Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Rindu


Kegembiraan atas siuman nya Alexa setelah 3 minggu tak sadarkan diri ternyata tak berlangsung lama. Gadis kecil itu segera menyadari ada yang kurang dari dirinya.


Setelah dokter selesai memeriksanya dan membuka perban di kepala Alexa, tangannya secara spontan langsung meraba kepalanya.


Rambut Alexa yang tebal, berwarna coklat tua dan sedikit bergelombang dibagian ujungnya, yang panjangnya hampir hampir dipinggang gadis kecil itu, sekarang sudah tak ada.


"Bibi, mana cermin? Eca mau lihat kepala Eca. Kok kepala Eca rasanya lain." Kata Alexa yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Eca sayang, sekarangkan Eca baru saja siuman. Jadi Eca harus banyak istirahat." Kata Giani sambil menatap Aldo.


"Iya, nak. Alexa harus banyak istirahat." Aldo mendekat sambil memegang tangan putrinya.


"Rambut Eca sudah nggak ada ya? Eca sudah botak ya?" Alexa mulai menangis.


"Eca, nanti rambunya akan tumbuh lagi kan?" Bujuk Giani.


"Nanti Eca ke sekolah bagaimana? Nanti Eca di ejek sama teman-teman. Eca kan malu." Tangis gadis kecil itu semakin dalam.


"Eca.......!" Panggil Aldo. Ia khawatir Eca akan sakit lagi.


Tiba-tiba pintu ruang perawatan Alexa di buka. Ternyata Joana yang masuk. Giani memang sudah menelepon Joana dan mengabarkan tentang keadaan Alexa.


Joana masuk dengan menggunakan topi lebar.


"Tante bule, kepala Eca sudah botak. Rambut Eca sudah hilang." Tangis Alexa semakin kuat melihat Joana.


"Rambutnya akan tumbuh lagi."


"Terus gimana? Eca malu harus keluar rumah dengan rambut ini."


Joana tersenyum. Ia duduk di tepi tempat tidur Alexa. Tangannya membuka topi yang dipakainya. Geraldo, Giani dan Alexa sama-sama terkejut. Rambut pirang Joana yang panjang itu pun sudah lenyap. Kepala wanita bule itu sudah botak.


"Rambut tante kenapa?" Tanya Alexa bingung. Tangisnya terhenti.


"Rambut tante sudah tante gunting. Supaya Eca nggak sendirian berkepala botak. Kita akan jalan bersama ke mall, ke pantai, ke sekolah dengan kepala licin ini. Biarkan saja orang-orang akan menatap kita aneh. Namun kita akan tunjukan berkepala botak itu tetap cantik. Kita nggak perlu repot-repot cari sisir saat akan pergi."


Alexa tersenyum. "Tante bule tetap cantik walaupun rambutnya sudah botak."


"Eca juga tetap cantik. Kita bisa beli rambut palsu yang warnanya kuning, hijau, merah."


"Eca suka rambut kuning. Tapi papa nggak mengijinkan Eca mengecat rambut Eca. Kata papa, Eca masih kecil." Kata Alexa sambil menatap papanya dengan wajah sedikit cemberut.


"Sekarang Eca bisa memiliki rambut kuning." Ujar Aldo tanpa bisa menahan rasa haru di hatinya melihat pengorbanan Joana yang begitu besar bagi anaknya. Hati Aldo sungguh bergetar. Apakah jika Finly ada di sini dan melihat keadaan Alexa, ia akan sanggup membotakan kepalanya seperti Joana? Rasanya tidak mungkin. Bukankah rambut Finly adalah salah satu kebanggannya? Finly pernah menjadi bintang iklan shampo selama 5 tahun. Itulah sebabnya rambut Alexa sangat indah karena gen yang diturunkan oleh Finly.


Geraldo menatap Joana yang sedang menyuapi Alexa makan. Ia tak menyangka kalau ada wanita yang bisa menyayangi Alexa dengan tulus selain Giani.


"Papa, besok belikan rambut palsu untuk Eca dan tante bule ya? Warnanya kuning. Jadi papa belinya 2 ya?" Ujar Alexa.


"Iya sayang. Papa pasti akan belikan." Kata Aldo sambil tersenyum. Hatinya masih luka karena ia belum bisa menyingkirkan Finly dari hatinya. Sekalipun Finly sudah menghianatinya namun Aldo masih mencintainya. Mungkin karena sejak kecil Aldo sudah tahu kalau ia sudah dijodohkan dengan Finly sehingga ia tak pernah mau melirik gadis lain. Cinta yang sudah tumbuh sejak kecil sangat sulit dilupakan.


(Oh....kok aku jadi ingat kisah Caleb, Grace dan Zelina ya, cinta yang tumbuh sejak kecil 🥰🥰)


Demi Alexa, Aldo akan menata kembali hatinya. Fokus Aldo hanya satu, Alexa akan bahagia dan berhasil dalam hidupnya. Apakah Aldo akan mencari pengganti Finly? Entahlah. Rasanya Aldo masih trauma membuka hati untuk orang lain.


"Bibi Giani, apakah paman Jero akan datang ke sini?" Tanya Alexa membuat Giani menoleh dengan kaget. Tak menyangka kalau Alexa akan menanyakan keberadaan Jero.


Aldo menatap adiknya.


"Eh, paman Jero kan sibuk bekerja. Lagi pula kita ada di Amerika. Sangat jauh jaraknya dari Jakarta. Mungkin paman Jero nggak akan datang." Giani berusaha menjelaskan pada Alexa secara baik. Ia tak ingin memberikan Alexa harapan. Ia tahu Alexa akan terus menanyakan keberadaan Jero.


