
Ada yang bilang suka novel ini karena tokoh wanitanya nggak lemah.
Sudah baca Novelku yang berjudul I HATE YOU BULE? Tokoh Faith juga wanita yang tegar.
Atau novelku yang berjudul :MY BEST PHOTO?
Tokoh Maura juga wanita yang nggak cengeng.
Atau Novelku yang berjudul LERINA?
Tokoh wanitanya juga bukan wanita yang mudah ditaklukan.
Yang sudah pernah baca 3 novel itu, berikan pendapatmu. 😁😁😁😁😉
*********************
"Gi, mungkin itu hanya darah yang keluar karena kamu kelelahan dan stres dengan keadaan Alexa. Aku pernah baca bahwa sering kali wanita keluar darah diawal kehamilannya." Kata Jero saat Giani keluar dari kamar mandi. Pria bule itu sudah membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia bahkan belum memakai kaos kaki dan sepatunya.
"Aku tahu. Tapi ini darahnya lumayan banyak. Bukan bercak darah saja. Aku bahkan sudah memakai pembalut." Kata Giani lalu segera masuk ke dalam walk in closet.
Jero terduduk dengan lemas di tepi tempat tidur. Kepalanya tertunduk dengan hati yang hancur. Kenapa Giani tak hamil? Apa yang salah? Bukankah kata dokter kalau mereka berdua dalam kondisi yang baik untuk bisa hamil? Apakah Tuhan yang belum mengijinkan anaknya tumbuh di perut Giani? Apakah semua ini karena kesalahan yang pernah di masa lalunya? Apakah karena selama ini, ia hanya membuang benihnya begitu saja di rahim Finly dan perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya di Sidney?
Giani keluar dari walk in closet. Ia sudah berpakaian rapih. Sangat cantik kemeja putih tanpa lengan dan rok coklat selutut. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai begitu saja. Ia cantik, tanpa make up.
Giani berdiri di depan meja rias. Memoles bedak di wajahnya dan sedikit liptick di bibir pucatnya.
"Aku ke rumah sakit dulu." Pamit Giani setelah mengambil tasnya yang ia bawa bersama tadi saat keluar dari walk in closet.
Jero hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin ikut ke rumah sakit.Namun dia tak mau membuat Aldo kesal. Biarlah hanya melalui Giani, Jero akan tahu keadaan Alexa.
Setelah bunyi mobil Giani terdengar meninggalkan halaman, Jero menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menunduk sambil menatap ke bagian tengah celana panjangnya.
"Kok loe gagal sih? Apakah selama masa subur ini loe kurang fit? Gue kecewa sama loe, palo. Sebenarnya gue kecewa sama loe dan juga hati gue. Kok saat loe gagal, hati gue sangat sakit ya? Apakah karena gue ingin punya anak? Usia gue sudah hampir 30 tahun. Pingin juga ada yang panggil gue papa atau ayah atau daddy. Senang rasanya saat pulang kantor ada tangan kecil yang terulur dan minta di gendong." Jero berbicara pada dirinya sendiri. Ia jadi malas ke kantor. Namun baru saja ia akan ganti pakaian, telepon dari Selly mengingatkannya untuk segera ke kantor karena ada masalah di salah satu hotel yang mereka kelolah. Frangky sedang ada di Lombok. Dengan sangat terpaksa, Jero pun menyiapkan dirinya ke kantor.
************
Siang menjelang, Giani, Aldo dan Joana masih duduk di depan ruang ICCU. Joana baru saja tiba 30 menit yang lalu. Ia membawakan makan siang untuk Giani dan Aldo. Kedua bersaudara itu sebenarnya tak merasa lapar. Namun karena menghargai kebaikan Joana, mereka makan secara cepat di taman rumah sakit dan kembali lagi ke depan ruangan ICCU.
"Jika Alexa bangun, ia pasti sedih melihat kepalanya sudah botak." Kata Giani sedih.
"Kita akan sama-sama menjelaskan padanya." Kata Joana.
"Ya. Kita akan menjelaskan semuanya pada Eca. Dia anak yang pintar. Eca pasti mengerti." Imbuh Aldo.
Ryan, salah satu asisten Aldo mendekat.
"Pak, aku akan urus surat-suratnya. Aku ke sini mau mengambil pasportnya nona Giani." Kata Ryan.
Giani mengeluarkan pasportnya dari dalam tasnya. Pasport itu tersimpan di salah satu laci dalam walk In closet.
"Ada apa meminta pasportku, kak?" Tanya Giani heran.
Aldo tak menjawab. Ia lalu menyerahkan pasport Giani pada Ryan. "Usahakan semuanya selesai dalam 2 hari ini. Bawa juga surat keterangan dari rumah sakit."
"Baik, tuan. Saya permisi dulu!" Pamit Ryan dan segera meninggalkan tempat itu.
"Kak....!" Giani meminta penjalasan lewat suara dan tatapan matanya.
