
Maafkan aku selama beberapa hari ini tak bisa up. Mamaku baru saja meninggal. Rasanya aku tak sanggup menulis lagi. Namun karena mengingat pembaca setiaku, aku berusaha up...
mohon maaf kalau part ini kurang greget karena aku masih belum terlalu konsentrasi
@@@@@@@@@@@
Wulan terkejut melihat siapa yang mencarinya. Tiba-tiba dia ingin memeluk dan menumpahkan kerinduannya pada kedua orang itu.
"Bibi, kenapa pergi?" Tanya Alexa.
"Bibi sudah terlalu lama meninggalkan kampung. Juga bibi sudah berjanji pada ibu untuk menikah." Jawab Wulan. Ia tak berani menatap wajah Juan yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit ia mengerti.
"Felicia kangen, bi. Dia menanyakan bibi terus. Bahkan Felicia sudah agak kurus karena malas makan." Kata Alexa. Mata gadis remaja itu berkaca-kaca.
"Maaf. Bibi tak mungkin kembali. Sampaikan salam buat Felicia ya?"
Alexa menatap Wulan dan papi Juannya secara bergantian. "Papi Juan ingin ngomong sesuatu. Eca keluar dulu ya?"
Wulan menatap Alexa yang meninggalkan dia dan Juan di ruang tamu. Beberapa keluarga Wulan mengintip dari balik pintu karena penasaran ada apa seorang bule tampan datang mencari Wulan yang akan menikah besok.
"Apakah lelaki yang akan menikahimu adalah orang baik?" Tanya Juan.
"Ya."
"Punya pekerjaan bagus?"
"Dia seorang tuan tanah di kampung ini."
"Apakah dia sudah tua?"
"Usianya 42 tahun."
"Lalu mengapa kau meninggalkan aku yang berusia 38 tahun dan menikahi pria berusia 40 tahun?"
"Aku berhutang budi padanya. Dia membantu keluargaku dalam kesusahan."
Juan mengangguk. "Baiklah kalau itu sudah keputusanmu. Aku akan pergi. Semoga kau berbahagia. Maaf kalau aku sudah menjadikanmu pelampiasan karena wajahmu mirip dengan istriku. Hanya saja, setelah kau pergi, aku baru menyadari kalau aku jatuh cinta padamu karena kau tomboy, kau pintar masak, kau tak bisa berdandan, dan yang terutama kau menyayangi anak-anakku." Juan berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Wulan. "Semoga kau berbahagia. Selamat siang!" Pamit Juan lalu segera pergi meninggalkan Wulan yang masih terpaku di tempat duduknya.
Alexa yang sudah menunggu di mobil menatap Juan. "Papi, bagaimana?"
"Kita doakan agar bibi Wulan bahagia, ya? Kita nggak boleh menganggu acara mereka. Sekarang kita pulang ya?"
Alexa nampak kecewa. Namun ia tak juga membantah apa yang dikatakan oleh Juan.
Bibi Giani, mami bule tolong Eca....
***********
Di dalam bangsal tempat akan dilaksanakannya acara resepsi pernikahan, sedang ramai-ramainya. Malam ini para pekerja sedang menghias bangsal tempat pelaksanaan acara resepsi pernikahan. Di bagian dapur, para koki sedang menyiapkan malanannya. Pesta ini akan menjadi pesta paling meriah di kampung karena sang duda kaya akhirnya akan menikah dengan gadis pujaannya.
Sementara di kamar, Wulan sedang duduk termenung. Keputusannya untuk menikahi duda beranak 2 itu karwna hutang budi. Baskoro sudah membantu keluarganya, membayar hutang-hutang yang ditinggalkan almarhum papanya.
tok....tok....tok....
Wulan terkejut mendengar ada yang mengetuk jendela kamarnya. Kamar Wulan letaknya paling belakang. Ia membuka jendela kamarnya. Ia hampir saja menjerit melihat ada 2 orang lelaki berseragam hitam yang berdiri di sana. Salah satu dari mereka langsung membekap mulut Wulan dengan sapu tangannya. Wulan jatuh pingsan dan langsung ditarik keluar dari sana.
*********
Joana dan Giani duduk di depan pria berusia 42 tahun itu. Wajahnya bulat, perutnya mulai membuncit dan kepalanya agak botak.
"Siapa kedua wanita cantik ini?" Tanya Baskoro menelan salivanya menatap dua mahluk cantik di depannya.
"Kamu tak perlu tahu siapa kami, tuan. Yang aku ingin tanyakan berapa banyak uang yang telah dipinjam oleh keluarga Wulan kepadamu?" Tanya Giani dengan tatapan tajamnya.
Baskoro tertawa. "Sangat banyak."
"Berapa banyak?" Tanya Giani terlihat kurang sabar.
Baskoro memanggil salah satu anak buahnya, membisikan sesuatu lalu anak buahnya kembali sambil membawa sebuah buku. Baskoro membuka buku itu lalu membacanya.
"Pinjamannya 10 juta. Tapi ditambah dengan bunga selama 5 tahun menjadi 210 juta."
"Dasar rentenir!" Cicit Joana menahan amarah.
Sopir masuk sambil membawa sebuah koper.
Giani membuka koper di hadapan Baskoro. "Ini 300 juta. Kau boleh menikmatinya. Batalkan pernikahanmu dengan Wulan."
Baskoro diam sejenak. Ia memang tertarik dengan uang 300 juta itu. Namun ia sudah terlanjur suka pada Wulan. Apalagi membayangkan Wulan masih perawan sungguh membuat Baskoro bersemangat menjadikan wanita itu istrinya. Apalagi ia sudah 5 tahun menjadi duda.
"Bagaimana tuan Baskoro? Anda tertarik?" Tanya Joana.
