
Jero melihat Giani yang sudah mengambil koper kecil dan memasuka beberapa pasang baju di dalamnya.
"Gi, sudah dapat pesawat? Kalau belum, aku minta sekretarisku untuk mencarinya."
"Sudah. Pesawatnya jam 7pagi berangkatnya. Jadi jam 6 aku sudah harus berada di bandara." Kata Giani. Ia memasukan beberapa potongan baju terakhir lalu mengunci kopernya. Ponselnya berdering. Ia langsung senang saat melihat kalau itu dari Beryl. Giani menerimanya dan langsung menjauh ke balkon.
Mata Jero terus mengawasi Giani yang sedang menerima panggilan dari Beryl. Ia dapat melihat wajah Giani yang serius dan sesekali menganggukan kepalanya. Jero mengakui bahwa kemampuan Beryl dalam mengendalikan seseorang sangat luar biasa. Makanya, setiap mantan pacarnya yang akan mengamuk karena diduakan oleh Beryl akan langsung diam tak berkutik saat Beryl mulai bicara. Mungkin saja saat ini Beryl sedang menenangkan Giani agar tidak panik saat akan ke Bali.
"Apakah Beryl akan datang?" Tanya Jero saat Giani sudah meletakan ponselnya.
"Belum bisa dalam minggu ini. Katanya papa kak Beryl sedang sakit dan ada beberapa rapat penting dalam minggu ini. Jadi dia akan datang nanti minggu depan."
Beryl sebenarnya orang yang sangat sibuk. Sebelum mengenal Giani, biasanya ia hanya datang ke Indonesia kalau ada pekerjaan penting. Tapi semenjak mengenal Giani, tahun ini saja Beryl sudah 4 kali datang ke Indonesia. Sepertinya Beryl memang menyukai Giani. Dan entah kenapa Jero merasa dadanya sesak saat memikirkan itu.
"Orangku yang ada di Bali akan membantumu. Kau tenang saja. Dia sangat ahli dalam bidangnya. Dia juga orang yang serba bisa."
"Makasi, sayang. Aku sedikit stres membayangkan apa yang sudah terjadi di sana. CCTV juga tiba-tiba saja rusak semenjak tadi pagi." Kata Giani dengan wajah senduh. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok sambil melipat tangannya di depan dada.
Jero mendekat sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Butuh pelukan?"
Giani tersenyum. Ia mengangguk lalu melangkah dan masuk dalam pelukan Jero. Tangan Jero mengusap punggungnya sementara Giani bersandar di dada bidang cowok itu. Untuk sesaat, keduanya hanya saling diam, menikmati pelukan itu sambil berdiri. Sampai akhirnya, Giani memdorong tubuh Jero perlahan.
"Kak, kita tidur?"
Jero mengangguk. "Kita berdoa dulu ya?"
Keduanya pun duduk di tepi tempat tidur. Jero yang memimpin doa. Setelah selesai, Giani segera membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian tangan Jero melingkar dipinggangnya.
"Boleh, peluk?" Tanya Jero.
"Boleh." Jawab Giani sambil memejamkan matanya. Jero mencium dahi Giani, lalu membaringkan tubuhnya dibelakang istrinya. Di tariknya tubuh Giani agar semakin merapat padanya. Jero merasa tenang saat menghirup bau tubuh istrinya itu.
*******************
Saat Giani bangun jam setengah lima subuh, Jero sudah lebih dulu bangun darinya. Pria bule itu sudah mandi dan menggunakan baju kantornya. Ia bahkan sudah menyiapkan 2 gelas susu dan beberapa potong roti bakar. Giani sangat suka dengan roti bakar yang dilumuri selai yang terbuat dari nenas.
Giani yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, terkejut saat melihat Jero yang sudah rapih dan sedang menyiapkan sarapan..
"Minumlah susunya dan makanlah rotinya. Aku yakin saat pesawatnya mendarat di Bali, yang ada dipikiranmu hanyalah pergi ke lokasi cafemu berada."
Giani mengakui apa yang Jero katakan benar. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah pergi Bali dan cafenya.
Ia pun menikmati roti bakar dengan selai nenas bersama dengan segelas susu dengan lahap.
"Ayo, ku antar ke bandara." Ujar jero saat ia sudah selesai mencuci gelas, sendok dan piring yang mereka gunakan.
