
Phuket Thailand...
Sepasang tangan melingkar di pinggang ramping Alexa saat perempuan itu sedang berdiri di beranda paviliun tempat mereka menginap. Pemandangan pantai yang indah ada tak jauh dari paviliun mereka ini. Oliver yang memilih tempat ini dari pada harus ada di bangunan megah hotel. Menurut Oliver, mereka akan lebih bebas di sini.
"Kenapa kamu bangun jam segini?" tanya Oliver sambil meletakan dagunya di bahu Alexa yang hanya mengenakan lingre tipis berwarna hitam.
"Tadi di pesawat aku kan tidur terus. Sampai di sini, kamu bukannya mengajak aku jalan-jalan, justru mengurung aku terus di sini." Ketus Alexa pura-pura marah.
Oliver memutar tubuh Alexa sehingga mereka kini saling berhadapan. "Sayang, kita kan sedang honeymoon bukannya holiday. Lagi pula kita punya tugas khusus dari 6 orang kesayanganmu agar cepat memberikan mereka cucu. Jadi kita harus lebih banyak berada di dalam kamar dari pada di luar kamar."
Alexa menarik hidung mancung suaminya. "Modusnya ingin memberikan cucu pada hal tujuannya memang ingin menguras habis tenagaku."
Oliver terkekeh. "Maafkan suami mu yang agak mesum ini. Entah mengapa setiap kali berdekatan denganmu si pajaro ingin selalu masuk ke juala. Aku kayak kecanduan dengan tubuhmu, sayang."
"Kayaknya kamu harus istirahat untuk lima hati ke depan, sayang."
"Kenapa?"
"Aku tadi bangun karena perutku agak nyeri dan saat aku ke kamar mandi dan memeriksa, ternyata aku sedang dapat sayang."
"Dapat apaan?"
"Tamu bulanan ku."
"Sayang, kamu nggak bercanda kan?"
"Nggaklah. Mau bukti?" tanya Alexa lalu mengambil tangan Oliver dan meletakan di inti tubuhnya.
"Kok datangnya saat kita bulan madu, sih?"
"Sayang, aku kan datang bulannya hanya 4 sampai 5 hari. kamu kan sudah banyak dapat jatah. Semalam saja di pesawat masih minta jatah."
Oliver menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 5 hari tanpa menyentuh Alexa? Apakah pajaro nggak akan keriput?
"Kebetulan jadwal kita di sini kan selama 5 hari sayang. Jadi aku bisa bebas keliling Phuket."
"Pajaro akan sengsara sayang."
"Juala sedang sakit. Jadi pajaro harus sabar." Ujar Alexa menahan tawa. Ia mencium pipi suaminya. "Ayo kita bobo, aku mengantuk."
Oliver mengikuti langkah Alexa masuk ke dalam paviliun. Ia mengunci pintunya dan segera menyusul istrinya ke kamar.
Keduanya tidur saling berhadapan. Oliver tak terlalu suka jika Alexa membelakanginya. Ia ingin Alexa tidur dengan dengan bersandar di dadanya.
********
Selama 5 hari di Phuket mereka habiskan untuk mengunjungi semua tempat-tempat indah di sana. Alexa terlihat sangat menyukai pantai walaupun Oliver selalu memasang wajah cemberut saat Alexa akan menggunakan pakaian yang terbuka. Maka, demi menjaga wajah tampan suaminya itu tak berkerut, Alexa pun menggunakan celana panjang dan kaos berlogo Phuket yang sengaja ia beli di sana.
Giani tertawa saat mendengar keluhan Alexa mengenai baju yang harus dikenakannya. Hari ini memang Giani menelepon Alexa karena merasa rindu dengan ponakannya itu. Alexa bagaikan anak sulung baginya.
"Oliver kayak paman Jero. Nggak mau bibi menggunakan baju yang agak terbuka dengan alasan kalau miliknya nggak boleh dilihat oleh orang lain."
"Tapikan aku kadang kepanasan, bi. Masakan ke pantai menggunakan Celana panjang, sih."
