
Tangan Giani bergetar memegang testpack yang diberikan oleh kakaknya.
"Kenapa kakak menyuruh aku melakukan tes?"
"Karena menurut Joana, kamu mungkin hamil."
"Tapi..."
"Lakukan saja,Gi. Kalau kamu memang tak pernah tidur dengan Jero saat ia datang ke sini, maka tes tak perlu dilakukan. Namun jika kamu ternyata pernah tidur dengannya, maka kamu harus melakukan tes itu. Kakak tunggu di bawah."
Jantung Giani seakan berhenti berdetak saat ia menatap kalender yang ada di meja kamarnya. Bulan ini, Giani memang belum mendapatkan tamu bulanannya. Dengan sangat tergesah-gesah, Giani menuju ke kamar mandi.
10 menit kemudian.....
Mata Giani terpana melihat hasil yang ada di tespack itu. Ada dua garis yang terbaca di sana dan itu artinya Giani memang hamil.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Percintaan kami waktu itu membuahkan hasil. Ada anak Jero yang sedang tumbuh di rahimku. Aku akan menjadi ibu.
Tangan Giani meraba perutnya yang masih rata. Ia merasa bahagia sekaligus juga bingung. Kabar kehamilannya ia dapat justru disaat mereka sudah bercerai.
Ia pun melangkah menuju ke ruang keluarga, menemui Aldo dan joana yang sedang menonton TV bersama Alexa.
Saat melihat Giani ada di pintu pembatas ruangan, Joana langsung berdiri dan mendekatinya. "Bagaimana hasilnya?"Tannyanya agak pelan.
"Positif."
"Wah, selamat ya?" Joana langsung memeluk Giani dengan penuh kasih. Saat pelukan mereka terurai, Joana menuju ke dapur dan meminta salah satu pelayanan untuk menyiapkan makanan untuk Alexa.
"Eca sayang, maid sudah menunggu di dapur. Eca makan di sana ya? Tante bule, papa dan bibi Giani hendak membicarakan sesuatu."
Alexa mengangguk. Ia segera berjalan ke dapur.
Setelah Alexa pergi, Giani dan Joana duduk di hadapan Aldo.
"Jadi, apa keputusanmu?" Tanya Aldo sambil menatap adiknya dengan wajah serius. Dari cara Joana memeluk Giani, Aldo sudah tahu kalau hasilnya positif.
Giani menatap kakaknya. "Aku akan mempertahankan anak ini."
"Sekalipun tak memberitahukannya pada Jero?"
"Aldo, Jero berhak tahu kalau dia punya anak. Kita tidak bisa menyembunyikan rahasia ini darinya." Kata Joana menjawab pertanyaan Aldo dengan nada tak suka.
Giani menunduk. Hati kecilnya ingin mengatakan kabar bahagia ini pada Jero. Namun ia juga memahami perasaan kakaknya.
"Aku bingung apakah harus memberitahukan Jero atau tidak. Lagi pula status kami sudah bukan suami istri lagi." Giani berkata lirih. Tak sesuai iai hatinya.
"Gi, kalau kamu memang memutuskan untuk memelihara anak itu, kakak akan mendukungmu. Kakak akan menjaga dan menyayanginya seperti kamu yang sudah menjaga dan menyayangi Alexa selama ini. Biarlah Jero tak perlu tahu. Atau terserah kamu saja akan memberitahu Jero atau tidak. Namun, kakak lebih suka kalau kamu seperti ini. Tidak menjalin hubungan apapun dengannya."
Wajah Joana menunjukan bahwa ia tak suka dengan perkataan Aldo. Namun ia menahan diri untuk tak berbicara karena ia tahu kalau statusnya dengan Aldo belum jelas
Giani mengangguk. "Aku ke kamar dulu ya. Rasanya masih agak pusing."
"Kamu nggak makan, Gi?" Tanya Joana.
"Masih mual. Takutnya nanti makan terus muntah lagi." Giani segera menuju ke kamarnya.
Joana menatap Aldo. "Jero berhak tahu kalau Giani hamil."
"Biarkan Giani yang memutuskan."
"Aku nggak setuju. Jero adalah ayah dari anak itu. Dan Giani, tak akan pernah mengatakannya pada Jero kalau bukan kamu yang menyuruhnya. Dia sangat menyayangimu sehingga ia sangat menjaga perasaanmu."
"Aku lebih suka Giani seperti ini."
"Kamu benci sama Jero ya?"
Aldo menatap Joana yang kini berdiri di dekatnya sambil bersedekap dengan wajah cemberut.
"Ya. Aku masih tak suka padanya karena perbuatannya dengan Finly."
Joana mengambil tasnya yang ada di atas meja. "Kalau begitu, pikirkan lagi rencana kita untuk menikah. Aku pulang saja."
"Hei.....!" Aldo menahan tangan Joana. "Kamu kenapa sayang?"
"Kamu masih membenci Jero karena perbuatannya bersama Finly di masa lalu. Itu artinya, kamu belum bisa move on dari masa lalumu. Aku pikir, kamu masih menyimpan perasaan cintamu untuk Finly. Dan aku tak mau berhubungan dengan pria yang hatinya masih terbagi untuk orang lain." Kata Joana tegas. Ia menarik tangannya dari genggaman Aldo dan segera melangkah.
"Sayang....!" Aldo kembali mengejar Joana dan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku!"
"Aku mencintaimu, Jo. Aku serius saat mengatakan ingin menikah denganmu."
Joana melepaskan tangan Aldo yang memeluknya.
