
Saat Giani membuka matanya di pagi hari, indra penciumannya langsung menangkap bau makanan. Ia pun bangun dan tak mendapatkan Jero ada di sampingnya. Pintu kamar terbuka lebar. Giani memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, dan mengenakannya kembali. Ia jadi ingat dengan apa yang mereka lalui bersama Semalam. Jero begitu lembut, bahkan kesannya sangat hati-hati saat memasukan palo ke dalam inti tubuhnya. Tak ada gerakannya yang cepat dan sering membuat Giani hampir kewalahan dalam mengimbanginya. Bahkan setelah penyatuan mereka. Jero berulang kali mencium dahinya.
Saat Giani tertidurpun, ia dapat merasakan Jero mengusap perutnya dan menciumnya beberapa kali.
Masih dengan sisa-sisa rasa mengantuk, Giani menuju ke kamar mandi. Ia memilih untuk mandi dulu, barulah turun ke bawa. Apalagi semalam selesai bercinta, Giani tak sempat membersihkan diri.
Selesai mandi dan menggunakan pakaian rumah, Giani turun ke bawa. Ia terkejut melihat Jero menggunakan apron sambil memasak. Biasanya pagi begini, Jero akan lari pagi keliling kompleks atau juga nge-gym di ruang olahraga.
"Selamat pagi. Ada yang bisa aku bantu?" Sapa Giani saat mendekat.
Jero menoleh. "Duduk saja. Masakannya hampir selesai."
Giani menatap jam dinding. Sudah hampir jam 8 pagi. Berarti dia yang terlambat bangun.
"Nggak ke kantor?" Tanya Giani.
"Aku sudah bilang ke Selly kalau aku akan datang terlambat. Kebetulan hari ini rapatnya nanti jam 1 siang." Kata Jero lalu mulai menyajikan makanan di atas meja. Ada beberapa jenis masakan yang Jero siapkan.
"Aku kemarin membaca diinternet, masakan apa yang cocok untuk menyuburkan kandungan dan membuat kwalitas palo menjadi bagus. Makanya aku membuatnya pagi ini. Untuk sebentar siang, menunya juga sama. Sebagian akan ku bawa ke kantor untuk bekal dan sebagian kutinggalkan di sini." Kata Jero membuat Giani jadi tersentuh. Begitu inginnya Jero memiliki anak, sampai-sampai ia rela bangun pagi untuk menyiapkan makan pagi sekaligus makan siang.
"Jam berapa kamu bangun?" Tanya Giani sambil mengambil nasi.
"Jam 5 subuh."
"Nggak capek? Semalam kan kita bercinta."
Jero terkekeh. "Mana mungkin capek. Kita kan hanya melakukan 1 ronde." Jero duduk di depan Giani dan menuangkan sup di sebuah mangkuk lalu memberikannya pada Giani. "Makanlah sup ini."
Memasukan satu suapan di mulutnya, Giani langsung berdecak kagum." Waw, ini enak." Ujar Giani dengan mata yang berbinar.
"Sungguh?"
Giani mengangguk.
Jero membuat tumisan sayur brokoli, sup kacang merah dan ikan salmon yang dibakar. Ia juga menyediakan roti gandum dan susu untuk persiapan kehamilan.
"Seharusnya, susunya diminum sebelum tanggal subur ya?" Ujar Jero. Ia kelihatan sedikit menyesal. Keduanya baru selesai sarapan bersama.
"Nggak ada kata terlambat." Kata Giani lalu meneguk habis susunya.
Ada senyum di bibir Jero saat melihat Jero menghabiskan susunya.
"Mandilah! Biar aku yang membereskan mejanya."Kata Giani.
"Jangan, sayang. Biarkan saja. Sebentar lagi pelayan akan datang. Nah, kayaknya mereka sudah datang." Kata Jero saat mendengar suara telepon rumah. Jero segera mengangkatnya. Ada pemberitahuan dari penjaga pos keamanan apakah mau menerima tamu yang datang.
Setelah membukakan pintu untuk 2 orang pelayan yang datang, Jero meminta Giani untuk menemaninya ke kamar. Ia akan mandi dan Giani akan menyiapkan pakaiannya.
Selama 20 menit Jero menyelesaikan aktifitas mandinya. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia langsung berteriak saat melihat Giani yang sementara membereskan tempat tidur.
"Sayang, kamu itu nggak boleh capek!" Jero langsung mengambil selimut tebal yang dipegang oleh Giani. "Biar aku yang bereskan. Selimut ini besar dan berat. Dokter kan mengatakan kalau kamu nggak boleh mengangkat yang berat.
"Membereskan tempat tidur nggak akan membuatku capek, sayang. Lagi pula selimutnya juga nggak berat." Giani menarik selimut yang dipegang Jero namun Jero menahannya."Nggak!" Kata Jero sedikit memaksa. Giani pun melepaskan pegangannya pada selimut itu.
Giani pun duduk di sofa, membiarkan Jero yang membereskan tempat tidur. Setelah itu Jero langsung ganti pakaian. Giani memasangkan dasi Jero. Saat keduanya saling berhadapan, ketika tangan Giani sibuk memasang dasi Jero, tangan Jero justru mengusap perut Giani.
