kata Alexa lalu segera meninggalkan Oliver. Ia ingin segera sampai di galley.


Ya Tuhan, kapan aku harus bebas dari pria gila itu? Maunya apa, sih?


Indah menemui Alexa. "Bagaimana semuanya? Aman?"


"Aman, bu. Penumpang nya kan hanya 5 orang."


"Kamu nggak apa-apakan bertugas di atas sini sendiri? Alvina tiba-tiba saja pusing. Miranda sedang menemaninya. Sepertinya dia hamil. Maklumlah, Alvina baru menikah 2 bulan yang lalu."


"Oh, begitu ya. Nggak apa-apa. Aku bisa sendiri." Alexa sebenarnya ingin minta bergantian dengan pramugari yang lain. Ia merasa malas harus melayani Oliver. Namun mendengar kalau ada pramugari yang sakit, Alexa mengurungkan niatnya.


"Nanti jika kau mau istirahat, ibu akan datang untuk menggantikanmu. Layani penumpang dengan baik, ya?"


"Siap, bu!" Alexa memberi hormat pada seniornya itu sebelum perempuan itu turun.


Baru saja Alexa akan duduk, ia melihat lampu nomor 1A menyala. Itu adalah tempat duduk Oliver. Mau apa lagi dia?


Ia pun sampai di samping Oliver. "Anda perlu sesuatu, tuan?"


"Ya. Aku mau air mineral."


Alexa pun mengambil pesanan Oliver. Tak sampai satu jam, Oliver kembali memanggil Alexa. Ia minta selimut.


Alexa pun mengambilkan selimut.


"Tolong dipakaikan aku merasa dingin." Kata Oliver.


"Kamu nggak punya ta...."


"Please.....!" mohon Oliver. Alexa melihat mata Oliver sedikit merah dan agak berair. Apakah dia sakit?


Alexa pun membuka selimut berwarna coklat itu dan menyelimuti tubuh Oliver. Sandaran kursinya sudah dibuat agak ke belakang. Alexa menarik tempat kaki yang ada di bawa kursi. Saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Oliver, ia merasakan kalau tangan pria itu sangat dingin.


"Anda sakit, tuan?" tanya Alexa. Bagaimanapun ia adalah pramugari yang harus menjaga kenyaman penumpangnya. Apalagi ini penumpang kelas satu.


"Hanya sedikit merasa dingin." Jawab Oliver sambil memejamkan matanya.


"Anda sebaiknya beristirahat." Alexa akan pergi namun Oliver menahan tangannya. "Please jangan pergi!"


"Tapi aku harus kerja!" Alexa melihat para penumpang sudah tertidur semuanya sehingga ruangan kabin agak remang cahayanya.


"Sebentar saja....!"


"Aku akan mencari obat untukmu. Nanti aku kembali lagi!"


Alexa turun ke bawa mencari Ibu Indah.


"Bu, salah satu penumpang di kelas satu mengalami demam. Badannya menggigil. Apakah ada obat untuknya?"


"Ayo kita memeriksanya." Ajak Indah.


Mereka pun tiba di kursinya Oliver. Terlihat cowok itu sedang mengigil.


"Tuan Oliverio? Anda sakit?" Indah terlihat sangat terkejut. Alexa pun mengomel dalam hati. Kok semua orang mengenal dia, sih?


"Kalian....oh...aku mengerti." Indah tersenyum. Pantas saja asistennya Oliver menghubungi dia kemarin menanyakan tentang jadwal Alexa dan meminta nya supaya Alexa ditempatkan di kelas satu. Suami Indah yang merupakan salah satu maneger di anak perusahaan milik Oliver yang bergerak di bidang alat kesehatan tentu saja membuat Indah harus taat dan patuh selama tak menyalahi aturan maskapai.


"Aku tidak.....!"


"Kau diberikan ijin untuk menjaga pacarmu. Lagi pula penumpang yang lain masih tidur. Jika sudah waktunya untuk diberikan sarapan pagi, nanti aku juga akan naik ke sini. Alexa, tolong buatkan saja teh hijau untuk tuan Oliverio."


