Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 26)


Pembacaku sayang....


kalau baca novel jangan di skip2 ya...


sudah jelas Oliver melihat mata anak Calina mengingatkannya sama sopir truk itu. Masih saja ada yang berkomentar : Jangan-jangan anak Calina adalah anaknya Oliver. Nggaklah...


*********


3 Minggu menjelang pernikahan....


Semua persiapan pernikahan Oliver dan Alexa sudah 90 persen hampir selesai. Hanya tinggal gaun pengantinnya saja yang belum diantar oleh pihak butik. Undangan pun sudah selesai dicetak. Mulai Senin akan dibagikan.


Hari ini, Alexa akan ke kantor Oliver. Semenjak Calina berkantor di sana, Oliver memang hanya satu kali pergi ke sana. Bukannya Oliver tak berani berhadapan dengan Calina namun ia lebih menjaga perasaan Alexa.


Dan hari ini, saat Oliver mengatakan padanya kalau ia akan masuk kantor, Alexa pun ingin memberi kejutan padanya dengan membawakan makan siang.


1 jam yang lalu, Oliver baru saja menelepon untuk mengatakan kalau ia akan rapat. Alexa yakin kalau rapatnya akan berakhir pada saat jam makan siang.


"Hallo nona Alexa!" Sapa sang resepsionis.


"Hallo semua. Oliver ada?"


"Ada. Tapi tuan kayaknya masih sementara rapat." Jawab Luna.


"Aku menunggu saja di ruangannya. Ingin membuat kejutan." Ujar Alexa sambil mengangkat kantong makanannya. Ia segera menuju ke lift khusus yang terhubung langsung ke lantai yang merupakan kantor Oliver.


Alexa pun tersenyum melihat foto mereka berdua ada di ruangan kerja Oliver. Ada rasa bangga karena cowok itu tak menyembunyikan hubungan mereka pada siapapun yang datang menemui Oliver di ruangannya.


Sambil menunggu Oliver, Alexa menuju ke ruang pribadi Oliver yang bersebelahan dengan ruang kerjanya. Saat Alexa membuka pintu penghubung yang ada di belakang meja kerja Oliver, matanya langsung tertuju ke tempat tidur yang ada di sana. Jantung Alexa berdetak sangat cepat saat melihat ada perempuan yang tidur di sana. Alexa berjalan perlahan dan ia hampir saja berteriak kaget saat melihat kalau perempuan itu adalah Calina.


Emosi dan rasa cemburu yang tiba-tiba menyesakan dada Alexa membuat ia dengan cepat keluar dari ruangan itu. Kenapa perempuan itu bisa ada di ruangan pribadi Oliver? Apakah mereka sudah berhubungan lagi?


Alexa ingin rasanya pergi. Ia hampir saja mencopot lagi cincin pertunangan mereka. Namun otaknya langsung berpikir jernih. Alexa tak mau salah sangka lagi. Ia pun membuka kulkas kecil yang ada di ruangan Oliver. Mencari sesuatu yang bisa diminumnya. Alexa mengambil satu botol soft drink dan langsung meminumnya sampai habis. Alexa bertekad untuk menunggu dan bertanya pada Oliver.


Setelah hampir satu jam menunggu dalam kegelisahan, akhirnya Oliver selesai rapat. Ia membuka pintu dan terkejut saat melihat kalau Alexa ada di sana.


"Sayang? Kok datang nggak bilang-bilang?" Oliver mendekat dan hendak mencium Alexa namun perempuan itu menghindar. Leonardo dan Kevin segera keluar ruangan saat melihat pasangan itu sepertinya ada bara api.


"Sayang, ada apa?" tanya Oliver melihat penolakan Alexa.


"Mengapa Calina ada di ruang pribadimu?"


"Oh, yang itu. Tadi Calina tiba-tiba saja pusing. Kamu kan tahu kalau di kantor ini nggak ada ruang khusus untuk istirahat Selain kamar pribadiku. Kevin dan Gina yang mengantarnya ke sini." Oliver tersenyum. "Dia memang mantanku, namun ia sama sekali tak berarti lagi untukku. Hanya kamu perempuan yang kini ada dalam hatiku." Oliver meraih tangan Alexa. "Sayang, ruangan ini sebentar lagi menjadi kantor milik Leonardo adikku. Aku akan punya kantor khusus. Sementara di bangun di lantai 4."


Wajah cemberut Alexa mulai hilang. "Maafkan aku yang sudah salah menduga."


