
Pembaca sekalian, harap maklum kalau aku terlambat up. Aku punya jam kerja di kantor dari jam 8 pagi sampai jam 4.30 sore. Kadang juga harus lembur sampai jam 7 malam. Pulang rumah harus ngurus 2 anak. Makanya nulis novel di waktu yang tersisa itu. Kadang harus memangkas jam tidur malam ku. Jadi, jangan ada lagi keluhan2 jika aku lama up ya? Terima kasih atas pengertiannya. Happy reading.
*********
Tangan kekar Oliver melingkar di pinggang Alexa. Gadis itu merasakan hangatnya tubuh Oliver yang memeluknya erat. Perlahan Alexa membalikan tubuhnya. Ia memandang wajah Oliver. Tatapan mereka bertemu.
Alexa merasakan jantungnya semakin berdebar kencang. Ia mencoba mencari sesuatu dibalik tatapan mata Oliver.
Oliver melepaskan satu tangannya dari pinggang Alexa, lalu ia menyentuh pipi Alexa, menyelipkan beberapa helai rambut gadis itu ke belakang telinga. "Apa yang kau cari Alexa? Ketulusanku? Andai saja suara hatiku dapat kau dengar, kau pasti akan tahu, hanya namamu yang ada di hatiku, Eca."
"Aku takut disakiti, Oliver. Kau adalah seorang play boy."
Oliver tersenyum. Kedua tangannya kini memegang pipi Alexa. "Aku dulu sudah pernah merasakan sakit nya saat dihianati. Aku memang awalnya melampiaskan semuanya pada banyak wanita. Namun saat aku mengejar mu hampir 1 tahun ini, aku jadi mengerti apa artinya jatuh cinta lagi. Aku seperti orang gila, setiap hari memikirkan mu. Aku bahkan hampir putus asa karena kau selalu menolakku. Namun saat aku mendapatkan keyakinan bahwa kau juga memiliki rasa yang sama, aku pun memberanikan diri untuk melamar mu. Aku memang saat ini belum dapat membuktikan apa-apa padamu. Berjalan bersamaku, temanilah hatiku. Aku yakin bersamamu aku bisa setia."
Alexa kembali menatap mata Oliver. Haruskah ia meragukan tatapan tulus ini?
Alexa mundur beberapa langkah. Ia berusaha berpikiran jernih. "Oliver, maukah kau memberikan aku waktu untuk berpikir?"
Oliver nampak kecewa. Namun dia akhirnya mengangguk. "Aku akan menunggu jawabanmu, walaupun rasanya sangat menyiksa menanti jawaban mu itu."
"Aku tak mau terburu-buru. Aku tak ingin menyesal nantinya."
"Kau pasti tak akan menyesal."
Alexa tersenyum. Hujan sudah mulai redah.
"Kau ingin pulang?" tanya Oliver.
"Ya."
"Boleh ku antar pulang?"
"Boleh."
Oliver nampak senang. Ia mengajak Alexa untuk menuju ke sebuah mobil sedan berwarna merah yang terparkir tak jauh dari pondok. Mereka pun meninggalkan kawasan saat hari mulai sore.
********
Alexa menatap keenam orang yang sangat disayanginya. Aldo, Joana, Giani, Jeronimo, Wulan dan Juan.
"Ada apa kau meminta kami untuk berkumpul, nak?" tanya Aldo.
"Oliver melamarku." kata Alexa.
"Dan kau menolak?" tebak Wulan.
"Aku meminta waktu." jawab Alexa membuat yang lain terpana.
"Kau mencintai nya? Maksud mami kau akhirnya jatuh cinta padanya?" tanya Joana.
"Iya. Aku merasa sangat bahagia saat Oliver melamar ku. Aku merasa rindu saat tak bertemu dengannya. Aku merasa kesal dan marah saat ia bersama gadis lain. Aku merasa bodoh karena mengatakan tak menyukai pria bule namun pada akhirnya aku menyukainya juga." Alexa tertunduk malu.
