
"Mendatangkan Jero?Apakah kamu sudah gila? Adikku akan semakin sulit melupakannya." Fidel menggeleng.
"Feronika harus tahu kalau Jero memang bukan untuknya. Dia selama ini begitu penasaran karena semenjak Jero memutuskannya, Jero sama sekali tak mau menemuinya lagi."
"Kalau aku melihat Jero di sini, aku ingin sekali meledakkan kepalanya dengan pistolku." Fidel akan pergi namun Giani buru-buru menahan pergelangan tangannya.
"Fidel, apakah kau tak ingin adikmu sembuh? Apakah kau tak ingin Feronika bahagia dan menikah dengan orang lain?"
"Tentu saja aku ingin adikku bahagia. Aku sangat menyayangi adikku."
"Biarkan mereka bertemu."
"Kalau aku mengijinkan Jero datang ke sini, ia akan membawamu pergi dariku. Tidak, Giani. Aku tak akan pernah melepaskanmu pergi dariku. Karena memilikimu adalah impian terbesar dalam hidupku."
"Apakah kau hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri? Kau memaksa aku untuk bersamamu namun seumur hidup kau akan terus membiarkan Feronika hidup dalam bayang-bayang Jeronimo. Aku mencintai suamiku. Dan jika kau memaksaku untuk tetap bersamamu, kau akan menghancurkan aku dan adikmu sekaligus." Giani melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Fidel. Ia berbalik dan duduk di tepi tempat tidur. Fidel meninggalkan kamar sambil membanting pintu yang ada di belakangnya.
Giani memegang perutnya. "Anak-anak mama, tenang ya sayang, kita akan bersama daddy lagi. Kalian tenang saja. Bunda nggak akan pernah menggantikan daddy kalian dengan siapapun juga."
*********
"Nona menangis histeris sepanjang malam. Aku terpaksa harus menyuntikan obat penenang baginya karena ia terlihat sangat gelisah." Keyzo, perawat yang merawat Feronika selama 6 bulan ini melapor kepada Fidel pagi ini di ruangan gym.
Fidel yang baru selesai berolahraga menatap perawat adiknya itu. Dia memang sengaja menyewa perawat laki-laki karena selama ini para perawat perempuan semuanya menyerah saat Feronika bersikap liar. Hanya Keyzo yang bisa menangani adiknya dengan baik.
"Key, kamu sudah hampir 1 tahun merawat adikku. Kamu sudah tahu kisah dibalik penyakitnya. Apakah menurutmu menghadirkan Jeronimo di sini akan membuat Feronika menjadi baik?"
"Ya. Nona memang perlu bertemu dengan Jeronimo agar dapat mengobati rasa penasarannya selama ini. "
"Bagaimana kalau Fero bertambah parah?"
"Nona harus belajar menghadapi kenyataan kalau semua tak seharusnya seperti yang dia harapkan."
Fidel diam sejenak. Ia masih belum siap bertemu Jero. Apalagi jika Jero akan mengambil Giani lagi.
"Terlalu sering diberikan suntikan obat penenang tidak akan baik bagi tubuh nona, tuan. Dia harus hidup normal tanpa harus terikat dengan cairan itu yang sebenarnya akan semakin melumpuhkan syarafnya."
"Aku akan pikirkan!" Kata Fidel. Ia mengambil handuk kecil dan melap keringat di wajah dan tangannya, sementara Keyzo pamit untuk kembali ke vila Feronika.
Saat Fidel akan menaiki tangga menuju ke kamarnya, ia mencium bau kopi yang sangat enak. Lelaki itu mengarahkan kakinya menuju ke dapur. Ia melihat Giani sedang sibuk membuat kopi. Wajah tampan Fidel tersenyum melihat perempuan yang aedang hamil itu terlihat sangat cantik dengan gaun hamil.berwarna biru mudah dan rambut yang digulung asal sehingga menampilkan leher jenjangnya yang mulus.
"Apa yang kau buat? Ini masih terlalu pagi untuk wanita hamil bangun."
Giani menoleh, menampakan wajah cantiknya yang sedikit berkeringat. "Aku membuat kopi untuk semua penghuni vila. Ini adalah kopi dengan campuran terbaik. Kau mau mencobanya?"
