
3 hari lagi Alexa akan menjadi istri Oliver. Semua undangan sampai ke alamat masing-masing. Alexa bahkan sedang menjalani masa dipingit. Tak boleh ketemu dengan Oliver sebelum hari pernikahan. Persiapan pernikahan dan konseling pernikahan pun sudah dilakukan seminggu yang lalu.
Pagi ini, Alexa berdiri di depan lemari pakaiannya. Matanya menatap gaun pengantin yang kini sudah tergantung indah di sana. Alexa jadi ingat, sewaktu ia kecil, setiap kali menatap foto pernikahan papa Aldo dan mama Finly, ia selalu bertanya, kapan ia akan memakai gaun seperti itu. Bibi Giani selalu mengatakan, nanti kalau ia sudah besar.
Alexa tiba-tiba saja ingin ziarah ke kubur mamanya. Ia pun mengganti baju rumahnya lalu segera menuju ke bawa. Papa Aldo nampak baru pulang dari kantor. Sejak persiapan pernikahan Alexa semakin dekat, papanya memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
"Eca, mau kemana?" tanya Aldo sambil menatap anaknya.
"Pa, Eca mau ziarah ke kubur mama. Bolehkan?"
"Papa antar."
"Ok."
Joana dan Giani yang sedang duduk bersama di ruang tamu, menatap papa dan anaknya yang keluar sambil bergandengan tangan.
"Mau kemana sayang?" tanya Joana.
"Mau ke kuburnya Finly." Jawab Aldo. "Kamu mau ikut?"
Joana menggeleng sambil tersenyum. "Nggak. Kalian pergilah berdua."
Giani pun mengangguk setuju. "Hati-hati di jalan."
Joana menatap kepergian papa dan anak itu dengan hati yang terharu. "Rasanya baru kemarin aku datang ke rumah ini dan Eca berlari sambil memelukku dengan sangat erat. Tubuhnya yang pendek membuat aku harus selalu membungkuk untuk menciumnya. Kini, saat melihatnya bisa berdiri sejajar dengan aku, membuatku jadi merasa sangat tua."
Giani terkekeh. "Waktu sudah sangat jauh berlalu."
"Bagaimana si kembar?"
"Gabrian tidak akan pulang menjelang akhir tahun ini. Ia akan mengambil kelas khusus agar kuliahnya cepat selesai. Makanya aku bilang ke Jero kalau aku ingin pergi ke London. Aku kangen dengan anakku itu."
"Joaldo juga bilang kalau tahun depan ia ingin kuliah di Amerika. Aku sebenarnya ingin menolaknya namun Aldo sudah mengijinkannya. Mudah-mudahan saja tahun depan Alexa sudah memberikan kita cucu. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri."
"Eh, kemarin aku ketemu pak guru Paul. Dia makin ganteng saja di usianya yang tak lagi mudah. Aku mengundang dia untuk ke pernikahan Alexa. Dan beliau langsung menyatakan ingin hadir."
"Apakah si Jero nggak akan cemburu?"
"Nggak mungkin. Masa sih sudah tua dan masih suka cemburuan."
"Siapa bilang kalau kamu sudah tua? Usiamu baru 38 tahun. Kalau aku sih sudah 43 tahun."
"Berarti Jero sudah mau 45 tahun ya. Wah, sebentar lagi dia mau ulang tahun. Aku harus membuat sesuatu nih!"
Joana tersenyum. "Sejak kamu benar-benar jatuh cinta pada Jero, aku perhatikan kalau kamu jadi semakin romantis."
Giani tersipu. "Cinta memang mengubah banyak hal. Aku sendiri hanya berharap agar kisah cinta anak-anak ku akan lebih baik dariku. Apalagi mereka kembar. Kata orang, anak kembar sering jatuh cinta pada gadis yang sama."
"Ya. Apalagi mereka kembar identik."
"Kita berdoa saja agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang kelak akan berbahagia dengan pasangan mereka masing-masing."
"Amin."
**********
Tangan Alexa bergetar saat ia menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama mamanya. Ia mengingat 4 tahun terakhir sebelum kematian mamanya, ia mendapatkan begitu banyak cinta dan perhatian. Mamanya selalu memberikan waktu terbaik untuk Alexa. Bahkan saat mamanya sakit pun, Alexa tetap mendapatkan perhatian yang sama.