"Jangan malu, nak. Dulu paman juga seperti itu. Merasa kalau bibi Giani bukan tipe gadis impian paman. Namun paman jatuh cinta pada bibimu karena kebaikan hatinya. Dan bibimu jatuh cinta pada paman karena wajah bule paman. Iya kan sayang?" Jero menatap Giani mesra. Giani melotot ke arah Jero. Siapa juga yang jatuh cinta padanya hanya karena wajahnya bule?
"Sebenarnya nggak masalah jika kita mengubah prinsip kita sendiri. Mami juga nggak pernah berharap akan jatuh cinta pada papa Aldo. Cinta datang tanpa bisa kita duga. Di waktu dan tempat yang tidak pernah kita pikirkan. Persoalannya adalah, apakah Eca yakin dengan ketulusan Oliver? Kami semua tak ingin Eca patah hati. Apalagi jika memang Oliver akan langsung melamar mu. Pernikahan itu beda dengan pacaran." Ujar Joana.
"Iya sayang. Setidaknya Eca harus mengenal dulu siapa Oliver yang sebenarnya." kata Juan.
"Kita juga dulu nggak kenal lama dan langsung menikah. Jadi apa salahnya jika memang yakin? Kau harus percaya dengan apa yang hatimu katakan, Eca. Mami yakin kalau memang Oliver adalah jodohmu maka kau harus menerimanya. Jangan nanti menyesal disaat Oliver sudah pergi." ujar Wulan.
"Aku takut tersakiti." Kata Alexa.
"Jangan takut tersakiti jika ingin menikmati hubungan percintaan. Karena hidup terkadang harus melewati rasa sakit untuk mendewasakan kita." Ujar Juan diikuti anggukan kepala Aldo dan Jero.
Giani yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Eca sayang, seorang playboy ada saatnya dia insaf dan kembali ke jalan yang benar saat jatuh cinta pada orang yang tepat. Kalau memang Oliver merasa bahwa kau orang yang tepat maka berikanlah dia kesempatan. Jangan dulu menikah. Nikmatilah sebentar hubungan pacaran kalian. Waktu akan menguji apakah Oliver memang patut mendapatkan dirimu atau tidak."
Joana tersenyum mendengar perkataan Giani. "Ya sayang. Jangan langsung menikah. Bertunangan dulu. Namun sebelum itu, Oliver harus menghadap kami berenam. Kami juga perlu melihat kesungguhannya."
"Maksud mami bule, Oliver disuruh datang ke sini?" tanya Alexa berusaha meyakinkan apa yang didengarnya. Ia sudah bisa membayangkan seperti apa nanti pertemuan Oliver dengan mereka.
"Ya." jawab Joana.
"Nggak ada cara lain?"
Joana tertawa kecil. "Kau memang sudah jatuh cinta padanya, nak. Belum apa-apa kau sudah takut kami akan menyakitinya."
"Bu..bukan seperti itu." Alexa mengelak namun 6 orang yang ada di depannya dapat melihat, kalau putri tertua mereka sudah jatuh cinta.
**********
Seminggu sudah berlalu semenjak ia melamar Alexa di siang itu. Namun tak ada kabar sama sekali dari gadis itu. Oliver sudah meneleponnya namun tak pernah diangkat, mengirim pesan hanya untuk menanyakan kabarnya, namun Alexa hanya sekedar membacanya dan tidak membalasnya. Sungguh Oliver dibuat bingung olehnya.
"Ada apa, tuan?" tanya Kevin.
"Dia belum juga membalas pesanku. Ada apa ya? Apakah dia menolakku?"
Kevin tersenyum. "Nona Alexa kan meminta waktu. Jadi tuan harus bersabar ya."
"Bagaimana aku bisa sabar? Dia sama sekali tak memberikan kabar. Aku rindu ingin bertemu dengannya. Setidaknya, angkatlah teleponku sehingga aku bisa mendengar suaranya." Oliver mengacak rambutnya kasar. Ia bahkan tak bisa tidur nyenyak dan makan secara baik selama satu minggu ini. Pekerjaannya pun menjadi terbengkalai karena tak bisa konsentrasi.
"Mungkin nona Alexa masih butuh waktu, tuan."
Oliver menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
Pintu ruangannya di ketuk. Kevin membukanya. Ada Alda, sekretaris Oliver yang baru.
"Maaf menganggu. Di lobby katanya ada tamu bernama nona Alexa."