"Mungkin karakter orang bule, jika sudah cinta beneran maka akan menjadi posesif dengan apa yang dimilikinya. Namun nikmati aja, Eca. Cinta mereka akan membuat kita merasa dimiliki seutuhnya. Rasa posesif mereka justru akan membuat kita merasa benar-benar disayang."
"Iya juga, sih. Kayaknya memang Oliver mirip paman Jero, deh. Dia sempat cemburu saat aku bilang kalau Pak guru Paul tampan."
Tawa Giani kembali terdengar. "Kapan-kapan, kita undang pak guru Paul dan istrinya makan malam bersama agar Jero dan Oliver dapat melihat kalau istri pak guru Paul sangat cantik dan dia tak mungkin akan melirik pada kita berdua."
"Seru kali ya, jika mengundang pak guru Paul."
"Iya. Ya sudah dulu ya? Selamat menikmati honeymoon, mu sayang. Salam untuk suamimu ya? Bye."
"Bye, bibi..." Alexa yang menerima telepon bibi Giani sambil duduk di beranda Paviliun segera masuk kembali. Oliver tadi memang sedang tidur karena kelelahan menyelam.
Namun Saat Alexa masuk, suaminya itu sudah bangun. Wajahnya kembali cemberut. Ia duduk di sofa sambil bersedekap.
"Sayang, jangan suka cemberut, ah. Nanti wajahmu cepat berkerut dan kelihatan tua." Kata Alexa lalu duduk dipangkuan Oliver.
"Siapa yang menelepon sampai kamu menyebutkan nama pak guru Paul?"
"Bibi Giani."
"Pantas saja."
Alexa jadi gemas melihat wajah suaminya. Ia menyentuh dahi Oliver yang berkerut. " Kalau di sini suka berkerut akan cepat menjadi keriput. Begitu juga di sini." Alexa menyentuh pipi Oliver. "Dan di sini." lalu menyentuh dagu suaminya itu. "Jika semua sudah berkerut, maka aku nggak mau jalan dengan mu. Aku akan mencari pria lain yang kelihatan lebih muda dan tak terlihat tua. Dia pasti akan lebih menyenangkan di atas ranjang. Aku....."
Tangan Oliver yang tadinya masih ia lipat di depan dadanya, bergerak cepat dan menahan rahang istrinya agar berhenti berbicara. "Siapa bilang aku akan kelihatan tua? Walaupun usiaku nanti sudah berkepala empat, aku akan buktikan kalau aku masih bisa hot seperti sekarang ini."
Alexa menepiskan tangan suaminya yang memegang dagunya. Ia berdiri dari pangkuan Oliver.
"Aku mau mandi. Supaya kalau mau tidur adem." Kata Alexa. Ia membuka kaos yang dikenakannya, lalu membuka celana kain bermotif batiknya. Ia kemudian melepaskan pengait bra nya dan terakhir sambil melirik Oliver ia membuka penutup terakhir di tubuhnya. "Sayang, tolong masukan ke keranjang pakaian kotor ya? Sebentar lagi tukang laundri nya akan datang menjemput pakaian kotor kita supaya besok siang saat kita pulang, semua pakaiannya kita sudah bersih." Kata Alexa lalu segera menuju ke kamar mandi.
Oliver mendengus kesal karena Pajaro sungguh terbangun melihat Alexa dengan sengaja membuka baju di hadapannya. Ia pun memunguti satu persatu pakaian Alexa sampai akhirnya, saat ia mengambil celana g_string Alexa, ia menyadari sesuatu. Dia tidak menggunakan pembalut lagi?
Oliver pun membuang baju itu ke lantai dan membuka bajunya sendiri. Ia segera menyusul Alexa ke kamar mandi. Alexa yang sementara berdiri membelakangi pintu masuk dan sedang mengguyur tubuhnya dengan air dari shower tak menyadari kehadiran suaminya. Saat Oliver sudah memeluknya dari belakang dan membelai perutnya dengan gerakan menggoda, Alexa tersenyum manis.
"Sejak kapan Juala sembuh?" Tanya Oliver dengan suara serak dan tatapan yang penuh gairah.
Alexa membalikan badannya dan menatap suaminya. "Sejak kemarin."
