Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Papi Juan (part 2)


Mata Juan menatap foto Finly yang berukuran jumbo. Foto itu diletakkan di depan tempat tidurnya. Juan ingin saat ia menutup dan membuka matanya, wajah itu yang selalu dilihatnya.


2 tahun lebih Juan tak pernah melirik satu wanitapun. Tapi siang ini, saat ia pulang ke rumah dan menemukan sosok wanita bertubuh mungil yang mirip dengan Finly, hati Juan bergetar. Apakah karena kesamaan wajah mereka? Ataukah ada sesuatu yang lain?


"Papi..., boleh Eca masuk?" Tanya Alexa yang sudah berdiri di depan pintu kamar yang memang tak tertutup.


"Masuklah, nak!"


Alexa melangkah masuk. "Papi, mama bule mengajak papi untuk makan malam. Bibi Giani dan paman Jero juga mau datang."


"Baiklah." Juan turun dari tempat tidur. "Papi ganti baju dulu."


"Eca tunggu di rumah papa Aldo ya?" Ujar Alexa sebelum keluar.


Juan pun mengganti celana pendeknya dengan celana panjang jeans dan kaos putih yang membungkus tubuh atletisnya. Ia menyisir rambutnya sebentar lalu segera keluar kamar. Rumah Aldo sudah menjadi rumah kedua baginya. Ia sendiri tak pernah menduga, ia akan akrab dengan mantan suami dari Finly. Keluarga Juan semuanya ada di luar negeri. Hanya mama Juan yang sesekali datang ke Jakarta untuk menengok cucunya. Juan juga bersyukur karena mamanya bukan hanya menyayangi Felicia tapi juga menyayangi Alexa.


Saat kaki Juan memasuki pintu samping rumah Aldo, ia melihat Wulan yang sedang bermain bersama Joaldo dan Felicia. Gadis itu hanya mengenakan celana panjang hitam yang agak ketat dan kaos longgar. Rambutnya kembali diikat satu. Ia sedang membaca cerita bagi kedua anak itu. Suaranya berubah-ubah sesuai dengan karakter tokoh cerita yang dibacanya.


"Papa....!" panggil Felicia saat melihat papanya.


Wulan menoleh. Ia tersenyum pada pria tampan yang berdiri tak jauh dari mereka. Sungguh, Wulan merasakan jantungnya sangat berdebar melihat tatapan mata Juan yang menurutnya penuh sejuta pesona. Sadar, Wulan. Kamu itu


hanya pengasuh anak, dia itu salah satu pengusaha sukses di Jakarta ini.


Juan tersenyum pada putrinya sekaligus juga pada Wulan. Setelah itu ia melangkah ke arah ruang makan. Di sana sudah ada Aldo dan Jero yang sementara menikmati anggur di bar mini yang ada di dekat meja makan, sedangkan Joana dan Giani sedang berbincang di sofa yang letaknya bersebelahan dengan bar mini itu.


"Selamat malam!" Sapa Juan membuat semua yang ada di sana tersenyum padanya. Sejak kematian Finly, hubungan mereka semua menjadi akrab. Mama Sinta sering mengundang mereka untuk makan malam bersama karena ia sudah menganggap mereka sebagai anaknya.


"Juan, ayo kita minum anggur dulu. Temanku dari Perancis mengirimkan anggur ini." Ajak Aldo.


Juan pun mengambil tempat duduk di samping Jero.


"Apa kabar si kembar dan putri kecilmu?" Tanya Juan.


"Si kembar semakin pintar. Gabrian baru saja memenangkan olimpiade matematika dan Gabriel baru saja memenangkan lomba catur Anak se Asia. Kalau putri kecilku, jangan ditanya. Walaupun usianya belum genap 2 tahun, namun dia sangat cerewet dan sudah sangat lancar berjalan. " Kata Jero dengan bangga.


"Ya. Aku membacanya di internet. Walaupun jujur saja, aku nggak tahu mana Gabrian dan mana Gabriel. Mereka memang kembar identik." Juan berkata sambil menggelengkan kepalanya karena kesamaan wajah anak kembar Jero.


Joana dan Giani saling bertatapan melihat bagaimana 3 pria tampan itu saling berbagi cerita. Mereka seakan lupa kalau di masa lalu dulu, mereka pernah punya hubungan dengan 1 wanita yang sama yaitu Finly.


