Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus par 25)


"Sayang, kamu kenapa?" Alexa menyentuh tangan Oliver membuat pria bule itu menatapnya. Senyum di bibir Oliver mengembang. Ia menatap wajah cantik yang duduk di hadapannya. Perempuan yang telah mengubah dendam masa lalunya menjadi hilang.


"Aku mencintaimu, Alexa. Aku tak mungkin akan berpaling darimu."


"Aku tahu, sayang. Kamu sudah sering mengatakannya." Wajah Alexa menjadi merona. Ia menjadi heran kenapa Oliver mengatakan itu. Ia membiarkan kedua tangannya digenggam oleh Oliver. Pria itu mencium tangan Alexa.


Calina yang melihat hal itu tersenyum walaupun hatinya sakit. Ia sudah mendengar tentang Alexa. Ia tahu kalau Alexa sangat cantik dan anak salah satu pengusaha yang sukses di Indonesia ini. Tentang bagaimana Alexa menjadi pramugari dengan kisah heroiknya, Calina sudah tahu. Ia yakin kalau perempuan itu bukanlah perempuan sembarangan. Dan Oliver pasti sangat menyayanginya.


Seorang anak lelaki berusia sekitar 7 tahun mendekati meja Calina. Sepertinya ia baru saja dari toilet. Oliver sejenak menatap anak itu. Hanya dengan melihat wajah anak itu, Oliver tahu kalau itu anak Calina. Wajahnya sangat mirip dengan Calina. Rambut yang blonde dan mata setajam mata elang.


Saat anaknya kembali, Calina berdiri.


"Honey, Mom, go to the toilet, okay?" ujar Calina dengan suara yang agak keras.


Anak itu mengangguk. Ia melanjutkan makannya sambil sesekali melihat ke layar hp yang diletakan di depannya.


Saat melihat Calina yang pergi ke toilet, Oliver pun tiba-tiba berdiri. "Sayang, aku ke toilet sebentar ya? Pesanan makanannya agak lama kayaknya."


"Ok." Alexa melepaskan pegangan tangan Oliver dan menatap kekasihnya itu yang pergi menjauh. Ia pun sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.


Saat Oliver menuju ke toilet, ia melihat Calina berdiri di persimpangan menuju ke toilet wanita. Ia menuggu Oliver.


"Apa maksudmu ke sini?" tanya Oliver dengan tatapan dinginnya.


Calina tersenyum. "Aku bekerja di sini. Sudah sebulan aku ada di Jakarta. Kebetulan kita bertemu di restoran ini. Apa kabarmu, Verio?" Tanya Calina. Hanya Calina yang memanggilnya seperti itu.


"Aku baik. Seperti yang kau lihat, aku bahagia dan akan menikah." ujar Oliver.


"Ya. Aku bisa melihatnya. Selamat ya, Alexa gadis yang cantik."


"Bagaimana kau bisa tahu namanya?"


"Semua orang tahu kisah pramugari pemberani itu. Bagaimana ia menolong para penumpang tanpa memperdulikan dirinya."


Oliver merasa bangga karena Calina memuji Alexa.


"Baguslah. Aku juga melihat kalau kau baik-baik saja. Permisi..." Oliver membalikan badannya. Tak ada lagi getaran aneh seperti yang ia rasakan dulu saat berbicara dengan Calina. Semuanya telah berlalu.


"Verio....!" panggil Calina dan membuat Oliver harus menghentikan langkahnya. Ia menoleh.


"Maafkan aku. Untuk semua yang pernah aku lakukan di masa laluku." Kata Calina dengan tulus.


"Aku sudah lama memaafkanmu." Oliver tersenyum lalu segera kembali melangkah. Ia mendekati Alexa yang nampak masih asyik dengan ponselnya.


Makanan yang mereka pesan sudah tersedia di atas meja.


"Kita makan sekarang?" tanya Oliver.


Alexa meletakan ponselnya. "Tentu saja, sayang. Aku lapar."


Oliver menatap wajah cantik Alexa. "Aku mencintaimu, sayang."


"Aku tahu." Jawab Alexa.


Calina kembali ke tempat duduknya.


"Calina!" Panggil Oliver.


"Yes?" Calina mendekat.


"Honey, this is my high school friend. Calina, this is my fiancé, Alexa."


Calina dan Alexa saling bergandengan tangan. Keduanya sama-sama tersenyum. "Oliver beruntung mendapatkan gadis sepertimu." Kata Calina.


Wajah Alexa bersemu merah mendengar pujian Calina.


"Kamu juga sangat cantik. Itu anakmu?"