"Eca kangen. Ingin melihat paman Jero. Paman kan baik, suka memberikan Eca boneka.Eca juga kangen sama oma dan opa. Apakah mereka juga nggak akan datang?" Wajah Alexa menjadi sedih.


"Oma kan sedang sakit. Jadi mereka semua nggak bisa datang." Kata Geraldo. Ia kurang nyamam mendengar anaknya merindukan Jero.


"Semoga oma cepat sembuh. Eh, bibi Giani, boleh nggak Eca videocall sama paman Jero? Eca mau minta paman untuk menjaga oma. Kasihan oma di Jakarta sendiri. Pasti oma mencari Eca."


Giani jadi gugup. Videocall dengan Jero? Bukankah Giani sudah memblokir nomor Jero?


"Nanti sayang, kalau Eca sudah lebih baik. Sekarang Eca bobo ya? Harus banyak istirahat supaya kita bisa pulang dan jalan-jalan di kota New York ini." Ujar Joana. Ia langsung membantu Alexa untuk tidur.


Giani permisih ke laur ruangan saat Alexa mulai tertidur. Hatinya kembali resah saat Alexa menyebutkan nama Jero. Kaki Giani melangkah menuju ke taman rumah sakit. Ia duduk di salah satu bangku taman. Rasanya Giani ingin menangis. Hatinya menjerit seakan memerintah dia untuk menelepon Jero. Apakah aku merindukan Jeronimo? Tanya hati Giani.


Di dalam ruangan Alexa.....


"Terima kasih Joana. Pengorbananmu untuk anakku sungguh besar. Mungkin kalau kau tidak membotakkan kepalamu, Alexa akan menangis terus." Kata Aldo saat Alexa sudah tertidur.


"Aku tak tahu mengapa aku sangat menyukai Alexa sejak pertama kali bertemu. Anakmu ini sangat menghiburku saat aku kehilangan tunanganku. Menggunting rambutku bukanlah sebuah pengorbanan besar bagiku. Aku dengan suka rela melakukannya. Lagi pula, aku sudah bosan dengan rambut panjangku."


Hati Aldo sangat tersentuh mendengar pengakuan Joana. Saat dilihatnya Joana tersenyum, Also mengakui apa yang dikatakan Alexa benar. Joana tetap cantik walaupun berkepala botak.


*********


Sejak Giani pergi dari rumah, Jero selalu pulang tepat waktu. Ia sekarang jadi suka memasak dan membuatnya dalam porsi lebih karena ia juga sering membagikan makanan buatannya pada penjaga pintu masuk perumahan ini.


Jika tak masuk kantor, Jero sering membersihkan rumah, menyiram tanaman. Ia tahu kalau Giani sangat menyukai bunga. Jero tak ingin jika bunga-bunga itu tak terurus. Siapa tahu Giani akan pulang dan sedih jika melihat bunganya kering.


Jika ada waktu luang, Jero akan menemani mama Sinta ke pertemuan ibu-ibu. Ia akan duduk manis di deretan bangku paling belakang, tanpa memainkan ponselnya, mendengar dengan sungguh-sungguh khotbah yang disampaikan pendeta.


"Jer, bagaimana dengan berkas perceraiannya. Kau sudah menandatanganinya?" Tanya Mama Sinta saat ia berkunjung ke kantor Jero.


"Belum, ma. Waktu satu bulannya sudah selesai. Kemarin pengacara Fadly datang. Sidang sudah 1 kali dilaksanakan. Namun aku tetap dengan pendirianku. Aku tak mau bercerai, ma. Pengacaraku sudah berusaha menyampaikan keinginanku untuk tidak mengahiri pernikahan. Memang pernikahan kami diawali dengan sebuah kesepakatan. Namun, Tuhan sudah membuatku jatuh cinta pada Giani. Aku berpegang pada sumpah pernikahan yang dulu hanya asal-asal saja aku ucapkan. Aku akan menyayangi Giani, sampai maut memisahkan kami."


Mama Sinta tersenyum. "Mama bangga padamu. Oh ya, Finly baru saja pulang dari Amerika kemarin. Alexa sudah keluar dari rumah sakit namun masih harus menjalani perawatan. Ia sedih karena Alexa tak mau berbicara dengannya. Kelihatannya Finly sudah menyesal. Entahlah. Mama tak mengerti bagaimana sebenarnya sikap Finly."


"Maafkan aku, ma. Kami pasti sudah menyakiti mama."


Sinta tersenyum. "Mama sudah melupakannya. Oh ya, apakah kamu merindukan Giani?"


"Hanya Tuhan yang tahu betapa besar aku merindukannya. Sudah 2 bulan lebih kami berpisah."


"Mana pasport mu?"


Jero mengerutkan dahinya. "Ada apa meminta pasportku?"


"Kita akan ke Amerika. Kau temani mama untuk mengunjungi Alexa."


"Benarkah? Tapi Aldo pasti akan mengusirku."


Mama Sinta tersenyum. "Mama dengar dari Giani, kalau minggu depan Aldo akan datang ke Jakarta untuk rapat pemilik saham. Aldo akan berada di Jakarta selama 1 minggu juga. Kita punya waktu selama satu minggu di sana. Bagaimana?"


Jeronimo langsung berdiri dan memeluk mamanya. "Terima kasih, ma. Aku memang sangat merindukan Giani."


Sinta tersenyum. Ia menepuk bahu putranya. Ya Tuhan, semoga Giani sudah mencintai anakku.


Bagaimana pertemuan Jero dan Giani?


Ada yang masih kasih komentar nggak????