"Alexa?" Oliver langsung menyalahkan layar TV yang ada di samping meja kerjanya. Itu adalah pantauan CCTV. Senyum di bibirnya langsung mengembang melihat siapa yang berdiri di sana. "Persilahkan dia masuk."
"Baik tuan."
Alda adalah sekretaris baru. Jadi dia tak mengenal Alexa. Barulah di saat Alexa keluar dari lift, ia pun terpana. Wajah Alexa pernah dilihatnya di majalah dan TV saat menerima penghargaan sebagai pramugari terbaik.
"Tuan sudah menunggu anda, nona."
Alexa mengangguk. Ia masuk ke dalam ruangan Oliver yang pintunya sudah terbuka.
"Selamat siang....!" Sapa Alexa.
"Selamat siang, sayang." Oliver tersenyum dan langsung berdiri dari kursi kerjanya.
Kevin menunduk hormat pada Alexa dan langsung keluar sambil menutup pintu yang ada.
Wajah Alexa menjadi panas mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Oliver. Namun gadis itu berusaha menguasai dirinya agar tak langsung terbuai dengan kata-kata Oliver.
Keduanya pun duduk saling berhadapan. Oliver memandang Alexa dengan penuh kerinduan. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu. Namun ia pun berusaha menguasai dirinya agar tak dianggap kurang ajar oleh Alexa.
"Aku senang kau datang ke sini, Eca. Sejujurnya aku kangen denganmu." kata Oliver.
Alexa tersenyum. Hatinya bergetar mendengar perkataan Oliver. "Aku datang untuk mengajakmu ke rumahku."
"Ok. Ada acara khusus?"
"Aku ingin kau melamar aku di depan orang tuaku. Aku sebenarnya sudah punya jawaban untukmu namun aku ingin kau sendiri yang meminta restu dari mereka. Bagaimana?"
Oliver tersenyum senang. "Aku pasti akan datang, Eca. Aku akan meminta restu dari orang tuamu. Tapi apakah kau sudah menerima lamaran ku? Aku terus membawa cincin itu."
"Kalau orang tuaku menyatakan setuju, maka kau boleh memakaikannya setelah kalian selesai berbincang."
"Aku senang sekali. Tak sabar ingin ketemu mereka. Kapan waktunya?"
"Malam ini."
"Aku pasti akan datang, sayang." Ujar Oliver dengan wajah yang sangat gembira. "Oh ya, bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama? Kebetulan aku belum makan. Kamu tahu, Eca, selama satu minggu ini aku tak bisa makan enak karena terus memikirkan jawabanmu. Sekarang saat kita berjumpa, aku merasa sangat lapar."
Alexa tak dapat menahan tawanya. Ia melihat ada lingkar hitam di mata Oliver. Pasti cowok itu tak bisa tidur dengan nyenyak. Sebenarnya Alexa juga mengalami hal yang sama. Namun ia dapat menyamarkannya dengan make up.
"Baiklah. Kita akan makan siang bersama."
"Duh, senangnya aku....!" Oliver terlihat seperti anak kecil. Ia langsung berdiri mengambil ponselnya dari atas meja kerjanya dan memesan tempat di salah satu restoran favoritnya. Setelah itu keduanya pun pergi bersama.
*********
Keringat di wajah Oliver sangat jelas terlihat saat ia harus berhadapan dengan 3 pasang suami istri yang menatapnya nampak kurang bersahabat. Sementara Alexa hanya bisa mengintip dari balik pintu ruang keluarga. Ia kasihan melihat wajah tegang Oliver. Dia juga merasa aneh. Tak ada satupun senyum dari keenam orang kesayangannya itu. Mereka Oliver dengan wajah dingin.
"Kami adalah orang tua, Alexa. Kami semua menjadikan Alexa sebagai anak yang paling tua. Kami menyayanginya seperti nyawa kami sendiri. Alexa belum pernah berpacaran. Ia juga belum punya pengalaman. Sekarang kamu datang untuk melamarnya. Apa yang membuatmu yakin untuk melamar anak kami?" Aldo membuka percakapan.
