
Alexa mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Mommy bule...., papa Aldo!" Panggil
Di dalam kamar, Joana buru-buru bangun dan memakai gaun tidurnya. "Honey, ayo pakai bajumu. Alexa mengetuk pintu." Joana membangunkan suaminya. Mereka baru saja melewati malam yang panas setelah Aldo pulang dari Amerika. 1 minggu suaminya itu ada di sana.
Joana membuka pintu setelah Aldo memakai celananya dan kembali tidur.
"Mommy bule, maaf ya menganggu tidur kalian. Tapi Alexa hampir terlambat ke sekolah. Paman Agung hari ini nggak masuk karena sedang batuk keras."
"Ya sudah. Biar mommy yang antar Eca. Sebentar mommy ganti baju."
"Papa masih tidur ya?"
"Iya sayang. Papa baru tiba jam 1 subuh."
Alexa mengangguk. Ia meninggalkan kamar orang tuanya dan menunggu ke bawa. Joana menggosok gigi secara cepat dan segera ganti baju. Ia turun ke bawa lalu mengambil kunci mobilnya di tempat penyimpanan kunci.
"Ayo sayang, nanti kamu terlambat!" Ajak Joana.
Keduanya berangkat menuju ke sekolah Alexa. Gadis cilik itu sekarang duduk di kelas 2 SD. Semakin Alexa besar, kelihatan sekali kalau dia mewarisi kecantikan Finly. Hanya matanya saja yang mirip Aldo.
"Makasi mommy bule!" Alexa mencium pipi Joana sebelum turun dari mobil. Joana memegang pipinya dengan perasaan bahagia. Walaupun Alexa bukan darah dagingnya, namun ia merasa sangat mencintai anak itu. Joana bahkan sering merasa kangen kalau Alexa pergi ke rumah Finly dan Juan.
Saat dalam perjalanan pulang, Joana mampir di cafe Giani untuk membeli kopi. Ia memesan 2 rasa untuknya dan Aldo.
Sesampai di rumah, Aldo masih tidur. Joana meletakan kue dan kopi yang di bawanya di atas meja yang ada di balkon.
"Honey, bangun dong, kita minum kopi bareng." Kata Joana sambil mengguncangkan bahu suaminya.
Aldo membuka matanya. Ia perlahan bangun dan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Aldo langsung ke balkon. Ia duduk di depan istrinya lalu membuka kopi yang di bawa Joana.
"Sayang, sebentar lagi Alexa akan libur sekolah. Kita liburan bersama ya?"
"Boleh. Alexa pernah bilang ingin liburan ke Hong Kong."
"Nanti aku akan meminta sekretarisku mengurus semuanya."
"Ok." Joana memegang perutnya.
"Ada apa sayang?"
"Perutku nda enak. Sepertinya kopi ini yang membuat aku mual."
"Ini kan kopi yang biasa kita pesan dari cafenya Giani?"
"Nggak tahu sayang. Aku ke kamar mandi dulu ya?" Joana berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Aldo segera menyusul Joana ke kamar mandi.
"Honey, aku telepon dokter Albert dulu ya." Ujar Aldo lalu segera meraih ponselnya. Ia meminta dokter keluarga itu untuk datang.
Joana keluar dari kamar mandi. "Honey, seharusnya tak usah memanggil dokter. Aku baik-baik saja."
"Selama kita menikah, kamu nggak pernah sakit sayang. Aku khawatir melihat wajahmu yang tiba-tiba saja pucat." Aldo membelai wajah istrinya yang berkeringat.
40 menit kemudian, dokter Albert datang. Ia segera memeriksa Joana. Senyum di wajah tuanya langsung terlihat setelah selesai memeriksa Joana.
"Bagaimana istri saya, dok?" Tanya Aldo.
"Saya pikir nyonya Joana hamil. Namun lebih baik jika di tes atau langsung saja ke dokter kandungan. Nyonya datang bulan kapan terakhir?"