"Giani dan Jero saling mencintai. Kau menghalangi cinta mereka karena masa lalu Jero yang buruk padamu. Aku memahami perasaanmu yang terluka karena penghianatan mereka. Namun, ketika kamu membuka hatimu untukku, seharusnya kamu juga sudah berdamai dengan masa lalumu. Jangan halangi Jero dan Giani bersatu kembali. Dan jangan temui aku sebelum kamu melepaskan masa lalumu." Ujar Joana tegas dan langsung meninggalkan Aldo yang berdiri terpaku di tempatnya.
Setelah mobil Joana pergi, Aldo mengusap wajahnya kasar. Perkataan Joana sangat mempengaruhi hatinya. Benarkah rasa marahnya pada Jero belum juga hilang karena ia masih mencintai Finly?
Aldo menggeleng. Tidak! Aku tak pernah memikirkan Finly lagi. Aku mencintai Joana. Aku merasa bahasia saat bersamanya. Aku tak mau kehilangan Joana.
"selamat malam!"
Aldo menoleh ke arah pintu depan yang memang tak dikunci oleh Joana. Nampak Finly sedang berdiri di depan pintu..
"Finly? Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Aldo sedikit ketus karena suasana hatinya sedang tidak nyaman.
"Maaf. Pesawatku mengalami penundaan keberangkatan karena badai salju. Aku memutuskan untuk datang ke sini menemui Alexa. Apakah boleh?"
Sebelum Aldo menjawab, Alexa sudah berlari melewatinya dan segera memeluk Finly.
"Mama.....!" Panggil Alexa.
"Eca sayang....!" Finly langsung memeluk anaknya dengan penuh kerinduan.
"Eca pikir mama sudah pulang ke Jakarta." Ujar Alexa saat keduanya sudah duduk di ruang keluarga.
"Ada badai salju, jadi bandaranya di tutup selama 2 hari. Makanya mama memutuskan untuk menemui Eca di sini."
"Eca senang."
Finly membelai wajah putrinya. Ia bahagia karena Eca sudah mau menerimanya kembali. Andai saja waktu dapat diulang, Finly akan memberikan waktunya untuk Alexa. Mau tahu kenapa Finly berubah? Nanti ada partnya tersendiri ya.
"Mama, papa sama tante bule mau menikah."
Hati Finly bagaikan ditusuk oleh sembilu saat mendengarnya. "Oh ya? Kapan?"
"Katanya nanti tahun baru."
"Eca senang?"
"Senang sekali. Tante bule kan baik sama Eca. Kalau papa dan tante bule sudah menikah, Eca akan memanggilnya mami bule."
Finly hanya tersenyum. Ia berusaha menahan air matanya.
"Mama nggak marahkan kalau papa menikah dengan tante bule?"
Finly menggeleng. "Nggak, sayang. Asalkan Alexa bahagia, mama juga bahagia. Tante bule pasti akan menyayangi Eca."
"Eh, mama bobo di sini saja."
"Tanya papa dulu ya..."
"Papa pasti nggak akan marah, kok."
Finly memeluk putrinya dengan hati yang hancur. Ya Tuhan, berapa banyak lagi waktu yang kupunya untuk menyayangi anakku?
********
"Sudah sembuh?" Tanya Beryl saat ia mengunjungi Giani setelah 3 hari menghilang karena pekerjaannya di perusahaannya.
"Masih sering mual dan muntah."
Beryl menatap Giani dari atas kepala sampai tatapannya berhenti di perut Giani.
"Gi, kamu nggak hamil kan?"
"Aku hamil."
Deg! Beryl merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Anak Jero?"
"Anak siapa lagi?"
"Jadi, waktu Jero dan Mama Sinta ke sini, kalian berdua tidur bersama?"
"Ya."
Beryl merasa lututnya goyah. Ia buru-buru duduk sebelum jatuh.
"Kalau kalian memang tidur bersama? Mengapa Jero harus menandatangani berkas perceraiannya?"
"Aku bersedia tidur dengannya asalkan dia bersedia cerai dariku."
"Dan kalian tidak pakai pengaman?" Beryl menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya."
"Lalu?"
"Lalu apa? Aku akan memelihara anak ini."
"Jero tahu?"
"Nggak."
"Dia berhak tahu."
Giani menggeleng. "Kak Aldo membencinya."
"Dan kamu, bagaimana perasaanmu padanya?"
"Entahlah. Setiap hari, aku justru ingin meneleponnya."
"Kau mencintainya, Gi. Dan bayimu yang sedang tumbuh di rahimmu, ingin dekat dengan papanya."
"Sorry...!"
"Untuk apa minta maaf? Aku memang sangat mengharapkan dirimu. Kau gadis yang unik bagiku. Namun jika kau mencintai Jero, aku akan mendoakan agar kalian bahagia."Beryl mendekati Giani. Di pegangnya kedua tangan Giani. "Gi, Jero berhak tahu tentang kehamilanmu. Dia adalah ayah dari anak ini. Jujur, aku memang terluka mendengar kabar ini, namun aku juga tahu kalau cinta tak selamanya bersatukan? Besok aku akan pulang ke London. Aku harap, kau mau mengatakannya pada Jero."
"Aku akan memikirkannya."
Beryl memeluk Giani. Ah, Tuhan. Berikan aku gadis seperti Giani.
Apa yang terjadi kemudian?
Dengan siapa Beryl akan berjodoh?
Akankah Giani berteruang terang pada Jero?
Maaf ya, alurnya kayak gini...
Emak maunya seperti ini sih...
berikan like, komen dan VOTE