Fidel melangkah menuju ke meja makan. Ia duduk di sana dan menunggu Giani menuangkan secangkir kopi untuknya. Ia menghirup aroma kopi itu sambil memejamkan matanya. Sebagai orang yang sangat menggilai kopi, Fidel sudah mencoba berbagai macam kopi selama ia bepergian ke berbagai penjuru dunia. Namun aroma kopi yang Giani buat saat ini sungguh luar biasa aromanya. Saat Fidel menyesap kopi itu, wajahnya langsung tersenyum.
"Ini sangat enak. Kau tahu, aku jadi semakin tak ingin melepaskanmu!"
Giani hanya terkekeh. Sekali lagi tak ada ekspresi terkejut atau rasa takut di wajahnya. "Bagaimana dengan tawaranku? Kau mau mempertemukan Feronika dengan Jeronimo?"
Perasaan hati yang sedang bahagia menikmati kopi buatan Giani membuat Fidel mengingat kembali perkataan Keyzo mengenai efek memberikan obat penenang yang terlalu sering pada adiknya.
"Aku tak ingin Jero membawamu dariku, Giani."
"Sudah ku katakan padamu kalau aku tak akan pergi sebelum Feronika sembuh."
Fidel diam sesaat. "Baiklah. Jero boleh datang hari ini. Sendiri." Fidel menekan kata yang terakhir.
Giani tersenyum. "Terima kasih. Mau tambah kopinya?"
"Tentu saja!"
Giani pun menuangkan kopi lagi ke dalam gelas Fidel. Hatinya senang. Ia berharap semuanya akan berjalan sesuai rencananya.
*******
Langkah Jeronimo terhenti menatap vila di depannya. Pagi ini, Giani menghubunginya dan mengirim lokasi vila ini serta memintanya datang sendiri. Jero hampir meledak dengan rasa rindu di hatinya saat mendengar suara istrinya. Dua hampir gila selama 3 hari ini kehilangan perempuan yang sangat dicintainya.
"Silahkan masuk, tuan!" Ujar salah satu anak buah Fidel yang menjemput Jero dengan helikopter.
Kepala Jero sudah dipenuni dengan berbagai gambaran tentang keadaan istrinya. Apakah Giani disandera? Di ikat atau di kurung di kamar?
"Selamat datang Jeronimo Dawson!" Sambut Fidel saat Jero sudah memasuki ruang tamu. Di samping Fidel, terlihat Giani duduk dengan begitu santainya.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Jero. Ia ingin sekali berlari dan memeluk istrinya itu. Namun Giani menggeleng dengan isyarat mata yang membuat Jero akhirnya menghentikan langkahnya.
"Bee, temuilah Feronika. Berbicaralah padanya." Kata Giani.
"Apa? Mengapa aku harus berbicara dengan wanita gila itu?" Jero secara cepat menolaknya.
"Diam, brengsek! Yang kau katakan gila itu adalah adikku." Fidel jadi emosi.
"Bee, kau harus berdamai dengan masa lalumu. Bagaimana pun salah satu penyebab Fero menjadi seperti itu karena kau memutuskan hubungan kalian."
Jero menatap Fidel. "Aku mungkin lelaki brengsek! Tapi saat kami memulai hubungan saat itu, aku sudah katakan pada Feronika bahwa aku mencintai wanita lain. Kami sepakat kalau hubungan itu hanya sebatas kebutuhan di atas ranjang. Fero setuju namun akhirnya ia berubah menjadi posesif dan pencemburu sehingga aku sangat terganggu dengan semua itu."
Giani menatap Fidel. "Boleh aku berbicara dengan Jero secara empat mata?"
Fidel nampak tak setuju. Namun saat menatap wajah Giani yang penuh permohonan, Fidel lagi-lagi tak bisa menolaknya. Ia pun meninggalkan Jero dan Giani sendiri.
"Bee, kau harus berbicara dengan Feronika. Kau harus memutuskannya secara baik-baik. Buktikan padanya kalau kau tak sehebat dulu lagi."
"Maksudnya?"
