
"Jenis kelaminnya apa, sayang?" Tanya jero dari seberang. Ini sudah yang ke-8 kalinya ia menelepon Giani.
"Nantilah kalau Bee pulang dan aku bilang." Kata Giani sambil melangkah keluar dari rumah sakit.
"Mel, kamu kan tahu kalau aku mungkin agak lama di sini. Perusahaan Dawson di Singapura sedang berada di ambang kehancuran. Aku harus membereskan semua kekacauan di sini. Sedangkan Beryl masih sibuk dengan Anggita. Heran deh mereka tiap tahun kayaknya Anggita melahirkan. Anak mereka bahkan sudah mau 3."
Giani tertawa. "Beryl nggak mau kalah sama kamu, Bee."
"Cih, dasar Beryl! Oh ya, apa kata dokter? Usia kandunganmu sekarang sudah memasuki bulan keenam kan? Rasanya kangen sekali ingin pulang. Nggak terasa sudah 3 minggu aku di sini. Palo kayaknya akan jadi keriput kalau aku terlalu lama di sini."
Tawa Giani semakin keras. "Bee, jangan mesum. Kita kan jauh." Jero tak berubah. Apapun percakapan mereka pasti akan ada sisipan palo dan nido.
"Makanya, kasih tahu aja jenis kelamin baby kita apa? Apakah masih belum kelihatan lagi?"
Giani tak tega menyembunyikannya lagi. "we're going to have a baby girl."
"Are you sure?"
"Yes honey!"
"Yes....! I will have a daughter!" Jero bersorak dari seberang.
"Sayang....aku....!"
"Giani...!"
Giani menoleh. "Fidel?"
"Apa? Gi, siapa di sana, Fidel? Fidel yang pernah menculik mu? Gi...Giani....!"
"Apa kabar cantik?"
"Sayang, kenapa dia menyebutmu cantik? Jangan dekati dia, Gi. Aku takut kalau dia menculikmu lagi." Suara Jero terdengar panik.
"Cantik, kenapa hanya diam. Wah, kamu hamil lagi ya? Baru selesai periksa?" Fidel mendekat dan ingin menyentuh perut Giani. Namun Giani justru mundur beberapa langkah. Ia tanpa sengaja menekan tombol merah di ponselnya sehingga sambungan telepon terputus. Bukan hanya itu saja, Giani tak menyadari kalau ponselnya kehabisan baterai.
"Giani, kenapa kamu kelihatan takut? Jangan takut!" Fidel tersenyum.
"Aku nggak takut. Hanya kaget saja. Aku pikir kamu sudah kembali ke Sidney atau Jepang."
Fidel tersenyum lagi. Giani mengakui kalau pria tampan satu ini memiliki pesona yang mematikan para kaum hawa. Namun karena Giani sudah tahu sifatnya, ia tak mau ikut terpesona.
"Aku lebih suka Jakarta dan pulau tempat tinggal ku itu. Karena di sini, aku dapat sesekali melihatmu."
"Jangan seperti itu, Fidel. Aku sudah menjadi milik orang. Tak baik menyukai sesuatu yang bukan milikmu."
"Aku tahu. Makanya aku menikah." Fidel mengangkat tangan kanannya dan menunjukan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. "Istriku akan dioperasi sesar hari ini. Bayi kami laki-laki menurut pemeriksaan dokter."
Giani bernapas lega. " Selamat ya. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Aku permisi!"
Fidel manahan lengan Giani. "Aku menikahi istriku karena dia terlanjur hamil anakku. Namun aku tak pernah berhenti mencintai dan menginginkanmu."
Giani menarik tangannya. "Cintai istrimu. Itu akan membuat aku menganggap mu sebagai temanku dan bukan musuhku. Selamat sore." Giani langsung melangkah pergi.
***********
Giani dan kedua putranya sudah tertidur saat jam baru menunjukan pukul 8 malam. Saat Giani tadi sore ke rumah sakit, Brian dan Briel tidak tidur. Makanya mereka sudah mengantuk selesai makan malam.
Tidur Giani terganggu saat ia merasakan sentuhan di pundaknya yang membangunkan dia.
"Bee?" Giani terkejut menemukan suaminya berdiri di samping tempat tidur dengan wajah kusut dan lelah. Ia pun bangun.
Jero terlihat sedikit kesal. "Kenapa ponselnya dimatikan? Dan kenapa semua pembantu tak ada satupun yang mengangkat telepon rumah? Aku bahkan harus berkelahi di bandara agar bisa mendapat tiket pulang hari ini."
"Sambungan telepon rumah kita putus, Bee. Aku sudah telepon tapi mereka juga belum datang memperbaiki. Kamu lupa ya? Aku kan bilang kemarin saat kamu telepon. Mengenai ponselku, aduh kemana ya ponselku. Mungkin di dalam tas."
Jero langsung memeluk Giani. "Aku takut sesuatu terjadi padamu. Tadi kau ketemu si Fidel yang pernah menculik mu kan? Aku seperti mau mati rasanya. Apalagi saat ponselmu tak aktif. Mengapa orang gila itu masih ada di Jakarta?"
"Istrinya melahirkan. Jangan khawatir, Bee. Dia sudah menikah."