Oliver menelan saliva nya. Ia berpikir kalau akan berhadapan dengan sepasang suami istri yang ramah dan penuh kasih. Ternyata ia harus berhadapan dengan 3 pasang suami istri yang kelihatan siap mengorek habis keterangan darinya. Namun karena tekadnya sudah begitu kuat, Oliver pun membuat dirinya nyaman dengan tatapan dingin mereka.
"Aku jatuh cinta pada Alexa. Dia satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hatiku dari sekian banyak perempuan yang pernah dekat denganku." Jawab Oliver mantap.
"Wah, enak sekali kau ya? Dirimu play boy, sudah sering berpindah dari satu gadis ke gadis yang lain, dan akan mendapat anak kami yang masih polos dan suci? Aku tidak setuju." Ujar Juan sambil menggeleng.
Deg! Hampir saja Oliver pingsan mendengar penolakan itu. Namun ia kembali berbicara. "Aku tahu. Aku tak bisa mengubah masa laluku. Namun aku ingin menjalani masa depanku bersama Alexa. Andai saja aku sudah tahu, dikemudian hari Tuhan akan mempertemukan aku dengan gadis seperti Alexa, aku pasti akan menunggu waktu itu dengan sabar. Aku dulu pernah patah hati karena dikhianati oleh cinta pertamaku. Makanya, aku jadi sering mempermainkan wanita. Namun saat ketemu dengan Alexa semuanya berubah. Aku akui, awalnya aku hanya terobsesi pada Eca karena dia selalu menolakku. Aku bertekad menaklukannya. Namun setiap penolakan Eca membuat sesuatu hadir dalam diriku. Aku ingin memiliki Eca dengan cara yang benar. Yaitu menjadikannya sebagai istriku."
"Bagaimana kau tahu kalau rasa yang kau punya untuk Eca memang cinta dan bukan obsesi?" tanya Jero.
"Dalam hidupku, setelah aku patah hati, aku selalu menggunakan cara licik untuk mendapatkan gadis yang kuinginkan. Aku bahkan pernah mencobanya pada Eca dengan memberikan obat tidur pada makanannya. Namun saat Eca tertidur, dan aku sudah membawanya ke kamarku, entah mengapa, hati kecilku melarang aku untuk menyentuhnya. Sejak saat itulah aku sadar kalau aku mulai mencintai, Eca." Ujar Oliver membuat yang lain terkejut namun tidak dengan Giani. Ia sudah tahu cerita itu.
"Aku masih belum percaya padamu." Kata Joana membuat Alexa yang masih mengintip di balik pintu menjadi resah. Kok mami bule berubah menjadi judes ya?
"Berikan aku waktu untuk membuktikannya." Mohon Oliver.
"Baik. Kau boleh menikahi Alexa 3 tahun dari sekarang." ujar Aldo.
Oliver terkejut. 3 tahun? Bukankah itu terlalu lama? Menunggu 1 minggu saja sudah membuat Oliver tak bisa makan dan minum apalagi 3 tahun?
"Tapi, usiaku sudah cukup matang untuk menikah. 2 bulan lagi aku akan berusia ke-28 tahun. Alexa juga sudah berumur 23 tahun. Bukankah ini umur yang pas untuk menikah?" Oliver mencoba memberikan pendapatnya. Ia sungguh tak mampu digantung selama 3 tahun.
"Aku mohon, dengan berjalannya waktu, aku bisa membuktikan kalau aku adalah lelaki yang pantas untuk mendampingi Eca. Aku bersumpah kalau aku tak akan menyakitinya." Oliver rasanya ingin menangis. Ia begitu takut keluarga Alexa akan menolaknya. Ya Tuhan, apakah ini hukuman karena aku sering mempermainkan para gadis? Namun mereka sendiri kan yang menyukai dan menggodaku.
Alexa tak dapat menahan dirinya lagi. Ia mendorong pintu dan masuk ke dalam ruang keluarga.
"Eca?" Aldo kaget melihat Alexa yang sudah masuk.
"Maaf, menganggu percakapan kalian. Aku boleh berkomentar kan?" Tanya Alexa dan langsung duduk di samping Oliver.
"Tentu saja boleh, sayang." Ujar Joana.