Giani mendekat lalu berbisik. "Fero selalu mengatakan kalau kau hebat di ranjang. Kali ini tunjukan padanya kalau kau tak sehebat itu."
"Aku harus membiarkannya menyentuhku? Tidak mau!"
"Tapi..."
"Itu satu-satunya cara agar kita dan si kembar bisa keluar dari tempat ini."
"Baiklah. Di mana perempuan itu?"
"Ada di vila belakang. Kau ikuti saja apa yang akan dilakukannya padamu. Namun dengan satu syarat, si palo jangan sampai berdiri. Kalau si palo berdiri, aku akan ikut dengan Fidel ke Sidney!" ancam Giani.
Jero terkejut. Ia tahu bagaimana liarnya Feronika itu. Si palo pasti akan berdiri. Bagaimanapun dia masih lelaki normal yang sudah satu minggu ini tak menyentuh wanitanya karena sedang hamil.
Giani mengantarkan Jero ke Vila Feronika setelah terlebih dahulu meminta salah satu pelayan untuk menghubungi perawat yang menjaga Feronika.
Ketika mereka memasuki vila itu, Feronika yang sedang duduk di atas tempat tidurnya, mengangkat wajahnya. Mata gadis itu terbelalak . Ia langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari sambil memeluk Jero.
"Sayangku.....Jero....!" Feronika langsung memeluk Jero sambil menangis. Kerinduannya pada pria tampan ini akhirnya terwujud juga.
Jero tak bergerak. Kedua tangannya tetap berada di kedua sisi badannya. Mata Jero tetap memandang Giani yang sedang duduk di samping perawat Feronika. Tak jauh dari situ, ada Fidel yang sedang mengawasi dengan tatapan tajam.
"Jero, apakah kamu datang untuk bersama aku lagi?" Tanya Feronika setelah melepaskan pelukannya. Tinggi badan mereka yang hampir sama membuat tatapan mata mereka langsung bertemu.
"Maaf, Feronika. Aku datang karena Giani yang memintanya. Aku tahu kalau aku sudah melakukan kesalahan padamu. Aku minta maaf jika hubungan kita harus berakhir. Aku tak bisa mencintaimu. Kini aku sudah menikah. Aku bahagia dengan istriku karena kami akan memiliki anak." Kata jero pelan. Ia berusaha menekan emosinya. Sungguh ia merasa tak nyaman dengan tatapan Feronika.
Air mata Feronika jatuh lagi. "Kau sudah lupa dengan semua masa-masa indah kita? Kau pernah bilang bahwa dari semua gadis yang pernah tidur denganmu, akulah yang paling bisa memuaskanmu." Feronika mencium bibir Jero namun Jero sama sekali tak membalasnya. Tangan Feronika bergerak perlahan dan memegang palo. Ia menggengamnya erat, berusaha untuk membangkitkan gairah Jero namun Jero terlihat tenang. Palo tetap tak bangun.
"Kau....kau....sama sekali tak bergairah?" Tanya Feronika dengan wajah kecewa. Ia mundur dua langkah. Matanya masih memandang Jero. Tangan gadis itu bergerak cepat membuka gaun yang dipakainya.
Giani mengepalkan tangannya. Sebagai sesama perempuan ia harus mengakui betapa sempurnanya bentuk tubuh gadis blesteran Jepang-Australia itu. Jujur, hati Giani sakit membayangkan tubuh itu pernah disentuh Jero.
Saat Feronika akan membuka pengait branya, tangan Jero bergerak menahan tangan gadis itu. Kepala Jero menggeleng. "Jangan Feronika. Jangan mempermalukan dirimu. Aku bukan lelaki yang baik untukmu. Kau cantik. Aku yakin masih banyak lelaki yang menginginkanmu dan akan mencintaimu dengan tulus."
"Aku hanya mau kamu, Jero. Aku tak bisa melupakan bagaimana nikmatnya kita bercinta."
"Kau tak akan mendapatkannya lagi dariku."
"Aku tak percaya." Feronika kembali memegang si palo. Wajahnya kembali kecewa karena tak merasakan milik Jero itu mengeras.
Jero melirik sebentar pada Giani. Sungguh ia ingin mengahiri semua ini dan segera pergi sambil membawa istrinya.