"Ya. Glandy, come here!"Calina memanggil anaknya. Ayo berkenalan dengan teman mommy!"


Oliver memandang Glandy. Menatap mata anak itu, Oliver jadi ingat dengan pria yang membuat Calina meninggalkannya.


Setelah berbasa-basi sebentar, Calina dan anak nya pergi meninggalkan restoran.


"Dia adalah pacar pertamaku yang sempat membuat aku patah hati." kata Oliver saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


Alexa terkejut mendengar pengakuan Oliver. Ada sedikit rasa cemburu yang ia rasakan dalam hatinya. Namun Alexa berusaha menepiskan nya. Ia percaya kalau itu hanyalah masa lalu Oliver.


"Terima kasih kalau kau mau jujur padaku. Itukah sebabnya tadi kau menyusulnya ke toilet?"


Oliver terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu? Apakah kau mengikutiku?"


"Nggak. Hanya tebak saja setelah mendengar pengakuanmu ini."


Oliver menepikan mobilnya. Ia menatap Alexa dengan seksama. "Aku tadi menyusul nya untuk bertanya kenapa dia ada di sini. Katanya ia kerja. Aku tak mau dia menjadi pengganggu masa depan kita. Aku serius saat mengatakan kalau aku ingin bersamamu, sayang." Oliver meraih tangan Alexa. "Aku akui, pertama saat melihatnya, hatiku sempat bergetar namun saat aku menatapmu, hatiku yakin bahwa dia tak ada artinya di bandingkan dengan dirimu." Oliver mencium tangan Alexa. Lalu tangannya yang satu membelai pipi mulus kekasihnya itu.


Alexa tersenyum. "Aku percaya padamu, sayang."


Oliver mencium dahi Alexa. Hatinya lega karena Alexa tak marah atau cemburu dengan pengakuannya. Ia berjanji akan selalu setia pada Alexa.


"Sayang, kita mampir ke apartemenku ya? Ada sesuatu yang ingin ku tunjukan padamu."


"Ok."


Mobil Oliver pun menuju ke apartemennya. Saat mereka ada di lobby, mereka berpapasan dengan Bebi. Gadis yang pernah dicemburui Alexa.


"Hai....!" sapa Bebi agak kikuk karena ia tahu kalau Alexa pernah marah padanya.


"Hai Bebi. Apa kabar?" Sapa Alexa bersahaja. Ia bahkan memeluk Bebi dan mencium pipi kanan dan kiri gadis itu. Bebi tersenyum lega.


Oliver dan Alexa pun saling tersenyum lalu bergandengan tangan menuju ke lift.


"Kamu mau minum apa, Eca?" tanya Oliver saat keduanya sudah ada di dalam apartemen.


"Aku nggak haus. Nantilah ku ambil sendiri jika ingin minum." Alexa duduk di atas sofa sambil memperhatikan fotonya bersama Oliver yang diambil saat mereka ada di rumah bibi Giani, sehari sesudah Oliver melamarnya.


Oliver keluar dari kamar sambil membawa sebuah katalog sebuah perumahan.


Ia duduk di samping Alexa. "Sayang, aku ingin kamu memilih rumah mana yang ingin kita tempati setelah menikah nanti. Memang setelah menikah kita belum akan tinggal di sana karena pembangunan rumahnya akan selesai 3 atau 4 bulan lagi. Jadi sementara kita tinggal di apartemen ini saya ya?" Ujar Oliver lalu membuka katalog yang ada di pangkuannya.


Alexa melihat dengan teliti. "Aku suka yang ini." Alexa menunjuk sebuah rumah dengan taman yang besar. "Aku suka halamannya luas."


"Aku ikut apa keputusanmu, sayang. Jika memang kau memilih yang ini, aku akan menelepon maneger pemasarannya sekarang. Perumahan ini dibangun dalam kerja sama dengan perusahaan ku. Jaraknya memang agak jauh dari pusat kota. Namun aku suka lingkungannya yang asri dan banyak pepohonan. Keamanan nya juga terjamin."


Alexa menatap Oliver. "Sayang, apakah boleh jika kita sudah menikah nanti, sambil menunggu rumah kita selesai, kita tinggal di rumahku saja?"


"Memangnya kenapa jika di apartemen ini? Apartemennya cukup besar kan? Ada dua kamar utama dan satu kamar untuk pelayan. Ruang tamunya juga luas. Kalau tinggal di rumahmu, nanti kita nggak bisa leluasa, sayang."


"Leluasa untuk apa?"


"Ya untuk bermesraan. Masa kita hanya di kamar terus. Aku ingin kita bermesraan di mana saja. Di kamar, di ruang tamu, atau di ruang makan. Aku ingin menikmati saat-saat manis bersamamu tanpa diganggu oleh orang lain."


