
"Bee, aku mau ke rumah sakit."
Jero yang sedang fokus menatap layar laptopnya mengangguk tanpa menoleh. "Ok. Siapa yang sakit?"
"Kak Finly melahirkan!"
Jeronimo menatap istrinya dengan kaget. "Finly memangnya hamil?"
"Kamu lupa ya? Beberapa waktu yang lalu, aku kan pernah bilang kalau Finly hamil."
Jeronimo mengerutkan dahinya. Ia sungguh telah lupa kalau Giani pernah mengatakan itu. Mungkin karena semua tentang Finly bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidup Jeronimo.
"Ya sudah. Salam untuk Finly dan Juan."
"Kamu nggak ikut, Bee?"
"Aku di rumah saja dengan si kembar. Pekerjaanku juga hampir selesai, kok."
Giani mendekat. Ia mencium pipi suaminya. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya?"
Jeronimo tersenyum. Istrinya terlihat sangat cantik dengan make up naturalnya.
"Sayang......!"
Giani yang sudah di depan pintu ruang kerja Jero, menoleh. "Ada apa?"
"Belikan aku soto di tempat langganan kita ya?"
"Ok, Bee." Giani kembali meneruskan langkahnya. Ia membawa mobilnya sendiri. Sebelum ke rumah sakit, Giani mampir sebentar di toko khusus perlengkapan bayi. Ia ingin membeli sesuatu sebagai hadiah untuk anak Finly yang berjenis kelamin perempuan.
Rumah sakit tempat Finly melahirkan adalah rumah sakit khusus bersalin sehingga tak terlalu besar. Giani segera menuju ke kamar perawatan Finly yang kemarin malam di operasi.
Saat ia mengetuk pintu bernomor 312 itu, Juan yang membukanya.
"Hallo......!" Sapa Giani.
Juan tersenyum menyambut Giani dan mempersilahkan perempuan itu masuk. Di dalam ruangan itu ada mama Sinta dan Madeline, ibunya Juan. Giani langsung mendekati tempat tidur Finly dan memeluknya sambil memberikan ucapan selamat.
"Wah, dia cantik sekali!" puji Giani saat melihat bayi perempuan berkulit putih dan berambut coklat.
"Iya. Dia memang cantik." Kata Juan dengan bangganya.
"Wajahnya mirip kamu, Juan. Hanya saja, bibir dan lesung pipinya mirip kak Finly. Alexa pasti senang ya."
"Ya. Alexa bahkan tak mau pulang tadi. Namun karena ia ada les makanya Joana membawanya pergi." Ujar Finly.
"Joana ke sini?" Tanya Giani.
"Ya. Joana dan Aldo." Jawab Juan.
Giani tersenyum senang. Ia bahagia hubungan kakaknya dan Finly sudah membaik sejak mereka sama-sama menikah dengan orang lain.
"Kabar si kembar bagaimana, Gi? Mama kangen dengan mereka." Tanya mama Sinta.
"Mereka baik-baik saja, ma. Makannnya sudah banyak. Tapi Gabrian nggak terlalu suka makan bubur yang terbuat dari beras. Ia lebih suka makan sup yang ada sayurannya." Kata Giani.
"Gabrian mirip Jero. Dia nggak terlalu suka makan nasi. Maunya sayuran." Imbuh mama Sinta sambil tersenyum mengingat betapa repotnya dia dulu menyiapkan makanan untuk Jero saat anak itu pertama kali dibawa oleh suaminya.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Giani pun pamit pulang. Ia ingat dengan pesanan Jero. Saat ia tiba di lobby rumah sakit, tubuhnya menegang saat melihat siapa yang baru saja turun dari mobil. Fidel!
Pria itupun sama terkejutnya dengan Giani. Namun Giani berusaha menguasai rasa gugupnya.
"Hai Fidel!" Sapa Giani sambil tersenyum.
"Hai juga!" Fidel mendekat sambil tersenyum pada Giani. "Apa kabar anak-anakmu?" Tanya Fidel sambil memandang perut Giani yang sudah rata.
"Baik. Usia mereka kini sudah 7 bulan."
"Berarti sudah hampir setahun kita tak bertemu. Kamu makin cantik saja setelah melahirkan. Apakah Jeronimo bersikap baik padamu dan anak-anakmu?"
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Hasrat ku padamu belum juga hilang. Aku masih berkeinginan memilikimu jika ternyata Jero tak bersikap baik padamu."
"Dia baik. Malahan sangat baik. Oh ya, apa yang kau lakukan di sini?" Giani mengalihkan pembicaraan.
"Veronika baru saja melahirkan."
"Apa?"
"Si brengsek perawatnya itu menggoda adikku sehingga jatuh dalam pelukannya. Entah mengapa ia tergila-gila pada perawatnya itu semenjak kalian pergi dari pulauku."
Giani menahan tawanya. Ia tahu kalau Kenzo telah mencampur obat perangsang pada minuman Veronika.
"Kalau begitu selamat ya? Kau sudah jadi paman. Semoga tak lama lagi kau akan menyusulnya. Aku permisi dulu!"
"Eh..., Giani, tunggu!" Fidel menahan tangan Giani.
"Ada apa?" Giani menarik tangannya perlahan.
"Apa jenis kelamin anak kembarmu?"
"Laki-laki."
"Waw, bagaimana kalau salah satunya kita jodohkan dengan keponakanku? Anak Feronika perempuan. Dan dia sangat cantik. Namanya Sachie Figia. Aku yang memberinya nama. Sachie itu adalah nama Jepang yang berarti kebahagiaan sedangkan Figia itu adalah singkatan nama kita berdua. Fidel dan Giani."