Setengah jam minum anggur sambil berbincang, Joana meminta para pelayan untuk menyiapkan meja makan. Joana juga meminta untuk memanggil Wulan.


"Kenapa harus makan di sini, nyonya?" Tanya Wulan merasa canggung karena harus duduk diantara orang-orang kaya.


"Tidak apa-apa, ayo duduk!" Lata Joana sedikit memerintah.


"Duduk saja bibi!" Kata Felicia yang duduk di samping papanya.


Wulan pun duduk dengan sangat kaku. Untunglah Alexa yang baru datang langsung mengambil tempat duduk di sampingnya.


Makan malam pun berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.


"Ikan ayam saos tiram ini sangat enak." puji Juan.


"Ini buatan Wulan. Semua yang kita makan ini buatan Wulan." Kata Joana membuat semua yang ada di meja makan memandangnya dengan kagum. Wulan jadi tersipu malu.


"Masakan bibi Wulan memang enak. Bi, besok pagi tolong buatkan nasi goreng seafood ya? Tapi malam ini Felicia meminta aku untuk tidur dengannya. Jadi bibi buat nasi gorengnya di rumah papi Juan saja? Bolehkan, pi?" Alexa menatap Juan.


"Boleh." Jawab Juan sambil mengangguk. Ia memang selalu setuju apapun yang menjadi kebahagiaan Alexa dan Felicia.


"Asyik.....!" Felicia bertepuk tangan dengan gembira.


"Papi, bibi Wulan boleh tidak tidur di rumah sebelah?" Tanya Alexa lagi.


"Tidak apa-apa. Kan lebih baik kalau Wulan tidur di rumah sebelah. Supaya nggak terlambat juga menyiapkan sarapan untuk Felicia dan Alexa. Atau bagaimana menurutmu, Juan?" Aldo yang memang sudah tahu rencana Alexa, Giani dan Joana berusaha supaya Wulan memang dapat tidur di rumah Juan.


"Nggak masalah selama Felicia dan Eca merasa nyaman." Juan tak ingin melihat senyum di wajah Alexa dan Felicia memudar. Selama ini, Juan tak terlalu suka ada perempuan yang masuk ke rumahnya. Para pelayan yang datang hanya untuk membersihkan rumah. Selebihnya, Juan bisa mengerjakan tugas rumah sendiri saat ia tak masuk kantor.


Giani dan Joana saling berpandangan. Mereka merasa senang karena Juan mengijinkan. Semoga ini menjadi rencana awal yang baik.


"Sayang, bagaimana nanti jika Wulan dan Juan sudah dekat dan Wulan akhirnya melihat foto Finly?" Tanya Jero saat keduanya sudah pulang ke rumah. Anak-anak mereka sudah tidur.


"Makanya, aku tetap ingin Wulan dengan karakternya yang tomboy dan agak urakan. Supaya jika Juan menyukai Wulan bukan karena kesamaan wajah dan sifat mereka melainkan karena ada sesuatu dalam diri Wulan yang berbeda dari Finly. Aku hanya membantu Eca mewujudkan impian Finly. Aku, Joana dan Eca tak tahu juga apa yang Finly nilai dalam diri Wulan sampai ia merasa kalau Wulan bisa mendampingi Juan." Giani naik ke atas tempat tidur dan duduk sambil berselojor kaki di samping suaminya. Jero langsung melingkarkan tangannya di bahu Giani dan menarik istrinya agar lebih dekat padanya.


"Tapi, jangan memaksa Wulan ataupun Juan jika mereka tak saling jatuh cinta."


Giani mengangguk dalam dekapan suaminya. Jero mencium puncak kepala istrinya dengan sangat lembut. "Wulan kelihatannya baik dan anak-anak langsung suka padanya. Mudah-mudahan itu bukan hanya penampilan luar saja. Seperti juga saat pertama kali aku melihatmu. Aku merasa kalau kamu gadis lugu yang akan membuatku bosan padamu. Nyatanya, aku justru jatuh cinta dengan semua sifatmu yang awalnya sangat menjengkelkan bagiku. Kau tak selugu yang ku kira. Kau bahkan berani menyentuh palo dan mengatakan kalau dia kecil."


Giani tertawa sangat keras mengingat bagaimana nekatnya ia dulu. "Jadi kau tertantang menaklukan ku karena aku mengatakan kalau palo kecil?"


