
Pembacaku....
maaf ya kalau ada yg komen plotnya lambat. Terlalu berbelit. Aku paham kalian ingin cepat melihat Jero dan Giani bahagia. Namun, jangan lupa perbuatan Jero di masa lalu. Dia harus menerima akibat dari semua perbuatannya. Sedikit cambuk kehidupan akan membuat Jero semakin teguh imanya.
Happy reading
**************
Selamat siang, Gi. Gimana kabarnya Alexa?
Malam ini, sebelum tidur, Jero mencoba mengirim pesan pada Giani. Di Jakarta waktu menunjukan pukul 11 malam, berarti di New York hampir jam 11 siang.
Tadi sepulang kantor, Jero sengaja membeli beberapa macam cemilan dan minuman. Ia mampir di pos penjagaan pintu masuk perumahan ini. Menyapa para penjaga. Jero bahkan sering bermain catur bersama mereka jika ia merasa suntuk di rumah.
"Ibu Giani kok belum pulang ya?" Tanya salah satu penjaga.
"Ponakannya masih sangat membutuhkan dia. Jadi dia masih ada di sana." Jawab Jero menekan rasa sakit di hati. Ia tak ingin mengatakan kalau mereka sudah resmi bercerai.
"Pasti tuan Jero sangat kangen dengan ibu Giani, ya? Ibu wanita yang cantik, baik, ramah dan juga suka sekali memberi. Waktu Idul Fitri yang lalu, kami semua diberikan sembako dan anak-anak kami dibelikan pakaian."
"Iya. Di perumahan ini semuanya orang kaya namun hanya ibu Giani yang peduli dengan kami. Saya berdoa semoga ponakan ibu Giani cepat sembuh sehingga tuan Jero dan ibu Giani bisa bersama lagi. Bisa di karuniakan anak yang banyak dan berbakti."
Jero tersenyum mengingat kata-kata para penjaga pos keamanan itu. Mungkinkah aku dan Giani akan memiliki anak? Ya Tuhan, aku ingin sekali memiliki anak. Namun anakku bersama Giani. Aku tak ingin memiliki anak dengan perempuan lain.
Jero melihat ke layar ponselnya. Ternyara sudah ada pesan balasan dari Giani. Jero tak menyadarinya karena ponselnya dalam mode silent tanpa getar. Giani sudah membalas pesannya sejak 5 menit yang lalu.
Alexa baik-baik saja. Katanya dia mau videocall sama uncle Jero
Jero langsung senang. Ia bisa melihat wajah Giani kalau videocall. Ia pun segera melakukan panggilan videocall.
"Uncle Jero....!" Suara melengking Alexa langsung terdengar dengan wajahnya yang cantik dan lucu muncul di layar. Gadis kecil itu menggunakan mantel dengan topi rajutan yang membungkus kepalanya.
"Hallo sayang....!"
"Uncle, kami lagi main salju. Dingin...." Kata Alexa sambil tangannya yang satu memegang salju dan menunjukannya pada Jero.
"Wah asyiknya...."
"Uncle ke sini saja."
Jika papamu mengijinkan.
"Uncle sedang banyak pekerjaan sayang." Kata Jero membuat wajah Alexa sedikit cemberut.
"Tapi uncle beryl bisa ke sini. Tuh....!" Alexa mengarahkan kamera telepon ke arah lain.. Nampak Beryl sedang mengajarkan seseprang bermain sky. Dan itu adalah Giani.
Rasa cemburu langsung memenuhi rongga dada Jero. Ia tahu kalau Beryl ke Amerika pasti menemui Giani. Beryl memang punya beberapa bisnis di sana. Namun selain itu dia pasti menemui Giani.
"Uncle, ke sini aja!" Alexa kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.
"Nanti kalau pekerjaan uncle sudah selesai ya?"
Alexa mengangguk.
"Baiklah sayang. Sekarang uncle mau bobo dulu ya? Di sini kan sudah hampir tengah malam."
"Baiklah uncle."
"Bye Eca!" Jero meletakan ponselnya kembali. Ia kemudian membaringkan tubuhnya.
Apakah Beryl akan berhasil menaklukan hati Giani? Tidak! Giani bukan gadis murahan yang akan secepat itu berpindah ke lain hati. Aku yakin kalau Giani mencintaiku. Jika keadaannya memungkinkan, aku akan kembali ke New York!
*********
New York
Giani merasakan kalau tubuhnya sangat lelah.
"Beryl, kita istirahat saja ya? Nanti besok kita lanjutkan latihan main sky." Ujar Giani.
"Ok. Wajahmu juga kelihatan agak pucat."
Giani duduk di pondok yang sudah mereka sewa sambil membuka sepatu ski dan helm.
"Gi, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Joana.
"Iya." Jawab Giani sambil menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. Joana mengambil teh hangat yang baru saja dibuatnya. Ia memberikannya pada Giani.
"Minum ini, Gi."
Giani menerima gelas yang diberikan Joana. Ia langsung menyesapnya karena ia merasa sedikit kedinginan.