"Tapi bisa saja dia masih terobsesi denganmu kan?"
"Nggak mungkinlah." Giani membelai pipi suaminya ketika pelukan mereka terurai. Ia memilih tak mengatakan semuanya. Ia sudah tahu betapa gilanya suami bulenya ini. Bayangkan saja ia berani meninggalkan pekerjaan pentingnya dan langsung terbang kembali ke Jakarta. "Bee capek? Mau ku buatkan kopi atau makanan lain?"
Wajah Giani langsung panas. "Bee, kamu kan baru saja sampai."
"Rasa capek ku akan langsung hilang jika palo sudah ketemu Nido. Nggak kasihan ya? Nanti palo jadi keriput."
Giani ingin tertawa melihat wajah Jero yang memelas. Namun ia tak ingin membangunkan anak-anaknya. "Kalau palo keriput, berarti sudah tua ya?"
"Akan menjadi tua kalau kamu nggak mengijinkannya." Jero langsung mengangkat tubuh istrinya "Ayo kita ke kamar."
Giani mengalungkan tangannya di leher Jero. Ia tahu kalau si bule tuanya ini tak bisa dibantah kalau itu tentang palo dan nido.
*********
Juan meletakkan bunga mawar yang dibawahnya ke kubur. Ia tersenyum menatap nisan yang bertuliskan nama Finly.
"Hai sayang, apa kabar kau di sana? Aku percaya kamu sudah bahagia. Tak ada lagi sakit yang harus derita. Tak terasa 7 bulan sudah berlalu dan aku semakin merindukanmu. Mungkin kau juga tahu kalau aku sering menangis di tengah malam sendirian. Kamu jangan marah ya? Aku hanya rindu." Kata Juan sambil tangannya mengusap batu nisan itu.
"Hari ini aku ulang tahun ke-36, sayang. Tadi pagi saat aku bangun, Alexa dan Felicia datang ke kamarku sambil membawakan kue tart. Alexa memang kakak yang terbaik bagi Felicia. Oh ya, aku sementara membangun rumah di samping rumah Aldo. Jero yang menggambar desain rumahnya. Alexa ikut mengatur dengan menambah ruang bermain untuknya dan Felicia. Sayang, aku sudah mengikhlaskan kepergianmu. Papa Denny dan mama Sinta setiap minggu selalu mengunjungi Felicia. Aku juga selalu mengajak Alexa dan Felicia ke gereja setiap hari minggu seperti yang kau pesankan." Juan mencium batu nisan Finly dengan hati yang bergetar. Ia sangat merindukan istrinya. "Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya?" Juan berdiri lalu menatap pusara Finly dengan wajah penuh senyuman. Ia yakin Finly melihatnya dari jauh sambil mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Juan pun meninggalkan pusara istrinya.
"Dia pria yang sangat mencintai istrinya. Setiap senin pagi ia akan datang ke sini. Pria tampan yang baik hati." Kata sang penjaga kubur pada seorang perempuan berbaju putih yang berdiri di dekatnya dengan wajahnya bercahaya.
Perempuan cantik itu tersenyum. "Aku tahu. Dan aku juga sangat mencintainya." Kata perempuan itu dan langsung menghilang.
Penjaga kubur itu pun menggelengkan kepalanya. Mereka saling mencintai.
********
"Welcome my baby girl....." Demikianlah sambutan Jeronimo saat Giani dan bayi perempuan mereka tiba di rumah.
Gabrian dan Gabriel pun melompat-lompat kegiranan saat melihat adik perempuan mereka.
"Oh....dia sangat cantik!" ujar Gabrian. "Bolehkah alu mencium adikku?" Tanya Gabriel.
" Tentu saja boleh. Ayo sini!" Giani memanggil kedua anaknya mendekat dan membiarkan mereka mencium pipi adik mereka.
"Daddy, siapa namanya?" Tanya Gabriel.
"Namanya Joselin Hilary Dawson." Kata Jeronimo dengan bangganya.
"Aku akan memanggilnya dengan sebutan adik Selin." ujar Gabrian.
"Nggak. Aku akan memanggilnya dengan sebutan adik Jo!" Kata Gabriel tak setuju dengan saudara kembarnya.
"Terserah kalian. Yang penting adik disayang ya?" Jeronimo mengacak rambut kedua putranya.
Giani tersenyum bahagia. Hidupnya terasa sangat sempurna.
**********
Setahun kemudian.......
"Ini, lihatlah!" Alexa yang kini duduk di bangku SMP menunjukan sebuah foto pada Giani dan Joana.
Kedua perempuan itu terkejut.
"Bagaimana bisa sama?" tanya Joana sambil matanya terus memandang foto itu.
"Iya. Yang beda hanyalah rambutnya yang hitam." kata Giani.
"Bibi dan mami bule mau membantuku untuk mewujudkan impian mama Finly?"
Kedua perempuan itu tersenyum. "Ayo kita temukan jodoh untuk papi Juan!"
Maaf ya telat up. Ada kesibukan di dunia nyata.
maaf kalau banyak typo. Habis ngantuk banget.
Siapakah pengganti mama Finly untuk papi Juan???
dukung emak terus ya