
Mereka sudah melalui hal yang paling intim beberapa waktu yang lalu. Raga yang pernah saling memuaskan, kini seakan menunjukan rasa rindu.
Hati Giani mengatakan kalau ini bisa membawa dirinya pada suasana yang akan mendorongnya pada penyatuan raga. Bagaimanapun Jero adalah lelaki pertama yang menyentuhnya, Jero adalah lelaki pertama yang mengajarkan Giani bagaimana menuntaskan hasratnya sebagai seorang perempuan. Demi menaklukan Jero pun, Giani berhasil menyingkirkan rasa jijik saat mengingat bahwa Finly dan Jero pernah berhubungan intim seperti yang Jero lakukan padanya.
Kini, ketika mereka sudah tak saling menyentuh selama 2 bulan lebih, saat tangan Jero yang melingkar dipinggangnya menarik tubuhnya sehingga tak ada jarak lagi diantara mereka, Giani merasakan sesuatu dalam dirinya merindukan sentuhan itu.
Jero menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat yang penuh bumbu kerinduan mendalam. Giani yang sempat terpana, kini berusaha mendorong tubuh Jero. Namun tangan Giani tak mampu mendorong tubuh Jero yang jauh lebih besar darinya. Jero sungguh tak mau mengahiri ciumannya. Giani merasakan lututnya mulai goyah. Namun ia menguatkan hatinya. Ia sama sekali berusaha tak membalas ciuman Jero walaupun tubuhnya begitu ingin membalas ciuman itu. Giani memejamkan matanya. Tangannya memegang ujung kemejanya dengan sedikit bergetar. Sampai akhirnya Jero melepaskan ciumannya. Matanya menatap Giani.
"Jangan menahannya jika memang kau menginginkannya." Kata Jero sambil ibu jarinya menyapu bibir Giani yang baru saja disentuhnya.
Giani mundur beberapa langkah. "Selamat malam, kak." Katanya lalu segera membalikan tubuhnya dan segera menuju ke kamarnya.
Hati Jero kembali sakit melihat sikap dingin Giani. Aku tahu kau menginginkanku seperti aku juga menginginkanmu. Tanganmu yang gemetar sebagai bukti bahwa kau menahan dirimu. Ada apa, Gi? Apakah kau mencoba mengingkari kata hatimu? Aku adalah lelaki pertamamu. Apakah secepat itu kau melupakan kenangan manis kita? Melupakan bagaimana raga kita pernah saling memuaskan dan saling merindukan?
Langkah Jero diarahkan ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar yang dimasuki Giani. Sebelum masuk ke kamarnya, Jero mengetuk pintu kamar Giani.
"Gi, maaf kalau aku bersikap kurangajar padamu. Aku hanya kangen, Gi." Kata Jero.
Tak ada sahutan dari dalam.
Jero mengetuk lagi. "Gi, selamat malam." Katanya sebelum masuk ke kamarnya sendiri.
Di kamarnya, Giani hanya duduk di atas tempat tidurnya dengan perasaan yang bingung. Ia mendengar perkataan Jero. Dia hanya kangen? Lalu bagaimana dengan aku? Apakah aku juga kangen dengannya? Mengapa aku ingin sekali membalas ciumannya tadi?
Tangan Giani menyentuh bibirnya. Potongan-potongan kenangan saat kemesraan diantara mereka beberapa bulan lalu terbayang kembali. Bagaimana ciuman mereka yang begitu hangat selalu mendatangkan gairah yang tak bisa terbantahkan. Bagaimana Jero yang selalu mengucapkan terima kasih ketika mereka selesai bercinta. Bagaimana tubuh polos mereka saling berpelukan saat tidur sepanjang malam.
Suatu dorongan dalam dirinya, membuat Giani turun dari tempat tidur. Ia ingin sekali menemui Jero. Ingin memeluk tubuh kekar pria bule itu. Namun langkah Giani terhenti di depan pintu. Kesadarannya kembali datang membuat ia kembali ke atas tempat tidurnya. Ini tak boleh terjadi lagi. Kebersamaanku bersama Jero sudah selesai.
Di kamarnya, Jero pun tak bisa memejamkan matanya. Ia hanya duduk di atas ranjang berselojor kaki. Punggungnya di sandarkan di kepala ranjang.
