
Joana memasuki rumah Aldo. Ia masuk begitu saja karena pintu depan terbuka.
"Selamat siang....!" Sapa Joana.
Aldo yang sedang menonton TV langsung berdiri saat melihat Joana yang masuk.
"Aldo? Kau sudah datang? Aku pikir kamu akan lama di Jakarta." Kata Joana sambil mendekat.
"Aku datang karena mendengar Jero ada di sini. Aku nggak mau dia menganggu kehidupan adikku lagi."
Joana hanya tersenyum. "Di mana Giani?"
"Ada di kamarnya."
Joana langsung menuju ke kamar Giani.
"Gi....!" Panggilnya sambil membuka pintu kamar. Giani ternyata sedang membaca sambil duduk berselojor kaki di atas tempat tidurnya.
"Gi, temani aku yuk!"
Giani melepaskan bukunya. "Kemana?"
"Pameran buku."
"Boleh juga. Aku mandi dulu ya."
"Ok." Joana keluar dari kamar Giani dan bergabung dengan Aldo yang masih menonton TV.
"Aldo, aku mau ajak Giani ke pameran buku."
"Boleh."
"Kami pulangnya mungkin agak malam. Selesai itu ingin ajak Giani belanja dulu. Bolehkan?"
Aldo menatap Joana. Perempuan itu terlihat cantik dengan rambutnya yang mulai tumbuh.
"Ada apa menatapku seperti itu?" Tanya Joana.
"Kamu cantik dengan rambut cepak. Terlihat tomboy dan anggun pada saat yang sama. "
"Oh ya?" Joana tersanjung mendengar pujian Aldo. Entah mengapa hatinya berdesir. Sudah lama ia tak pernah seperti ini.
"Ya. Alexa benar saat ia menyebutmu dengan sebutan tante bule yang cantik."
Joana merasakan wajahnya menjadi panas.Namun ia buru-buru menepisnya. "Aldo, mengapa aku merasa kalau kamu sedang merayuku?"
Aldo terkekeh. "Apa perkataanku tadi terdengar seperti rayuan?"
"Mungkin."
Keduanya tertawa bersama. Begitulah yang sering terjadi diantara mereka. Suasana hangat yang selalu tercipta setiap kali mereka saling memuji.
Tak lama kemudian, Giani keluar dari kamarnya. Ia mengenakan gaun polos berwarna hijau lumut selutut tanpa lengan.
"Kita pergi sekarang? Oh ya mama Sinta saman Alexa kemana?" Tanya Giani saat menyadari kalau rumah sepi.
"Mereka membeli es cream di mini market depan jalan masuk."
"Ya sudah. Kita pergi saja." Ujar Joana.
Aldo memandang punggung 2 perempuan yang meninggalkannya. Ia tersenyum, bersyukur karena Giani memiliki sahabat seperti Joana.
Giani dan Joana berangkat dengan mobil Joana yang dikendarainya sendiri.
Sepanjang perjalanan keduanya asyik bercerita tentang film yang baru saja Joana tonton semalam.
"Kau harus menontonnya, Gi. Itu sangat cocok untukmu." ujar Joana di akhir ceritanya.
"Memangnya apa judulnya?"
"second chance."
Wajah Giani langsung berubah sedih mendengar judul film itu.
"Gi, apakah kamu tak akan memberikan kesempatan pada Jero? Sepertinya dia sungguh-sungguh mencintaimu. Dia juga tak memperdulikan Finly lagi. Tanyakan hatimu, Gi. Jangan nanti kau menyesal disaat Jero sudah ketemu dengan gadis lain."
Giani menarik napas panjang sambil bersedekap. "Aku tak mengerti dengan perasaanku. Namun dibalik semua yang kurasakan, aku tak ingin kak Aldo bersedih. Dia tak mau kalau Jero akan menyakitiku. Kehadiran Jero juga selalu membuat kak Aldo sakit hati karena mengingat perselingkuhan mereka. Aku menyayangi kak Aldo. Dia sudah seperti selama ini telah melakukan banyak hal padaku."
