
Alexa menyerahkan surat dan foto yang ditinggalkan Finly padanya. Itulah yang Finly bisikan kepada Alexa sesaat sebelum kematiannya.
"Eca, ada surat yang mama tinggalkan di lemarimu. Laksanakan isi surat itu kalau kau melihat papa Juan tak sedih lagi. Kau berjanji?"
Di mata Alexa saat ini, papi Juan tak pernah menangis lagi. Memang beberapa waktu yang lalu, Alexa sering menemukan Juan diam-diam menangis sambil memeluk foto Finly. Namun semenjak mereka pindah ke rumah baru Juan yang dibangun bersebelahan dengan rumah Aldo, Juan memang terlihat lebih tenang. Mungkin ia tak khawatir lagi. Jika ada pekerjaan di luar kota, Joana dengan penuh kasih menjaga Felicia dan Alexa.
"Finly sangat mencintai, Juan. Ia sudah mempersiapkan ini jauh sebelumnya." Kata Joana. Giani pun meraih kertas itu dan membacanya : Eca sayang, terima kasih kalau terus menjadi anak mama yang kuat. Mama percaya kalau Eca akan menjaga Felicia dengan baik. Nak, papi Juan adalah pria yang luar biasa. Dia mencintai mama walaupun mama sakit. Papi Juan perlu istri setelah mama pergi. Ada seorang gadis yang mama kenal saat mama ke panti asuhan di salah satu panti asuhan tempat papa Aldo biasa menyumbang. Kau pasti sudah lihat fotonya kan? Banyak orang mengatakan kalau dia sangat mirip dengan mama. Dia gadis yang baik hati walaupun agak tomboy. Buatlah dia dan papa Juan saling ketemu. Buat mereka saling jatuh cinta. Mama yakin dia wanita yang luar biasa. Minta bantuan bibi Giani dan mami bule. Mereka selalu punya cara terbaik untuk menolong Eca. Wujudkan impian mama, ya? Mama tak bisa mempercayakan orang lain untuk mengurus mu dan Felicia. Mama yakin Eca pasti bisa. love- mama.
"Finly diam-diam mengambil foto gadis ini ketika ia sedang bekerja di panti asuhan. Aneh ya,? Ada orang yang bisa sangat mirip walaupun tak sedarah" kata Giani.
"Katanya di dunia ini, kita punya saudara kembar yang lahir tanpa ada hubungan gen dengan kita. Mungkin perkataan itu benar. Aku melihatnya di foto ini." Joana kembali menatap foto itu. Gadis itu nampak sedang berdiri membetulkan ikatan di rambutnya sambil menyandarkan sapu yang dipegangnya di tubuhnya sendiri.
Alexa menatap dua perempuan yang sangat disayanginya itu. Benar kata mamanya, Giani dan Joana pasti bisa menolongnya.
********
"Mau ketemu dengan siapa ya?"
Seraut wajah cantik berdiri di hadapan Giani.
Senyum di wajah Joana mengembang. Ia bagaikan melihat Finly berdiri di hadapannya. Yang berbeda adalah, kalau Finly berkulit putih bersih, gadis ini berkulit sawo matang. Kalau Finly memiliki tinggi badan bagaikan seorang model terkenal, gadis ini bertubuh mungil namun bentuknya ideal. Kalau Finly berambut hitam agak bergelombang, gadis itu berambut hitam lurus. Selebihnya, mereka bagaikan pinang di belah dua.
"Saya Joana. Joana Purwanto."
"Apakah nyonya istri pak Geraldo Purwanto?"
"Iya."
"Wah, senangnya ketemu dengan anda, nyonya. Perkenalkan nama saya Wulan."
Joana menjabat tangan Wulan sambil tersenyum. "Hallo, Wulan. Apakah kau tinggal di sini?"
"Iya. Bibi saya adalah pengurus panti asuhan ini. Saya ikut membantu sambil sesekali kerja paruh waktu di salah satu rumah makan dekat sini."
"Oh, begitu ya? Jadi kamu pintar masak?"
"Pokoknya bisa masak, deh."
"Kamu mau nggak kerja di rumah saya?"
Wulan terkejut. "Tentu saja aku mau nyonya." Wulan terlihat sangat senang.
"Baiklah. Kita akan ngobrol lagi tapi aku mau ketemu pengurus panti asuhan dulu."
"Bibi saya ada di ruangannya. Mari saya antar!" Wulan mempersilahkan Joana mengikutinya.
