
Si kembar Gabrian dan Gabriel sedang asyik bermain PS saat Alexa datang ke rumah mereka.
"Jangan main melulu. Belajar yang baik." tegur Alexa pada kedua sepupunya itu.
"Tenang saja nona pramugari, nilai kami berdua tak pernah menurun." Ujar Gabrian sambil tersenyum pada Alexa.
"Bibi di mana?" tanya Alexa.
"Mommy kayaknya di taman belakang." Kali ini Gabriel yang menjawab.
Walaupun kadang suka bingung membedakan kedua sepupu kembar nya ini, namun Alexa yang sejak kecil sudah bersama-sama dengan mereka bisa membedakan keduanya dari suara mereka. Suara Gabriel lebih berat dibandingkan dengan Gabrian yang bersuara agak lebih halus. Tentu saja kalau orang lain yang baru mengenal mereka tak akan bisa membedakannya.
Alexa pun menuju ke taman belakang. Itu memang tempat favorit Giani karena berhadapan dengan danau.
Giani nampak sedang duduk di pondok sambil membaca buku.
"Bibi.....!" Sapa Alexa.
"Eca....!"
Keduanya saling berpelukan lalu Alexa mengambil tempat duduk di depan bibinya.
"Tempat ini selalu membawa ketenangan bagiku. Bertahun-tahun rasanya masih tetap sama." ujar Alexa.
"Ya. Keadaan danau yang tenang selalu membuat suasana hati jadi ikut tenang."
Alexa menarik napas panjang. Ia sebenarnya ingin curhat kepada bibinya. Namun ia bingung memulai dari mana.
"Kalungnya bagus, Eca." ujar Giani saat melihat Alexa yang diam saja sambil menatap danau.
"Ini pemberian Oliver."
Giani terkejut. "Oh ya? Dan kau memakainya?"
"Aku suka saja bentuknya."
"Suka bentuk kalungnyanya atau orangnya?"
Alexa menatap bibinya dengan wajah yang agak tersipu. "Bibi, kenapa suka dengan paman Jero? Bibi kan dulunya kagum dengan pak guru Paul?" tanya Alexa tanpa menjawab pertanyaan Giani.
Giani tersenyum. "Bibi juga nggak tahu kenapa harus jatuh cinta pada pamanmu itu. Cinta datang karena terbiasa bersama mungkin. Pamanmu berhasil meyakinkan bibi kalau dia kayak dipercaya. Bahwa dia layak untuk bibi cintai. Dia berjuang sangat keras untuk mendapatkan cinta bibi. Kita tak akan pernah tahu kemana cinta akan melabuhkan hati kita."
Alexa menunduk. Hatinya resah.
"Eca, ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Oliver?"
"Entahlah, bi. Aku merasa seperti kehilangan semua perhatiannya. Aku pikir kalau aku ini sudah gila."
"Cinta memang sering membuat orang gila."
Alexa menggeleng. "Aku tak mau mencintainya, bi. Dia pasti melakukan semua ini hanya karena ingin mendapatkan hatiku dan menyeret aku ke tempat tidurnya. Dia adalah jenis orang yang tak mau menikah."
"Tapi orang tuanya melamarmu."
"Orang tuanya, bukan dirinya."
"Jika memang kau tak menginginkan dia, maka berusaha untuk menghindarinya. Bibi yakin lama-lama juga kau akan lupa dengan semua perhatian yang pernah Oliver berikan."
"Takdir seolah sedang menguji hatiku. Aku dan Oliver selalu saja bertemu."
"Bagaimana kalau dia memang adalah jodohmu?"
"Nggak, bi. Aku nggak mau berjodoh dengan seorang playboy. Aku ingin mendapat pria yang baik, yang sederhana dan selalu setia padaku."
"Kalau pria tipe itu yang kakak cari, maka Kamilah orangnya." Ujar Gabriel yang secara tiba-tiba sudah ada diantara mereka. Gabrian berdiri di belakangnya.
Giani dan Alexa sama-sama tertawa. "Kau bilang kalau dirimu tipe lelaki setia? Apakah aku nggak salah? Bisik-bisik yang ku dengar di luar sana dirimu sudah 2 kali pacaran." Alexa menyipitkan matanya.
"Ah, gosip cepat sekali beredar. Pada hal aku mainnya sembunyi-sembunyinya." Gabriel menggaruk kepalanya.
"Benarkah? Kamu sudah pacaran? Dan kuliahmu?" Giani melotot ke arah putranya.
"Tenang saja, mommy. Semuanya aman terkendali." Ujar Gabrian. Ia menepuk bahu saudara kembarnya.
Giani tersenyum bangga. Gabriel dan Gabrian sama-sama saling menyayangi dan saling mendukung.
"Kakak, Oliverio Pregonas itu kan pengusaha muda yang sukses. Kenapa ditolak?" tanya Gabrian.
