
Kaki Jero yang panjang membuat ia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di halaman parkir rumah sakit. Hatinya begitu memuncak dengan rasa ingin berjumpa dengan Giani.
Selama ini, dia hanya tahu mencintai Finly dengan caranya sendiri. Ia tak pernah merasakan membutuhkan gadis lain dalam hidupnya. Selama di Sidney pun Jero hanya tahu kalau semua gadis yang dekat dengannya sebagai pemuas kebutuhan raganya saja. Namun Giani, yang hadir dengan kepolosannya, kata-katanya yang sering membuat Jero mati kutu, bahkan sikapnya yang tak pernah terduga ternyata telah mencuri hati Jero. Dia bukan hanya menyukai gadis itu di atas ranjang, bukan juga hanya sekedar suka pada masakan atau kopinya buatannya yang enak namun perhatian kecil Giani seperti menyuapi saat makan, selama ini selalu menggetarkan hatinya. Sayangnya, Jero terlambat menyadari kalau itu adalah benih-benih cinta yang sudah mulai tumbuh. Jero juga sering merasa cemburu kalau Giani dekat dengan Beryl. Sering merasa tak rela saat perhatian Giani tertuju pada orang lain. Rasa egonya yang selama ini menganggap bahwa Giani bukanlah gadis impiannya, membuat ia buta saat hidupnya, hati dan jiwanya sudah terikat dengan semua tentang Giani.
Ya Tuhan, betapa bodohnya aku selama ini..Alu sudah mencintainya. Entah kapan itu dimulai, yang pasti aku mencintainya.
Jero terus berbicara dengan kata hatinya sendiri sampai akhirnya ia tiba di rumah sakit. Sedikit berlari, Jero menuju ke ruang perawatan Alexa. Namun kamar itu sudah kosong.
"Suster, kemana pasien bernama Alexa Purwanto. Dia adalah seorang anak yang mengalami kecelakaan." Kata Jero pada salah satu suster yang sedang membersihkan kamar itu.
"Pasien sudah dipindahkan oleh keluarganya untuk perawatan ke luar negeri."
"Apa? Ke mana?"
"Maaf tuan, kami tidak tahu. Pasien baru saja pergi sekitar 1 jam yang lalu."
Jero mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa menghubungi Giani karena nomornya sudah diblokir oleh perempuan itu. Haruskah ia menelepon Aldo?
Tangan Jero menekan nomor ponsel Aldo. Namun tak aktif.
Saat Jero akan menghubungi Joana, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nomor dari papa Denny.
"Hallo pa..., ada apa?"
"Aku Finly!"
Jero jadi kesal. Ia ingin mengahiri saja panggilan itu namun terdengar suara Finly yang memohonnya untuk tidak menutup telepon.
"Tunggu, Jer. Aku hanya mau mengatakan kalau saat ini, Aldo dan Giani akan membawa Alexa ke Amerika. Mereka menyewa pesawat pribadi. Yang aku dengar semalam kalau pesawatnya akan berangkat jam 9 pagi."
Jero langsung mematikan ponselnya. Ia berlari kembali menuju ke halaman parkir. Jam tangannya menunjukan waktu jam 7 lewat 40 menit. Jero merasa waktunya hampir tak cukup untuk ke bandara yang jaraknya hampir 1 jam.
Jero ingat dengan adik Frangky yang bekerja sebagai pengawas menara penerbangan. Ia pasti tahu tentang pesawat yang disewa oleh Aldo. Dengan segera ia menghubungi Frano. Pria yang masih lajang itu langsung menerima panggilan Jero.
"Hallo, Mo. Ada apa?"
"Aku dalam perjalanan ke bandara sekarang. Geraldo Purwanto menyewa sebuah pesawat."
"Ya. 1 jam lagi akan take off. Sekarang sedang dilakukan persiapan."
"Tolong aku, Frano. Aku harus bertemu dengan istriku. Kami sedang marahan. Makanya ia tak mau menerima panggilanku. Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya."
"Kebetulan aku baru saja off. Aku tunggu di pintu masuk."
"Baiklah."
Jero semakin menekan pedal gasnya. Sepanjang jalan, ia memanjatkan doa, memohon agar Tuhan bisa menolongnya untuk bisa menemui Giani.
Frano yang sudah menunggu Jero, langsung membawa pria bule itu masuk melalui pintu khusus.
"Mereka baru saja memasukan Alexa ke dalam pesawat. Namun aku tak melihat Giani." Kata Frano.
Jero bertambah tegang. Apakah Giani tak ikut bersama?
Frano membawa Jero masuk melalui pintu khusus. Karena dia punya akses kartu maka pintu bisa dibuka.
"Itu pesawatnya." Tunjuk Frano. Tepat di saat itu Jero melihat Giani yang baru keluar dari pintu yang lain bersama Joana.
"Giani....!" Panggil Jero dengan sangat keras. Ia segera berlari ke arah Giani. Sementara Frano memilih untuk berdiam di dekat pintu.
"Kak Jero!" guman Giani. Ia tak menyangka kalau Jero akan datang menemuinya.
"Ada apa?"Tanya Giani.
