
Liburan tahun baru sudah selesai dan semua kembali beraktifitas seperti biasa. Jeronimo Dawson pun kembali masuk ke kantornya. Hari ini kegiatannya sangat banyak. Pagi ini ada rapat bersama Frangky dan staf hotel dan apartemen. Jam 11, Jero ada pertemuan dengan wakil dari perusahaan Dawson di Singapura. Dan sore jam 3 ada rapat pemilik saham di perusahaan papa Denny.
Selly sudah memberikan jadwal kerja Jeronimo di sepanjang minggu ini.
"Pak Jero, malam nanti ada undangan dari nyonya Dewi. Apakah bapak akan datang?"
"Nyonya Dewi yang punya perusahaan furniture itu?"
"Iya. Hotel bapak sudah lama bekerja sama dengan mereka."
"Frangky akan pergi nggak?"
"Pak Frangky katanya akan pergi jika pak jero juga akan pergi."
"Ya sudah. Aku pergi juga. Pesta apa memangnya?"
"Ulang tahun putri tunggalnya. Namanya nona Anggita."
"Siapkan saja kado dari aku dan Frangky."
Selly mengangguk. Ia sudah tahu apa yabg harus dilakukannya. Selama menjadi sekretaris Jero, ia memang yang selalu menyiapkan hadiah untuk semua teman bisnis Jero dan Frangky.
Setelah Selly berangkat, Jero menatap ponselnya. Sudah dua hari ini Giani tak mengirimkan kabar untuknya. Ia sudah mengirimkan pesan namun Giani belum membacanya. Ada apa ya? Apalah Aldo marah saat mengetahui kalau aku dan Giani saling mengirim pesan? Ataukah terjadi sesuatu dengan Giani?
Sementara melamun, bunyi ponselnya mengagetkan Jero. Ternyata sebuah pesan. Dan dia hampir saja berteriak kaget karena pesan itu dari Giani.
Aku baik-baik saja, kak.
Maaf 2 hari ini tak mengabarimu.
Lagi di kantor ya?
Jero langsung membalasnya dengan cepat :
Iya, aku sedang di kantor.
Libur tahun baru sudah selesai
Aku kangen saja tak mendapat kabar
darimu. Apakah semua baik-baik saja
di sana? Bagaimana kabar Alexa dan Aldo?
Eh, aku boleh kangen ke kamu kan?
Balasan Giani :
Boleh kangen, kak 😊😊
kak, aku akan memberikan hadiah tahun
baru bagimu. Kakak mau hadiah dariku?
Hati Jero jadi berbunga-bunga.
Senang sekali mendegar kalau aku
masih boleh kangen ke kamu.
Wah, hadiah apa itu Gi? Jadi
penasaran.
Giani membalasnya :
Pulang kantornya jam berapa?
Jero :
Agak malam mungkin soalnya ada undangan
pesta dari salah satu kolega ku.
Giani :
Saat kakak pulang, aku usahakan hadiahnya
sudah di bawa ke rumah. Aku pamit dulu ya kak.
Aku capek. Bye...
Jero jadi penasaran. Hadiah apa yang dikirimkan Giani padanya? Apakah ini akan menjadi awal yang baik bagi hubungan mereka.
*********
Saat sopir taxi menurunkan kaca mobil bagian belakang, para penjaga pintu masuk langsung berteriak gembira.
"Ibu Giani? Selamat datang, bu!"
Giani tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa kantong plastik. "Ini ole-ole dari Amerika. Semoga kalian suka."
"Terima kasih, bu."
"Eh, kalau nanti malam pak Jero pulang, jangan bilang ya kalau aku sudah datang. Aku ingin membuatnya terkejut dengan kehadiranku."
"Baik, bu."
Taxi itu pun membawa Giani ke rumahnya. Giani turun sambil membawa koper kecil saja. Barang-barangnya yang lain nanti akan dibawa pak Leo besok. Giani memang sengaja belum membawanya karena dia ingin melihat reaksi Jero saat melihatnya.
Setelah sopir taxi itu pergi, Giani mendekati pagar. Ia memasukan 6 angka yang sudah dihafalnya pada layar yang ada di samping kanan tiang gerbang. Dan pintu pagar terbuka secara otomatis. Ada perasaan lega karena Jero tak mengganti passwordnya.
Ketika memasuki halaman rumahnya, hati Giani semakin bersemangat melihat taman bunganya terawat dengan baik. Ia kemudian berdiri di depan pintu masuk. Kunci yang ada padanya, sudah ia tinggalkan saat meninggalkan tempat ini. Saat ia mencoba membukanya, pintu itu memang terkunci. Giani pun mengarahkan langkahnya ke bagian belajang rumah. Ia juga tersenyum gembira saat melihat kalau taman bunga di sana juga terawat dengan baik. Bahkan mawar-mawarnya sementara berbunga.