"I hate bule!" tegas Alexa.
"Terus, wajah kami yang hampir 100% mirip papa Jero nggak menarik perhatianmu?" Gabriel cemberut.
Alexa mencubit pipi kedua sepupunya itu secara bergantian. "Kalau bule kembar ini tentu saja nggak masuk hitungan."
Jero yang melihat keempat orang kesayangannya tertawa di taman belakang tersenyum bahagia. Ia tahu kalau Alexa selalu membawa dampak baik bagi kedua putranya.
*********
Langkah Alexa yang mendorong kopernya terhenti saat melihat Oliver yang berdiri di dekat pintu keluar dengan setangkai mawar yang ada di tangannya.
Wajah Alexa langsung tersenyum kembali. Apakah ia akan mendapatkan perhatian dari Oliver lagi?
Namun senyum di wajah cantiknya langsung hilang saat melihat Bella yang berlari mendekati Oliver sambil menarik kopernya. Keduanya langsung berpelukan mesra seakan melepaskan rasa rindu yang ada.
"Menyebalkan.....!" desis Alexa. Hatinya bagaikan terbakar sesuatu. Ia langsung memalingkan wajahnya. Ingin rasanya ia ikut pintu lain. Namun hanya ini pintu keluar yang paling terakhir. Dengan sangat terpaksa Alexa melewati pintu itu sambil pura-pura menerima telepon.
"Alexa......!"
Deg!
Itu suara Oliver yang memangilnya. Setelah memasang wajah manis, Alexa berbalik.
"Hai.....!" sapanya.
Bella yang sedang memeluk pinggang Oliver, menatap Alexa. "Si nona pramugari."
"Apa kabar?" Sapa Alexa sok akrab pada hal hatinya sangat sakit.
"Baik." Jawab Bella.
"Mana pacarmu? Tak datang menjemput?" tanya Oliver.
"Dia sedang tak enak badan." Jawab Alexa.
"Kasihan ya. Berarti setelah ini kamu akan mengunjunginya?" tanya Oliver lagi.
Oliver menatap kepergian Alexa dengan hati yang perih.
Bella melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Oliver. "Sepupuku, sudahi saja ya? Aku bosan berpura-pura jadi pacarmu. Aku jadi tak punya waktu bersama Peter."
"Menurutmu, dia cemburu nggak?" Oliver nampak putus asa.
"Cemburulah. Sangat jelas terlihat di matanya. Namun dia itu wanita yang keras karakternya. Kau tak akan memenangkan hatinya dengan membuat sandiwara ini."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Langsung saja melamarnya."
Oliver terkejut. "Melamar? Kamu kan tahu kalau aku nggak suka dengan kehidupan pernikahan."
"Berarti kamu harus mengubur semua mimpimu untuk memilikinya. Karena gadis seperti Alexa menginginkan hubungan yang serius bukan sekedar hubungan yang saling memuaskan raga. Aku mau ke apartemen Peter dulu. Bye...." Bella langsung pergi meninggalkan Oliver. Cowok itu membuang bunga mawar yang ada di tangannya dengan kesal. Apa yang diucapkan Bella membuat kepalanya menjadi pusing. Haruskah ia melamar Alexa?
*********
Selesai sarapan, Alexa ingin kembali tidur. Semalam, ia tak bisa tidur karena terus mengingat bagaimana mesranya Oliver menjemput pacarnya.
Andai saja aku tak menolak Oliver, pasti aku akan menjadi gadis yang paling berbahagia. Setiap pulang kerja selalu di jemput dengan setangkai mawar.
Alexa baru saja akan membaringkan tubuhnya saat ponselnya berbunyi. Ia terkejut melihat nama Oliver di sana.
"Hallo....!" Sapa Alexa dengan nada yang cuek pada hal jantungnya hampir copot saat mengetahui kalau Oliver meneleponnya.
"Aku mau menagih hutang mu."
"Hutang apa?"
"Di salon."
"Kirim saja nomor rekeningmu."
"Aku mau tunai."
"Ih...kenapa juga harus tunai? Memangnya kamu kehabisan uang?"
"Pokoknya aku mau seperti itu. Aku tunggu kamu di restoran......" Oliver menyebutkan nama salah satu restoran beserta alamatnya.
"Itu jauh Oliver. Aku malas menyetir."
"Kevin sudah menuju ke rumahmu. Bye..."
Alexa kesal. Kenapa juga harus memaksa? Hanya tiga juta lebih. Bukankah sebaiknya di transfer?
Alexa sebenarnya malas untuk pergi. Apalagi saat ia merasa mengantuk. Namun entah mengapa, hati kecilnya menuntun dia untuk pergi. Ia pun perlahan bangun dan membuka lemari pakaiannya. Ia bingung harus memakai pakaian jenis apa agar bisa berjumpa dengan Oliver. Setelah hampir mencoba setengah dari isi lemarinya, Alexa pun akhirnya memilih sebuah gaun berwarna pink.