"Awalnya iya. Namun aku jatuh cinta padamu tanpa alasan palo atau apapun juga." Jero menautkan jari-jari mereka. Tangannya yang satu menyentuh dagu Giani membuat mereka kini saling bertatapan. " Aku jatuh cinta padamu karena kau gadis yang bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia. Semua kebiasaan kita yang tercipta selama 1 tahun itu membuatku yakin kalau hanya kau yang kuinginkan."


Giani tersenyum. "Terima kasih karena tak pernah menyerah untuk mengejar ku."


Jero menunduk, menyatuhkan bibir mereka dalam ciuman yang panjang. Ciuman yang begitu lembut namun memabukkan.


"Bee....!" Giani menahan tangan suaminya yang mulai melepaskan kancing piyamanya.


"Kenapa sayang? Palo kangen, nih! Kemarin aku pingin kamu bilang besok saja. Sudah 3 hari lho aku puasa."


"Maaf, Bee. Tadi pagi aku baru saja kedatangan tamu bulanan ku." Kata Giani dengan wajah menyesal.


"What??? Jadi Palo harus istirahat 5 hari lagi?" Jero langsung menarik rambutnya kasar membuat Giani menahan tawa. Ia selalu merasa kalau Jero dengan urusan palonya tak pernah berubah walaupun anak-anak mereka sudah mulai besar.


"Mau dipuaskan dengan cara-cara yang lain?" Tanya Giani dengan senyum yang menggoda. Jero langsung mengangguk sambil tersenyum. Ah, sungguh ia merasa semakin hari semakin jatuh cinta pada Giani. Mereka bahkan jarang sekali bertengkar.


***********


Hujan turun malam ini dengan angin yang sangat kencang. Wulan merapatkan selimutnya. Ia tidur di salah satu kamar yang ada di lantai bawa rumah Juan Ferandez. Sebenarnya Wulan tak ingin tidur di sini. Namun ia tak ingin mengecewakan Alexa dan Felicia.


Lampu tiba-tiba padam. Wulan langsung melompat turun dari atas tempat tidur. Ia paling takut kalau lampu padam. Ia punya kenangan buruk saat lampu padam dan hujan seperti ini. Wulan pernah hampir diperkosa di kampungnya oleh pamannya sendiri. Untunglah saat itu mamanya cepat datang. Makanya tiap kali mati lampu diwaktu hujan, Wulan selalu merasa resah.


Ia mengambil ponselnya dari bawah bantal dan segera menyalahkan senternya. Wulan ingin memeriksa keadaan Alexa dan Felicia. Rambutnya yang sudah tergerai dibiarkannya saja. Ia malas mencari karet untuk kembali mengikat rambutnya.


Ia keluar kamar lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Kamar Alexa dan Felicia yang mana ya? Kok aku jadi lupa sih? Pada hal tadi aku menemani mereka tidur kan?


Wulan membuka satu pintu yang ia yakin adalah kamar Alexa. Saat pintu itu terbuka, ada seseorang dari dalam kamar yang sepertinya akan keluar. Wulan kaget dan menjatuhkan ponselnya saat ia menabrak dada yang keras. Ia hampir saja terjatuh dan berteriak saat ia merasakan sebuah tangan memegang lengannya dan menarik tubuhnya sehingga ia ada dalam pelukan orang itu. Aroma tubuh orang itu sangat harum dan menangkan saat hidung Wulan mencium baunya. Begitu terlenanya Wulan dengan harum tubuh orang itu, ia dibuat terkejut saat merasakan benda kenyal yang sedikit basah menyentuh bibirnya. Wulan ingin mendorong tubuh orang itu saat ia menyadari kalau dirinya sedang dicium. Wulan belum pernah berciuman sebelumnya. Namun, bisikan lembut disudut bibirnya membuat Wulan kembali membisu.


"Please...., jangan pergi, aku kangen...!"


Tubuh Wulan membatu saat menyadari kalau itu suara Juan. Sebuah tangan menekan tengkuknya. Sementara tangan yang lain menarik pinggangnya sehingga tubuh mereka tak ada lagi jarak. Bibir Juan kembali bergerak, menyentuh bibir Wulan yang belum pernah terjamah. Membuat gadis polos tanpa pengalaman apapun dengan pria itu tak berkutik. Ia merasa nyaman dengan ciuman itu.


***********


Duh...si Juan main nyosor aja.....


Gimana kisah mereka ya.....


Apakah Juan akan nekat seperti Jero???


Masih mau kisah Juan di bahas di sini???


Komen, like dan Vote emak ya....