"Bagaimana ya? Saya sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai pernikahan kami."
Joana membuka tas tangannya. Ia mengeluarkan 3 tumpukan uang. "Nih, saya ganti biaya persiapan pestanya. 30 juta."
"Ok." Baskoro akhirnya menerima, uang 330 juta tentu sangat disayangkan untuk rak diterimanya.
"Agar persiapan pestanya tak jadi mubazir, kami sudah menyiapkan wanita yang cocok untukmu. Dia juga adalah seorang janda tanpa ada seorang anak. Usianya 33 tahun." Ujar Joana sambil memanggil seseorang yang sudah menunggunya di luar.
Seorang perempuan berbaju ketat masuk sambil tersenyum. Gunung kembarnya terlihat besar dan menggoda membuat baskoro langsung tersenyum. "Baiklah. Aku suka dengan penggantinya."
Joana dan Giani pamit. Sebelum datang ke rumah Baskoro, mereka sudah menemui mama Wulan.
"Nyonya, ibunda dan adik nona Wulan sudah dalam perjalanan menuju ke Jakarta. Namun nona Wulan tak ada di rumahnya. Menurut mata-mata yang ada, jendela kamar nona Wulan terbuka." Lapor salah satu bodyguard Joana dari telepon.
"Baiklah. Terus cari keberadaannya." Joana menatap Giani yang duduk di sampingnya. "Wulan nggak ada."
"Apakah mungkin dia melarikan diri?"
"Mungkin saja. Oh ya, mengapa kau memberikan uang 300 juta pada rentenir itu?"
Giani tertawa. "Hanya ada 20 juta uang aslinya. Bodohnya dia karena tak memeriksa sampai di bawahnya. Karena di bagian bawa, aku menaru uang mainan Ian dan Iel yang kubeli di toko mainan."
Joana tertawa. "Kalau aku hanya 5 juta saja uang aslinya, selebihnya uang palsu."
"Aku sudah bisa membayangkan bagaimana jengkelnya si duda genit itu. Rasanya ingin melihat langsung bagaimana marahnya dia." Giani memegang perutnya. Ia tak kuasa menahan tawanya juga.
Anak buah Joana kembali menelepon. "Hallo,nyonya. Aku mau sampaikan kalau nona Wulan diculik oleh anak buah tuan Juan."
"Biarlah. Ia sudah berada di tangan yang tepat." Ujar Joana lalu memasukan ponselnya di dalam tasnya.
Giani menatap Joana. "Bagaimana?"
"Juan sudah bertindak lebih dulu dari kita."
************
Wulan membuka matanya perlahan. Matanya langsung berserobok dengan sebuah foto berukuran jumbo yang tergantung di dinding kamar itu.
Jantung Wulan langsung berdetak kencang melihat foto wanita cantik itu. Wulan tahu kalau dia ada di kamar siapa.
"Kau sudah sadar?" Tanya seseorang.
Wulan memalingkan wajahnya. Ia melihat Juan yang sedang duduk di sudut kamar sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Bukankah tadi tuan mengatakan kalau tuan sudah merestui pernikahanku?"
Juan tersenyum sinis. "Aku berubah pikiran. Aku tak siap melepaskanmu untuk duda gendut yang kepalanya hampir botak. Aku lebih tampan, lebih kaya dan pastinya lebih gagah darinya. Aku juga mau memperjuangkan kebahagiaan anak-anakku dan juga diriku. Makanya, aku memutuskan untuk menculikmu dan membuatmu menikah denganku."
"Aku tak mau. Ibu dan adikku pasti dalam masalah." Wulan turun dari atas tempat tidur dan bermaksud akan keluar kamar. Tapi Juan dengan cepat menarik Wulan dan memeluknya dari belakang. "Lepaskan aku, tuan! Lepaskan!" Wulan berusaha melepaskan diri namun Juan memeluknya sangat erat. Juan dengan cepat membalikan tubuh Wulan, mendorongnya sampai punggung gadis itu menyentuh dinding lalu mulai mencium bibir gadis itu dengan cepat.
Wulan memberontak. Ia memukul-mukul dada Juan dengan namun Juan tak mau melepaskan ciumannya. Wulan menyerah. Ia rindu ciuman Juan. Akhirnya ia mulai membalas ciuman Juan. Dua anak manusia yang sebenarnya saling rindu itu semakin terbakar dengan emosi dan hasrat yang ingin saling dituntaskan. Ciuman mereka terlepas. Keduanya butuh oksigen. Namun tak sampai semenit, entah siapa yang memulai, keduanya saling berciuman kembali. Tangan Juan tak tinggal diam. Ia mulai membuka kaos yang Giani pakai. Kaos itu lolos melewati kepala Wulan. Juan juga melepaskan kaosnya sendiri. Akhirnya semua pakaian yang menempel di tubuh mereka terlepas. Yang tersisa hanyalah baju dalam saja.
"Aku mau kamu, Wulan. Sekarang!"
"Aku siap, tuan!" Ujar Wulan sedikit malu. Dia sudah pasrah. Ingin rasanya menikmati apa yang belum pernah dinikmatinya sebagai seorang wanita. Entahkah dia akan menyesal atau tidak, Wulam belum ingin memikirkan akibatnya.
Juan mengangkat tubuh Wulan seperti koala. Wulan langsung melingkarkan tangannya di leher Juan. Ciuman mereka tak terlepas bahkan saat Juan sudah membaringkan tubuh Wulan le atas ranjangnya.
"Biarkan aku memilikimu sekarang, sayang!" bisik Juan lalu mencium leher Wulan dengan lembut namun membuat gadis itu semakin kepanasan.
Dapatkah Juan memiliki Wulan saat ini??
Dukung emak terus ya....