Aldo ikut terharu melihat Alexa yang tak dapat menahan air matanya. Finly memang pernah mengabaikan Alexa waktu ia kecil. Alexa lebih dekat dengan Giani dari pada dirinya. Namun Tuhan memberikan Finly waktu untuk memperbaiki semuanya. Aldo bersyukur kalau Alexa akhirnya mengenang mamanya sebagai wanita yang baik.
"Ma, Eca mau menikah. Eca yakin kalau mama melihat Eca dari atas sana. Doakan agar Eca bahagia ya, ma. Eca janji akan terus memperhatikan papa Aldo dan papi Juan walaupun Eca sudah menikah. Eca janji jika Tuhan kasih Eca anak, jika dia perempuan, Eca akan menamakannya seperti nama mama. Eca suka nama seperti nama mama."
Senyum di wajah Aldo mengembang. Ia tak menyangka kalau gadis kecilnya kini sudah menjadi wanita dewasa. Alexa tumbuh sebagai pribadi yang baik hati dan suka menolong orang lain. Ia memiliki prinsip hidup yang kuat. Aldo bersyukur Alexa di kelilingi oleh wanita-wanita terbaik.
Selesai berziarah di kubur, Alexa mengajak papanya untuk makan bakso di dekat sekolahnya dulu. Ia juga mengajak papa nya untuk pergi ke taman bermain yang tak jauh dari rumah mereka. Sepanjang hari ini, Alexa seakan bernostalgia dengan masa kecil dan masa remajanya.
"Sayang, kalian ada di mana? Kenapa nggak pulang-pulang? Ini sudah jam makan malam, lho." tanya Joana dari sambungan telepon.
"Kami lagi makan di tempat favorit Alexa waktu SMP. Kalian makan saja tanpa kami. Aku ingin membuat Eca bahagia."
"Oke. Selamat bersenang-senang ya, sayang."
Alexa yang baru saja meletakan es cream vanila kesukaannya, menatap papanya.
"Ada apa, pa?"
"Mami bulemu menelepon."
"Wah, jangan dulu pulang, pa. Eca masih mau pergi ke satu tempat lagi."
"Tempat apa lagi, sayang?"
"Bioskop tua yang ada di dekat pasar."
"Sayang, memangnya kamu mau menonton? Bioskop itu pasti sudah kotor."
"Hanya mau melihat saja, pa. Bolehkan pa?"
Aldo tersenyum sambil mengangguk. "Apa sih yang nggak papa lakukan untuk, Eca?"
"Makanya Eca selalu sayang papa." Alexa melingkarkan tangannya di lengan papanya. Rasanya ia masih selalu ingin bermanja-manja dengan papanya.
**********
Oliver berdiri dengan gugup di hadapan kaca besar yang ada di kamar hotel. Acara resepsi pernikahannya dengan Alexa akan dilaksanakan di hotel ini. Salah satu hotel mewah di Jakarta yang adalah milik paman Jero.
"My Boy, ada apa denganmu?" tanya Elvira sambil menyeka keringat di dahi Oliver.
"Jantungku berdetak sangat cepat, mom. Aku juga merasa sangat gugup. Saat melamar Alexa di depan 3 pasang pasutri pelindungnya, aku memang gugup. Namun nggak kayak hari ini."
Elvira tersenyum. "Itu hal yang wajar, sayang. Kau akan menikah dengan gadis yang kau cintai. Gadis yang belum pernah kau sentuh secara intim. Gadis yang sangat sulit untuk kau dapatkan. Tenangkan dirimu, pikirkan saja tentang kebahagiaan yang akan kau nikmati bersama Alexa."
Oliver menarik napas panjang beberapa kali. Ia memeluk mamanya dengan hati yang terharu. "Terima kasih, mom. Sudah melahirkan aku di dunia. Sudah mau menemani ku saat pernah terpuruk dalam hidup ini. Maafkan aku juga yang kadang sering membantah padamu. Alexa sudah cerita kalau sejak awal mommy sudah menemuinya dan memintanya untuk bersamaku. Aku bahagia karena kedatangan mommy itu menjadi alasan bagi Alexa untuk memperhatikan aku."
"Mommy tetap cantik dengan make up yang terlihat sedikit berantakan kayak gini."
