Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Papi Juan (Part 3)


Juan belum tertidur. Membayangkan ada perempuan lain di rumahnya, ia merasa tak tenang. Sekalipun perempuan itu hanyalah pengasuh anak-anaknya.


Di luar, hujan turun dengan sangat deras disertai dengan angin yang kencang. Mata Juan menatap foto istrinya. "Sayang, kau tetap ada di hatiku. Aku tak mau menggantikanmu dengan perempuan manapun juga. Kebersamaan kita selama 4 tahun sangat membekas di hatiku. Apalagi saat kau hamil dan melahirkan Felicia, aku merasa kau semakin istimewa. Dalam keadaan sakit, kau masih mau mengurus Felicia tanpa mengeluh." Juan turun dari tempat tidur. Ia melangkah ke arah foto Finly. Membelai foto itu dengan perasaan rindu yang sangat mendalam. Juan rindu memeluk dan mencium bibir tipis Finly. Ia rindu mendengar suara lembut Finly yang membangunkannya untuk berdoa pagi bersama.


"Sayang, mengapa kau tak pernah datang walaupun hanya dalam mimpiku? Tidakkah kau tahu rindu ini sangat menyiksaku?"


Aliran listrik tiba-tiba saja padam. Juan sedikit meraba-raba untuk mencari ponselnya. Ia lupa dimana ia meletakkan ponselnya itu. Juan ingat kalau genset otomatisnya rusak. Jadi ia harus menyalahkannya secara manual. Juan tahu kalau anak-anaknya biasa tidur dengan kamar yang gelap. Tapi ia tetap saja khawatir dan ingin segera menyalahkan genset.


Karena tak juga menemukan ponselnya, dan Juan juga lupa dimana meletakan senternya, ia memutuskan akan keluar kamar. Saat tangannya akan menyentuh gagang pintu, gagang pintu itu bergerak dengan sendirinya dan pintu terbuka dari luar.


Menatap wajah orang yang membuka pintu itu lewat sebuah cahaya dari ponselnya membuat Juan seakan menemukan istrinya yang lama hilang. Tangannya langsung meraih lengan perempuan itu sebelum jatuh dan memeluknya. Ia bahkan tak sabar ingin menciumnya karena kerinduannya yang sangat dalam. Juan dapat merasakan kalau perempuan yang dikiranya Finly itu menolak ciumannya dan ingin melepaskan diri. Juan merasa bahwa ia sedang bermimpi dan tak ingin kehilangan kesempatan untuk menumpahkan rasa rindunya.


"Please..., jangan pergi, aku kangen." Mohon Juan lalu kembali mencium perempuan yang dikiranya Finly itu dengan sangat lembut, penuh perasaan dibaluti rasa rindu yang memuncak.


Tak ada lagi penolakan. Walaupun awalnya Juan merasakan kalau ciumannya tak terbalas, namun lama kelamaan ada gerakan kecil juga dari bibir yang diciumnya itu. Juan melepaskan ciumannya sesaat untuk memberikan ruang bagi keduanya untuk mengisi oksigen di paru-paru mereka yang hampir habis.


"Aku sangat merindukanmu, sayang. Tetaplah dalam mimpiku saat ini." Bisik Juan parau lalu kembali mencium perempuan itu dengan gairah yang mulai membakar tubuhnya.


Wulan yang kembali dicium merasa tak kuat menolak Juan. Perempuan polos itu bagaikan tersihir dengan pesona Juan dan harum tubuhnya. Walaupun hati kecilnya menolak namun tubuhnya bagaikan ingin menikmati sentuhan yang baru pertama kali dirasakannya.


Guntur berbunyi dengan sangat keras. Namun dua insan berbeda jenis itu seakan tak perduli. Keduanya terbuai dalam ciuman panjang, hangat dan kini sudah berbaur dengan hasrat yang ingin dituntaskan.


