Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 28)


Maaf ya baru up...


Sejak Kamis malam sampai Minggu malam, aku sedang mengikuti perayaan keagamaan ku. Soalnya aku salah satu panitia pelaksana. Maaf jika ada yang bosan menunggunya. Dan terima kasih atas kesediaannya menunggu.


Mungkin yang lain harus diberitahu juga kalau aku kerja kantoran dari jam 8 pagi sampai jam 4.30 sore. pulang rumah masih harus mengurus keluargaku. jadi aku bisa nulis kalau ada jam lowong di kantor atau sesudah anak2ku selesai makan malam. Kalau mau tahu jadwal up dan informasi cerita lain, boleh gabung di grup chat aku. Caranya, ikuti saja aku di profilku nanti aku undang masuk grup. Happy reading ya...


*********


Di dalam kamar mandi, Oliver sudah selesai mandi. Namun ia belum keluar dari sana. Ada rasa gugup yang menyerangnya saat ini. Oliver bahkan harus menepuk jidatnya beberapa kali.


Ada apa dengan diriku? Mengapa aku begitu gugup malam ini pada hal ini bukan pertama kali aku menyentuh wanita? Bahkan saat pertama kali aku melakukannya bersama Calina, aku tak seperti ini. Apakah karena sekarang Alexa sudah berstatus sebagai istriku? Ataukah karena Alexa wanita yang sangat sulit ku taklukkan?


Oliver menghapus keringat yang membasahi wajahnya. Pada hal ia baru saja selesai mandi.


Sementara itu di luar kamar, Alexa terlihat sedikit lega karena Oliver belum juga keluar dari kamar mandi. Tangan gadis itu sudah sangat dingin. Detak jantungnya bahkan dirasakannya sangat tidak normal. Ia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk berpura-pura tidur. Namun tak sampai satu menit, Alexa duduk lagi dengan bingung. Apakah harus seperti ini seorang gadis yang akan melalui malam pengantinnya? Oh God, kenapa aku tak mendiskusikan ini dengan bibi Giani atau mami bule? Pasti mereka bisa memberikan aku solusi terbaik.


Alexa turun dari tempat tidur. Ia membuka kulkas kecil yang ada di kamar itu. Mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya. Tepat di saat itu Oliver keluar dari kamar mandi. Cowok bule itu hanya menggunakan handuk putih yang melilit tubuh atletisnya. Tiba-tiba saja Alexa tersedak saat membayangkan kalau Oliver tak memakai apapun dibalik handuk itu.


Sial, kenapa pikiranku sampai jorok seperti ini, sih? Memalukan saja.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Oliver sambil mendekat.


"Eh, tidak apa-apa!" Alexa langsung membalikan tubuhnya. Ia menutup kulkas yang masih terbuka itu. Ingin rasanya ia memukul kepalanya sendiri karena terlihat bodoh di mata Oliver.


Cowok bule itu tersenyum. Ia tahu kalau Alexa sebenarnya sangat gugup. Sama dengan dirinya. Namun sebagai pria yang sudah berpengalaman, Oliver berusaha menguasai rasa gugupnya.


"Sayang.....!"


Bulu kuduk Alexa berdiri karena hembusan nafas Oliver terasa hangat di tengkuknya. Itu artinya Oliver berada sangat dekat dengannya. Alexa memejamkan matanya. Ia tak tahu harus berbuat apa.


Tangan Oliver memegang pinggang Alexa. Perlahan Oliver membalikan tubuh Alexa. Pandangan mereka kini bertemu. Oliver meraih botol air mineral yang masih di pegang Alexa. Ia meminum habis isi dalam botol itu. Lalu membuang botol itu secara asal.


"Eca, sayangku." tangan Oliver yang satu mulai membelai wajah Alexa sementara tangannya yang lain masih melingkar di pinggang Elina.


Alexa merasakan ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya saat Oliver menyentuh wajahnya.