"Di Amerika, aku punya saudara seorang ahli bedah. Suaminya adalah dokter ahli syaraf. Di rumah sakit tempat mereka bekerja juga mempunyai alat-alat yang paling canggih. Aku sudah berkonsultasi dengan mereka. Semalam saat kau pulang, mereka juga sudah berbicara dengan dokter yang menangani Alexa." Ujar Joana.
"Kita akan ke Amerika, begitu surat-suratnya selesai. Alexa harus ditangani secara cepat. Kita akan pergi dengan pesawat pribadi yang kakak sewa khusus membawa Eca ke sana." Sambung Aldo membuat Giani sedikit terkejut.
"Berarti dalam minggu ini, kita akan pergi?"
"Baik, kak." kata Giani berusaha membuang sesak di hatinya.
*********
Giani menyentuh tangan mama Sinta. "Mama, aku mungkin tak akan mengunjungimu dalam waktu yang lama. Aku harus menemani kak Aldo ke Amerika untuk membawa Alexa berobat. Mama cepat sembuh ya? Berjuanglah. Kami semua menyayangimu. Oh ya, ma. Aku dan kak Jero akan berpisah. Maaf jika aku harus meninggalkan dia. Namun aku yakin kalau dia tak mungkin akan kembali pada Finly. Kak Jero sudah banyak berubah. Ma, Giani pamit dulu ya?" Giani mencium tangan mama Sinta lalu mennggalkan ruang perawatan mamanya.
Saat Giani sudah berada dalam mobilnya, ponselnya berbunyi. Ternyata dari Beryl.
"Hallo, Gi. Aku sudah menjebloskan orang yang membakar cafe kita di Bali. Ternyata dia orang suruhan Finly. Aku akan ke Jakarta sekarang untuk menuntut Finly."
"Jangan, kak. Jangan laporkan dia pada polisi. Kakak cukup mendatangi dia dan katakan kalau dia melakukan lagi, kita akan memenjarakannya."
"Terserah kamu, Gi. Aku sih maunya di hukum saja. Kalau begitu sampai jumpa besok di Jakarta. Bye."
Giani menjalankan mobilnya. Hari ini ia akan membereskan pakaiannya.
***********
Saat Jero pulang, ia terkejut melihat mobil yang biasa di bawa Paman Leo ada di halaman rumahnya.
Begitu ia sampai di pintu masuk, dilihatnya paman Leo sementara mendorong dua buah koper.
"Ada apa ini, paman?"
"Nona mau pergi, tuan!"
"Di mana Giani?"
"Ada di kamar atas."
Jero membuang tas kerjanya begitu saja. Ia berlari menaiki tangga. Saat ia membuka pintu kamar, dilihatnya Giani sementara duduk di tepi tempat tidur. Sepertinya sedang menunggu Jero.
"Kau mau pergi kemana, Gi?" Tanya Jero panik dengan wajah pucat.
"Kak, hari ini adalah hari ke-31. Tambahan waktu kita sudah selesai. Aku akan kembali ke rumah kakakku."
Jero merasakan kakinya bagaikan kehilangan tulang. Ia langsung duduk di lantai begitu saja, tepat di sebelah kaki Giani.
"Gi...aku..."
"Kak, kau adalah lelaki yang pegang janjikan? Kau tak mungkin lupa dengan perjanjian kita. Lagi pula, aku tak juga hamil. Jadi semuanya selesai. Aku hanya berharap agar kakak akan bersikap baik dan tak kembali berhubungan dengan kak Finly." Sela Giani, memotong ucapan Jero.
Giani membuka kalung pemberian Jero di atas nakas dekat tempat tidur. Ia juga membuka cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
"Aku pergi, kak! Mohon jangan ganggu hidupku lagi. Besok, pengacara Fadly, akan datang membawa surat perceraian kita. " Giani berdiri. Ia melewati Jero yang masih duduk seperti orang yang kehilangan nyawa.
Jero menatap punggung Giani yang perlahan menghilang di balik pintu.
Buk....!
Bunyi suara pintu yang ditutup. Kamar itu menjadi sepi. Jero merasakan kalau langit runtuh dan menimpa kepalanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Wajahnya semakin pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Begitu cepatkah 1 bulan itu berlalu?
Seakan sadar kalau Giani telah pergi, Jero berdiri. Ia berlari hendak mengejar Giani. Apapun alasannya, ia belum ingin Giani pergi dari rumah ini.
"Giani....!" Panggil Jero. Namun Giani dan paman Leo sudah berlalu dengan mobi keluarga Purwanto.
Jero tersungkur lemas di depan pintu. "Gi...., jangan pergi...!" Suaranya menjadi lemah. Pandangannya menjadi berkunang-kunang lalu ia roboh tak sadarkan diri. Jero lupa kalau sejak pagi, ia belum makan apapun juga.
Oh.......tisue....mana tisue.....