"Bukankah ada saatnya juga kau harus memikirkan perasaanmu sendiri?"
Giani diam. Perasaannya? Apakah perasaannya begitu penting kalau pada akhirnya Aldo menderita?
Giani masih tenggelam dengan pikirannya sendiri saat mobil memasuki hotel.
"Kenapa kita datang ke sini?" Tanya Giani bingung.
"Aku harus menemui seseorang di sini sebentar."
"Aku tunggu di mobil saja ya?"
"Kamu turun juga. Malas aku masuk sendiri, yuk!" Joana sedikit memaksa membuat Giani akhirnya ikut turun.
Begitu memasuki hotel, mereka langsung menuju lift dan Joana langsung memencet angka 7. Saat pintu lift terbuka, gadis bule itu melangkah keluar diikuti Giani.
"Kita mau ketemu siapa?" Tanya Giani penasaran.
"Kau akan segera mengetahuinya." Kata Joana lalu berhenti di kamar nomor 7014. Ia menekan bel pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Kak Jero?" Pekik Giani kaget.
"Giani? Joana?" Jero juga sama terkejutnya. Ia melebarkan daun pintu.
"Bicaralah! Agar kalian bisa saling mengerti isi hati!" Joana mendorong tubuh Giani agar masuk ke dalam. Tangannya dengan cepat menarik gagang pintu supaya tak sempat mendengar suara protes Giani. Gadis itu menunggu sebentar. Ia tak ingin sampai Giani pergi lagi.
Di dalam kamar.....
Giani masih berdiri di depan pintu. Ia bingung kenapa Joana membawanya ke sini.
"Ayo duduk, Gi!" Kata Jero.
"Apakah kakak yang meminta Joana untuk mengantarku ke sini?"
"Nggak, Gi. Aku berani sumpah."
"Kalau begitu aku sebaiknya pergi!" Giani membalikan badannya. Namun sebelum tangannya berhasil meraih gagang pintu, Jero dengan cepat menarik tubuhnya ke belakang dan memeluknya.
"Jangan pergi, Gi! Aku mohon! Besok aku dan mama akan kembali ke Jakarta. Biarkan aku menikmati kebersamaan ini bersamamu. Aku janji, nggak ada palo dan nido. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Pinta Jero.
Giani memejamkan matanya. Pelukan Jero begitu erat dipinggangnya. Giani dapat merasakan dahi Jero yang menempel dibagian belakang kepalanya.
"Please.....!" Mohon Jero.
Tangan Giani menyentuh tangan Jero yang masih melingkar dipinggangnya. "Lepaskan aku, kak."
"Jangan pergi, Gi."
"Bagaimana aku bisa duduk kalau kakak tak mau melepaskan aku?"
Jero menjadi senang. Ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Giani. Namun ia segera melingkarkan tangan kanannya di bahu Giani dan mengajak istrinya untuk duduk di sofa.
Keduanya duduk berdampingan. Saling diam sampai akhirnya Jero membuka suaranya.
"Mau minum sesuatu?"
"Air putih saja kak."
"Jangan pandang aku terus, kak." Kata Giani.
"Aku mungkin akan merindukanmu saat kamu keluar dari kamar ini. Jadi selama kamu ada di sini, aku akan memanfaatkan waktuku untuk melihatmu terus."
"Kak....!" Giani menatap Jero. Tangannya mendorong pipi Jero agar melihat ke arah yang lain.
"Kenapa sih? Memangnya memandang wajahmu akan membuatmu terluka?"
"Kak....!" Giani kembali mendorong pipi Jero membuat Jero tertawa. Namun saat dilihatnya Giani cemberut, ia pun menengok ke arah lain.
"Gi, apakah benar kau sama sekali tak ada rasa untukku?" Tanya Jero membuat Giani bergetar.