Keduanya tertawa. "Mommy bangga pernah melahirkan mu." Ujar Elvira lalu mencium dahi putranya. "Mommy mau memperbaiki make up dulu. Kamu siap-siap saja karena sebentar lagi kita akan pergi ke gereja."
Oliver hanya mengangguk. Ia membiarkan mamanya keluar kamar. Lalu ia sendiri meraih ponselnya. Masih ada waktu hampir 2 jam lebih sebelum waktu pemberkatan nikah. Oliver sebenarnya sudah kangen pada Alexa. Di samping satu minggu tak bisa bertemu, Alexa juga sejak kemarin memutuskan agar mereka jangan saling Videocall. Oliver jadi kangen dengan tunangannya itu.
**********
Di kamarnya, Alexa sudah selesai didandani. Gaun berwarna putih pun sudah membungkus tubuh indahnya.
Aldo, Joana, Jero, Giani, Wulan dan Juan, tersenyum saat melihat Alexa turun dari tangga bersama Felicia yang menggandengnya.
"Kau cantik sekali, nak. Papa bangga padamu." Aldo berdiri lalu mendekati putrinya. Ia menutup cadar yang ada di kepala Alexa. "Ayo, nak, papa akan mengantarmu ke altar pernikahan mu."
Mereka pun berangkat menuju ke gereja. Semuanya tersenyum bahagia.
Di depan altar, Oliver tersenyum saat mendengar kalau pengantin wanitanya sudah datang. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Alexa masuk digandeng oleh papa Aldo.
Entah mengapa Oliver tak dapat menahan air matanya saat mengingat perjuangannya agar dapat memenangkan hati Alexa. Bagaimana rintangan yang harus dilewatinya agar Alexa percaya akan ketulusannya.
Leonardo memberikan beberapa lembar tissue untuk kakaknya. Ia juga ikut terharu, si Casanova yang itu akhirnya bisa menemukan cinta sejatinya.
"Oliver, aku menyerahkan putri kesayanganku. Dia adalah nafas dan hidupku. Sebagaimana aku menyayangi dan menjaganya dengan seluruh hidupku selama ini, aku harap agar kau menjaganya juga dengan sepenuh hatimu." Kata Aldo sambil menyerahkan tangan kanan Alexa untuk dipegang oleh Oliver.
"Aku janji, pa. Aku akan menjaga Alexa dengan segenap hatiku. Aku tak akan pernah menyakitinya." Kata Oliver mantap sambil menggenggam tangan Alexa.
Acara pemberkatan pernikahan pun dilaksanakan dengan penuh hikmat dan keharuan. Apalagi saat janji suci terucap, naik Alexa maupun Oliver tak bisa menahan air matanya.
"Waktu kecil, Alexa selalu membuatku dongkol karena ia sama sekali tak menyukai wajah buleku. Ia bahkan mengatakan kalau pak guru Paul lebih ganteng dibandingkan aku. Namun lihatlah sekarang. Ia justru jatuh dalam pelukan seorang bule." Ujar Jero saat acara pemberkatan nikah sudah selesai dan mereka kini berada di hotel untuk acara resepsi pernikahannya.
"Itulah takdir, sayang. Memangnya siapa yang bisa melawan kehendak yang kuasa. Alexa bisa saja mengatakan kalau ia tak mau sama pria bule, namun perjalanan hidup telah membuatnya ketemu dengan Oliver. Walaupun sebenarnya Oliver bukan bule seutuhnya. Mamanya kan orang Indonesia." Kata Giani.
"Namun wajahnya 80 persen bule, sayang."
Giani terkekeh. "Aku sama Alexa sebenarnya sama. Dulu juga aku berharap berjodoh dengan pria lokal kayak pak guru Paul, namun Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya yang unik."
Jero melingkarkan tangannya di bahu Giani. Pernikahan mereka yang sudah terjalin hampir 20 tahun membuat Jero semakin mencintai wanita yang telah memberikannya 4 orang anak.
"Bee, Eca mengundang pak guru Paul. Apakah beliau sudah datang?" Giani berdiri. Ia melihat ke semua arah untuk mencari keberadaan pak guru Paul.
"Sayang, kok kamu antuasias banget, sih? Ayo duduk!" Jero menarik tangan Giani namun istrinya itu justru melepaskan tangan Jero yang menggenggam tangannya. Giani melangkah ke arah seorang pria yang walaupun rambutnya sudah ada uban namun masih terlihat tampan dan gagah.