Oliver membawa Alexa dalam pelukannya. "Tidak apa-apa sayang. Aku bahagia karena kau tak langsung pulang tadi."


"Aku nggak mau cemburu buta lagi dan pergi seperti waktu itu."


Oliver tambah memeluk Alexa dengan erat. Ia berulang kali mencium puncak kepala kekasihnya.


'Kau bawakan aku makan siang?"


Alexa mengangguk dalam dekapan Oliver.


"Kita makan bersama, ya?"


"Oke."


Alexa pun melepaskan diri dari dekapan Oliver. Ia langsung mengeluarkan makan siang yang di bawahnya.


Saat mereka baru mulai makan, pintu menuju ke ruang pribadi Oliver terbuka. Calina keluar dengan wajaah yang agak pucat.


"Calina, ayo makan bersama.!" Ajak Alexa.


"Nggak. Kalian makan saja bersama. Aku hanya ingin pulang. Anakku pasti sudah menungguku. Selamat siang." Calina pun menghilang dari balik pintu.


"Apakah dia sakit parah? Wajahnya pucat."


"Aku nggak tahu, sayang. Sepertinya dia memang sedang bersedih. Kevin mengatakan kalau ia sering melihat Calina menangis."


"Kau tak bertanya kepadanya?"


"Untuk apa? Dulu aku memang sangat mencintainya. Namun dia memilih meninggalkan aku. Sekarang, disaat hatiku hanya untuk dirimu, buat apa lagi aku perduli padanya?"


"Dia cantik. Sangat cantik menurutku."


Oliver membelai wajah Alexa dengan lembut. "Kau melebihi segalanya. Namun, aku jatuh cinta padamu bukan karena kau cantik, Eca. Tapi karena kau terlalu sulit untuk ku dapatkan. Kau memiliki pribadi yang keras namun hatimu sangat lembut. Apalagi terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan."


"Jangan terlalu memujiku, sayang. Nanti aku melambung terlalu tinggi dan pada akhirnya jatuh."


Oliver tersenyum. "Kau tidak akan pernah jatuh dan merasa sakit, Eca. Karena aku selalu ada untuk menggendong mu."


.


Alexa tersipu."Ih...kamu gombal."


"Bukan gombal sayang. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku kepadamu."


"Ayo makan lagi!"


Oliver mengangguk. Keduanya pun menikmati makan siang bersama dengan hati yang bahagia.


Selesai makan, Kevin masuk ke ruangan sambil membawa sebuah map.


"Di mana adikku?" tanya Oliver lalu berdiri dan menuju ke mejanya.


"Tuan Leonardo sedang makan siang dengan pacarnya."


"Pacar? Sejak kapan dia punya pacar? Dia kan baru seminggu ada di sini?" Oliver menjadi heran.


"Pacar tuan Leonardo kan memang ikut ke sini bersamanya."


Oliver hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu kalau Leonardo tak seperti dirinya. Pacarnya yang ikut ke sini adalah gadis yang sudah 4 tahun dipacarinya. Namun Leonardo belum ingin menikah sebelum Oliver menikah.


"Tuan, ada info mengenai nona Calina." Ujar Kevin saat melihat Alexa yang sedang ke toilet.


"Info apa?"


"Dia sengaja datang ke Indonesia, untuk menghindari ayah dari anaknya. Selama di sana ia mengalami kekerasan fisik. Ia sering merasa pusing secara tiba-tiba akibat benturan di kepalanya. Calina memang sudah pernah melapor ke polisi atas kekerasan yang dialaminya. Namun setelah itu, pasangannya kembali menyiksa dia lagi. Calina harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan juga anaknya."


"Untungnya Calina pintar. Jadi ia bisa bekerja di perusahaan yang terkenal dan mendapatkan gaji yang cukup."


"Aku sempat berpikir kalau ada maksud Calina untuk datang ke perusahaan ini. Apakah karena ia masih memiliki perasaan terhadap, tuan?"


'Kalau pun demikian, maka ia salah besar jika masih berharap padaku. Aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya. Aku sudah menganggapnya sebagai masa laluku. Bahkan dendam dan kebencian yang pernah kurasakan padanya pun sudah hilang. Kehadiran Alexa banyak membawa perubahan dalam hidupku."


Kevin mengangguk setuju. Ia juga dapat merasakan kalau Oliver banyak berubah. Pribadinya yang arogan dan selalu marah-marah pun sudah tak pernah Kevin lihat lagi. Alexa memang wanita yang luar biasa dalam hidup bosnya itu.


