Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Calon Daddy


Mata Jero fokus menatap tangannya yang dipegang Giani, kemudian diletakan di perutnya.


"Hadiahnya tersimpan di dalam sini!" Giani kembali berkata.


Dahi Jero berkerut. Ia mencoba memahami apa maksud kata-kata Giani. Hadiahnya tersimpan di perut? Di perut Giani ada..????


Mata Jero terbelalak. Mulutnya bahkan terbuka sedikit. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat saat ia mulai menyadari apa maksud berkataan Giani.


"Am I going to be a daddy?" tanya Jero dengan suara yang bergetar. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Tangan Jero bergerak mengusap perut Giani.


"Yes." Jawab Giani juga dengan mata yang berkaca-kaca.


"This isn't a dream, right?" Satu tetes air mata Jero sudah jatuh membasahi pipinya.


"Ini bukan mimpi, kak. Aku beneran hamil anakmu. Usianya sudah 7 minggu."


Jero yang masih duduk di tepi ranjang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Giani yang berdiri di hadapannya. Wajahnya langsung bersentuhan dengan perut Giani. Tangis Jero langsung pecah.


"Oh Tuhan, ini hadiah yang sangat luar biasa sepanjang hidupku. Terima kasih, sayang. Terima kasih karena sudah mau mengandung anakku." Kata Jero diantara isak tangisnya.


Tangan Giani membelai kepala Jero yang masih mencium perutnya. Rasa bahagia sudah tak dapat dilukiskannya lagi.


"Tumbuh dengan baik di dalam perut mommy ya sayang. Daddy tak sabar menunggu kelahiranmu." Jero berdiri. Ia menghapus air matanya lalu menangkup kedua sisi pipi Giani dengan kedua tangannya. Jempolnya bergerak menghapus air mata Giani. Ia lalu memberikan ciuman yang sangat lembut di dahi Giani.


"Apakah karena kehamilan ini kau kembali padaku, Gi?" Tanya Jero lembut. Wajah mereka masih begitu dekat. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan.


"Bukan. Aku kembali karena aku mencintaimu. Rasa ini sebenarnya sudah mulai menyiksaku semenjak kita berpisah di bandara waktu itu. Aku berusaha membuangnya karena aku tak ingin menyakiti kakakku."


Jero mencium bibir Giani saat mendengar kata-kata Giani."Sayang, aku janji tak akan pernah menyakitimu seumur hidupku. Aku akan menjagamu dan anak kita dengan seluruh cinta yang aku miliki. Tuhan akan menghukumku jika aku berani menghianatimu."


"Aku percaya padamu, kak."


Keduanya kembali berciuman dengan sangat mesra. Penuh cinta dan rasa bahagia yang kini terwujud dalam ciuman panjang.


"Tunggu, kak!" Giani tiba-tiba mendorong tubuh Jero.


"Ada apa?"


Giani melepaskan tangan Jero yang masih melingkar di pinggangnya. Ia berjalan ke arah meja dan membuka tasnya. Giani mengeluarkan hasil USG pertama yang dilakukannya di Amerika bersama Joana.


"Ini foto USG hasil pemeriksaanku yang pertama di Amerika."


Jero mengambil foto itu dari tangan Giani. "Kenapa hanya ada titik, Gi?"


"Begitulah awalnya. Nanti setiap bulan akan bertambah besar dan akhirnya akan berbentuk manusia seutuhnya."


"Kenapa titiknya ada dua?"


"Karena bayi kita memang ada dua, kak."


Jero menatap Giani dengan kaget. "Maksudmu anak kita kembar?"


"Iya."


Jero kembali memeluk Giani dengan perasaan yang sangat bahagia. "Oh Tuhan, Gi. Mengapa semua ini sangat luar biasa. Tuhan sangat baik padaku. Dia mengembalikan kau padaku dan membuatku menjadi calon papa untuk dua anak sekaligus."


"Buah dari pertobatan itu sangat manis, kak."


Jero mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukannya, lalu berlutut di depan Giani sehingga kepalanya sejajar dengan perut Giani kembali.


"Hallo anak-anak, daddy. Daddy mencintai kalian!" bisik Jero lalu kembali mencium perut Giani secara berulang-ulang.


"Kak, geli!" Ujar Giani. Bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Jero menusuk sampai ke perutnya karena lingre tipis yang digunakannya.


