Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Ketulusan Juan


Mata Joana langsung menangkap sebuah undangan berwarna gold yang terletak di atas meja makan.


Hari ini, Joana datang ke rumah Aldo karena rindu dengan Alexa. Namun gadis kecil itu ternyata menginap di apartemen Finly.


Tangan Joana meraih undangan itu. Ia terkejut melihat ada nama Finly dan Juan di sana.


Tak sabar Joana membuka undangan itu.


"Kau mau pergi denganku?" Tanya Aldo yang entah dari mana sudah memeluk Joana dari belakang.


Joana berbalik. "Apa benar Finly akan menikah?"


"Iya. Juan adalah mantan pacarnya." Jawab Aldo tanpa melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang ramping Joana.


"Tidakkah kau merasa ingin sangat aneh?"


"Apanya yang aneh?"


"Kenapa Finly tiba-tiba ingin menikah lagi pada hal ia sedang sakit? Bukankah selama ini ia selalu mengatakan akan fokus pada pengobatan nya dan menikmati hari-harinya bersama Alexa?"


Aldo tersenyum kecut. "Finly tahu menghargai perasaan Juan yang mencintainya. Finly membuka hatinya kembali untuk merasakan kebahagiaan bersama Juan walaupun mungkin waktunya tak banyak. Sementara ada orang lain yang terlalu lama membuatku menunggu tanpa ada kepastian. Membuatku sering bertanya, tak pantaskah aku bahagia setelah patah hati dihianati oleh mantan istriku?"


Joana memegan pipi Aldo dengan kedua tangannya. "Aku takut tak bisa membahagiakanmu. Aku takut jika cintamu padaku hanyalah sebagai pelarian mengingat kau sudah mencintai Finly sejak kecil. Apakah cinta itu begitu cepat pergi?"


Aldo memegang kedua tangan Finly yang masih memegang pipinya. "Dulu, aku begitu takut meninggalkan Finly karena merasa tak akan bisa melepaskan cinta terbesar dalam hidupku. Namun, sejak kehadiranmu, semuanya berubah. Perkenalan singkat kita perlahan menumbuhkan cinta baru dalam hidupku. Aku awalnya berpikir rasa ini tumbuh karena kau sangat menyayangi Alexa. Namun akhirnya aku tahu, aku menginginkanmu bukan sekedar agar Alexa memiliki ibu. Namun aku menginginkanmu untuk menjadi wanita yang akan menemaniku sampai akhir hidupku."


"Benarlah?"


"Tuhan akan menghukumku jika ternyata aku berkata bohong tentang perasaanku sendiri."


Joana langsung mencium bibir Aldo dengan perasaan bahagia. Air matanya bahkan mengalir tanpa bisa ditahannya. Keduanya berciuman sangat mesra sampai akhirnya larut dalam gairah karena sadar, sudah 2 minggu ini mereka saling diam.


Aldo menaikan tubuh Joana di atas meja makan. Ia memposisikan dirinya diantara kaki perempuan bule itu. Cumbuannya semakin panas.


"Hareudang....hareundang....!" Giani tiba-tiba muncul sambil bersenandung membuat Joana dengan cepat mendorong tubuh Aldo dan membuat duda keren itu terpental ke belakang.


Joana turun dari meja dan memperbaiki gaunnya yang sudah sangat berantakan. Wajah Joana menjadi semakin merah karena menyadari bahwa Giani tak datang sendiri karena ada Jeronimo yang berdiri di belakangnya. Dasar bule bucin. Kemana Giani pergi, dia pasti akan ikut.


"Gi, kok datang nggak bilang-bilang sih?" Tanya Aldo sambil berusaha memasang wajah manisnya. Pada hal dalam hatinya ia malu karena adiknya melihat bagaimana liarnya ia dan Joana.


"Apakah aku perlu ijin untuk datang ke sini?" Giani menjadi bingung.


"Bukan.., maksudku.., duh...aku mau ngomong apa ya?" Aldo menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalian tenang aja. Nggak perlu gugup begitu. Aku dan Giani sudah pernah melakukan yang seperti itu. Bahkan kami lebih ekstrim lagi karena pernah melakukannya di dalam danau, di taman belakang dan di sofa kan.....aow...Mel sayang ini sakit....!" Jerit Jero saat Giani mencubit pinggangnya dengan sangat keras.


"Bisakah kau tak bermulut ember, Bee?" Giani menatap suaminya tajam. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Aldo dan Joana. "Kalian jangan percaya pada kata-katanya. Dia suka menghayal bercinta denganku di danau, di taman dan diruangan kantornya." Setelah berkata demikian, Giani tersenyum. "Kak, aku ke sini untuk mengambil beberapa gaunku yang sudah tidak pernah ku pakai lagi untuk disumbangkan pada korban banjir. Bolehkan?"