Deg!
"Eh, Fidel, jodoh di tangan Tuhan kan? Jadi, masalah anak-anakku dan keponakanmu, biar saja ikut alurnya Tuhan. Aku permisi dulu ya?" Giani bergegas meninggalkan Fidel. Ia merasa kalau Fidel sudah gila. Memangnya kenapa harus menamai keponakannya dengan singkatan nama mereka berdua? Giani merasa mual saat memikirkannya. Dan Giani tak akan pernah menceritakan pertemuan mereka di hari ini. Si bule posesif itu pasti tak akan.pernah berhenti bertanya apa yang mereka bicarakan.
(Sachie Figia akan menjadi salah satu gadis yang hadir dalam kehidupan si kembar saat mereka dewasa nanti di novel terbaruku yang berjudul : 2 wajah 1 cinta.)
**********
Tawa bahagia Joaldo, anak laki-laki dari pernikahan Aldo dan Joana terdengar begitu renyah saat Si kembar mengejarnya.
"Brian....Briel, ade Jo masih kecil. Jangan membuatnya kelelahan." Giani mengingatkan kedua anaknya. Gabrian dan Gabriael memang terkenal sebagai anak yang super aktif dan pintar. Para pengasuh kadang menyerah menghadapi kenakalan si kembar yang baru berusia 4 tahun itu.
Hari ini Giani mengundang kakaknya dan Joana untuk makan siang bersama karena Jeronimo berhari ulang tahun.
"Mama Sinta kok belum datang ya?" Giani menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul satu siang. Para karyawan yang ada di perusahaan Jero pun sudah sejak tadi datang. Acara tiup lilin juga sudah selesai.
"Alexa juga belum datang. Katanya ia akan datang bersama Finly, Juan dan Felisia." Imbuh Aldo. Felisia adalah nama anak Juan dan Finly.
"Aku sudah telepon ke ponsel mama Sinta dan papa Denny tapi tak diangkat." Giani tiba-tiba merasa tak enak.
"Mungkin mereka sudah dalam perjalanan sayang." Jero tiba-tiba muncul. "Aku pikir sudah saatnya kita memberitahukan kabar bahagia ini."
Giani tersenyum bahagia. Ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi.......
Jeronimo masih terlelap dalam tidurnya. Semalam pas jam 12, Giani bersama si kembar telah membuat surprise dengan membawakan kue tart. Giani sengaja tak menaruh lilin yang berbentuk angka yang menunjukan usia si om bule. Ia hanya menghias kue tart itu dengan beberapa lilin kecil. Tahu kan si bule paling parno saat disebut tua kwkwkwk....
Selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, meniup lilin dan berdoa bersama, Gabrian tiba-tiba saja berkata.
"Selamat ulang tahun ya, daddy. Selamat menjadi tua."
Mata Jero langsung melotot. "Daddy belum tua, sayang. Daddy masih terlihat tampan dan gagah."
Gabriel tertawa. "Tapi usia daddy kan bertambah. Bukankah itu artinya bertambah tua?"
Giani langsung menyela percakapan itu sebelum merusak momen ulang tahun Jero. "Ayo peluk daddy dan ucapkan selamat malam. Kalian harus tidur karena ini sudah lewat tengah malam."
Gabrian dan Gabriel mencium Jero secara bergantian. Setelah itu keduanya segera menuju ke kamar mereka.
"Sayang, acaranya besok jadi kan?" Tanya Giani setelah menidurkan si kembar.
"Iya."
"Kamu ingin hadiah apa?"
"Aku mau kita punya baby lagi. Apalagi kalau yang datang anak perempuan. Pasti itu akan sangat menyenangkan."
Giani melingkarkan tangannya di lengan Jero. "Sabar ya?"
"Ya sudah. Aku mau hadiah yang lain saja."
"Hadiah apa?"
"Pertemukan palo dan nido."
Giani sudah menduga kalau itu yang si bule inginkan. Dasar Jero!
Paginya setelah Giani bangun, ia langsung melakukan tes. Sebenarnya ia sudah merasakan selama 1 minggu ini, ada yang aneh dengan dirinya. Ia tiba-tiba saja selalu ingin makan bakso. Namun Giani sengaja menunggu sampai ulang tahun Jero.
Saat melihat 2 garis merah, Giani langsung senang. Ia membangunkan Jero.
"Bee, aku punya hadiah untukmu."
Saat mendengar perkataan istrinya, Jero tersenyum nakal. "Nido sudah kangen dengan palo ya?"
"Bee, bisa nggak sih otakmu itu tak memikirkan palo dan nido?"
"Lalu hadiahnya apa, sayang?"
Giani menunjukan tes pack.
"Ya ampun, sayang, hebat sekali palo ku ini. Baru aja semalam dia menemui nido, sudah langsung jadi."
"Bee.....!"
Jero memeluk istrinya itu. "Sayang, kau selalu memberikan hal yang terbaik bagiku. Aku mencintaimu."
Back.....
Jero mengumumkan kehamilan kedua Giani pada semua yang hadir. Berita itu disambut gembira oleh semua orang.
"Selamat ya.....!"
Kabar bahagia kehamilan Giani tak berlangsung lama saat ia membaca sms yang dikirimkan Alexa padanya.
Bibi, maaf Eca tak bisa hadir
mama Finly masuk rumah sakit
keadaannya kritis.....
Maaf ya aku baru up...
Aku lagi liburan natal..
Selamat natal ya bagi yang merayakannya...
Semoga suka dengan part ini