"Saat Giani melahirkan. Kita ke rumah sakit dan saat itu aku sedang haid. Wah, sudah lama sekali. Kok aku bisa lupa ya?" Joana bingung.
"Kau pasti hamil, honey. Usia anak Giani kan sekarang sudah 2 bulan. Berarti selama 2 bulan kau tak datang bulan." Aldo langsung tersenyum bahagia.
"Akan ku atur janji dengan dokter Susanti agar sore ini kalian bisa ketemu dengannya."
Ruang praktek dokter Susanti.....
"Anda memang hamil nyonya. Usia kandungan 8 minggu. Kalau di lihat dari janinnya, semuanya terlihat baik, detak jantungnya juga sangat baik. Nanti saya berikan resep untuk vitamin dan obat penguat kandungan karena ini kehamilan pertama." Kata dokter Susanti selesai memeriksa Joana. Aldo dan Joana terlihat sangat gembira. Akhirnya setelah menanti selama beberapa bulan, Joana akhirnya hamil.
*********
"Mama, masih pusing?" Tanya Alexa.
"Nggak sayang. Mama sudah agak baikan. Terima kasih ya sudah mau menemani mama di sini.
"Pulang sekolah tadi jadi ingin ketemu mama dan dedek bayi." Kata Alexa sambil membelai perut mamanya yang kini berusia 6 bulan.
"Mommy bule juga sekarang sedang hamil. Eca akan mempunyai 2 adik sekaligus. Senangnya hati Eca."
Finly yang sedang berbaring tersenyum bahagia melihat Alexa yang bersemangat menyambut adik-adiknya. Finly juga bersyukur mendengar kabar kalau Joana akhirnya hamil.
"Ya. Mama lihat di IG nya bibi Giani. Si kembar sangat tampan dan menggemaskan." Finly juga ikut bahagia karena Jero dan Giani menikmati kebahagiaan dengan kelahiran anak-anak mereka.
"Ma, kemarin ke dokter kan? Sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Ya. Adikmu ini perempuan."
"Wah, senangnya. Kami berdua bisa main masak-masak, main boneka barbie dan juga main make up. Eca sudah tak sabar menunggu kehadirannya.
Finly kembali tersenyum bahagia. Apakah ia bisa melihat Alexa bermain dengan adiknya itu, Finly tak berani berharap. Namun kehamilannya ini membuat semangat hidupnya semakin bertambah.
Pintu kamar terbuka. Juan masuk dengan wajah khawatirnya. "Sayang.....!"
"Mengapa pulang, sayang? Kamu kan punya banyak pekerjaan di kantor."
Juan mendekat dan duduk di sisi lain tempat tidur. Berseberangan dengan Alexa.
"Eca yang menelepon papi Juan, ma. Eca tadi takut lihat mama yang pucat." Kata Alexa mengakui.
Juan membelai wajah istrinya. "Apakah sebaiknya kita ke dokter saja?"
"Aku baik-baik saja, sayang. Mungkin karena pengaruh tidur malamku yang agak kurang akhir-akhir ini."
Juan hanya bisa menarik napas panjang. Sebenarnya ia sangat bersyukur karena semenjak hamil, Finly terlihat sangat bersemangat. Ia juga dengan sangat rajin meminum obat yang diberikan dokter padanya. Makanan yang dimakan olwh Finly, dibuat khusus oleh ahli gizi yang disewa oleh Juan sehingga memberikan nutrisi yang tepat bagi tubuh Finly yang sedang hamil dan juga sakit yang sementara di deritanya.
"Kalau begitu, kamu istirahat saja ya?" Juan mengecup dahi Finly. Ia menatap Alexa. "Eca, mau di sini dulu atau papi minta sopir untuk mengantar pulang?"