Alexa ingin berteriak karena kesalnya. Oliver berhasil membuat semua orang yakin kalau mereka ada hubungan.


"Terima kasih untuk semuanya, nyonya Indah. Aku pastikan kalau suamimu akan naik pangkat dalam waktu dekat ini." Kata Oliver saat Alexa pergi.


"Terima kasih, tuan." Indah tersenyum senang. Ia tak mengira kalau bantuan kecil yang ia berikan akan berbuah manis bagi karir suaminya.


Saat Alexa kembali, Indah segera meninggalkan mereka berdua sambil memeriksa penumpang yang lain apakah membutuhkan bantuan atau tidak. Untunglah, empat penumpang lainnya sedang tertidur dengan pulas.


"Minumlah!" Alexa menyodorkan cangkir yang berisi teh hangat.


"Aku kedinginan, Alexa. Bagaimana mungkin aku bisa meminumnya. Kau yang harus menyuapi aku."


"Modus!" Cicit Alexa namun tangannya bergerak juga mengambil sendok dan menyuapi Oliver sedikit demi sedikit.


"Aow....ini panas, Eca!" Keluh Oliver.


Hati Alexa selalu teringat pada orang-orang di rumahnya saat mendengar panggilan 'Eca'.


Alexa pun meniupnya.


Oliver menghabiskan semua teh yang dibuat oleh Alexa.


"Tolong matikan saja AC nya."


Alexa berdiri dan menutup lubang angin yang ada. Saat ia duduk kembali, Oliver mengambil tangan Alexa dan menggengamnya erat.


"Tanganmu hangat!" Kata Oliver sambil terus menahan tangan Alexa yang berusaha di lepaskan oleh gadis itu. Lalu kepala Oliver disandarkannya di bahu Alexa.


"Biarkan aku tertidur sebentar karena aku memang kurang tidur selama 2 hari ini." kata Oliver lemah.


Mencari kesempatan dalam kesempitan. Duh, kalau nggak mengingat ini hari pertamaku kerja, aku ingin sekali menendangmu sampai jatuh dari kursimu ini.


Oliver akhirnya tertidur. Perlahan Alexa kembali ke galley untuk menyiapkan sarapan karena pesawat 2 jam lagi akan mendarat.


Saat pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di bandara Tokyo, Alexa pun menarik napas lega. Ia akhirnya bisa terbebas dari Oliver.


Satu persatu penumpang turun sambil membawa barang bawaan mereka. Di pintu keluar, pilot dan pramugari berdiri. Oliver keluar paling belakangan. Wajahnya terlihat sedikit pucat.


Alexa tersenyum padanya seperti pada penumpang yang lain.


"Sayang, aku tunggu di tempat parkir ya?" bisik Oliver sebelum turun.


Alexa menjadi merah karena semua mata tertuju padanya.


"Kakak, pacarmu itu Oliverio Pregonas kan?" bisik Bobby si pramugara. "Kau beruntung sekali ya."


Rasanya aku ingin menenggelamkan si Oliver di danau yang dingin.Biar saja dia mati beku di sana. Umpat Alexa dalam hati.


Setelah menyelesaikan semua urusannya. Alexa dan rombongan akan menuju ke hotel untuk beristirahat. Sekarang ini di Tokyo baru jam Setengah sembilan pagi dan Alexa merasa punya banyak waktu untuk jalan-jalan di kota Tokyo. Ia akan kembali terbang ke Hong Kong, besok jam 5 pagi.


Ternyata Alexa mendapat teman sekamar dengan ibu Indah. Saat mereka akan masuk ke mobil jemputan perusahaan, sebuah mobil Hammer hitam berhenti di depan mereka. Seorang lelaki berseragam hitam langsung membuka pintu penumpang. Nampak Oliver sedang bersandar masih dengan wajah pucatnya.


"Pergilah, Alexa. Pacarmu membutuhkan kamu." Kata Indah.


"Tapi, bu."


"Kamu sudah tahu alamat hotel dan nomor ponsel saya. Nomor kamarnya juga kamu sudah tahu. Temanilah dulu tuan Oliverio." Indah sedikit mendorong Alexa agar masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau apa, sih?" Tanya Alexa kesal saat mobil sudah berjalan.