"Kini kita sudah resmi menjadi suami dan istri. Apakah kau bahagia?"


"Ya, Oliver." Jawab Alexa dengan suara yang bergetar.


"Aku juga sangat bahagia, sayang."


"Eh, Oliver, apakah kau tak ingin memakai bajumu? Nanti kamu masuk angin."


Oliver tertawa mendengar perkataan Alexa.


"Ada yang lucu?" tanya Alexa tak mengerti.


"Memangnya kita memerlukan baju malam ini?"


Deg!


Alexa menelan saliva nya yang terasa pahit. Keduanya tangannya memegang pinggiran gaun tidurnya.


"Memangnya kau akan tidur hanya menggunakan handuk itu?" Hello Alexa, pertanyaan macam apa itu?


Oliver menarik tubuh Alexa agar semakin menempel padanya. "Kita tak akan menggunakan apapun, Alexa."


"A....pa? AC nya sangat dingin lho, Oliver." Alexa merasakan sekujur tubuhnya merinding saat tangan Okan yang ada di pipi nya kini mulai turun dengan gerakan menggoda, menyentuh lehernya, kemudian perlahan menurunkan tali gaun tidurnya dari atas pundaknya.


"Oliver....kamu mau apa?" Alexa kembali menaikkan tali gaun tidurnya.


"Kita akan memulai malam pengantin kita, sayang. Apakah kamu tak menginginkannya? Kamu ingin menundanya?" tanya Oliver dengan suara yang terdengar kecewa.


"Bu-bukan. A....ku, a...ku hanya sedikit gugup." Alexa akhirnya mengakui apa yang dirasakannya sekarang ini.


"Aku juga merasakan yang sama, sayang. Walaupun kau tahu kalau ini bukan yang pertama untukku. Kita akan melaluinya bersama." Oliver mengecup dahi Alexa lalu ciuman itu perlahan turun ke hidung mancung Alexa, ke pipi kanan dan pipi kirinya, lalu berlabuh di bibir tipis Alexa. Oliver memejamkan matanya saat merasakan lembutnya benda kenyal yang selalu membuatnya ingin mencium Alexa.


Tangan Alexa perlahan melingkar di pinggang Oliver. Ia mulai membalas ciuman dari lelaki yang kini sudah menjadi suaminya. Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman panas. Oliver menurunkan kembali tali gaun tidur Alexa. Kali ini Alexa membiarkannya. Oliver langsung mengangkat tubuh Alexa seperti koala saat gaun tidur itu sudah jatuh ke kaki Alexa. Alexa secara spontan melingkarkan kakinya di pinggang Oliver dan membiarkan pria itu menuntunnya ke tempat tidur yang ada.


Oliver perlahan membaringkan tubuh Alexa di atas kasur tanpa melepaskan ciumannya. Selama mereka pacaran, Oliver hanya 3 kali mencium Alexa. Makanya malam ini ia ingin menikmati manisnya bibir perempuan yang sudah sah menjadi miliknya.


Saat Oliver merangkak naik ke atas tempat tidur, ia menarik handuk yang melilit tubuhnya dan membuangnya asal. Alexa yang sudah terlena dalam belaian Oliver masih terus memejamkan matanya. Ia tak kuasa menahan rasa aneh yang kini menguasai tubuhnya. Yang ia tahu kalau dia ingin Oliver terus menciumnya.


Tangan Oliver bergerak memasuki punggung Alexa, ia membuka pengait bra istrinya. Alexa membuka matanya. "Oliver, aku malu!" Tangannya secara spontan langsung menutup aset berharganya itu dengan wajah memerah.


Oliver menatap istrinya. "Sayang, sekarang ini sudah menjadi milikku. Aku berhak untuk menyentuhnya." Oliver menarik kedua tangan Alexa dan menurunkannya perlahan. Lalu ia kembali mencium bibir Alexa, mengalihkan pandangan istrinya itu dari rasa malu menuju kenikmatan raga yang baru pertama akan dirasakan oleh Alexa.