Gi, kamu masih istriku. Kita belum resmi bercerai. Apakah tak boleh aku memeluk dan menciummu lebih lama lagi? Ini bukan karena palo yang sudah lama tak memasukimu. Jujur, aku memang ingin bercinta denganmu. Namun yang kurasakan ini bukan hanya sekedar napsu, melainkan rasa cintaku yang begitu dalam padamu. Gi, bagaimana caranya agar kamu percaya bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu?
************
Keesokan harinya, mama Sinta meminta untuk diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di New York. Kebetulan Joana datang, mereka pun jalan-jalan berlima. Mereka pergi dengan mobil Joana. Mama Sinta dan Jero terharu mendengar cerita Alexa tentang Joana yang sengaja membotakan kepalanya agar Alexa tak merasa sedih.
"Gi, waktu di pesawat, kamu kan muntah-muntah, apakah kamu tidak hamil?" Tanya Joana saat keduanya berjalan bersama. Mama Sinta, Jero dan Alexa ada di depan mereka. Jero mendorong kursi roda Alexa.
"Mengapa kamu tanyakan itu?"
"Sekarang kan Jero datang. Kalau memang kamu hamil, maka sebaiknya kamu jujur tentang kehamilanmu."
Giani menatap Joana. "Aku nggak hamil, Jo. Kamu lupa ya, dua minggu yang lalu aku cari pembalut saat kita ada di taman kota?"
Joana tersenyum. "Aku lupa." Joana menghentikan langkahnya. Ia menahan tangan Giani."Gi, bagaimana perasaanmu melihat Jero lagi?"
"Biasa saja."
"Jangan bohong, Gi. Kalian pernah begitu intim. Memangnya kamu nggak kangen bersentuhan dengan Jero lagi?"
Wajah Giani jadi merah. Ia buru-buru melangkah. Tak ingin Joana dapat menebak isi hatinya. Bagaimana ia semalam menahan dirinya agar tak ke kamar Jero.
"Gi....!" Joana menyusulnya. "Wajarlah kalau aku bertanya seperti itu. Kamu masih manusia normalkan?"
"Jo, kami akan bercerai."
"Tapi dia masih suamimu sekarang. Tak masalah sebenarnya kalau kalian saling melepas rindu." Goda Joana membuat Giani harus menutup mulut Joana karena Jero sepertinya mendengarkan percakapan mereka. Pria itu menoleh ke arah belakang sambil tersenyum.
"Jero bisa mendengarkanmu."
Joana tertawa. Ia tahu kalau ada yang lain pada diri Giani sejak mereka tiba di Amerika. Walaupun Beryl beberapa kali datang ke sini, namun Giani terlihat tak menanggapi perhatian Beryl. Namun hari ini, Joana dapat melihat wajah sahabatnya itu sangat bahagia. Mungkinkah Giani sudah jatuh cinta pada Jero?
Setelah puas jalan-jalan, mereka pun mampir ke sebuah restoran Asia dan makan siang di sana.
"Jero, Beryl ada di Jakarta atau di London?" Tanya Joana. Mereka sedang menunggu makanan yang sudah dipesan.
"Waktu aku datang, dia masih di Bali. Namun kalau nggak salah minggu ini, Beryl akan kembali ke London." Jawab Jero. "Memangnya ada apa?"
"Beryl janji kalau mau datang lagi ke sini, dia akan membawa kue dodol. Aku sangat suka dengan kue itu." Ujar Joana.
Jero terkejut mendengar perkataan Joana. Beryl akan datang lagi?
"Om Beryl sudah dua kali datang ke sini. Makanya aku sering bertanya pada bibi Giani, mengapa ya om Beryl bisa datang melihat Eca sementara paman Jero nggak pernah. Apakah paman Jero lebih sibuk bekerja dibandingkan dengan papa dan om Beryl?" Ucap Alexa sambil menatap Jero dengan wajah penuh tanda tanya.
Hati Jero bagaikan tertusuk duri mendengar perkataan Alexa. Apakah Beryl melakukan apa yang pernah dikatakannya dulu bahwa ia akan mengejar Giani saat kami bercerai? Giani juga dulu pernah bilang kalau ia akan membuka hatinya bagi pria lain saat kami berpisah. Tapi kami kan belum resmi bercerai.