"Ih...Oliver, kamu genit!" Alexa mencubit tangan Oliver dengan gemas.


"Sakit, sayang..."


"Aku jadi takut jika sudah menikah nanti."


"Kenapa harus takut?"


"Nanti kamu akan me......" Alexa tak jadi meneruskan kata-katanya. Wajahnya langsung merah.


"Me....., apa sayang?" tanya Oliver menggoda.


"Ih....bicara yang lain saja." Alexa langsung mendorong tubuh Oliver yang semakin dekat padanya.


Oliver tertawa melihat Alexa yang tersipu malu. Sebenarnya dia sudah mengerti dengan arah bicara Alexa.


"Aku tak akan mengurung kamu terus di kamar. Makanya kita nggak boleh tinggal di rumahmu. Kalau kita cuma berdua di sini, suka-suka kita dong mau melakukan apa. Namanya juga pengantin baru. Genit sedikit kan nggak masalah." Oliver menarik tubuh Alexa agar mendekat padanya. "Aku ingin mencium mu."


"Sayang, ingat pesan paman Juan."


"Paman Juan tak akan melihat kita di sini. Apartemen ku ini bebas CCTV. Bolehkan?"


Alexa merasakan jantungnya berdebar. Selama ini Oliver langsung menciumnya tanpa meminta ijin. Namun kali, Oliver meminta ijin padanya, rasanya Alexa seperti panas dingin.


"Baiklah." Jawab Alexa pelan hampir tak kedengaran namun cukup membuat Oliver senang. Ia segera memegang dagu Alexa, mendekatkan wajahnya pada wajah Alexa dan perlahan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut dan penuh kasih sayang. Keduanya tenggelam dalam kemesraan yang dalam. Sampai akhirnya Alexa mendorong dada Oliver karena ia hampir kehabisan napas.


"Oliver, aku haus." Alexa langsung berdiri dan melangkah ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol minuman dingin dari sana.


Oliver menahan tawa melihat tingkah malu-malu kekasihnya. Pada hal Alexa sudah termasuk perempuan yang dewasa. Hampir 24 tahun.


Ponsel Oliver berbunyi. Panggilan dari Kevin.


"Hallo, ada apa Kevin?" tanya Oliver sambil berdiri dan melangkah ke arah balkon.


"Tuan, perwakilan perusahaan Caldo dari Madrid sudah ada."


"Kau layani dulu. Aku masih bersama Alexa."


"Perwakilannya seorang perempuan."


"Kevin, memangnya kamu tak pernah berhadapan dengan perempuan?"


"Dia Calina Peraira."


"Apa? Calina Peraira. Tapi bagaimana bisa?"


"Dia sudah 3 tahun bekerja di perusahaan itu. Dia di tugaskan untuk kerja sama dengan perusahaan kita. Dan dalam biodatanya, tertulis kalau dia masih single."


"Apa?"


"Aku sudah menyelidikinya, tuan. Dia tak pernah menikah dengan lelaki sopir truk itu. Dia bahkan sudah tak berhubungan lagi dengan pria itu sejak 4 tahun lalu. Sopir truk itu bahkan sudah menikah dengan orang lain."


"Oh..., begitu. Ya sudah. Kamu tangani saja dia. Berikan mes tempat para tamu biasa menginap." Oliver menutup percakapannya dengan Kevin. Ia merasa agak terganggu dengan keberadaan Calina di perusahaannya. Buka kah itu berarti Calina akan selalu bertemu dengannya?


"Calina di perusahaan mu?" tanya Alexa membuat Oliver langsung membalikan tubuhnya.


"Iya. Dia datang sebagai utusan perusahaannya."


Alexa tersenyum. " Kamu merasa terganggu dengan kehadirannya?"


"Tidak juga. Aku hanya takut jika kamu akan marah."


Alexa memeluk Oliver dengan penuh kasih. "Aku percaya padamu. Aku yakin kalau kamu tak akan pernah terpesona padanya lagi. Aku akui kalau dia cantik. Namun aku merasa lebih cantik darinya."


Oliver terkekeh. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya merasa lega. Alexa percaya padanya.


*********


Cobaan menjelang pernikahan pasti akan selalu ada. Calina bukanlah seorang pelakor. Namun hanya sepenggal kisah masa lalu Oliver yang hendak menguji hati Oliver untuk Alexa dan menguji kedewasaan Alexa dalam menerima masa lalu Oliver.


Maaf kalau part ini agak pendek...


Tahu kan senin, pasti super sibuk....