Alexa kembali memejamkan matanya. Ia mencoba menikmati sentuhan Oliver dengan perasaan sayang yang dirasakannya untuk pria bule itu.


Setiap sentuhan Oliver di tubuhnya membuat Alexa melupakan semua rasa gugup yang dirasakannya, namun saat ia merasakan ada sesuatu yang keras yang menyentuh inti tubuhnya, Alexa mencoba membuka matanya, merasa penasaran dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya secara langsung. Tiba-tiba gadis itu berteriak kaget dan mendorong tubuh Oliver. Ia langsung melompat turun dari tempat tidur.


"Ada apa sayang?" tanya Oliver bingung.


"Itu...besar sekali, apakah bisa muat di..., aku takut jika..." Alexa kehilangan kata-katanya.


"Sayang, mungkin awalnya agak sakit, tapi percayalah, jika kamu membuat dirimu rileks dan tidak fokus pada rasa sakitnya, kita akan menikmatinya bersama." Oliver mendekat. Ia kembali menyentuh wajah Alexa. Ia tak percaya jika istrinya akan se-polos dan se-lugu ini soal masalah ranjang.


"Apakah tidak bisa dikecilkan? Kenapa aku takut melihatnya?" Alexa memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat Oliver yang dalam keadaan polos seperti ini. Apalagi juniornya.


"Di kecilkan? Sayang, ini bentuknya alami." Oliver mengerang frustasi. Haruskah malam pertama mereka gagal hanya karena ukurannya?


Namun Oliver harus bersabar. Ia tahu kalau Alexa memang bukan gadis yang suka menonton film begituan. Bukan gadis yang sudah terbiasa dengan kehidupan malam dan memilih gaya hidup bebas. Oliver justru bangga bisa memiliki Alexa dan menjadi pria pertama dalam hidupnya.


"Aku janji akan melakukannya secara lembut, sayang. Tatap aku, Eca...!" Oliver memegang dagu Alexa dan memaksanya untuk menatap matanya. "Aku akan melakukannya dengan segenap cinta yang aku miliki. Kau percaya padaku?"


Alexa menjerit dalam kesakitan yang luar biasa. Jari-jari kukunya mencakar punggung Oliver seiring dengan air matanya yang mengalir. Namun seperti yang Oliver katakan, Alexa mencoba rileks dan mencoba menikmati apa yang dilakukan oleh Oliver padanya.


Oliver pun merasakan kalau kulit punggungnya agak peri. Namun ia mencoba mengabaikannya karena ia tahu kalau Alexa merasa lebih sakit darinya.


********


Perlahan Oliver berguling di samping Alexa. Ia kemudian tidur menyamping lalu menghapus air mata dan keringat Alexa yang sudah bercampur menjadi satu.


Alexa masih memejamkan matanya. Napasnya sendiri masih belum stabil.


"Terima kasih, sayang. Aku menjadi lelaki yang sangat beruntung malam ini. Aku tak akan pernah melupakan momen spesial malam pengantin kita ini."


Alexa perlahan membuka matanya. "Oliver, kamu kan pernah bilang, obsesi terbesarmu adalah membawa aku ke tempat tidur. Sekarang kau sudah berhasil melakukannya. Apakah kau akan meninggalkan aku setelah ini?"


"Sayang, kenapa sampai kau berpikiran seperti itu?' Oliver menghapus air mata Alexa yang membasahi pipinya. "Itu aku ucapkan sebelum aku jatuh cinta padamu. Sekarang kita sudah menikah karena saling cinta, nggak mungkinlah kalau aku akan meninggalkanmu setelah kita melalui malam yang sangat luar biasa ini."


Alexa tersenyum. "Aku mencintaimu, bule. Sangat mencintaimu."


"Aku bukan hanya mencintaimu, pramugari cantikku, aku bahkan tergila-gila padamu."


Alexa bahagia. Air matanya kembali mengalir.