"Aku juga awalnya ragu untuk bersama Oliver, mengingat masa lalunya yang lekat dengan julukan Casanova. Aku bahkan diam-diam menyelidiki semua gadis yang pernah dekat dengan Oliver. Kebanyakan dari mereka memang dengan sukarela ingin menjadi pacar Oliver walaupun mereka tahu status mereka hanya akan bertahan 1 sampai 3 bulan. Namun, aku juga berpikir, mengapa aku tak belajar untuk percaya padanya dan memberikan dia kesempatan untuk bisa menjadi lebih baik? Karena itu aku mohon papa, jangan tunggu waktu sampai 3 tahun baru aku dan Oliver bisa menikah. Aku nggak mau menikah dengan pria berusia 30an. Kesannya terlalu tua."
Juan memandang Wulan. "Apakah aku terlalu tua saat menikahi mu, sayang?" tanya Juan sambil berbisik.
"Kau memang sudah tua, mas. Usia kita kan terpaut 15 tahun."
"Tapi aku tetap hot kan? Buktinya kamu mau bertahan denganku." Juan mengedipkan matanya membuat yang lain ikut tertawa melihat tingkah pasangan suami istri itu.
Alexa menatap Juan. "Maaf papi Juan. Aku tak bermaksud menyinggung mu."
"Nggak masalah sayang. Papi memang sudah berusia 30an saat menikahi mami Wulan namun pesona papi mampu mengalahkan lelaki yang berusia 20an. Sekarang saja papi masih terlihat tampan dan gagah kan?"
Lagi-lagi mereka tertawa. Oliver mulai merasa suasana berubah menjadi santai. Ia dapat melihat kehangatan dari keluarga Alexa.
"Kembali ke topik." Aldo menatap Oliver. "Kami akui keberanian mu menghadapi kami, nak. Kalau memang Alexa mencintaimu, maka kami tak bisa menolaknya. Hanya saja buktikan kata-katamu bahwa kau tak akan pernah menyakiti anak kami."
"Aku janji."
"Pernikahannya dilaksanakan 4 bulan dari sekarang. Dan selama itu kalian tidak boleh tidur bersama." Kata Jero membuat Giani menahan tawa melihat tingkah suaminya yang sok jaim.
"Nggak boleh ada ciuman bibir. Karena ciuman bibir akan membuat kalian lupa diri dan akhirnya akan berlabuh di tempat tidur." Sambung Juan membuat Wulan menginjak kaki suaminya untuk mengingatkan bagaimana ia dulu hampir menidurinya pada hal status mereka belum jelas.
"Dulu aku adalah duda kesepian, sayang. Wajarlah kalau aku tergila-gila ingin menyentuhmu." bisik Juan membuat wajah Wulan menjadi merah.
"Apakah kau sanggup Oliver?" tanya Giani.
"Aku sanggup. Hanya saja sesekali, kami bolehkan pergi makan malam bersama atau sekedar nonton bioskop? Aku juga ingin merasakan kencan sebagaimana anak muda lainnya." Kata Oliver sedikit malu-malu.
"Boleh. Asal hanya pegangan tangan ya? Jangan pegang-pegang yang lain." Imbuh Jero membuat semuanya tertawa.
Alexa dan Oliver saling berpandangan. Oliver pun mengeluarkan cincin dari dalam saku celananya. Ia berlutut di hadapan Alexa. "Eca sayang, Will you marry me?"
Alexa menatap ketiga pasangan yang ada di depannya. Semuanya mengangguk.
"Yes, i will."
Dada Oliver rasanya mengembang karena perasaan bahagia. Tangannya bahkan sedikit bergetar memasukan cincin itu ke jari manis Alexa. "Terima kasih, sayang!" Oliver mencium tangan Alexa dengan mata yang berkaca-kaca. Ia hampir saja mencium bibir Alexa namun tak jadi karena mendengar suara Juan.
"Ehm....ingat, jangan di bibir." Seru Juan.
Orang tua Oliver yang sudah datang pun tersenyum bahagia melihat Putra mereka sangat berani melamar Alexa sendiri.
Tuh kan panjang banget episode ini 2439 kata. Biasanya sudah dua episode. Mana vote nya untuk emak???😍😍😍🤣🤣
Jadi bagaimana?
Satu episode maka akan tamat?
Ada yang rela nggak?