"Aku hanya ingin kau menemaniku ke rumah sakit. Aku harus memeriksakan diri. Aku tak percaya orang lain. Hanya kamu."


"Tapi aku kan sudah berulang kami mengerjaimu."


Oliver tersenyum. "Aku tetap percaya."


Alexa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia diam, duduk sambil melipat tangannya di dada.


Mereka tiba di sebuah rumah sakit yang mewah. Saat Oliver diperiksa, ponsel Alexa berbunyi. Ternyata Kevin yang meneleponnya.


"Ada apa, Kevin?"


"Tuan sakit ya? Kenapa GPS ponselnya menunjukan kalau kalian ada di rumah sakit?"


"Ya. Di pesawat ia mengalami demam. Sekarang dokter sedang memeriksanya."


"Tubuhnya masih lemah karena ia mengalami sakit akibat tubuhnya masuk angin terkunci di ruangan yang sangat dingin tanpa baju. Tuan memang alergi udara dingin.Makanya ia akan datang ke Indonesia jika di Madrid sedang musim dingin. Mungkin tuan juga kelelahan. Karena dia ingin sekali naik pesawat pesawat bersamamu, tuan rela tak tidur selama 2 hari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Nona, aku mohon, temani tuan ya?"


"Mengapa harus aku?"


"Karena dia tak mudah percaya pada orang lain."


"Tapikan aku sudah beberapa kali menipunya."


"Dia tetap percaya kau tak akan menyakitinya. Terima kasih untuk kebaikan hatimu." Kevin mengahiri panggilan telepon. Alexa menatap pintu ruangan dokter yang masih tertutup..


Benarkah ia sakit akibat perbuatanku di hotel Lombok? Dan kenapa juga ia harus bergadang selama 2 hari untuk bisa satu pesawat denganku? Dia sungguh orang gila.


Pintu ruangan praktek dokter terbuka. Oliver keluar.


"Aku lapar. Temani aku ya?"


"Tapi aku......!"


"Ayolah, Eca. Aku sangat membutuhkan bantuan mu. Anggaplah sebagai penebusan dosamu karena hampir membuat aku mati kedinginan tanpa pakaian."


Alexa teringat kata-kata Kevin. Dia akhirnya mengalah. Ia pun menemani Oliver untuk makan. Ia juga tahu di pesawat tadi Oliver tak sarapan karena ia masih tertidur.


Jam 2 siang, Alexa dan Oliver tiba di hotel. Alexa pun jadi kesal saat tahu kalau Oliver satu hotel dengannya. Namun untunglah kamar mereka tak berdekatan. Alexa di lantai 3 sementara Oliver di lantai 10. Sesampai di kamar Alexa langsung mandi dan tidur. Ia merasa sangat lelah.


Jam setengah lima, Alexa bangun. Ibu Indah sedang keluar. Ia menulis pesan kalau temannya menjemput dia. Alexa pun ingat kalau ia punya teman di Tokyo. Teman kuliahnya yang bernama Inaya. Ia menikah dengan orang Jepang dan menetap di Gokyo. Temannya itu memiliki sebuah rumah makan mie yang sangat enak. Ia pernah sekali pergi ke sana saat datang ke Tokyo setahun yang lalu.


Setelah ganti pakaian dan memesan taxi, Alexa pun pergi ke alamat yang dimaksud. Hari hampir gelap saat Alexa tiba di sana. Ternyata rumah makan mie Inaya sudah pindah. Alexa pun memutuskan untuk pulang. Saat berjalan menyusuri lorong untuk bisa sampai ke jalan besar dan mendapatkan taxi, Alexa merasa ada beberapa lelaki yang mengikutinya. Jantung Alexa berdetak sangat cepat saat ia dihadang oleh mereka. Dalam hati Alexa menghitung. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Astaga, mereka ada enam orang. Mampukah aku menghadapi mereka?


Apa yang akan terjadi pada Alexa??


Dukung emak terus ya guys....