"Masuklah, Gi. Rumah ini selalu kangen padamu."


Giani menatap suaminya. "Ayo ikut!"


Jero mengangguk pasrah. Ia berjalan di belakang istrinya. "Sayang, kok kamu menyangkali semua yang sudah kita lakukan sih?" tanya Jero setengah berbisik.


"Kamu mau kakakku murka saat tahu kalau adiknya yang polos ini sudah menjadi liar karena ulahmu? Apakah kamu tak tahu kalau kak Aldo pernah juara karate se DKI Jakarta waktu ia mahasiswa?"


Giliran Jero yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa hubungannya ya? Toh mereka juga sudah menikah. Suka-suka mereka dong mau melakukan apa saja saat bercinta.


Sementara itu, Aldo memandang Joana ketika Giani dan Jero menghilang dibalik dinding.


"Aku yakin kalau apa yang dikatakan Jero benar. Aku hanya heran saja. kenapa ya Giani yang polos itu bisa berubah. Siapa yang sudah mengajarinya?"


"Aku."


"Oh ya? Lalu kenapa kau tak pernah mengajarinya padaku?" Aldo mendekati Joana dengan gaya yang sensual.


Joana tersenyum. "Kau tak perlu diajari karena kau lebih mahir dari padaku."


Aldo tertawa. Ia memeluk Joana dengan perasan bahagia. Tak sabar rasanya ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya.


"Aldo, bisakah kita menikah akhir pekan ini?" Tanya Joana saat Giani dan Jero sudah pergi.


"Menikahi sekarang ini pun aku siap."


"Kita saksikan dulu hari bahagia Finly dan Juan besok. Ok?"


"Sayang, kau bukan hanya cantik di wajah tapi juga cantik di hati. Aku semakin tak sabar menjadikanmu nyonya Geraldo Purwanto."


********


Semua yang hadir di pesta itu tahu kalau Finly sakit. Juan memutuskan untuk mengatakan pada keluarga Finly namun memohon agar mereka tetap bersikap biasa saja agar Finly tak merasa dikasihani.


Pesta pernikahan itu memang hanya dihadari oleh keluarga kedua belah pihak dan beberapa petinggi di perusahaan Juan.


Mama Sinta berusaha menahan air matanya. Sebagai ibu, dia hancur mengetahui keadaan anaknya. Namun di satu sisi, ia merasa senang karena Juan mau menikahi Finly sekalipun tahu kalau ia sakit.


Alexa juga nampak cantik dengan gaun putih dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya. Gaun yang ia pakai sama persis modelnya dengan gaun yang dipakai oleh Finly. Ia selalu mengatakan kalau dirinya adalah pengantin kecil.


Saat mereka sudah tiba di depan rumah, Finly langsung di gendong oleh Juan ala bridal style. Keduanya saling berciuman sampai akhirnya tiba di kamar Juan yang ada di lantai 2.


Perlahan Juan menurunkan tubuh Finly. Ia membantu istrinya itu melepaskan gaun pengantinnya.


"Juan...!" Finly merasa bulu kuduknya berdiri saat Juan memberikan kecupan-kecupan manis di leher Finly.


"Mhmmm!" Guman Juan tanpa menghentikan kegiatannya.


"A-aku mau mandi dulu. Rasanya badanku agak gerah dan sedikit lengket." Ujar Finly sambil menahan ujung gaunnya agar tidak jatuh.


"Kamu harum kok sayang..."


Finly maju beberapa langkah lalu berbalik menatap lelaki yang kini menjadi suaminya.


"A-aku tetap akan mandi!" Finly segera menuju ke sebuah pintu kaca yang ia yakini kalau itu adalah kamar mandi. Setelah membuka pintu itu, Finly menutupnya kembali. Ia membuka gaun pengantinya dan menggantungnya di tempat gantung baju yang memang ada di sana. Setelah semua yang menutup tubuhnya sudah dilepaskan, ia menatap tubuh polosnya pada kaca besar yang memang ada di sana. Sejak ia menjalani terapi pengobatan, tubuhnya semakin kurus dan kurus saja. Finly jadi tak berani tampil seksi dan menggoda Juan seperti dulu. Ia sungguh tak percaya diri.


Dulu, ketika Juan pertama kali merebut mahkotanya, Juan sangat memuja bentuk tubuh Finly yang nyaris sempurna baik bentuk maupun kulit tubuhnya yang putih mulus.


Kini, beberapa bagian tubuh Finly ada memar. Kulitnya jadi mudah memar karena pengaruh sakitnya.


