Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Kesamaan Wajah


I jam sebelumnya


Jero, Giani, Joana dan Aldo pamit pada Juan dengan alasan ingin tidur. Namun mereka hanya berkumpul di kamar tidur Joana dan Aldo untuk mengatur strategi.


"Aku sudah tanya. Ternyata Wulan itu takut kalau hujan di malam hari dan pas mati lampu. Ia memiliki trauma dengan situasi itu karena pernah hampir diperkosa." Kata Joana.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan malam ini?" Tanya Jero penasaran.


"Kita akan buat suasananya seperti mati lampu." Ujar Joana.


"Tapi, bagaimana caranya agar mereka bertemu. Pasti Wulan sekarang sudah tidur dengan anak-anak." Kali ini Aldo yang bicara.


"Tenang saja. Tadi aku lihat kalau Wulan makannya sedikit. Anak itu kalau makan sebenarnya banyak. Ia pasti akan keluar kamar lagi untuk mencari makanan. Sementara Juan, ia pasti belum tidur. Mudah-mudahan ia masih akan duduk di sana sampai Wulan keluar. Jadi, tugas Aldo dan Jero adalah membalikan sekring pembatas meter lampu yang ada di luar." Ujar Joana.


"Sayang, gimana kalau Wulan nggak keluar-keluar? Bisa beku aku sama Jero di luar." Cicit Aldo manja.


"Pakai mantel dong. Segitu aja manja. Kita harus berjuang membantu Alexa karena ia ingin mewujudkan amanat mamanya. Jika Juan dan Wulan beneran jadi, Alexa dan Felicia pasti akan sangat bahagia." Kata Joana tegas sambil melotot ke arah suaminya.


"Iya. Aku dan Joana sudah menyelidiki siapa Wulan. Di kampung ia terkenal sebagai gadis yang baik dan suka menolong orang. Ia terpaksa berhenti kuliah karena ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan. Ia kerja apa saja di Jakarta ini. Namun yang dia paling suka adalah mengurus anak-anak di panti asuhan. Dan yang paling aku suka adalah, dia belum pernah pacaran. Kayak aku dulu waktu ketemu Jero." Kata Giani sambil melirik suaminya. Yang dilirik hanya senyum-senyum sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu memang kayak Wulan belum pernah pacaran, sayang. Namun kamu tak bertindak sebagai gadis polos yang bisa ku taklukan dengan mudah. Kamu justru terlihat sangat berpengalaman dengan lelaki." Ujar Jero membuat Giani dan Joana tertawa bersama.


"Aku punya guru yang hebat!" Kata Giani sambil menepuk pundak Joana.


Kali ini mereka berempat tertawa bersama.


"Sekarang fokus ke masalah Wulan dan Juan. Sayang, kamu dan Jero segera berjaga-jaga di luar. Tunggu aba-aba dari kami ya. Lewat jendela kamar saja supaya Juan tak melihatnya." Joana mendorong Aldo. Jero mengikutinya dari belakang.


Giani dan Joana sembunyi di balik tangga. Benar saja. Tak lama kemudian Wulan turun.


"Sudah ku duga, dia pasti lapar." Bisik Joana pada Giani.


"Dan dia tidak melihat kalau di sudut sana ada Juan. Lihatlah, Juan memandang Wulan tanpa berkedip. Apa mungkin karena rambut Wulan tergerai sehingga semakin mirip Finly?" Tanya Giani penasaran.


"Aku akan SMS pada Aldo sekarang." Joana mengambil ponselnya dan mengirim SMS pada suaminya. Tak sampai 1 menit, lampu padam.


"Juan mendekati Wulan. Astaga mereka berciuman?" Giani terkejut.


"Siapa yang berciuman?"Bisik Jero yang ternyata sudah berada di belakang mereka.


"Juan dan Wulan berciuman, Bee. Apakah kamu tak melihat?" Tanya Giani.


"Mana bisa melihat dalam keadaan gelap gulita begini?" protes Jero.


"Memang mata kamu sudah parah, Bee. Begitulah kalau sudah berumur." cicit Giani.


"Sayang, aku baru 36 tahun."


"Sebentar lagi 37 tahun, kok."


Joana kesal. "Jangan ribut nanti mereka dengar."


"Sorry!" ujar Jero dan Giani bersamaan.


"Astaga, Juan mengangkat tubuh Wulan. Kayaknya ciuman mereka semakin panas. Mereka mau ke mana?" Giani jadi panik.


"Pasti mau ke kamar Juan." Ujar Aldo yang sejak tadi diam.


"Mau ngapain ke kamar Juan?" Giani semakin kepo.


"Ya mau apalagi? Juan itu sudah lama tak menyentuh wanita. Wajarlah kalau dia ingin bercinta dengan Wulan." Kata Jero santai.


"Jangan, Wulan itu pasti masih perawan. Mereka kan belum sah menikah. Kita juga belum tahu kalau Juan beneran suka sama Wulan atau hanya karena kesamaan wajahnya dengan Finly."