Widuri, adalah seorang wanita berusia sekitar 50 tahun. Ia seorang wanita yang tak menikah. Setelah Joana menyampaikan kalau ia membawa bahan sembako dan beberapa perlengkapan mandi dan sekolah, Joana juga menyerahkan sejumlah uang.
"Ibu Widuri, apakah benar kalau Wulan adalah ponakan ibu?"
Widuri mengangguk.
"Apakah boleh aku mengajaknya untuk bekerja di rumahku?"
Widuri tersenyum. "Tentu saja boleh. Wulan seorang pekerja keras. Ia bisa masak, menjaga anak dan membersihkan rumah. Dia bekerja keras untuk bisa membantu orang tuanya. Papanya sudah meninggal, mamanya sakit-sakitan dan dia masih punya satu adik yang berusia 15 tahun. Dulu, nyonya Finly pernah banyak bertanya tentang Wulan. Aku pikir wajah mereka sangat mirip. Namun Wulan belum pernah ketemu dengan nyonya Finly sampai akhirnya dia meninggal. Semoga dia tenang di atas sana. Di akhir hidupnya, ia dan suaminya selalu membantu panti asuhan kami ini."
"Baiklah. Kalau begitu, bolehkah aku membawanya hari ini juga?"
Widuri langsung memanggil Wulan. Gadis itu langsung setuju akan ikut dengan Joana hari itu juga. Joana langsung senang. Ia memberi tahu Giani untuk mengabarkan bahwa misi pertama mereka berhasil.
*********
Mata Alexa langsung berkaca-kaca saat melihat seorang perempuan yang mirip mamanya sedang mengatur baju-bajunya di lemari.
"Selamat sore..!"
Wulan membalikan badannya. Ia tersenyum melihat Alexa. "Hallo....!"
Alexa mendekat. Tiba-tiba ia memeluk Wulan. "Terima kasih karena mau tinggal di sini."
Wulan jadi bingung dengan perkataan dan sikap Alexa padanya. Ia hanya membelai Alexa.
"Siapa namamu, cantik?"
"Alexa. Panggil saja Eca. Bibi namanya siapa?"
Alexa memegang tangan Wulan. "Eca panggil bibi nggak apa-apakan?"
"Nggak apa-apa, sayang. Sebenarnya agak kaku juga dengarnya." Wulan jadi merasa lucu.
"Silahkan lanjutkan saja. Eca mau ke kamar Eca." Alexa meninggalkan kamar Wulan. Gadis cantik yang mulai beranjak dewasa itu terlihat sangat bahagia.
Joana menempatkan kamar Wulan tidak sama dengan para pelayan lainnya. Wulan menempati salah satu kamar yang berdekatan dengan kamar Alexa dan Joaldo yang ada di lantai 2. Joana mengatakan kalau ia sengaja memberikan kamar itu pada Wulan supaya gadis itu dapat dengan mudah mengontrol anak-anaknya ketika malam hari. Joana juga melarang Wulan menggunakan seragam pelayan. Ia memang ingin menjadikan Wulan seperti adiknya.
Malam harinya, saat Geraldo pulang, ia sempat terkejut melihat kesamaan wajah Wulan dan mantan istrinya itu. Namun karena Joana dan Giani sudah menceritakan rencana mereka, Geraldo pun dengan cepat memahami situasinya.
Joana sudah berpesan pada para pelayan yang sudah lama bekerja di rumah ini untuk tidak mengatakan apa-apa pada Wulan mengenai kesamaan wajahnya dengan Finly.
***********
Felicia, yang kini berusia 5 tahun lebih menatap Wulan tanpa berkedip. Gadis kecil yang kini duduk di bangku TK, seperti melihat mamanya dalam versi yang berbeda. Wulan memang agak tomboy. Ia selalu mengikat satu rambutnya, menggunakan celana jeans selutut dan kaos yang agak kebesaran di tubuhnya.
Joana sudah menceritakan apa hubungan mereka dengan rumah yang hanya berbatas pagar pendek dengan rumah yang ada di sebelah. Bahkan ada pintu penghubung di antara pagar kedua rumah itu.
"Kamu pasti Felicia kan?"
Felicia mengangguk.
Alexa yang menyusul adiknya langsung memegang tangan Felicia. "De, ini bibi Wulan. Dialah yang akan menjaga kita kalau papa ke kantor."
"Hallo, bibi." Felicia melambaikan tangannya.
"Hallo sayang...!"