"Aku naik taxi saja, sayang." Tolak Giani. Ia tahu jarak bandara dari rumah mereka ini cukup jauh. Belum lagi ditambah dengan jarak antara bandara menuju ke kantor Jero.
"Aku akan tetap mengantarmu. Oh ya, obat dan vitaminmu sudah aku masukan ke dalam tasmu. Jangan lupa diminum ya?" pesan Jero. Ia kemudian mengambil koper Giani dan segera mendorongnya sampai di garasi kemudian memasukan ke dalam mobil sport miliknya.
Giani pun langsung mengunci rumah dan memberikan kuncinya pada Jero. Jika keluar kota, Giani memang tak membawa kuncinya sendiri.
Mereka pun segera pergi meninggalkan kompleks perumahan itu. Semua masih nampak sepi karena jam baru menunjukan pukul 5 lewat 10 menit.
Begitu sampai di bandara, Jero pun membantu Giani untuk menurunkan kopernya dan mengantarnya sampai ke ruang tunggu. Setelah check in selesai, Giani mendekati Jero.
"Aku pergi dulu, ya. Sudah ada panggilan pertama untuk masuk ke dalam pesawat." Ujar Giani.
Jero langsung memeluk istrinya. "Hati-hati di sana, ya? Jangan terlalu stres memikirkan semuanya. Anak buahku di sana akan mengerjakan semua yang kau perintahkan."
"Terima kasih sayang!" Kata Giani tulus.
Jero melepaskan pelukannya. Tak peduli dengan orang-orang yang ada di sana, ia menekan tengkuk istrinya dan mencium bibir Giani dengan sangat dalam.
"Telepon aku jika sudah tiba di Bali."Bisiknya sambil menyapu bibir Giani dengan jempolnya.
"Ok." Sahut Giani dengan wajah sedikit merah karena beberapa pasang mata menatap mereka berdua sambil saling berbisik.
Lambaian tangan Jero mengantar Giani yang menaiki eskalator menuju ke lantai 2 bandara. Setelah Giani menghilang, Jero pun segera meninggalkan bandara. Ada sesuatu perasaan sepi yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Membayangkan selama beberapa hari ia tak akan melihat wajah polos Giani membuat hatinya sedih. Apakah dia sudah merindukan Giani?
***********
Hari ini adalah kali pertama Jero memimpin rapat pemegang saham di perusahaan Prayunatha. Jika papa Denny tak ada, sebenarnya Dion yang selalu menggantikannya. Namun Dion ada pertemuan penting dengan salah satu perusahaan di Spanyol yang pernah dikunjungi oleh Jero dan Giani, sehingga papa Denny meminta Jeronimo untuk menggantikannya. Finly sendiri mempunyai saham yang sama dengan Jero di perusahaan ini, namun dia tak pernah mau menjadi salah satu pimpinan di sini. Ia lebih memilih mengolah bisnis salon dan butiknya. Dia akan hadir sebagai salah satu pemilik saham setiap 3 bulan sekali.
Rapat berjalan dengan baik. Papa Denny mengikuti melalui layanan Zoom. Ia ada di rumah sakit, sedang menjalani perintah dokter untuk istirahat sekaligus menemani mama Sinta.
Selesai rapat, Jero langsung menuju ke ruangan papa Denny untuk menyimpan beberapa file penting. Pada saat itulah Finly mengikutinya.
"Jero, kita harus bicara!"
Jero yang sedang duduk di kursi kerjanya, meletakan ponsel yang dipegangnya dan menatap Finly yang sudah duduk di depannya.
"Aku mencintaimu, Jer. Aku sungguh mencintaimu!" Kata Finly tanpa bisa menahan air matanya.
Jero menatap Finly. Perempuan itu terlihat kurus. Ada garis hitam disekitar matanya yang menandakan bahwa perempuan itu tak memiliki waktu yang cukup saat tidur malam. Hati Jero tersentuh. Bukan karena perasaan cinta yang masih dimilikinya. Namun hanya sebatas rasa kasihan.
"Cinta kita sesuatu yang salah, Fin. Aku tak ingin hubungan kita dilanjutkan. Aku sungguh ingin hidup baru."
"Bersama Giani? Perempuan itu tak mencintaimu, Jer. Dia menikahimu hanya karena ingin memisahkan aku dan kamu."
"Kau tahu dari mana?" Tanya jero penasaran. Selama ini, hanya dia dan Giani saja yang tahu isi perjanjian mereka.