"Papi....! Kaukah itu?" Terdengar suara Alexa yang sedang memegang ponselnya. Di belakangnya ada Felicia. Keduanya terbangun saat mendengar suara guntur yang sangat keras.


Ciuman keduanya terlepas. Wulan mundur beberapa langkah sedangkan Juan seakan baru terbangun dari mimpinya, mencoba mengenali siapa yang ada di depannya.


Alexa mendekat dengan senter ponselnya..


Wulan pun memperbaiki kaosnya yang sedikit berantakan lalu mencari ponselnya yamg tadi terjatuh.


"Ya, sayang. Ini papi." Juan menjawab setelah berhasil menguasai dirinya. Alexa dan Felicia mendekat. Lewat penerangan senter yang ada di ponsel Alexa dan juga ponsel Wulan yang sudah dipegangnya kembali, lorong diantara kamar itu menjadi terang.


"Felicia takut dengan bunyi guntur, papa." Felicia langsung memeluk kaki papanya.


Juan mengangkat tubuh putrinya. Felicia langsung melingkarkan tangannya di leher papanya.


Alexa terkesima melihat Wulan. Dengan rambut digerai seperti itu, Wulan terlihat semakin mirip dengan mamanya.


"Bibi Wulan!" Panggil Alexa.


"Hallo, Eca." Wulan menjadi salah tingkah. Bibirnya masih terasa bengkak karena terlalu lama berciuman dengan Juan.


"Bibi Wulan ngapain di sini?"


"Bibi mau datang melihat Eca dan Felicia." Nggak tahunya salah masuk kamar , sambung Wulan dalam hati.


"Oh....Eca dan Felicia sih nggak masalah kalau lampu padam. Namun Felicia terbangun karena kuatnya bunyi guntur tadi. Dia jadi takut dan mencari papi Juan." Kata Alexa sambil kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Tadi kalau ia tak salah melihat, Papi Juan dan Wulan sedang berpelukan. Ia juga melihat bagaimana gugupnya Wulan yang memperbaiki kaos yang dipakainya.


"Kita ke kamar saja, ya? Atau Felicia mau tidur di kamar papa?" Tanya Juan sambil mengelus pundak putrinya.


"Iya. Cia mau bobo sama papa aja."


Juan menatap Alexa. "Terus, Alexa mau tidur juga sama papi?"


"Nggak. Eca mau tidur sama bibi Wulan saja. Bibi mau menemani Eca tidur kan?" Alexa menatap Wulan.


"Tentu saja, sayang. Ayo kita ke kamar." Wulan melingkarkan tangannya di bahu Alexa membuat Juan sedikit terkesima melihat bagaimana Wulan menjadikan Alexa seperti sahabatnya. Alexa pun terlihat nyaman dengan sikap Wulan itu.


2 jam telah berlalu.....


Aliran listrik sudah kembali menyala. Alexa sudah kembali terlelap. Wulan masih tetap terjaga. Tangannya sejak tadi memegang bibirnya. Masih dirasakannya kehangatan ciuman Juan yang sangat memabukkannya itu.


Bodohnya, aku. Kesannya aku ini murahan. Mengapa aku diam saja saat tuan Juan mencium ku? Ya Tuhan, aku sungguh terpesona pada ketampanannya, pada harum tubuhnya. Pasti minyak wangi yang dia pakai harganya sangat mahal. Kenapa tuan Juan tiba-tiba bilang rindu? Apakah dia menganggap aku sebagai orang lain? Atau jangan-jangan dia bermimpi sambil berjalan?


Wulan memukul kepalanya sendiri. Ia tak habis pikir kenapa dirinya terbuai dengan ciuman itu. Bahkan kalau dia tak salah ingat, ia akhirnya membalas ciuman Juan walaupun dengan sedikit kaku.


Di kamarnya, Juan pun belum bisa tertidur. Felicia sudah tertidur di sampingnya sambil memeluk tangan Juan. Pria tampan itu sendiri, tidur sambil memandang langit-langit kamarnya.