Felicia tiba-tiba memeluk kaki Wulan. Ia bagaikan menemukan sosok mamanya yang sudah lama pergi. Setiap hari, Felicia hanya bicara pada satu-satunya foto mamanya yang ada di kamar papanya.
Wulan kembali menjadi bingung. Baik Alexa maupun Felicia memeluknya sangat erat seolah mereka merindukannya.
*********
Juan Fernandez menjadi salah satu pria tampan yang banyak diincar oleh banyak wanita. Wajahnya yang mirip bintang film telenovela itu banyak membuat perempuan sering menatapnya tanpa berkedip. Penampilannya yang macho dengan anting yang menempel di telinga kanannya membuat ia terlihat semakin menarik.
Menjadi duda di usianya yang kini genap 38 tahun membuat Juan sedikit kerepotan mengurus anak semata wayangnya. Namun ia bersyukur karena Joana selalu menjaga Felicia. Apalagi sekarang sudah ada pengasuh yang Joana sediakan. Juan memang belum pernah melihat pengasuh itu. Namun ia percaya bahwa bahwa pengasuh itu baik. Felicia selalu bercerita bahwa ia sangat menyukai pengasuh yang bernama Wulan itu.
2 tahun lebih sejak kepergian Finly. Juan sama sekali tak pernah melirik perempuan lain. Sebagai lelaki normal, ia memang merindukan belaian seorang wanita. Rindu saat makan malam ditemani seorang istri. Namun rasanya seluruh hasrat Juan untuk mendapatkan seorang wanita sudah terkubur bersama jasad Finly. Mantan istri Juan bahkan sempat mendekatinya kembali, namun Juan sama sekali tak tertarik lagi padanya.
Waktu luang yang Juan miliki hanya akan ia berikan buat Alexa dan Felicia. Seperti hari ini, karena tak banyak pekerjaan yang ada di kantor, Juan memutuskan untuk pulang cepat dan mengajak Alexa dan Felicia untuk makan di luar.
Saat Juan memasuki rumahnya, ia melihat ada seorang perempuan yang sedang menyuapi Felicia. Perempuan itu membelakangi pintu. Apakah itu pengasuh yang Joana siapkan?
"Papa.....!" teriak Felicia sambil turun dari kursi yang didudukinya. Ia berlari ke arah Juan.
Secara spontan Wulan membalikan badannya. Ia sudah 2 minggu bekerja sebagai pengasuh Joaldo, Alexa dan Felicia namun belum pernah bertemu dengan papa Felicia.
Tatapan kedua orang itu saling bertemu. Wulan menelan salivanya saat menatap pria tampan yang sedang memeluk Felicia. Jujur saja, Wulan sudah sering melihat pria tampan namun duda keren yang satu ini membuat Wulan terpesona pada pandangan pertama. Jantung Wulan bahkan berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Sedangkan Juan, ia terkejut melihat seorang gadis yang wajahnya mirip dengan Finly. Hanya saja gadis ini bertubuh mungil dan terlihat tomboy. Sangat jauh dengan Finly yang selalu terlihat anggun dan sangat feminim.
"Tu-tuan, maaf kalau saya masuk ke rumah ini. Atas ijin nyonya Joana, saya ke sini karena Felicia ingin makan di sini." Melihat tatapan Juan yang aneh padanya, Wulan takut jika Juan mungkin tak suka melihat ada orang asing di rumahnya.
"Oh, ya saya Wulan. Nyonya Joana menugasi saya untuk menjaga Joaldo dan Felicia."
Juan masih diam. Kerinduannya pada Finly seakan terobati dengan memandang wajah polos tanpa make up yang ada di depannya.
"Tuan.....!" Wulan menjadi tak tenang melihat Juan masih belum bicara.
"Papa....!" Felicia menepuk pipi papanya.
Juan seakan terbangun dari pesona Wulan yang membuatnya kembali mengingat Finly.
"Eh, ya. Apa kabar Wulan? Senang bertemu denganmu. Felicia terusin makannya dulu ya. Papa mau ganti baju dulu." Juan menurunkan Felicia yang digendongnya. Ia kemudian melanglah menaiki tangga. Hatinya bergetar. Juan bahkan merasa ingin memeluk Wulan. Namum akal sehatnya kembali menyadarkannya kalau itu bukan Finly.
Ada yang penasaran nggak bagaimana dua manusia beda derajat dengan usia terpaut 12 tahun itu akan saling jatuh cinta??
Komen, like dan vote emak ya guys...
HAPPY NEW YEAR 2021 ALL