"Eca mau bobo siang dengan mama dulu. Hari ini nggak ada les apapun. Jadi Eca bisa pulang sore. Eca sudah sms sama papa Aldo dan diijinkan." Kata Alexa. Perlahan ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping mamanya. Ia tahu kalau mamanya akan senang jika Alexa ada di sini. Walaupun Alexa masih berusia 8 tahun namun ia sudah mulai mengerti ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh mamanya.
"Papi juga ah mau bobo siang dengan Eca dan mami." Juan pun membuka sepatunya dan kaos kakinya kemudian berbaring di samping Finly. Hati Finly menjadi haru menerima perhatian kasih sayang dari orang-orang terkasih. Ia bahkan mengakui kalau rasa cinta pada Juan yang dahulu sudah mati karena kehadiran Jeronimo, kini sudah dapat di rasakannya kembali.
************
Gabrian dan Gabriel Kini sudah berusia 7 bulan. Jangan salahkan siapa kalau keduanya sangat tampan dan selalu mencuri perhatian orang kemana pun Giani dan Jero membawa mereka pergi.
Seperti hari ini, untuk yang pertama kali, Giani dan Jero mengajak anak-anak mereka ke mall. Giani menggendong Gabrian dan Jero menggendong Gabriel. Keduanya ada dalam gendongan bayi.
Kedua kembar tampan itu langsung menarik perhatian para pengunjung karena mereka terlihat bahagia dan tertawa.
"Wah, tuan dan nyonya, bolehkah kami foto dengan anak kalian yang menggemaskan ini?"
Giani mengangguk. Si kembarpun nampak senang saat melihat kamera.
"Mulai besok, mereka berdua jangan di bawa jalan-jalan. Para perempuan, nggak tua, nggak muda, semuanya ingin mengambil gambar Brian dan Briel. Kalau foto mereka tampil di mana-mana dan viral gimana?" Ujar Jero setelah mereka kembali dari mall. Para babysitter langsung mengambil si kembar untuk di mandikan dan diberi makan. Sejak si kembar berusia 3 bulan, Jero memang sudah menyewa 2 orang pengasuh bayi dalam mengurus anak mereka. Jero menambah beberapa titik tempat CCTV karena ingin memantau bagaimana kerja para babysitter itu. Dan tentu saja mengawasi Giani saat sedang menyusui anak-anak mereka. Dasar Jero...masih aja genit 😅😅😅
"Sayang, anak-anak kita ini memang menarik perhatian orang. Sama kayak aku kan?" Giani berkata sambil mengibaskan rambutnya.
"Memangnya siapa yang berani menatap istri Jeronimo Dawson? Makanya, kamu juga nggak boleh jalan sendiri, Gi. Sebab setelah melahirkan, tubuh kamu kayaknya semakin seksi. Gunung kembarnya lebih besar, pinggulmu lebih lebar dan cara berpakaianmu semakin modis. Aku kadang setres jika kamu pamit mau keluar sendiri."
Giani tertawa. "Hei om bule tua. Aku ini hanya cinta padamu. Nggak ada orang lain lagi!"
Jero mendekati istrinya lalu melingkarkan tangannya dipinggang Giani, menariknya agar lebih dekat padanya. "Benarkah?"
"Memangnya masih ragu?"
"Buktikan!"
"Dengan cara apa aku harus buktikan lagi?"
Jero tersenyum nakal. "Ijinkan palo ketemu nido saat ini juga!" Kata Jero sambil mulai menurunkan resleting gaun Giani.
"Bee, anak-anak...."
"Pengasuh akan menjaga mereka sebentar. Hanya 30 menit, kok."
"Memangnya bisa 30 menit? Biasanya juga 1 jam."
" Aku kan belum teruskan. 30 menit di kali 2 ronde. Jadi 1 jam kan?"
"Dasar modus!"
"Tapi kamu suka kan?"
Keduanya tertawa bersama. Jero sungguh tak berubah namun Giani tetap mencintainya.
Foto si kembar saat usia 5 tahun
Dukung emak terus ya guys....