"Pak guru, Paul!" panggil Giani.
Paul menoleh. "Giani? Kau semakin cantik saja."
Alexa yang sedang menyapa para tamu pun meninggalkan Oliver saat melihat pak guru Paul."
"Pak guru Paul!" Alexa mendekat. Ia langsung mengambil tangan kanan pak guru dan mencium punggung tangan pria yang sejak kecil selalu diidolakannya.
Jero mendekati Oliver yang nampak bengong melihat Alexa yang secara tiba-tiba meninggalkan dia.
"Oliver, kita berdua harus waspada. Karena lelaki berkacamata itu dapat mengancam kesetiaan istri-istri kita."
"Maksud paman?"
"Istriku dan istrimu, sangat mengidolakan pria yang mereka sebut sebagai pak guru Paul. Pria lokal asli yang sialnya harus ku akui bahwa dia terlihat tampan di usianya yang sekarang."
Wajah Oliver langsung cemberut saat mendengar apa yang Jero katakan. Bagaimana tidak, Alexa terlihat sangat gembira dengan kedatangan pria berkacamata itu. Ada rasa cemburu yang memenuhi ruang hatinya. Bukankah Alexa pernah mengatakan kalau ia lebih menyukai pria lokal. Apakah laki-laki itu adalah idolanya.
Oliver langsung mendekati Alexa yang sedang berbincang dengan bibi Giani dan pak guru itu.
"Sayang, ayo kita sapa tamu yang lain!" ajak Oliver.
"Pak guru Paul, silahkan menikmati hidangannya." Kata Alexa dan sedikit bingung karena Oliver mencium pipinya dan langsung melingkarkan tangannya dengan gaya posesif di pinggang Alexa.
Giani dapat membaca raut wajah Jero yang terlihat cemburu.
"Pak guru, salam untuk istri dan anak-anaknya, ya. Semoga suatu saat kita bisa makan malam bersama." Ujar Alexa dan langsung mendekati Jero.
"Bee, kenapa juga wajahnya begitu? Masih cemburu ya sama pak guru?"
"Aku selalu dicuekin jika kamu sudah melihat pak guru itu. Seolah dia adalah kasih tak sampai darimu."
Giani ingin rasanya tertawa keras-keras melihat bagaimana sikap Jero yang kekanakan.
"Bee, pak guru sudah menikah lagi. Anaknya bahkan sudah 3. Istrinya tak bisa datang karena putra bungsunya sedang demam." Giani melingkarkan tangannya di lengan Jero. "Bule tuaku, kau tetap segalanya di hatiku." bisik Giani lalu sedikit berjinjit untuk mencium pipi Jero. Wajah Jero langsung berseri kembali.
"Sebentar malam Palo ketemu Nido ya? Kangen." bisik Jero merayu. Giani hanya bisa menahan dirinya untuk tak mencubit perut suaminya itu karena saat ingin mempertemukan Palo dan Nido, Jero selalu tak mengenal tempat dan waktu.
********
Gaun pengantin yang Alexa kenakan sudah berganti dengan gaun tidur yang lumayan seksi menurut Alexa. Ia terpaksa memakainya karena tak ada baju lain di lemari. Koper dan tasnya belum juga mereka bawa walaupun Alexa sudah meminta pada adiknya untuk mengantarkan ke kamar hotel tempat dia dan Oliver akan melewati malam pertama mereka.
Pintu kamar terbuka. Oliver masuk dengan senyum di wajahnya. Ia langsung membuka jas yang dipakainya, membuka dasi yang melingkar di lehernya.
"Kamu sudah mandi, sayang?" tanya Oliver.
Alexa hanya mengangguk..
"Aku mandi dulu ya? Bersiaplah untuk tidak tidur malam ini." kata Oliver sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia pun menghilang di balik pintu kamar mandi.
Jantung Alexa langsung berdetak sangat cepat. Inilah yang dia khawatirkan seminggu belakangan ini. Ia akan menyerahkan kesucian dirinya. Apakah aku sebaiknya tidur saja? Atau aku pura-pura datang bulan?"
Alexa bingung. Bagaimana malam pertama ini dapat ia lewati?
*********
Ayo..., mau tahu malam pertamanya Alexa dan Oliver? he...he...yang komen harus banyak ya....
dukung emak dong......