Namun saat air teh manis itu melewati tenggorokannya, Giani tiba-tiba saja merasa mual. Ia buru-buru melepaskan gelas itu di atas meja lalu segera berlari ke toilet. Ia bahkan menabrak Aldo yang memang baru keluar dari toilet.
"Gi, kamu kenapa?" Tanya Aldo heran.
Giani menutup pintu dengan sangat terburu-buru.
"Owek....owek....!"
Suara itulah yang terdengar dari dalam kamar mandi. Joana berdiri di dekat Aldo, begitu pula Beryl.
"Kayaknya Giani masuk angin. Ini biasa terjadi bagi orang yang baru pertama kali menikmati musim salju." Kata Beryl.
"Ia juga. Adikku itu memang baru kali ini ada di suasana salju yang dingin seperti ini."
"Baiklah. Kita tidak jadi menginap di sini. Ayo Joana, kita bereskan semua peralatan."
Beryl memegang tangan Giani dan membantunya untuk duduk di sofa. Giani menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.
"Aku merasa agak pusing." Kata Giani.
"Cobalah untuk tidur, Gi!"
2 jam kemudian, mereka sudah berada di rumah. Giani langsung masuk ke kamar dan tidur.
Beryl pun pamit kembali ke hotel.
"Al, aku merasa ada yang aneh dengan Giani."
"Maksudmu?" Aldo yang baru saja menidurkan Alexa menatap kekasihnya sambil mengerutkan dahi.
"Sakit Giani kayaknya bukan sakit biasa."
"Jadi maksudmu Giani punya sakit yang serius?"
"Bukan masalah penyakitnya. Namun penyebab penyakitnya."
"Maksudnya?" Aldo belum juga mengerti.
"Giani kayaknya hamil."
"Hamil? Hamil oleh siapa? Oleh Beryl?"
"Bukan. Oleh Jero pastinya."
" Kok Jero? Mereka kan sudah lama tak bersama."
"Kamu lupa ya kalau sebulan yang lalu Jero pernah datang ke sini?"
"Mereka nggak mungkin tidur bersama kan?"
Joana menatap Aldo. "Hari itu, aku tak membawa Giani ke pameran buku melainkan ke hotel tempat Jero menginap. Mama Sinta meminta padaku untuk mempertemukan mereka karena Jero kelihatan sangat frustasi."
"Aku benci kamu membohongi aku, Jo!" Aldo mulai emosi.
"Al, kalau Jero dan Giani nggak saling mencintai, mereka nggak mungkin akan tidur bersama lagi. Aku merasa kalau selama ini Giani memendam perasaannya karena tak ingin menyakitimu." Joana melingkarkan tangannya di leher Aldo. "Sayang, apakah kau masih dendam pada Jero? Aku mohon maafkan Jero. Kita kan sudah bersama. Kalau Giani memang mencintai Jero, please biarkan mereka bersama."
Aldo menatap Joana. Ia hanya mengecup bibir Joana sekilas lalu melepaskan tangan Joana yang melingkar di lehernya. "Aku mau mengerjakan beberapa pekerjaan. Kalau Alexa sudah bangun, tolong temani dia sebentar." Kata Aldo lalu segera masuk ke ruang kerjanya. Joana sedikit kesal karena Aldo tak memberikan tanggapan. Jika Aldo masih kesal pada Jero, bukankah itu berarti dia masih menyayangi Finly?
*****
Giani bangun dengan perasaan aneh. Ia bermimpi tentang Jero. Dan saat ini ada dorongan dalam hatinya untuk menghubungi Jero. Giani berusaha untuk menahannya namun ia tak bisa. Rasa ingin mendengar suara Jero begitu kuat dari dalam dirinya.
Tangan Giani bergerak mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Jero dan langsung menelepon pria itu. Giani seakan lupa, kalau Jakarta sekarang masih jam 5 subuh.
Panggilan pertama Jero tak mengangkatnya. Giani tak putus asa. Ia kembali menghubungi nomor Jero. Dan ia berhasil. Jero menerima panggilanya.
"Hallo...Giani?" walaupun suara Jero agak serak khas orang baru bangun tidur, namun intonasi dari suaranya menunjukan kalau ia sangat bersemangat. Giani begitu senang mendengar suara Jero.
"Kak, apakah aku membangunkanmu?" Tanya Giani hati-hati.
"Iya. Tapi aku senang kau menghubungiku."
"Baguslah."
"Gi, ada apa?"
Kangen kamu
"Nggak. Tadi Alexa senang bisa videocall sama kak Jero. Makasi ya."
"Aku juga senang melihat wajah kamu yang sedang latihan ski bareng Beryl."
Giani terkekeh. "Kakak cemburu ya?"
"Kamu tahu perasaanku padamu, Gi."
"Kami hanya berteman."
"Benarkah?"
Terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Kak, aku mau buka pintu dulu ya? Nanti kita saling memberi kabar. Bye..."
Pintu kamar terbuka. Aldo ternyata yang masuk.
"Kak...!"
Aldo mendekat dan mengulurkan 2 bungkus teatpack."Gi, segera tes!"
Giani terpana menatap tes kehamilan itu.
Apa yang terjadi selanjutnya??
dukung emak ya guys....