"Boleh kita bicara sebentar?" Mohon Jero sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Jero merasakan hatinya bergetar. Ingin rasanya ia memeluk Giani dengan sangat erat. Ia begitu merindukan Giani walaupun mereka baru saja berpisah kemarin.
Giani menatap Joana.
"Jangan lama, Gi. Pesawat akan take off." Ujar Joana lalu segera meninggalkan mereka berdua.
Giani menatap Jero saat Joana sudah berjalan menuju ke arah pesawat. "Ada apa, kak?"
"Aku mohon, Gi. Kita jangan cerai. Aku tak ingin berpisah darimu." Kata Jero dengan suara bergetar.
"Kak, bukankah sejak awal pernikahan kita sudah sepakat untuk berpisah? Kakak sendiri yang bilang bahwa kakak adalah pria yang memegang janjinya."
"Aku memang memegang janjiku padamu, namun itu ku lakukan sebelum aku sadar bahwa aku mencintaimu.!" Jero meraih tangan Giani. "Aku sungguh jatuh cinta padamu dan aku tak ingin berpisah denganmu. Mari kita bangun pernikahan kita berdua dengan landasan yang benar."
Giani menarik tangannya dari genggaman Jero. "Maaf, kak. Aku harus pergi menemani kakakku untuk pengobatan Alexa."
"Aku tak akan melarangmu jika ingin pergi. Namun aku ingin proses perceraian kita jangan diteruskan. Aku akan menunggu sampai kau kembali lagi ke sini. Please, Gi. Aku tak bisa tanpamu. Baru satu hari kita berpisah, namun aku sudah merasakan betapa tersiksanya tanpa dirimu." Kata Jero dengan tatapan penuh permohonan.
"Namun, aku tidak mencintaimu, kak."
"Aku tahu. Namun ijinkan aku untuk bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Aku siap melakukan apa saja agar kau dan aku bisa bersama."
Giani menggeleng. "Maaf, kak. Waktu diantara kita sudah habis. Jalanilah hidup kakak tanpa ada aku. Kita tak bisa bersama lagi, karena jujur saja, setiap kali melihat kakak, kak Aldo selalu sakit hati mengingat perselingkuhan yang pernah kalian lakukan. Dan jika disuruh memilih antar kamu atau kakakku, aku akan memilih kak Aldo." Giani melangkah. Hati Jero sangat sakit mendengar pengakuan Giani. Namun ia tak putus asa.
"Gi....!" Jero menghadang langkah Giani. Ia berlutut di depan Giani. Tak peduli dengan puluhan pasang mata yang melihat mereka. "Aku mohon, berikan aku kesempatan kedua. Ijinkan aku bersamamu. Aku hanya mau kamu." Mata Jero sudah terasa panas. Tak lama lagi air bening itu akan jatuh dari sudut matanya.
Hati Giani bagaikan disayat sembilu mendengar permohonan Jero. Matanya menatap ke arah pesawat. Terlihat Aldo sudah berdiri di depan pintu pesawat.
"Kak...!"
"Mama sudah sadar, Gi."
"Apa? Mama Sinta sudah sadar?" Giani jadi senang.
"Namun, bukan karena mama aku ke sini. Selama ini aku selalu memohon demi mama. Namun kali ini, aku memohon demi diriku sendiri. Demi semua rasa cinta yang aku miliki untukmu. Demi kerinduanku untuk menghabiskan masa tuaku bersamamu." Air mata Jero menetes.
Giani memalingkan wajahnya. Ia kembali menatap kakaknya.
"Giani, cepatlah!" Teriak Aldo.
Giank menekan perasaannya sedemikian rupa. "Maaf, kak. Kesempatan kedua diantara kita tak mungkin terjadi. Selamat tinggal!" Giani melangkah. Meninggalkan Jero yang masih berlutut di lantai bandara. Giani bahkan mempercepat langkahnya. Sampai akhirnya ia menaiki tangga.
Jero masih di posisinya yang berlutut. Hatinya sangat sakit. Begitu sakit sampai ia tak bisa berdiri. Semua sarafnya terasa lumpuh.
Pesawat yang membawa Giani dan rombongannya perlahan mulai berjalan. Dari kaca jendela, Giani melihat Jero yang perlahan berdiri sambil menatap ke arah pesawat yang sudah mulai melaju. Giani melihat bagaimana Jero berlari dan mengejar pesawat itu. Namun tentu saja Jero tak bisa. Pesawat sudah tinggal landas.
Giani memejamkan matanya. Hatinya bergemuru dengan sesuatu yang ia tak tahu apa artinya. Ketika pesawat sudah semakin tinggi dan lampu tanda menggunakan sabuk pengaman sudah di padamkan, Giani merasa perutnya tak enak. Ia merasa mual dan ingin muntah. Giani langsung membuka sabuk pengamannya, dan sedikit berlari menuju ke toilet. Giani memuntahkan semua isi perutnya didalam kloset. Tiba-tiba ia merasa hampa. Wajah Jero seperti menempel di pelupuk matanya.
Giani menatap wajahnya ke cermin sambil membersihkan mulutnya dengan tisue. Ya Tuhan, kenapa aku ingin menangis???
KENAPA GIANI INGIN MENANGIS?
kasih like, komen dan vote ya