"Biarkan saja, sayang. Kelihatannya juga Wulan tak menolak. Mending sekarang kita ke kamar saja. Dingin, nih!" Jero memeluk Giani.


"Bee, kalau Wulan hamil gimana?"


"Beres kan, Juan harus menikahinya."


"Tapi, bagaimana kalau Juan sadar bahwa ia tak mencintai Wulan? Joana, bagaimana menurutmu? Mereka sudah masuk ke kamar, lho." Giani menyentuh tangan Joana.


"Kalau aku sih biarkan saja mereka bercinta. Kasihan Juan sudah lama puasa. Tapi, kasihan juga kalau Juan belum cinta sama Wulan." Kata Joana.


"Ya sudah. Nyalakan lagi lampunya." Ujar Giani.


"Sayang, sebagai lelaki aku mengerti dengan kebutuhan Juan. Biarkan saja." Kata Jero.


"Nyalakan lagi lampunya atau malam ini palo biarkan saja berkerut kedinginan." Ancam Giani membuat Jero terpaksa pergi. Siapa yang mau kalau palo berkerut? 🤣🤣🤣


**********


Juan memang minum alkohol. Tapi dia tidak mabuk. Ia tahu benar kalau perempuan yang sementara di cumbunya saat ini bukan Finly. Dia Wulan. Pengasuh anaknya. Namun entah mengapa Juan tak mau melepaskannya. Wulan punya sesuatu yang membuat Juan sangat menginginkannya.


Lampu menyalah. Namun keduanya tak juga berhenti. Kamar itu menjadi semakin panas rasanya.


"Wulan....! Kamu dimana?" Terdengar suara Giani yang memanggilnya. Wulan awalnya samar-samar mendengar panggilan itu. Juan masih menguasai dirinya.


"Wulan....!" terdengar suara Giani kembali memanggilnya.


"Tu-tuan....aku dipanggil." Kata Wulan sambil mendorong tubuh Juan perlahan.


Juan tak mau melepaskan. Mereka akan ada di inti permainan.


"Tuan....!" Wulan kembali mendorong tubuh Juan. "Nyonya mencari ku."


Juan mengerang frustasi. Namun ia menyamping juga. Membiarkan Wulan bangun. Dengan sangat cepat gadis itu meraih celana jeans selututnya yang sudah dibuka oleh Juan. Ia juga mengaitkan kembali ikatan branya. Lalu ia turun dari tempat tidur, sempat kebingungan mencari kaosnya. Akhirnya ia menemukannya ada di atas nakas. Wulan mengenakannya kembali lalu ia segera keluar kamar. Wulan melupakan sandalnya yang entah ada di mana. Ia agak berlari keluar dari kamar Juan.


Di lihatnya Giani dan Joana sedang duduk di ruang makan. Kedua perempuan itu asyik bercerita dan pura-pura tak tahu dari mana datangnya Wulan.


"Ada apa, nyonya?" Tanya Wulan. Ia merasakan wajahnya sedikit merah.


"Dari mana kamu? Tadi lampu padam dan Felicia mencari mu. Aku segera menidurkannya kembali." Giani berbohong. Ia tak mau kalau Wulan sampai terbuai dengan rayuan Juan. Giani memang dulu juga sepolos Wulan. Namun ia menggoda Jero saat keduanya sudah menikah. Giani tahu bagaimana rasanya sentuhan seorang lelaki bagi mereka yang tak berpengalaman.


"Maaf nyonya. Aku tadi keluar menghirup udara segar." Wulan terlihat sangar gugup.


"Temanilah Felicia di kamarnya ya?" Ujar Joana.


"Baik nyonya, aku ke atas dulu." Wulan berlari menaiki tangga. Giani senang melihatnya.


"Dia belum berhasil di jebol." Kata Giani.


"Dari mana kamu tahu?"


"Jalannya masih lancar. Mana ada gadis yang baru di jebol akan berlari seperti itu. Aku bahkan awalnya sampai tertatih-tatih jalannya ke kamar mandi."


Joana jadi tertawa. "Si Jero memang sangar kelihatannya."


"Iya. Bahkan semakin tua semakin menjadi-jadi. Oh ya, aku ke kamar dulu ya? Pasti buleku itu sudah tak sabar menunggu." Giani segera ke kamarnya yang letaknya tak jauh dari kamar Juan. Saat ia masuk, terlihat Jero sedikit kesal.


"Bee, kok cemberut gitu, sih? Aku bobo aja ya?" Goda Giani sambil perlahan-lahan membuka mantelnya.


Jero berdiri dan mendekati istrinya. Tangannya melingkar di pinggang ramping Giani. Istrinya itu semakin terlihat seksi walaupun sudah melahirkan 3 anak untuknya.


"Jangan berani tidur. Palo akan tetap menemui nido sekalipun dia tidur."