Wajah Jero menjadi sangat bahagia. Ia kembali berdiri dan mencium bibir Giani dengan pebuh kasih, ada kerinduan dan ada api gairah yang mulai tumbuh karena bertautan bibir mereka. Perlahan, Jero menurunkan tali lingre Giani. Tangan Giani pum bergerak membantu Jero membuka kaosnya. Keduanya saling bertatapan mesra seolah mengerti apa yang diinginkan tubuh mereka. Setelah semua baju yang melekat pada tubuh keduanya terlepas, Jero mengangkat tubuh Giani lalu berjalan menuju ke ranjang mereka. Perlahan, ia membaringkan tubuh Giani lalu ia sendiri merangkak naik ke atas tempat tidur. Keduanya kembali berciuman sampai akhirnya Jero ingat sesuatu.


"Gi, apakah kita boleh bercinta saat kamu hamil?" Tanya Jero khawatir.


"Aku nggak tahu, kak. Aku belum menanyakannya pada dokter."


"Duh, gimana nih? Palo kayaknya sudah nggak tahan."


"Nido juga kayaknya sudah mau ketemu palo." Kata Giani dengan wajah memerah. Ia memang sangat berhasrat kepada suaminya saat ini. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya.


"Terus gimana dong?"


Giani terkekeh. "Mungkin kakak harus pelan-pelan saja. Nggak boleh pakai gaya yang lain-lain. Dan cukup satu ronde saja."


"Satu ronde?" Jero menengok ke arah palo. "Satu ronde boleh ya, palo? Dari pada tidak bisa ketemu nido."


Keduanya tertawa bersama. Jero kemudian kembali mencium Giani.


"Kak...!" Kali ini Giani yang berhenti.


"Ada apa?" Tanya Jero dengan mata yang sudah berkabut dengan gairah.


"Kita kan sudah bercerai. Bagaimana bisa kita bercinta?"


"Aku tak pernah menganggap kita bercerai. Berkas perceraiannya aku tandatangani karena menepati janjiku padamu. Namun jauh di lubuk hatiku, aku terap menganggapmu sebagai istriku."


"Aku juga tak pernah menganggap kita sudah bercerai."


"Ya sudah. Kita lanjutkan saja ya? Besok pagi-pagi aku akan meminta pengacaraku untuk mengurus pernikahan kita kembali." Kata Jero lalu kembali mencium Giani. Keduanya kembali menyatu dengan perasaan yang kini saling mencintai.


***********


Jero sebenarnya masih mengantuk. Semalam, selesai mereka bercinta, Jero tak langsung tertidur. Ia terus menatap wajah Giani. Terus mengusap perut Giani. Sambil tak henti-hentinya bersyukur atas semua yang boleh dia miliki saat ini.


Namun, saat ia membalikan tubuhnya, ia tak menemukan Giani ada di sampingnya. Mata Jero menatap ke arah jam dinding. Masih jam 5 subuh. Terlalu cepat rasanya untuk bangun pagi. Di mana Giani ya?


Masih dengan rasa kantuk, ia turun dari atas tempat tidur, mengambil celana pendeknya dari lantai dan mengenakannya. Saat itulah Jero mendengar ada suara dari kamar mandi. Ia pun melangkah ke kamar mandi dan melihat Giani yang hanya menggunakan baju dalamnya nampak berlutut di depan kloset.


"Jangan mendekat, kak. Aku sedang muntah."


Jero tak memperdulikan perkataan Giani. Ia mendekat dan langsung memijat tengguk Giani. Saat tangan Jero menyentuhnya, Giani merasa kalau rasa mualnya perlahan hilang. Perempuan itu tersenyum.


"Ada apa?" Tanya Jero saat melihat Giani yang tersenyum.


Giani perlahan berdiri. Jero langsung mengangkat tubuh Giani karena dia melihat Giani agak pucat dan ada keringat di dahinya.


Setelah membaringkan tubuh Giani di atas tempat tidur, Jero menuju ke walk in closet. Ia mengambil kaos lengan panjangnya lalu memakaikannya pada Giani. Kaos itu terlihat seperti daster ditubuh mungil Giani.


"Sayang, kamu belum.jawab kenapa kamu tersenyum?" Tanya Jero yang sudah membaringkan tubuhnya disamping Giani sambil menghadap pada Giani dengan bertumpuh pada sikunya.


"Tadi saat kakak memijat tengkuk aku, rasa mualnya perlahan hilang. Aku jadi ingat swaktu ada di Amerika, saat mual dan muntah, aku selalu ingin menelepon kamu. Dan saat mendengar suaramu, semua rasa tak enak itu akan hilang. Aku merasa kalau anak ini akan menjadi anak yang sangat manja dengan daddynya."


Jero membelai wajah Giani. "Anak-anak ini mau supaya kita berdua dekat. Mereka tercipta untuk membuat kita bersatu lagi."


"Ya. Aku merasa seperti itu. Kakak akan punya dua Dawson saat mereka lahir."