"Aku membacanya di komputer Giani. Semua isi chat nya dengan Joana. Mereka berdua merencanakan semua ini untuk memisahkan kita."
"Aku tahu!"
"Apa?" Finly terkejut.
"Sebelum menikah, Giani memang sudah mengatakan kalau tujuan pernikahan kami hanyalah untuk memisahkan aku dan kamu."
"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak tinggalkan saja perempuan kampungan itu? Bukankah pernikahan kalian sudah satu tahun?"
Jero menggeleng. "Aku tak bisa meninggalkan Giani."
"Kenapa? Apakah kau sudah jatuh cinta padanya?"
"Mungkin. Aku sendiri belum mengerti dengan isi hatiku ini. Namun aku merasa nyaman saat bersamanya. Giani mampu memberikan suatu rasa kepuasan dalam diriku. Bukan hanya kepuasan saat kami bercinta, namun perasaan damai dan tenang yang dapatkan melebihi apapun bahkan saat kita bersama. Aku memang dulu mencintaimu, Fin. Namun perasaan cinta itu buta sehingga aku tak memikirkan bagaimana perasaan papa, mama, Aldo dan juga Alexa. Kini, aku sudah tahu kalau kita tak seharusnya ada dalam hubungan terlarang ini."
Tangis Finly menjadi semakin dalam. Hatinya bagaikan ditusuk oleh sembilu. Ia merasa hancur karena lelaki yang sangat dicintainya ini ternyata tak menyimpan lagi perasaan untuknya.
"Jadi, aku tak berarti lagi dalam hidupmu?" Tanya Finly saat tangisnya sedikit redah.
"Kau tetap berarti dalam hidupku. Karena kau adalah kakakku. Kita akan tetap saling menyayangi namun hanya sebatas kakak dan adik."
Finly menarik napas panjang beberapa kali. "Baiklah. Kalau memang itu kemauanmu. Aku tak dapat memaksanya. Selamat siang." Finly segera pergi meninggalkan Jero. Pria bule itu menarik napas lega. Ia akhirnya bisa mengatakan semua isi hatinya pada Finly.
***********
Setelah dari kantor papa Denny, jeronimo mampir sebentar di kantornya sendiri. Ia berencana untuk menghabiskan malam ini di rumah sakit untuk menjaga mama Sinta.
Saat ada di ruangan kantornya, Jero menghubungi Giani melalui panggilan videocall. Tadi, saat Giani sudah tiba di Bali, ia sudah menghubungi Jero. Orang kepercayaan Jero sudah menjemputnya di bandara.
"Sayang, kamu ada di mana?" Tanya Jero saat wajah cantik Giani muncul di layar ponselnya.
"Aku sudah di hotel."
"Kamu mau beristirahat?"
"Ya. Aku capek dan mengantuk."
"Ya sudah. Kamu tidur saja. Jangan lupa makan, minum vitamin dan obatnya, ya?"
"Iya. Sampaikan salamku untuk mama Sinta. Kamu mau ke rumah sakit kan?"
"Iya. Aku akan mandi dan ganti baju di kantor, setelah itu langsung ke rumah sakit."
"Ok. Bye..."
"Bye....!" Perasaan Jero menjadi senang saat bisa melihat wajah Giani lagi. Ia pun segera menuju ke kamar mandi yang ada di ruangannya untuk mandi dan ganti pakaian.
Selesai mandi dan ganti pakaian, ia melihat layar ponselnya berkedip. Rupanya ada inbox yang masuk. Jero terkejut saat melihat itu pesan dari Finly. Jero memang sudah memblokir nomor Finly. Namun tak memblokir perempuan itu di akun facebooknya.
Mata Jero langsung terbelalak saat melihat foto yang dikirimkan Finly padanya. Finly memegang sebotol racun serangga di tangannya. Ia terlihat kacau dan sangat berantakan. Ia menuliskan sesuatu :
AKU TAK BISA HIDUP TANPAMU
JADI BIARKAN AKU PERGI SELAMANYA.
AKU MENCINTAIMU...
Jantung Jero bagaikan berhenti berdetak. Ia segera meraih kunci mobilnya dan berlari meninggalkan ruangannya.
Kamu gila, Finly!
Nah.....Finly mati nggak ya???
Apakah Jero menyesal dan berbaikan lagi dengan Finly???
Berikan komentarmu, sayang....
Jangan lupa vote nya ya?
Supaya emak semangat up nya 😄😄😄