Alexa keluar dari toilet. "Sayang, aku mau pulang dulu ya?" Ujar Alexa lalu membereskan tempat makanan yang di bawahnya.


"Kamu ke sini naik apa, sayang?" Tanya Oliver.


"Naik taxi. Mami bule sudah nggak mengijinkan aku untuk bawa mobil sendiri."


"Kalau begitu, aku antar saja."


"Jangan! Kamu kan sedang kerja."


"Nggak ada bos. Hanya sore saja ada pertemuan dengan tim manajemen penerbangan."


"Leonardo yang akan melaksanakan tugas itu. Ayo sayang!" Oliver memakai jas nya yang tadi ia buka saat makan siang. Keduanya bergandengan tangan saat keluar dari ruangan Oliver.


Dalam perjalanan, Alexa meminta Oliver untuk mengantarnya sebentar ke salah satu apartemen. "Aku mau menemui Laura, sahabatku. Dia baru pulang penerbangan dari Australia. Rahel, anak kecil yang ibunya aku tolong saat pesawat jatuh, mengirimiku hadiah. Laura tak bisa mengantarnya ke rumahku karena ia sedang tak enak badan." Ujar Alexa sebelum Oliver bertanya tentang maksudnya ke tempat itu.


Unit tempat Laura tinggal ada di lantai 7. Setelah menemukan nomor kamarnya, Alexa pun membunyikan bel pintu.


Agak lama sampai akhirnya Laura membukanya. Ia nampak sedikit berantakan dan hanya mengenakan jubah mandi.


"Oh...dengan Oliver ya?" Laura terkejut melihat Alexa datang bersama kekasihnya. Ia melebarkan daun pintu, membiarkan sepasang kekasih itu masuk. Setelah mempersilahkan mereka duduk, Laura pun masuk ke kamarnya.


"Dia sudah menikah ya, sayang?" tanya Oliver.


"Belum. Namun pacarnya seorang pilot."


"Kayaknya mereka sementara bercinta saat kita tiba tadi. Makanya agak lama baru pintu di buka."


Alexa menatap Oliver bingung. "Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Kamu nggak lihat dengan penampilannya yang acak-acakan? Hanya menggunakan jubah mandi pada hal jelas-jelas ia tak terlihat seperti orang yang baru habis mandi."


"Masa sih?"


"Lihat aja tanda merah di lehernya."


'Kok kamu sampai memperhatikan sedetail itu, sih?"


Oliver akan bicara namun Laura sudah keluar kamar. "Ini hadiahnya. Katanya untuk pernikahan kamu."


"Makasi ya, Laura. Aku permisi dulu. Salam untuk si kapten." Alexa mengedipkan matanya membuat Laura sedikit merona.


Alexa dan Oliver pun keluar dari apartemen Laura. "Sayang, temanmu itu sudah selangkah lebih maju darimu." kata Oliver.


"Maksudnya?"


"Dia sudah menikmati sorga dunia."


"Ih....Oliver...! Itu adalah prinsip hidup yang Laura pilih. Kalau aku memang nggak mau begituan sebelum menikah."


"Jadi kalau kita sudah menikah, aku akan membuatmu merasakan sorga dunia."


Alexa mencubit lengan Oliver dengan gemas. "Dasar mesum!"


'Kalau sudah menikah itu bukan perbuatan mesum lagi, sayang."


Keduanya tertawa bersama sambil menunggu lift terbuka. Namun suara kegaduhan di ujung lorong dan suara anak kecil yang menangis mengalihkan pandangan mereka.


"Lho, itukan Calina?" Tunjuk Alexa saat melihat seorang perempuan yang dipukul oleh seorang lelaki.


"Hei....!" Alexa tanpa bisa Oliver cegah langsung maju. Ia melayangkan tendangan taekwondo nya. Sekali pukul, lelaki yang memukul Calina itu langsung terpental jatuh. Kepalanya bahkan membentur dinding.


"Calina, kamu baik-baik saja?" tanya Alexa.


Calina mengangguk. Ia tanpa sadar langsung memeluk Alexa sambil menangis. Oliver langsung menelepon pihak berwajib. Lalu ia memeluk Glandy yang sedang menangis.