"No. Aku punya 3 Dawson. Kau, dan kedua anak kita." Kata Jero lalu mengecup bibir Giani. "Kakekku juga punya saudara kembar. Dulu aku sempat berpikir, pasti menyenangkan jika bisa punya 2 anak sekaligus. Ternyata Tuhan memberikannya padaku. Ini suatu keajaiban kan?"


Giani mengangguk. Ia menarik tangan Jero agar pria bule itu mendekat padanya. Giani tidur di dada Jero. Ia merasa sangat nyaman. Giani kini tahu obat apa yang dia butuhkan saat merasa mual dan muntah. Obat itu bernama J E R O.


*********


Giani terbangun saat jam dinding sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Saat tak menemukan Jero ada di sampingnya, Giani tahu kalau suaminya itu sudah pergi kerja. Ia pun merapihkan tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster rumahan, Giani turun ke bawa karena ia memang sudah merasa lapar. Namun saat ia memasuki dapur, ia langsung tersenyum melihat Jero yang memakai celana pendek tanpa kaos, hanya apron yang membungkus tubuh atasnya.


"Sayang...!" Panggil Jero saat melihat Giani. Ia baru saja menyelesaikan masakannya.


"Kak, kok nggak membangunkan aku?"


"Kamu tidurnya sangat nyenyak. Aku nggak tega membangunkannya."


"Kakak nggak ke kantor?"


"Hari ini aku libur karena kita akan menikah lagi. Mama Sinta sangat senang memdengar berita kehamilanmu. Mama yang akan menyiapkan semuanya. Tuh, di halaman belakang sudah ada dari pihal WO yang sementara menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita jam 4 sore ini."


Giani terkejut mendengarnya. Ia segera menuju ke halaman belakang. Benar saja. Ada sekitar 10 orang yang sedang menyiapkan segala sesuatunya. Hati Giani menjadi senang.


Jero memeluknya dari belakang. "Kita akan mengucapkan lagi janji pernikahan kita secara benar karena kita sudah saling mencintai."


Giani membalikan badannya. "Tapi kamu belum melamar aku."


Jero terkekeh. Namun ia berlutut juga di depan Giani.


"Sayang, maukah kau menikah lagi denganku?"


Giani tertawa sangat keras.


"Kenapa?" Tanya jero heran.


"Di mana-mana seorang pria akan melamar kekasihnya menggunakan baju rapih sambil memegang bunga dan cincin. Mana ada yang gayanya seperti kakak. Memakai celana pendek dan apron sambil memegang spatula."


Jero menatap spatula yang ada di tangannya. Ia pun tertawa sangat keras.


"Jadi lamarannya ditolak?" Tanya Jero dengan wajah kecewa.


"Lamarannya tetap saya terima."


Jero langsung berdiri dan memeluk Giani sambil mencium kepala Giani secara berulang-ulang.


"Ayo sarapan. Setelah itu kita ke toko untuk membeli cincin pernikahan kita."


"Kak, aku tak mau cincin yang lain. Aku mau cincin pernikahan kita yang dulu. Aku sangat suka dengan modelnya. Lagi pula di cincin itu ada nama kita dan tanggal pernikahan kita yang dulu. Bagiku pernikahan kita sudah berlangsung lebih dari setahun yang lalu. Hari ini hanya perayaan kemenangan kita berdua yang sudah berhasil melewati ujian pernikahan."


"Aku masih menyimpan cincin itu."


"Dan kalungnya?"


"Aku juga masih menyimpannya."


"Aku ingin memakainya sore ini."


Jero mengangguk. Keduanya pun segera duduk di depan meja makan sambil menikmati sarapan yang sudah disiapkan Jero.


"Kakak semakin pintar memasak. Rasanya enak." Puji Giani.


"Terima kasih, sayang. Oh ya, tadi mama bertanya, apakah kita akan mengundang Finly?"


Giani diam sejenak. "Boleh saja. Asalkan dia tak akan mencurimu dariku. Karena jika dia melakukannya, aku akan menendangnya keluar dari rumah ini."


"Galak amat!"


"Kakak belum tahu sisi gelap aku kan?"


Jero terbelalak. Gadis selembut Giani punya sisi gelapnya juga?


"Apa sisi gelapmu?" Tanya Jero dengan wajah serius.


"Aku akan menghabisi siapa saja yang berani menyentuh daddy dari anak-anakku!"


"Oh ya?"


"Setelah menghabisi si pelakor, akan menghabisimu juga, kak. Karena aku tak akan pernah memaafkan penghianat!" Kata Giani dengan suara tegas dan tatapan mata yang tajam membuat bulu kuduk Jero merinding.


Nah....lebih menakutkan ya kalau Giani yang bucin? 🤣🤣🤣🤣


Berikan emak vote yang banyak ya???