Giani mencoba membuka pintu belakang. Ia langsung tersenyum senang karena ternyata pintu itu tak dikunci. Giani pun melangka masuk dengan rasa rindu yang dalam terhadap rumahnya ini.
Semua ruangan nampak bersih dan rapih. Giani pun menuju ke kamar mereka. Saat ia masuk ke dalam.kamar, dilihatnya kalau kamar pun tertatah dengan rapih. Dan Giani langsung tersenyum melihat lingre warna hitamnya, yang dibelikan oleh Jero saat mereka ada di Spanyol ada di atas selimut. Apakah kak Jero sering memegang lingreku ini saat tidur? Hati Giani jadi semakin rindu pada sosok bulenya itu. Di tatapnya foto pernikahan mereka kemudian dilihatnya jam dinding yang menunjukan jam 4 sore. Giani sudah tak sabar menunggu Jero.
*********
Pesta ulang tahun anaknya Dewi Lestari dilaksanakan secara mewah di halaman belakang rumah mereka.
Wanita berusia 47 tahun itu, yang masih terlihat cantik adalah seorang janda. Suaminya meninggal 5 tahun yang lalu.
Anggita adalah putri tunggalnya yang juga menjadi tangan kanannya dalam mengolah perusahaan miliknya.
Kedarangan Jero dan Frangky disambut dengan sangat gembira oleh Dewi dan putrinya.
"Kayaknya Anggita suka ke kamu, deh. Lihat saja matanya yang tak pernah lepas darimu!" Bisik Frangky.
"Kalian kan sudah bercerai, Mo. Apakah kamu nggak ingin mencari pengganti Giani?"
"Nggak. Dia masih istriku walaupun secara hukum negara kami sudah cerai."
Sepanjang pesta, Jero terlihat tak tenang. Hatinya ingin sekali cepat pulang. Penasaran dengan hadiah yang dikirimkan Giani padanya.
"Pak Jero, bolehkah kita berdansa?" Tanya Anggita.
Jero sebenarnya tak mau. Namun ia tak tega mempermalukan Anggita karena semua sudah menatap ke arah mereka. Jero pun meraih tangan Anggita dan berdansa dengan gadis itu.
Wajah Anggita terlihat merona bahagia. Ia senang karena si bule mau berdansa dengannya.
Selesai berdansa, Jero pun pamit pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Anggita terlihat kecewa namun Jero dan Frangky memang ingin segera pulang sebelum istri Frangky menelepon mereka dengan suara cemprengnya.
"Selamat malam tuan Jero. Selamat bersenang-senang ya?"
Jero hanya tersenyum walaupun sedikit heran mendengar sapaan mereka. Selamat bersenang-senang?
Memasuki gerbang halaman rumahnya, Jero terkejut melihat lampu taman yang sudah menyala. Apakah aku lupa mematikan lampunya tadi pagi?
Saat pintu depan terbuka, Jero juga terkejut lampu semuanya menyala. Ah, mungkin aku terburu-buru tadi pagi sampai lupa mematikan lampu.
Saat melewati ruang makan untuk menuju ke tangga, Jero mencium bau masakan yang biasa di masak oleh Giani. Ia menoleh ke arah meja makan. Kosong. Ah, aku sungguh merindukannya.
Langkahnya bergegas ke kamarnya. Ia langsung membuka bajunya, dan memasukan ke keranjang baju kotor yang ada di depan pintu kamar mandi, setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Setelah mandi, Jero pun keluar dari kamar mandi. Ia masuk ke dalam walk in closet untuk ganti baju.
Hadiah apa yang Giani katakan? Ah, aku lupa menanyakan pada para penjaga apakah ada paket untukku.
Jero meraih gagang telepon yang ada di atas nakas, namun matanya terbelalak melihat lingre hitam yang biasa dipeluknya saat tidur tak ada lagi atas selimut yang terlipat. Jero ingat dengan benar kalau ia meletakannya di sana tadi pagi.
Apakah ada orang yang masuk ke dalam rumah?
Jero bergegas keluar kamar, ia menuju lantai bawah untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada di ruang kerjanya. Namun saat ia berada di ujung tangga, matanya menatap meja makan yang sudah tersaji berbagai jenis masakan.
"Apa ini?" tanya Jero pada dirinya sendiri. Ia mendekati meja makan dan membuka semua penutup makanan itu. Benar, ini masakan yang biasa dibuatkan Giani untuknya.
"Mau makan?"