Kenapa sampai aku menganggap dia sebagai Finly ya? Apakah karena rambutnya yang tergerai? Aku begitu cepat mencium dan mencumbu gadis itu. Apakah nanti yang dia pikir tentang aku? Duda kesepian yang mesum? Cih, sungguh memalukan diriku ini. Kalau Alexa tak keluar, hampir saja aku sudah membuka semua pakaiannya. Ah, aku memang kesepian. 2 tahun lebih aku tak pernah menyentuh wanita. Mungkin hal ini yang menyebabkan aku sangat mudah tergoda padanya. Hampir saja aku memperkosanya. Besok, aku harus berbicara padanya. Aku tak mau dia melapor pada Joana.


*********


Wulan sedang berkutat di dapur menyiapkan nasi goreng untuk Alexa, Felicia dan Juan. Sejujurnya, ia baru tertidur saat jam sudah menunjukan pukul setengah empat subuh. Dan ia harus bangun sebelum jam setengah enam. Untungnya nasi sudah Wulan masak di magicom sejak semalam. Jadi pagi ini tinggal menyiapkan bumbu dan memasaknya saja.


Pukul setengah tujuh semuanya sudah siap di atas meja. Saat Wulan sedang membuat susu untuk Felicia, ia mencium bau minyak wangi Juan. Jantung Wulan langsung berdetak dengan sangat cepat. Apalagi saat ia mendengar langkah kaki yang mendekat di belakangnya. Hangatnya ciuman Juan kembali bermain di kepala Wulan. Sial, mengapa justru itu yang aku ingat?


"Wulan.....!" Panggil Juan.


Wulan menarik napas panjang dan membalikan badannya. "Se-selamat pagi, tuan...!" agak tersendat suara Wulan menyapa Juan. Siapa yang tak akan gugup melihat penampilan Juan seperti bintang film Mexico. Wulan menyesali dirinya yang terlalu sering menonton telenovela sehingga membayangkan wajah Juan seperti Fernando Colunga. Juan sudah siap dengan baju kantornya. Ia memakai celana kain berwarna abu-abu dengan kemeja putih ketat yang membungkus tubuh kekarnya sementara jas diletakkan di atas kursi makan bersama tas kerjanya.


"Wulan, aku minta maaf soal kejadian semalam. Sungguh aku tak bermaksud kurang ajar padamu. Aku hanya..."


"Aku sudah melupakannya, tuan." Wulan langsung memotong ucapan Juan. "Aku menganggapnya sebagai mimpi saja. Tuan jangan khawatir. Aku tidak akan mengingatnya sama sekali."


"Terima kasih. Aku berharap kamu tak akan takut padaku. Sungguh semalam aku merasa sedang.." Juan tak jadi meneruskan


"Selamat pagi...!" Alexa menuruni tangga sambil memegang tangan Felicia. Keduanya sudah siap dengan seragam sekolah masing-masing.


"Bibi, nasi gorengnya sudah siap?" Tanya Alexa.


"Sudah, ayo duduk!" ajak Wulan. Ia membantu Felicia duduk di kursinya.


"Papi, ayo sarapan. Nasi goreng bibi Wulan pasti sangat enak." Kata Alexa.


Juan duduk di samping Felicia.


Wulan sudah menuangkan nasi goreng di piring Alexa dan Felicia.


"Bibi, piring papi masih kosong." Ujar Alexa.


Wulan segera berputar ke sisi tempat duduk Juan. Sungguh ia ingin mendapat flu saat ini agar hidungnya mampet dan tak mencium bau minyak wangi Juan. Karena setiap kali mencium minyak wangi Juan, Wulan akan mengingat ciuman panas itu.


"Terima kasih, Wulan." Ujar Juan setelah Wulan selesai menaruh nasi goreng ke piringnya.


"Wah....enaknya. Cia suka." Cicit Felicia saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.


Wulan yang masih berdiri tak jauh dari meja makan jadi tersenyum.