"Kau sudah mendengarkan apa yang sudah aku katakan di hadapan kak Aldo."
Jero berjongkok di depan Giani. Tangannya menyentuh wajah gadis itu. "Gi, tatap aku. Siapa tahu hatimu belum mengerti apa yang kau rasakan untuk aku."
Giani menatap Jero sesaat. Ia kemudian memalingkan wajahnya. "Jangan seperti ini, kak. Kamu kan sudah janji akan menandatangani proses perceraian kita."
"Tapi hatiku tak mampu, Gi! Rasanya sangat sakit membayangkan kalau kita akan berpisah selamanya. Apalagi membayangkan kau akan dimiliki oleh pria lain, membuat perasaanku hancur." Jero meraih tangan Giani. "Gi, masih adakah kesempatan bagiku untuk bersamamu? Aku akan tunjukkan pada Aldo bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu. Akan kulakukan apa saja agar Aldo mau memaafkanku. Aku tak bisa merubah masa lalu, Gi. Namun kita bisa melupakan masa lalu agar dapat bahagia."
Giani menatap tangannya yang dipegang oleh Jero. Hatinya tersentuh mendengar kata-kata Jero. Memang benar kalau masa lalu tak dapat dirubah, namun kita tidak hidup di masa lalu kan?
"Aku menyayangi kakakku. Demi membahagiakannya, aku menawarkan diriku untuk menikah denganmu. Aku belajar cara merayu, menggodamu dengan tubuhku tujuannya supaya kamu bisa melupakan Finly dan membiarkan kakakku bahagia dengan istrinya. Namun, waktu telah membuat kakakku akhirnya melepaskan Finly. Aku berhasil dengan misiku, kamu pun melepaskan Finly. Aku mungkin memiliki perasaan padamu, namun kebahagiaan kakakku di atas segala-galanya. Melepaskanmu adalah salah satu cara agar kakakku bahagia."
"Jika kau mungkin memiliki perasaan padaku, haruskah kita sama-sama terluka dan membiarkan ikatan ini berakhir?" Jero menangkup pipi Giani dengan kedua tangannya. "Gi, mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari Aldo."
Giani menggeleng. Tangannya memegang kedua tangan Jero yang masih ada di "Luka di hati kak Aldo tak akan sembuh secepat itu. Dia sangat mencintai Finly. Dia tak pernah mencintai wanita lain selain Finly. Kita tak tahu kapan luka hatinya sembuh. Karena itu aku tak mau egois memintamu untuk menunggu restu dari kak Aldo. Aku membebaskan dirimu untuk mencari kebahagiaan lain. Kau pria tampan yang mapan. Kau juga sudah bertobat dari segala kesalahanmu di masa lalu. Aku yakin, Tuhan akan memberikan perempuan terbaik untukmu."
Mata Jero sudah berkaca-kaca. Ia menatap Giani dengan semua rasa cinta yang dimilikinya untuk gadis itu. "Aku tak sanggup melepaskanmu, Gi."
"Kau sudah janji, kak."
Jero tertunduk. Ia menangis dipangkuan Giani. Ia tak peduli lagi dengan dengan rasa malu atau harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Kalaupun ia harus mengemis untuk mendapatkan cinta Giani, ia akan melakukannya.
Agak lama keduanya saling diam. Giani dapat merasakan kalau gaunnya basah karena air mata Jero. Sampai akhirnya bel pintu terdengar.
"Kak, aku buka ya?" Ujar Giani sambil mengangkat kepala Jero yang masih ada dipangkuannya.
Jero hanya mengangguk. Giani pun berdiri dan membuka pintu.
"Pesanan makan siang." Kata pelayan hotel.
Giani menatap Jero. "Kak, kamu memesan makan siang?"
Jero menggeleng.
"Maaf, kami tidak memesannya." Ujar Giani.
Pelayan itu membaca kertas yang dipegangnya. "Makan siang ini dimintakan oleh nona Joana untuk dikirimkan di kamar ini."