Jero menoleh ke arah suara itu dengan sangat kaget. Giani berdiri dibelakangnya sambil tersenyum manis. Ia mengenakan kimono gaun tidurnya dengan rambutnya yang diikat satu.
"Gi? Kamu.....!" Jero kehilangan kata-kata. Ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendekat dan berdiri sangatbdekat dengan Giani. Tangan Jero bergetar saat menyentuh wajah perempuan yang sangat dirindukannya itu.
"Ini beneran kamu kan, Gi? Aku sedang tidak bermimpi kan?" Tanya Jero. Matanya sudah berkaca-kaca perasaan bahagia yang tak terlukiskan.
"Aku pulang, kak. Aku rindu padamu."
Jero langsung membawa Giani ke dalam pelukannya. Ia tertawa sekaligus menangis. Rasanya seperti mimpi saat bisa melihat Giani ada di rumah ini.
"Ya Tuhan, ini suatu keajaiban. Aku bahagia sekali, Gi." Kata Jero lalu mencium puncak kepala Giani secara berulang-ulang. Giani pun tak dapat menahan rasa harunya. Perempuan itu pun menangis. Dan baru malam ini ia menyadari kalau pelukan Jero sangat membuatnya bahagia.
Jero melonggarkan pelukannya namun tak melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang Giani. Di tatapnya wajah Giani dengan sepenuh cinta yang ia miliki.
"Gi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Apakah kau memberikan kesempatan kedua untukku bersamamu?"
"Iya, kak. Maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa aku juga mencintaimu."
"Sungguh kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu Jeronimo Dawson!"
Jero langsung menunduk. Menyentuh bibir Giani dengan bibirnya. Merasakan manisnya ciuman yang pernah mereka nikmati bersama. Giani tak menolak ciuman Jero. Ia begitu mendamba ciuman hangat itu. Keduanya pun larut dalam ciuman panjang yang berujung bangkitnya gairah yang tak bisa dibendung lagi.
"Kak...!" Giani tiba-tiba melepaskan pertautan bibir mereka.
"Kenapa?" Wajah Jero terlihat kecewa.
"Aku lapar. Sejak tadi aku menunggumu sambil menahan lapar."
Jero terkekeh. "Maafkan aku ya? Si palo tiba-tiba bangun ingin menemui nido."
"Aku sudah memasaknya sejak sore. Apakah kakak sudah makan?"
"Di pesta tadi aku makan sedikit. Namun kalau kamu yang masak, aku pasti akan makan lagi."
Keduanya pun menuju ke ruang makan sambil bergandengan tangan.
"Suapin!" kata Jero yang duduk di sampimg Giani.
"Eh, bule. Sadar ya, sudah tua. Jangan kayak anak kecil!" cibir Giani.
"Biarin! Pokoknya suapin!"
Giani menarik hidung Jero dengan gemas. Ia lalu menyuapi pria bule di depannya dengan bahagia.
Selesai makan, keduanya bekerja sama membersihkan meja dan mencuci peralatan makan yang kotor. Jero tak henti-hentinya mencium Giani setiap kali ada kesempatan.
"Kak, kalau cium terus kapan pekerjaannya selesai?" protes Giani.
"Aku takut kalau kamu pergi lagi, Gi."
"Aku tak akan pergi, kak."
Akhirnya pekerjaan mereka selesai. Jero yang sudah tak tahan lagi ingin bercinta dengan Giani, langsung menggendong Giani seperti koala sambil terus berciuman. Saat keduanya sudah berada di kamar, Jero membaringkan Giani namun perempuan itu bangun lagi dan turun dari tempat tidur.
"Ada apa sayang? Kau tak ingin bercinta denganku?" Jero jadi sedikit kecewa. Namun ia juga tak mau memaksa Giani jika memang Giani belum siap bercinta dengannya.
Giani tak menjawab pertanyaan Jero. Ia hanya membuka kimononya. Nampaklah lingre hitam yang tadi dicari oleh Jero ternyata kini sudah dipakai oleh Giani.
"Kakak tak bertanya hadiah apa yang ku bawah?" tanya Giani dengan senyum penuh misteri.
"Hadiahnya dirimu sayang. Aku tak ingin yang lain."
Giani mendekati Jero yang duduk dipinggir tempat tidur. Ia meraih tangan Jero dan meletakannya di atas perutnya. "Hadiahnya ada di sini, kak."
Jero terkejut. Hadiahnya di perut???
Wah...pada penasaran kan?
Ayo, kasih komentar gimana reaksi Jero...
Apa yang akan Jero katakan? Komentar siapa yang paling manis, akan ku masukan di part berikutnya ...
Jangan lupa vote, like dan dukung emak ya 😍😍