"Mengapa menangis lagi sayang?"


"Aku terlalu bahagia, suamiku."


"Ah, senang sekali mendengarnya kau memanggil aku dengan sebutan itu, istriku."


Keduanya kembali berpelukan. Oliver bahkan mencium puncak kepala Alexa selama beberapa kali.


"Sayang, aku merasa haus." Alexa bergerak hendak turun dari tempat tidur namun Oliver menahan tangannya. "Biar aku saja yang ambilkan." Oliver bergegas turun dan melangkah ke arah kulkas. Alexa tertawa melihat bagaimana Oliver berjalan tanpa menggunakan apapun.


"Oliver bajunya di pakai." Alexa merasa malu melihat suaminya polos.


Oliver menoleh sambil tersenyum. "Kita kan nggak akan butuh baju malam ini, istriku." Katanya sambil membuka kulkas. "Kamu mau minum apa, sayang?"


"Air putih saja."


Oliver mengeluarkan sebotol air mineral dan satu kaleng bir. Saat ia berbalik, dilihatnya Alexa sudah menutup tubuhnya dengan selimut. Ia menyerahkan air putih pada Alexa sementara ia menikmati bir dinginnya.


"Eca, kita akan tinggal di sini selama 2 hari. Paman Jero memberikan kamar ini buat kita sebenarnya selama 1 minggu. Namun aku ingin kita pergi bulan madu, sayang."


"Bulan madu? Kemana?"


"Mau mu ke mana?"


"Aku nggak tahu. Kamu saja yang putuskan."


"Kita akan ke Phuket Thailand. Katanya pantai di sana sangat indah dan eksotis. Setelah dari sana, aku ingin kita ke Hawaii dan terakhir kita akan ke Inggris. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukan padamu di sana. Kamu mau?"


"Ok. Kedengarannya menyenangkan. Setelah itu apakah kita langsung pulang!"


"Tidak, sayang. Daddy ingin merayakan pesta pernikahan kita di Madrid. Jadi setelah dari Inggris, kita akan ke Mandrid."


"Berapa lama kita akan berbulan madu?"


"Sebulan atau mungkin lebih. Pasport mu di mana?"


"Di rumah."


"Aku akan meminta Kevin untuk memintanya pada orang rumah. Dia yang akan mengurus semua perjalanan kita. Aku ingin menggunakan pesawat pribadiku agar lebih nyaman perjalanannya."


"Terserah padamu, sayang."


Oliver menghabiskan birnya. Ia membuang kaleng bekasnya ke dalam tempat sampah. Setelah itu ia kembali naik ke atas tempat tidur dan ikut bergabung di bawa selimut dengan istrinya.


"Apakah kamu capek?" tanya Oliver.


"Sedikit." Jawab Alexa sambil memunggungi Oliver. Tangan kekar Oliver melingkar di pinggangnya.


"Aku mau lagi, sayang." bisik Oliver sambil mengendus leher Alexa.


"Mau apa?"


"Mau masuk lagi."


Alexa menoleh dengan wajah bingung. "Masuk ke mana?"


"ke taman surga"


Alexa mengerutkan dahinya. "Taman surga?"


Oliver tersenyum menggoda. Tangannya sudah menyentuh ke tempat-tempat sensitif yang ada di tubuh Alexa. Alexa akhirnya mengerti maksud Oliver. "Kamu mau masuk? Nanti sakit, Oliver. Aku takut."


"Tadi juga sakit namun akhirnya kamu berteriak penuh rasa kenikma..."


Alexa membungkam mulut Oliver dengan tangannya. Wajahnya jadi merah menahan malu.


"Aku pastikan kalau kali ini sakitnya hanya sedikit dan selebihnya...." Oliver mengedipkan matanya. Ia dengan cepat menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka. Ah, si bule kembali beraksi.


*********


Romantisnya cukup sampai di sini atau mau kisah bulan madu mereka? Ayo mana komentarnya???