"Paman Jero.....!" Alexa menepuk tangan Jero yang memang duduk di sampingnya.
"Eh....ya...ada apa Alexa?" Tanya Jero saat ia kembali dari lamunannya.
"Paman tak menjawab pertanyaan Eca."
"Pertanyaan apa?"
"Apakah paman lebih sibuk dibandingkan papa dan om Beryl?"
Jero tersenyum. Ia membelai kepala Alexa. "Paman memang sibuk, tapi jika Eca mau paman selalu datang, paman pasti akan datang."
"Benarkah?" Tanya Alexa dengan mata yang berbinar.
Jero mengangguk. Hatinya masih galau. Membayangkan Beryl yang datang ke New York dan menemui Giani di sini tanpa ada dirinya, sungguh membuat hati Jero cemburu.
Saat makanan datang, Jero langsung kehilangan selera makannya. Matanya tak lepas menatap Giani. Ingin sekali ia bertanya tentang kedatangan Beryl namun ia berusaha menahan dirinya mengingat di sini ada mama Sinta, Alexa dan Joana.
Puas jalan-jalan, mereka pulang ke rumah setelah mampir makan malam di restoran milik teman Joana.
Begitu tiba di rumah, waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Alexa langsung mandi dan tidur. Begitu juga dengan mama Sinta. Jero melihat Giani yang sedang memasukan baju kotor ke ruangan laundry, ia merasa mendapatkan kesempatan berbicara dengan Giani.
"Gi, aku mau bicara!"
Giani yang baru keluar dari ruangan laundry menatap Jero. "Aku mengantuk dan capek, kak."
Jero menahan tangan Giani yang baru saja melewatinya.
"Gi, apakah kamu membuka hatimu untuk Beryl? Mengapa dia bisa datang ke sini sementara aku tak bisa?"
"Kak, aku mengantuk!"
"Jawab dulu pertanyaanku, Gi!"
Giani menatap Jero. "Aku bukan perempuan gampangan yang bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Aku menunggu status kita jelas dulu baru akan memutuskan apakah aku bisa menerima lamaran kak Beryl atau tidak."
"Beryl melamarmu?" Jero terkejut. Ada rasa marah, cemburu, dan kecewa di dalam hatinya.
"Ya."
"Dan kau memberikan dia harapan?"
"Belum. Karena status kita belum jelas."
"Aku tak akan membiarkanmu di miliki oleh orang lain, Giani. Kita hanya bisa dipisahkan oleh maut. Jadi kalau kau ingin bersama Beryl, kau harus membunuhku!" Jero mendorong tubuh Giani membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Tubuhnya bersandar di meja makan. Jero mendekat. Tangannya melewati tubuh Giani. Giani mengira Jero akan memeluknya. Ternyata Jero mengambil gunting yang ada di meja makan.
"Ini....!" Jero menyerahkan gunting itu di depan Giani.
"Apa maksudmu, kak?" Giani jadi takut.
"Tusuklah aku dengan gunting ini, biarkan aku mati. Maka kau bebas untuk bersama dengan Beryl maupun pria lain."
"Kak, kamu sudah gila ya?" Giani menarik gunting itu dan melemparkannya ke sembarangan tempat.
"Kalau kau tak mau membunuhku, maka kau harus bersamaku." Jero melingkarkan tangannya dipinggang Giani, menarik tubuh gadis itu dan langsung mencium bibir Giani dengan sedikit kasar. Giani berusaha untuk melepaskan diri namun ia kalah kuat dengan Jero. Sambil terus mencium Giani, tangan Jero langsung menggendong tubuh Giania seperti koala dan melangkah menuju ke kamarnya.
"Lepaskan aku, kak!" teriak Giani saat ciuman mereka terlepas.
Namun Jero seperti menulikan telinganya. Ia berhasil membawa Giani masuk ke dalam kamar dan langsung melepaskan Giani ke atas ranjang. Sebelum Giani bangun, Jero segera mendorongnya sekaligus menempatkan dirinya di atas tubuh Giani.
"Kau sudah tahu bagaimana sisi gelapku, Gi!" Kata Jero lalu kembali menunduk dan mencium Giani tanpa melonggarkan jarak diantara mereka.
Well....what happen next????
Berikan emak vote ya banyak ya....