"Oh...Joana? Mari silahkan." Mendengar nama Joana, Giani langsung melebarkan daun pintu. Pelayan itu pun mendorong masuk meja bulat yang sudah berisi makanan. Jero langsung membuka dompetnya dan memberikan tip.pada pelayan itu.
"Kak, ayo kita makan!" Ajak Giani saat pelayan itu pergi.
"Aku nggak selera, Gi." Kata Jero sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Giani mengambil piring dan memasukan beberapa jenis makanan di atasnya. Ia kemudian duduk di samping Jero.
"Buka mulutnya, kak."
"Gi, aku nggak lapar."
"Kalau kakak nggak makan, aku pulang sekarang." ancam Giani.
"Gi....!"
"Ah...." Giani membuka mulutnya sebagai istruksi agar Jero mengikutinya.
Jero pun membuka mulutnya. Saat makanan itu masuk ke mulut Jero, Giani mencium pipi pria itu.
"Good boy!" Katanya membuat Jero tertawa.
Suasana hati Jero tiba-tina menjadi baik. Ia pun menerima suapan demi suapan dengan wajah tersenyum. Setelah semua makan di piring habis, Jero mengambil piring itu dari tangan Giani. Ia berdiri dan mengambil manaru makanan di atas piring.
"Sekarang giliranmu!" Kata Jero sambil menyuapi Giani.
"Ok." Giani menerima suapan itu dengan wajah gembira. Siang itu mereka lalui dengan menghabiskan semua makanan yang dipesankan Joana.
Selesai makan, Giani dan Jero duduk balkon.
"Jam berapa pesawatnya berangkat?" Tanya Giani.
"Jam 7 pagi."
"Barang bawaan kakak sudah dibereskan?"
"Belum."
Giani masuk ke kamar. Ia segera melihat koper Jero. Ia pun membereskan pakaian pria itu. Memisahkan yang kotor dan yang masih bersih. Barang-barang belanjaan Jero juga dibereskan dan dimasukan semua ke dalam kopernya.
"Besok ke bandara pakai baju apa, kak?"
Jero yang sejak tadi duduk di sofa dan memperhatikan Giani bekerja tersenyum. "Celana jeans dan sweater hitam itu saja."
Giani pun mengeluarkan baju yang Jero maksudkan dan meletakannya di atas koper yang sudah ditutupnya.
"Sudah selesai, kak." Kata Giani lalu berdiri.
"Kamu ingin sekali melihat aku cepat meninggalkan New York ya?"
Giani menatap Jero. "Nggak, kak. Aku hanya membantu membereskan kopermu"
Jero mendekat. Dipeluknya Giani dengan sangat erat.
"Apakah kamu akan pergi sekarang?" tanya Jero sambil berbisik di telingan Giani.
"Aku menunggu jemputan Joana." Giani mendorong tubuh Jero perlahan.
"Mana handphonemu."
"Buat apa?"
"Berikan saja!"
Giani mengambil handphonenya dari dalam tasnya yang diletakan di atas meja.
Jero membuka ponsel Giani. Ternyata paswordnya masih sama. Ia mematikan ponsel Giani dan meletakan ponsel itu di atas nakas.
"Kenapa dimatikan, kak?"
"Supaya Joana tahu kalau kita tak ingin diganggu."
"Tapi....!"
Kalimat Giani terhenti saat Jero sudah kembali menarik Giani kedalam pelukannya dan langsung menciumnya dengan hasrat yang tak ingin dibantah.
"Biarkan palo dan nido saling mengucapkan selamat tinggal, Gi." Bisik Jero lalu tangannya menarik resleting gaun Giani sehingga gaun itu jatuh tepat di kaki Giani.
Duh...hatiku ketusuk-tusuk nulis part ini. Ikut larut dengan alurnya.
Berikan emak vote yang banyak ya...🤣🤣🤣
Jangan lupa koment dan like untuk membuat emak semangat nulis