"Bibi, ayo sarapan bersama kita." Ajak Alexa.


Wulan menggeleng sambil menggerakkan tangannya.


"Duduklah, Wulan!" Ujar Juan pelan namun sedikit ada penekanan.


Wulan akhirnya duduk juga di samping Alexa karena Felicia ikut mengajaknya untuk duduk juga. Ia menaruh beberapa sendok nasi goreng di atas piringnya.


"Bibi Wulan, kok leher bibi ada tanda merahnya. Di gigit nyamuk ya?" Tanya Felicia yang duduk di depannya.


"Merah?" Wulan yang sementara mengunyah makanannya menjadi bingung.


Juan mengangkat wajahnya dan menatap Wulan. Ia langsung tersedak melihat ada tanda merah di leher sebelah kanan Wulan. Ia ingat semalam mencium leher itu karena menganggapnya sebagai Finly. Ia tak mengira ada tanda merah yang ditinggalkannya.


"Papi kenapa?" Tanya Alexa bingung. Ia menatap Juan dan Wulan secara bergantian. Gadis yang sudah beranjak remaja itu tersenyum.


"Felicia, sarapannya sudah? Nanti kita terlambat." Juan meneguk teh manisnya sampai habis. Ia mengambil tissue lalu membersihkan mulutnya.


Felicia menghabiskan nasi gorengnya secara cepat.


"Bibi, bolehlah aku membawa nasi goreng ke sekolah?" Tanya Felicia sambil memakai jaketnya.


"Boleh sayang. Sebentar bibi ambil kotak makannya.


"Papa tunggu di luar ya?" Ujar Juan lalu segera keluar dari pintu samping untuk mengambil mobilnya.


Setelah Alexa, Felicia dan Juan pergi, Wulan berlari ke kamarnya. Ia berdiri di depan cermin dan langsung mencari tanda merah yang Felicia katakan tadi.


Mata Wulan langsung membesar. Jelas terlihat ada dua tanda merah di sana. Walaupun belum pernah pacaran namun Wulan tahu kalau itu adalah kissmark.


Apakah tanda merah ini dibuat oleh tuan Juan? Ya Tuhan, apakah semalam aku sungguh lupa diri sampai tak menyadari kalau ia membuat tanda ini?


Sementara itu di mobil Juan, Alexa yang duduk di belakang mengirimkan pesan untuk mami Bulenya dan bibi Giani.


Semalam, saat lampu padam, aku melihat papi Juan dan bibi Wulan sepertinya sedang berpelukan. Pagi ini, ada dua tanda merah di leher bibi Wulan. Sama kayak dulu ada tanda merah di leher uncle Jero.


Demikian laporan Eca saat ini....


Giani yang menerima pesan itu langsung tersenyum senang. Ia jadi ingat bagaimana dulu mengerjai Jero di malam pertama pernikahan mereka.


"Ada apa senyum-senyum, Mel?" Tanya Jero yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Giani menatap suaminya. "Jadi ingat tanda merah yang aku buat padamu waktu kita baru saja menikah."


Jero tersenyum menggoda. "Kenapa? Mau buat lagi? Aku bersedia, kok."


"Dasar bule mesum! Ayo ganti baju. Kamu sudah terlambat ke kantor." Giani menepuk pantat suaminya yang hanya menggunakan handuk putih.


"Sayang..., kau buat palo bangun nih!" rengek Jero.


Giani yang sudah berada di depan pintu menoleh sambil tersenyum. "Bilang sama palo kalau nido masih berdarah!"


"Gi....!" Teriak Jero jengkel karena istrinya sudah menghilang dari balik pintu yang tertutup.


Juan Fernandez



Bagaimana Kisah duren Juan dan gadis polos Wulan? Apakah akan seromantis Palo dan nido? Eh maksudnya Jero dan Giani?


Dukung emak terus ya...


Kase vote, like dan komen yang banyak. Boleh to???