Tak lama kemudian polisi datang. Jekky, merupakan kekasih Calina yang telah membuatnya lari dari Oliver. Sayangnya, saat Calina hamil, Jekky seakan tak setuju dan terus meminta Calina mengugurkan kandungannya. Namun Calina terus bertahan sampai akhirnya ia melahirkan. Ia juga harus bekerja karena semenjak Jekky di pecat dari pekerjaannya, ia tak mau kerja lagi. Calina sudah beberapa kali minta berpisah namun Jekky tak mau. Ia kerap memukul Calina. Makanya, saat perusahaan hendak mengutus orang ke Indonesia, Calina langsung meminta agar dia saja yang pergi. Namun Jekky ternyata menemukan alamatnya.


"Dia akan di deportasi dan tak akan diijinkan lagi untuk datang ke Indonesia. Aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus semuanya agar besok, Jekky segera dipulangkan ke Madrid. Kamu tenang saja, Calina." Ujar Oliver.


Calina mengangguk sambil menatap anaknya yang sudah tertidur dalam pelukan Oliver. Alexa sedang membuat teh di dapur.


Hati Calina merasa sakit saat mengingat bagimana ia dulu hanya memanfaatkan kekayaan Oliver tanpa pernah mencintainya. Pada hal Oliver sangat menyayanginya. Andai saja ia bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu, ia tak akan pernah melepaskan Oliver. Jekky hanya memanfaatkan dirinya untuk kepuasaan dirinya. Makanya ia tak pernah mau kalau Calina sampai hamil.


"Minumlah teh nya. Kita semua pasti lelah setelah hampir 3 jam ada di kantor polisi. Namun kau bisa tenang, Calina. Badai sudah berlalu." Kata Alexa sambil memegang tangan Calina.


"Oliver sangat beruntung memilikimu, cantik. Aku yakin kalau kalian akan menjadi pasangan yang sangat berbahagia." Kata Calina tulus. Sebenarnya, ia masih menaruh harapan untuk bersama Oliver. Namun saat melihat Oliver sudah berbahagia, Calina pun mengubur semua impiannya. Ia kini hanya ingin bekerja dan membesarkan anaknya.


********


Oliver dan Alexa ada di ruang tamu apartemen Oliver. Keduanya sedang duduk di atas sofa sambil berpelukan. Alexa bersandar di dada bidang kekasihnya itu.


"Sayang, boleh nggak kamu malam ini di sini bersamaku? Rasanya aku tak mau mengantarmu pulang malam ini." Ujar Oliver sambil membelai rambut panjang Alexa.


"Tapi...."


"Aku janji nggak akan macam-macam denganmu, sayang. Aku akan menahan diri sampai malam pertama kita. Aku hanya ingin merasakan damai dalam pelukanmu, saat tidur. Please...." rengek Oliver.


Alexa melepaskan diri dari pelukan Oliver. Ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya lalu menelepon papanya.


"Pa, malam ini aku nggak pulang ya?"


"Kenapa? Memangnya kamu ada di mana?" tanya Aldo terdengar khawatir.


"Aku bersama Oliver. Ada di apartemennya. Ada sesuatu yang terjadi namun semuanya kini baik-baik saja. Aku hanya ingin menemani Oliver. Bolehkan, pa?"


"Kamu sudah dewasa, nak. Kamu sudah tahu mana yang baik dan tidak baik."


"Eca tetap memegang prinsip Eca, pa. Tenang saja."


"Papa tahu, nak. Salam untuk Oliver ya?"


"Baik, pa." Alexa menatap Oliver sambil tersenyum. "Di ijinkan."


"Ayo, duduk sini lagi!"


Alexa pun kembali duduk di samping Oliver. Tangan Oliver kembali melingkar di bahu kekasihnya itu.


"Sayang, aku boleh mencium kamu kan?" tanya Oliver.


"Katanya nggak akan macam-macam."


"Kan hanya cium saja. Apanya yang salah?"


"Aku takut kamu jadi lupa diri, Oliver."


Oliver memegang dagu Alexa sehingga wajah mereka kini berhadapan.


"Kamu tak percaya padaku?"


"Aku percaya."


"Lalu?"


Wajah Alexa menjadi merah. "Oliver...."


Kalimat Alexa terhenti karena Okan sudah menciumnya. Keduanya larut dalam kemesraan dalam beberapa menit. Setelah itu Oliver mengahiri ciuman mereka.


"Kita tidur saja, yuk! Aku ngantuk dan ingin memelukmu."


Alexa mengangguk. Ia bahagia karena Oliver memegang janjinya.


*****


Duh...tinggal yang manis-manis kan???