"Sayang...., jangan lama-lama mandinya. Ini sudah jam 10 malam." Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Iya." Jawab Finly lalu segera menyalahkan shower dan membiarkan air hangat itu membasahi tubuhnya.


Selesai Finly mandi, ia keluar dari kamar mandi menggunakan jubah handuk yang memang tersedia di kamar mandi. Wajah Finly langsung bersemu merah saat melihat Juan yang sudah membuka bajunya dan hanya menyediakan boxer hitamnya. Perempuan itu buru-buru mengalihkan pandangannya. Saat ia melangkah ke walk in closet, ia baru ingat kalau tak ada bajunya di dalam sana.


"Ada apa, sayang?" Tanya Juan melihat Finly hanya berdiri di depan walk in closet tanpa bergerak.


"Bajuku masih di apartemenku."


"Memangnya kamu memerlukan baju malam ini?" Tanya Juan lalu melangkah ke kamar mandi. Lelaki itu menahan senyum melihat Finly nampak salah tingkah. Hallo..., bukankah mereka sudah pernah menyatu bertahun-tahun yang lalu? Haruskah Finly segugup ini?


Tak sampai 10 menit, Juan keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk putih yang melilit pinggang kokohnya. Di lihatnya Finly sudah memakai kaos miliknya dan celana pendek yang biasa ia pakai untuk olahraga.


"Boleh aku meminjamnya?" Tanya Finly dengan wajah malu.


Juan mendekati Finly. Ia berjongkok di hadapan Finly. Memposisikan dirinya diantara kaki Finly.


"Kamu capek?" tanya Juan sambil memegang tangan Finly.


"Sedikit."


"Tidurlah. Aku memang begitu ingin menyentuhmu. Namun aku tak akan memaksa jika kau merasa tak nyaman. Kita masih punya banyak malam untuk kita lewati."


Finly mengangguk. Ia langsung berdiri dan bermaksud akan ke tempat tidur, tapi ia tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Juan yang baru saja berdiri dan sedang memunggunginya. Finly membuka kaos dan celana Juan yang dipakainya.


"Juan....!" panggilnya pelan.


Juan membalikan badannya. Ia langsung menelan ludahnya melihar tubuh polos Finly.


"Apakah kau masih bergairah melihatku yang sekarang? Aku kurus, beberapa bagian tubuhku mengalami memar. Tak ada lagi Finly yang seksi dengan kulit putih mulus yang selalu kau gilai dariku."


Juan tersenyum. Ia mendekati Finly lalu melepaskan handuk putih yang melilit pinggangnya. "Kau lihat? Dia bahkan sudah berdiri hanya dengan melihatmu. Bagaimana mungkin kau berpikir bahwa aku tak akan bergairah melihatmu seperti ini?


"Juan, kamu tidak menipumu kan? Kamu tidak kasihan padaku, kan?"


"Kenapa aku harus kasihan padamu kalau aku bisa mencintaimu dengan sepenuh hati? Gairah itu bukan karena kita sudah melihat badan mulus yang seksi. Tapi karena kita ingin berbagi kasih dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Berhentilah merasa kalau dirimu buruk, sayang."


Air mata Finly langsung jatuh. Ia berjalan mendekat, lalu memeluk Juan dengan perasan yang sangat bahagia. Juan mengangkat tubuh Finly menuju ke ranjang pengantin mereka. Mereka sudah siap memulai malam yang panjang dan penuh gairah.


*********


Pernikahan Aldo dan Joana dilaksanakan 3 hari sesudah pernikahan Juan dan Finly. Pasangan itu pun hadir.


Giani tersenyum. Ia melihat wajah Finly nampak bersemu merah. Tak ada lagi wajah pucatnya. Finly. Sepertinya kebahagiaan sedang meliputinya. Giani pun ikut senang. Sesungguhnya ia tak menyimpan dendam lagi pada perempuan yang pernah menjadi kakak iparnya sekaligus selingkuhan suaminya.


"Bibi, Eca sekarang punya dua mama dan dua papa. Eca senang sekali." pekik gadis kecil itu sambil melompat ke sana dan kemari.


"Eca senang sekali." Kata jero ikut bahagia.


Tak ada sahutan dari istrinya itu.


Jero melihat mata Giani sedang mengarah kepada para tamu yang sedang menikmati hidangan makan malam.


"Sayang....!" Jero menyentuh bahu istrinya. Ia tak tahu apa yang membuat Giani fokus ke arah meja itu.


"Itu pak guru Paul kan?" Teriak Giani lalu segera meninggalkan Jero.


Wah....wah...wah....


Si bule akan bersikap seperti apa saat pria yang Giani kagumi di masa lalu muncul.


Ada yang mau kasih komen???🤣🤣