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kau mau membuat pajaro keriput?" tanya Oliver tidak dengan nada marah namun dengan nada menggoda sambil tangannya sudah bergerak ke bagian sensitif di tubuh istrinya.
"Kalau begitu, aku tak akan memberi kau ampun. Siap-siaplah untuk tidur subuh hari ini, nyonya Pregonas."
"Aku bahkan siap tak tidur tuan Pregonas." Balas Alexa sambil mengedipkan matanya dengan gerakan genit dan membuat Oliver langsung menciumnya dengan penuh gairah.
(duh, yang bulan madu memang bahagia ya, jadi ingat awal-awal nikah he...he...)
********
Satu minggu selanjutnya, Oliver dan Alexa menghabiskan waktu mereka di Hawaii. Kali ini, Oliver sedikit memberi kelonggaran bagi Alexa untuk memakai celana pendek walaupun hanya sebatas di atas lutut. Dan seperti yang Alexa duga, Oliver lebih banyak mengurungnya di kamar dari pada membiarkannya mengelilingi Hawaii. Kata Oliver, mereka bisa sepuasnya berkeliling Hawaii jika datang lagi untuk liburan.
Setelah dari Hawaii, mereka pun terbang ke Inggris. Hanya dua hari saja mereka tidur di kota London, setelah itu Oliver mengajaknya ke suatu desa yang letaknya sekitar 3 jam berkendara dari kota London. Sebuah mobil di sewa oleh Oliver dan mereka berkendara bersama.
"Sayang, desa ini sangat indah. Banyak bunga-bunganya." seru Alexa saat mereka mulai memasuki pedesaan. Ada sungai di sepanjang jalan.
"Aku pernah tinggal di sini selama 2 tahun Alexa."
"Oh ya? Mengapa sampai tinggal di sini?"
"Untuk menyembuhkan luka hatiku."
"Luka hati?"
"Saat Calina meninggalkanku, aku jadi suka mabuk dan menjadi orang yang mudah sekali marah. Lalu pengasuhku, yang menjaga aku semenjak kecil meminta ijin pada orang tuaku untuk mengajakku berlibur ke sini. Awalnya aku menolaknya. Namun karena ia terus memaksa aku pun ikut. Aku akhirnya menemukan ketenangan di tempat ini. Aku bahkan belajar memasak, menanam bunga dan membuat parfum di sini."
Mobil Oliver berhenti di sebuah rumah sederhana. Oliver mengajak Alexa turun. Udara di desa ini terasa lebih dingin dibandingkan kita London.
Oliver mengetuk pintu sambil tangannya yang satu memegang tangan Alexa.
Saat pintu rumah terbuka. Nampak seorang perempuan yang berusia sekitar 60an. Ia mengenakan pakaian khas wanita Inggris kuno lengkap dengan topinya. Ia menajamkan pandangannya lalu beberapa detik kemudian matanya berkaca-kaca. "Oh my God. My son!" Ia langsung memeluk Oliver sambil menangis haru.
Alexa dapat melihat kalau Oliver pun haru sampai meneteskan air mata.
"Kau sangat jahat Nani. kau tak datang di pernikahanku." Kata Oliver saat pelukan mereka terurai.
"Kau tahu aku sudah semakin tua, nak." wanita yang dipanggil Nani oleh Oliver itu ternyata bisa berbahasa Indonesia walaupun dengan aksen khas orang Inggris.
Ia mengalihkan pandangannya pada Alexa. "Maukah yang telah membuatnya mau menikah? Alexa kan? Kau sangat cantik. Lebih cantik dari pada foto yang Oliver kirimkan padaku. Namaku Halen Tapi panggil saja Nani, seperti panggilan Oliver untukku." Halen memeluk Alexa dengan penuh rasa sayang. Lalu mengajak pasangan suami istri itu untuk masuk.
Halen adalah pengasuh Oliver sejak Oliver lahir. Suami Halen adalah orang Madrid yang bekerja sebagai sopir di keluarga Pregonas. Halen memiliki dua orang anak laki-laki yang ikut dibesarkan bersama-sama dengan Oliver baik saat mereka tinggal di Indonesia maupun di Bandung. Kini kedua anak Halen sudah menikah. Anaknya yang pertama menjadi manager di perusahaan parfum milik keluarga Pregonas. Anaknya yang kedua adalah seorang dokter. Semua anaknya di sekolahkan oleh ayah Oliver.