"Aku tak seperkasa dulu lagi. Penyakitku telah membuat banyak perubahan dalam tubuhku."
"Penyakit apa?"
"Aku terkena HIV."
"Apa?" Feronika mundur beberapa langkah lagi. Ia menatap Jero dengan perasaan jijik. "Kau pasti sudah tidur dengan banyak wanita kan? Tuhan sudah mengutukmu. Aku tak mau kamu lagi...!" Feronika membalikan badannya. Keyzo langsung mendekat. Ia memeluk Feronika dengan penuh kasih.
"Feronika, jangan merindukannya lagi. Kamu tak pantas untuknya." Keyzo lalu memungut gaun Feronika dan memakaikannya kembali ditubuh gadis itu.
"Keyzo, jangan tinggalkan aku...!" Kata Feronika lalu kembali memeluk perawat tampan itu. "Suruh mereka pergi!"
Jero mendekati Giani. "Ayo kita pergi, Gi!" Ajak Jero.
Giani menyambut uluran tangan suaminya. Keduanya melangkah keluar. Namun saat berada di luar Vila, Fidel sudah menghadang mereka dengan pistolnya.
"Kau boleh pergi Jero! Namun aku tak akan mengijinkan Giani pergi."
Jero menyembunyikan tubuh Giani dibelakang tubuhnya. "Apa maumu, Fidel? Istriku sedang hamil."
"Aku tertarik padanya dan juga anak yang ada dalam kandungannya. Kau tak pantas memiliki wanita sebaik dia."
"Memangnya kau pantas?"
Fidel tersenyum. "Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya."
"Dia istriku. Aku akan mempertahankannya sampai akhir hidupku."
Fidel membuka pengaman pistolnya. "Kalau begitu, matilah sekarang, Jeronimo!"
"Kau dulu yang mati, brengsek!"
Fidel terkejut. Sebuah pistol sudah menempel di kepalanya. Jero tersenyum melihat Beryl yang datang sambil menodongkan pistol di kepala Fidel.
"Gue nggak terlambatkan, dude?" Tanya Beryl sambil mengerlingkan matanya.
Fidel mencoba mencari anak buahnya. Bukankah bodyguartnya ada lebih dari 30 orang yang berjaga di pulau ini?
"Maaf Fidel, kalau kau mencari anak buahmu, mereka semua sekarang sedang tidur. Aku membuat kopi untuk mereka semuanya. Kau ingat bahan-bahan yang kuminta untuk kau belikan? Di dalamnya ada yang mengandung obat tidur. Mungkin sebentar lagi kau akan pingsan karena kau meminumnya 3 gelas." Kata giani membuat Fidel terkejut. Memang sejak tadi kepalanya terasa berat. Namun ia berusaha menahannya karena ingin melihat apa yang terjadi pada adiknya.
"Kau hebat Giani. Aku semakin suka padamu!" Kata Fidel lalu ia pun jatuh ke atas pasir.
Jero menatap istrinya dengan rasa kagum. "Kau sungguh hebat, sayang. Kau merencanakan semuanya dengan baik."
"Makanya, jangan main-main denganku. Ayo pulang. Aku merindukan kamarku!" Kata Giani lalu melangkah. Ia sempat melirik ke arah Vila. Ia tahu apa yang sementara terjadi di sana.
Sejak awal, Giani sudah tahu kalau Keyzo menyukai Feronika. Ia pun bekerja sama dengan perawat tampan itu untuk membuat Feronika sadar bahwa pria perkasa itu bukan hanya Jero saja. Setelah mereka keluar tadi, Giani mwlihat kalau Keyzo memberikan Feronika minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang. Sedikit jahat memang, namun itu salah satu bentuk terapi penyembuhan menurut Keyzo.
Saat helikopter yang membawa Jero, Beryl dan Giani sudah meninggalkan pulau itu, di dalam vila terdengar desahan Feronika.
"Keyzo....kamu sangat luar biasa. Aku menyesal sudah merindukan Jero selama 3 tahun ini....!"
Wah...wah....akhirnya....Giani bebas dengan mudah kan?
Part selanjutnya yang manis-manis aja ya...
jangan lupa dukung emak.....🥰🥰🥰