Giani tertawa. Ia melingkarkan tangannya di leher Jero. " I am Yours, Bee." Desahnya menggoda membuat Jero langsung mendorongnya ke atas ranjang mereka.


**********


Esok paginya, semua terlihat normal. Wulan kembali bermain dengan anak-anak walaupun ia harus menahan gerah karena tak bisa mengikat rambutnya. Ada 3 kissmark yang Juan tinggalkan di tubuhnya. Satu di leher dan dua di gunung kembarnya.


Wulan suka senyum sendiri mengingat kejadian malam itu. Ia tak mengerti dengan status hubungannya dengan Juan. Kadang Wulan merasa kalau ia hanya dipermainkan namun di sisi lain, ia juga tak bisa menolak pesona maskulin yang dipancarkan oleh pria berdarah campuran itu. Wulan sungguh gila dibuatnya. Apakah Wulan salah jika merasa melayang dengan ciuman Juan? Duh, mungkin memang benar. Ia harus berhenti menonton drakor dan telenovela. (Namun jangan berhenti baca novel romantis apalagi karangan eini olivia ya🤣🤣🤣🤣).


Sore ini semua sedang tidur. Sejak pagi anak-anak bermain di air mancur. Mungkin mereka kelelahan. Giani, Jero, Joana dan Aldo juga sepertinya sedang tidur siang. Giani memang sangat lelah karena Jero membuatnya tidur jam 3 subuh.


Merasa ruang tamu sepi, Wulan pun berniat untuk memanjat pohon mangga lagi. Ia ingin makan mangga madu yang buahnya sangat enak itu. Namun, ketika ia akan keluar dari pintu samping, ia justru berpapasan dengan Juan yang baru saja merokok di teras samping.


"Tuan...!" Wajah Wulan langsung bersemu merah. Juan menatapnya. Sangat dalam. Sampai akhirnya ia mendekati Wulan. Mendorong gadis itu perlahan sampai punggung Wulan bersandar pada dinding di dekat pintu masuk. Tangan Juan menyibak rambut Wulan, memeriksa tanda merah yang ia tinggalkan semalam. Wulan kembali merasakan tubuhnya bergetar saat tangan Juan menyentuh kulit lehernya.


"Apakah kau seorang penyihir? Mengapa aku selalu tak bisa pergi saat berdekatan denganmu?" Tanya Juan lalu tangannya kini membelai bibir tipis Wulan. "Kau bagaikan memiliki madu di bibirmu. Sangat manis. Katakan sesuatu Wulan, apakah kau punya ilmu pelet?"


"Tidak, tuan...!" Wulan menggeleng.


Juan tersenyum. "Aku ingin menciummu lagi."


Keduanya kembali berciuman. Wulan kembali pasrah. Ia menikmati ciuman manis itu. Dia menginginkannya juga. Agak lama keduanya saling berciuman. Sampai akhirnya ciuman itu harus diakhiri karena mereka hampir saja kehilangan pasokan oksigen.


"Aku permisi, tuan!" Wulan berlari meninggalkan Juan. Ia tak mau seperti tadi malam. Ia takut tangan Juan kembali menyentuhnya dan membuatnya tak ingin berhenti. Potongan kejadian semalam sulit Wulan lupakan. Ia masih ingat dengan jelas.......(mau tahu versi lengkapnya? Gabung di wa grup yuk..., cari gabungnya, masuk dulu di grup chat aku he...he...).


Akhirnya, selama liburan di vila, Juan dan Wulan selalu mencari kesempatan untuk berciuman. Apakah saat anak-anak tidur siang, atau saat malam hari, Juan selalu menarik Wulan di tempat yang agak sepi untuk bisa menyentuh bibir Wulan. Apakah Juan bucin? Entahlah. Yang pasti, sebelum mereka pulang, Jero dan Aldo harus menghapus rekaman CCTV di beberapa tempat yang sepi. He..he...dasar duda kesepian.


*********


Sudah seminggu sejak liburan di vila itu selesai. Juan dan Wulan semakin dekat. Saling berciuman sepertinya sudah menjadi kebutuhan antara Juan dan Wulan. Di setiap kesempatan, Juan selalu mengurung, memeluknya dan menciumnya dengan sangat mesra. Tak ada kata atas status hubungan mereka. Yang pasti keduanya sering lupa diri saat berciuman. Sampai di siang ini, saat Wulan masuk ke kamar Alexa yang ada di rumah Aldo. Ia bermaksud membersihkan ruangan gadis remaja itu. Saat ia membuka laci nakas untuk memasukan barang-barang Alexa, matanya menatap sebuah foto antara Alexa dengan seorang perempuan. Dan Wulan merasa seperti melihat dirinya sendiri. Hati Wulan menjadi sakit. Inikah mamanya Alexa? Apakah karena ini tuan sering menciumku??


Wulan merasakan hatinya sakit. Sangat sakit sampai ia tak bisa menahan air matanya.


Oh...oh...bagaimana kisah selanjutnya???