"Ada apa?" Tanya Giani. Ia merasa geli dengan sentuhan Jero karena ia hanya memakai daster rumahan yang agak tipis.
"Aku tak sabar ingin melihat perutmu menjadi besar."
"Kita akan mengetahuinya jika aku sudah terlambat datang bulan."
Jero tersenyum. Ia mencium dahi Giani saat istrinya itu selesai memakaikan dasinya.
"Aku pergi dulu ya?" Pamit Jero.
"Hati-hati di jalan."
"Please, jangan mengerjakan apapun, ya? Kamu di rumah saja. Kalau perlu banyakin bobonya. Jangan mengangkat yang berat-berat." Pesan Jero sebelum menghilang di balik pintu. Giani hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jero jadi super perhatian padanya.
********
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari terakhir perhitungan masa subur Giani. Pagi ini mereka kembali menghadap dokter.
Setelah itu, seperti biasa, mereka mampir ke ruangan mama Sinta. Berbincang sebentar dengan papa, kembali berbicara dengan mama Sinta, sebelum akhirnya pulang ke rumah mereka. Di sana ada juga Finly. Namun ia terlihat cuek dan hanya asyik dengan ponselnya.
Setelah pamitan pulang, Jero mengarahkan mobilnya ke tempat lain.
"Kita mau kemana? Inikan bukan arah ke rumah kita?"
Jero tersenyum. "Kita akan pergi ke suatu tempat. Kau tidurlah!" Kata Jero sambil mengusap perut Giani sebentar.
Giani memilih tidur karena ia merasa tubuhnya agak lelah. Selama 1 jam Jero mamacu mobilnya ke arah luar kota.
Saat Giani membuka matanya, ia terkejut melihat mereka berada di dekat sebuah danau dengan beberapa vila berukuran kecil yang berjejeran di sepanjang tepian danau. Tempat yang sangat indah, sejuk dan eksotis.
"Tahu dari mana tempat ini?" Tanya Giani.
"Ini milikku bersama Frangky. Kami membangun tempat ini semenjak 2 tahun yang lalu. Vila yang agak di ujung ini adalah tempatku dan Frangky. Tak pernah disewakan pada orang lain."
Giani melangkah turun dari mobil. Ia melihat kalau vila-vila ini hampir penuh. Karena hampir ditiap teras depan vila, terparkir mobil.
"Besokan tanggal merah, makanya banyak yang menyewa tempat di sini." Jero memeluk Giani dari belakang. "Kita akan menghabiskan malam di sini. Aku ingin kita melewatinya dengan bahagia." Kata Jero lalu mulai mencium leher Giani dengan sangat lembut.
Ada senyar yang dirasakan diseluruh permukaan kulitnya saat menerima ciuman itu.
"Kita masuk, yuk!" Ajak Jero.
"Sayang, aku tak membawa pakaian."
Jero membuka bagasi mobil. Ia menarik keluar sebuah koper berukuran sedang.
"Aku sudah menyiapkannya di sini. Ayo masuk!" Tangan kanan Jero memegang tangan Giani sementara tangan kirinya menarik koper. Mereka melangkah masuk ke dalam vila.
*********
Napas keduanya tersengal-sengal saat mencapai puncak kenikmatan raga. Jero menghapus keringat di dahi Giani, lalu menciumnya lembut.
"Makasi sayang." Ujarnya lalu segera menggulingkan tubuhnya ke samping istrinya, perlahan ia menarik selimut yang ada di ujung ranjang dan menyelimuti tubuh polos mereka.
Jero tidur menyamping sambil menatap istrinya. "Sayang, kau sudah mau tidur?" Tanya Jero sambil mengelus pipi Giani dengan jempolnya.
"Belum. Memangnya kenapa?"Giani ikut tidur miring sehingga keduanya saling berhadapan.
"Nggak. Hanya ingin menatapmu lebih lama. Aku suka dangan matamu."
Kekehan keluar dari mulut Giani. "Matamu juga indah. Warna matamu yang agak biru membuat kamu agak berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitarmu."
Jero meraih tangan Giani dan mengecupnya lembut. "Aku memang bertampang bule. Namun hati, pikiran, perasaanku adalah orang Indonesia. Jika di suruh memilih dimana aku akan menghabiskan sisa hidupku, aku ingin ada di Indonesia."
"Aku senang mendengarnya."
Tangan Jero berpindah ke perut Giani. "Gi, jika kamu beneran hamil dan melahirkan anak kita, bolehkah jika dia sudah mulai mengerti, sesekali ia akan menginap di tempatku?"
"Tentu saja." Hati Giani bergetar melihat kesedihan di mata Jero.
"Terima kasih, Gi." Jero menarik tubuh Giani dan memeluknya erat. "Tidurlah sayang!" Ujar Jero sambil mengusap perut Giani.
Aku mohon, Tuhan.Biarkan benihku tumbuh di rahim Giani. Berita ini pasti akan sangat membahagiakan mama. Dan aku yakin, Giani tak akan menjauh dariku. Batin Jero sambil terus mengusap perut Giani.
Episode berikut adalah penentuan, berhasil nggak ya si palo.
berikan emak cinta dengan cara nge-vote ya....