Kevin sudah menunggunya di bawa saat gadis itu turun. Rumah memang sedang sepi karena semua penghuni rumah sedang beraktifitas di luar. Mami bule bahkan ikut papi Aldo ke kantor. Sementara Joaldo sedang ke sekolah.
"Kevin, bos mu itu suka memaksa ya?" tanya Alexa saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Iya, nona. Tapi kali ini paksaannya karena ia rindu dengan nona."
"Rindu? Dia kan punya pacar. Dasar play boy."
"Tuan memang dulu seorang playboy namun sekarang dia sudah berubah, nona."
"Berubah apanya? Dia punya kekasih, Kevin."
"Nanti soal kekasihnya itu, nona dapat tanyakan langsung pada tuan."
"Apa urusanku menanyakan langsung padanya?" Alexa menyandarkan punggungnya. Ia pura-pura memejamkan matanya. "Bangunkan aku jika sudah sampai."
Alamat restoran yang disampaikan oleh Oliver letaknya memang agak di pinggiran kota. Mereka membutuhkan waktu 1 jam 20 menit untuk sampai ke sana karena jalanan memang agak macet.
Restoran ini terdiri dari pondok-pondok yang letaknya cukup berjauhan. Sebuah pemandangan taman bunga yang ada di dataran tinggi.
Kevin memarkir mobilnya di salah satu pondok yang letaknya paling tinggi. Dalam pondok ada sebuah meja yang sudah penuh dengan makanan. Oliver langsung menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Alexa untuk duduk sementara Kevin langsung menghilang entah kemana.
"Ini uangmu!" Alexa membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di hadapan Oliver.
"Makan dulu!" Ujar Oliver lalu mulai mengambil nasi dan meletakkannya di atas piring yang ada.
"Oliver, aku tidak lapar."
"Makanannya enak, Eca. Cobalah."
Alexa menghindari tatapan Oliver. Ia pun mengambil sendok dan mulai mengambil beberapa makanan yang tersedia di sana. Keduanya makan tanpa ada suara. Sampai akhirnya Alexa menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya.
"Aku sudah selesai, Oliver. Sekarang, aku boleh pergi kan?" Ujar Alexa. Ia mengambil dompetnya dan bermaksud akan pergi namun hujan tiba-tiba saja turun. Ia tak melihat ada Kevin dan mobilnya di sekitar pondok itu.
"Eca, ayo kita bicara!" Ajak Oliver. Ia meraih tangan Alexa dan memaksanya untuk duduk kembali. Alexa merasakan ada desir aneh di hatinya saat tangan mereka bersentuhan sampai akhirnya Alexa buru-buru menarik tangannya dari genggaman Oliver.
"Ada apa?" tanya Alexa sok cuek. Pada hal hatinya sedang berdebar.
"Ayo kita menikah !" ajak Oliver sambil meletakkan sebuah kotak cincin berwarna hitam. Di dalamnya ada sebuah cincin yang sangat indah. Sebuah batu permata berwarna merah menghiasi Cincin itu.
Mata Alexa membulat. Ia menatap Oliver tak percaya. "Oliver. Kamu kan pacarnya Bella."
"Dia sepupuku. Aku memintanya untuk berpura-pura jadi pacarku agar kau cemburu. Dan aku tahu kalau kau cemburu."
"Siapa yang cemburu?" Alexa memalingkan wajahnya yang ia rasa sudah berwarna merah.
Oliver meraih tangan Alexa. "Aku juga tahu kalau Hardi bukan pacarmu karena Hardi itu pacaran dengan salah satu pengusaha muda bernama Sintia. Kami sama-sama tergabung dalam club' pengusaha Indonesia."
"Aku.....!" Alexa menjadi malu sekaligus bingung harus bicara apa.
"Menikahlah denganku."
"Karena hanya dengan menikah maka kau bisa membawa aku ke tempat tidurmu? Itu kan yang kamu inginkan dariku. Memangnya kamu bisa berkomitmen seumur hidup? Kamu bisa setia pada satu pasangan saja?" Alexa menarik tangannya dari genggaman Oliver. Ia berdiri dan melangkah sampai di pagar pembatas. Ingin rasanya ia pergi namun hujan begitu deras dan Alexa tak tahu harus pergi ke mana.
"Eca, aku serius denganmu!" Oliver berdiri di belakang Alexa. Ia memeluk cewek itu dari belakang.
"Menikahlah denganku. Dan aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi lelaki impianmu." Kata Oliver sambil memendamkan kepalanya di ceruk leher gadis itu.
Hujan turun semakin deras. Alexa bingung harus menjawab apa.
*********
Ayo....!
Alexa harus jawab apa guys??