Semenjak suaminya meninggal 4 tahun yang lalu, Halen memilih pensiun dan kembali ke Inggris bersama dengan anak-anak nya. Ia tinggal sendiri di rumah ini sambil menjaga kebun bunga yang dipakai untuk memproduksi parfum.
Selama 4 hari, Alexa dan Oliver tinggal di rumah Halen. Rumah yang sederhana namun begitu damai. Alexa juga belajar beberapa hal tentang bunga dan parfum. Ia juga belajar membuat kue kesukaan Oliver dari Halen.
Dari tempat inilah Eca semakin mengerti bagaimana kepribadian Oliver. Yang dulu dianggapnya arogan dan mesum ternyata adalah pria baik hati dan penuh kasih serta tidak sombong. Anak-anak Halen yang datang makan malam bersama mereka nampak sangat akrab dengan Oliver. Tak ada batasan antara anak pelayan dan anak majikan.
Selain itu, Oliver juga mengajak Eca berkeliling desa sambil menggunakan sepeda. Mereka mengunjungi sebuah bukit kecil yang ada air terjunnya. Dan jangan tanyakan bagaimana kegilaan Oliver ketika ia tiba-tiba saja ingin bercinta di bawa guyuran air terjun. Alexa hanya bisa pasrah dan terus meyakini kalau suaminya ini memang mesum. Untung saja air terjunnya sepi.
Demikianlah mereka menghabiskan waktu di desa bunga itu. Sebelum pulang, Halen membuatkan ramuan khas Inggris agar Alexa cepat hamil.
********
Madrid, 3 minggu kemudian....
Besok adalah perayaan pernikahan Oliver dan Alexa. Walaupun di Jakarta mereka sudah membuat pesta besar-besaran namun di Madrid, Elvira juga menyiapkan pesta yang tak kalah megahnya. Papa Aldo, mami Bule, mami Wulan dan bibi Giani sudah datang 3 hari lebih awal.
Jero, Juan, Felicia, Joaldo dan Gabriel akan datang tiba sore ini. Alexa sedikit kesal karena Gabrian tak bisa datang dari Inggris karena ada ujian katanya.
Pesta pernikahan Alexa dan Oliver sengaja belum dilaksanakan saat mereka tiba karena masih menunggu gaun yang dipesan Elvira selesai.
Mansion keluarga Pregonas yang memiliki lebih dari 20 kamar tentu saja dapat menampung semua keluarga Alexa yang datang dari Indonesia.
"Hei, baby, kau belum mau bangun?" tanya Oliver yang baru selesai mandi. Ia mencium pipi Alexa.
"Aku capek, sayang. Badanku rasanya sakit semua."
"Semalam kan kita hanya satu ronde, sayang." goda Oliver sambil membelai pipi istrinya.
"Nggak tahu kenapa kepalaku agak pening. Aku juga pagi ini merasa agak mual."
"Kamu mungkin masuk angin sayang."
"Ulah siapa sampai aku masuk angin? ulah kamu kan yang setiap malam membuatku tidur tanpa baju."
Oliver tertawa. "Maafkan aku, ya. Sekarang kamu mau apa? Ingin makan?"
Alexa membuka matanya sedikit. "Ingin dipeluk olehmu. Aku suka bau parfum mu."
Oliver memeluk istrinya. Alexa menggelapkan kepalanya di dada Oliver, menghirup dalam-dalam bau wangi suaminya.
"Kau tidak ingin sarapan? Mereka mungkin sudah menunggu kita di ruang makan, sayang." ujar Oliver.
"Jangan sebut makanan. Aku pingin muntah mendengarnya. Biarkan aku bobo seperti ini ya? Aku suka baumu." Alexa memejamkan matanya. Oliver menatap istrinya dengan bingung. Ada apa dengan Alexa???
********
Pajaro kayaknya berhasil deh....
Gimana ya kalau Alexa beneran hamil dan ingin ketemu pak guru Paul? Berikan komentar terbaikmu, ya? Nanti aku muat di episode selanjutnya.