Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
1 Bulan Lagi


Banyak yang bertanya, masa kan sudah 1 tahun kok Giani nggak ada rasa sama sekali untuk Jero? Kalau mengikuti cerita ini dari awal tanpa skip2, pasti tahu bagaimana karakter Giani. Coba baca lagi diawal perjanjiannya dengan Jero. Tujuannya apa saat menikahi Jero? Bahkan saat Jero pertama kali menyentuh Giani, apa yang Giani lakukan setelah itu? Giani juga punya hati, kok. Tapi perkataan Jero sendiri yang membuat Giani selalu menutup hatinya untuk Jero. Akan ada saatnya Jero menyadarinya. Jangan minta alurnya dipercepat ya? Karena aku mau Jero sadar apa arti kehilangan, sebelum akhirnya ia berjuang untuk mengejar cinta sejatinya. Kapan Giani akan menyukai Jero? Saat Jero bisa mengubah alasannya untuk mempertahankan Giani.


So..happpy reading guys...aku mau pembacaku ikut berpikir alur cerita ini 😍😍😍😍


kalau yang sudah baca I hate you bule, Lerina dan My Best Photo, song in my life, pasti tahu aku suka main misteri....😄😄😄😄


Sorry ya...pengantar bab ini agak panjang supaya sebelum keluar komentar pedas tentang tokoh Giani, aku sudah memperingatkan. Maaf, bukannya aku sok jago 🙏🙏🙏


**********


Begitu mereka tiba di rumah sakit, suasana terlihat tegang. Papa Denny yang terlihat sangat sedih. Di sampingnya ada Dion yang sesekali mengusap punggung papa seolah memberikan ketenangan baginya. Di sisi yang lain ada Finly. Ia duduk tertunduk sambil tangannya memainkan dompet yang dipegangnya.


"Pa..!" Panggil Jero.


Denny mengangkat wajahnya. "Nak...!"Sapanya lalu kembali ke posisi semula.


Finly menatap kedatangan Giani dan Jero dengan tatapan yang sulit diartikan. Dari matanya terpancar kerinduan pada pria bule itu.


Clara, istri Dion, yang adalah seorang doktet, keluar dari ruangan ICCU.


"Bagaimana hasilnya?" Denny langsung berdiri.


"Keadaan mama sudah stabil. Tekanan darahnya sudah turun walaupun masih agak tinggi. Kita tidak tahu sampai kapan mama akan bangun. Kalaupun mama siuman, kemungkinan besar mama akan sulit untuk berjalan. Kaki mama stroke." Kata Clara membuat papa Denny terlihat semakin sedih.


"Apa papa boleh masuk?" Tanya Denny penuh harap.


"Boleh. Yang lain juga boleh masuk secara bergantian. Tapi tak boleh lebih dari 5 menit. Kalian harus pakai baju khusus untuk bisa masuk.


Papa Denny yang lebih dulu masuk, setelah itu bergantian, mulai dari Dion, Finly dan Jero. Sedangkan Giani memilih hanya melihatnya dari dinding kaca saja.


"Papa mau bicara, Jero. Ayo kita ke kantin sambil minum kopi!" Ajak Denny.


"Aku tinggal sebentar ya?" Pamit Jero pada Giani. Perempuan yang masih menjadi istrinya itu mengangguk.


Sepeninggalan papa dan jero, suasana di depan ruang ICCU terlihat kaku. Dion sudah pergi setelah masuk melihat mama Sinta. Dia ada pekerjaan penting yang berhubungan dengan perusahaan.


Tinggalah Giani dan Finly, yang memilih duduk berjauhan. Giani mengambil ponselnya lalu menghubungi Geraldo melalui pesan singkat untuk mengatakan apa yang terjadi.


Di kantin......


Setelah pesanan kopi mereka datang, Papa Denny pun mulai bicara.


"Semalam, sebelum tidur, mama dan papa berbincang. Mama mengatakan kalau dia ingin melihat kau dan Giani memiliki anak. Menurut mama, ia akan sangat senang saat mengetahui kalau Giani hamil. Dia begitu ingin kau bahagia dengan Giani." Papa berhenti dan menyesap kopinya.


"Tadi pagi, mama bangun lebih dulu. Katanya ingin ke kamar mandi. Namun, di dalam kamar mandi, mama ternyata pusing dan jatuh. Untunglah kalau kepalanya tak mengalami benturan yang membahayakan. Hanya saja, mama sudah terlalu lama pingsan di kamar mandi. Papa menemukannya setelah 1 jam jatuh." Denny terlihat menyesal. Karena saat istrinya pamit ke kamar mandi, ia kembali tertidur kembali.


"Mama pasti akan sembuh, pa. Bukankah mama wanita yang sangat kuat?" Jero menghibur papanya.


Denny hanya mengangguk. "Jero, papa tahu pernikahanmu dengan Giani terjadi karena Giani ingin memisahkanmu dengan Finly. Dan yang papa lihat, itu berhasilkan?"


"Saya nggak akan pernah menyentuh Finly lagi, pa. Giani menyadarkanku bahwa itu semua salah."


"Kalau begitu berusahalah agar Giani hamil. Papa yakin kalau itu akan membuat mama senang."


Jero merasakan permintaan papanya sangat berat. Bagaimana Giani bisa hamil kalau keduanya akan berpisah?


Saat malam sudah datang, Jero dan Giani kembali ke rumah. Malam ini Dion dan Clara yang akan menjaga mama di rumah sakit.


Begitu mereka tiba di rumah, Giani langsung turun dan menuju ke dapur. Ia akan menyiapkan makan malam.


"Gi....!" Panggil Jero sambil menyandarkan tubuhnya di meja pantry.


Giani yang sedang mencuci sayur, menghentikan aktifitasnya. Ia berbalik dan menatap Jero. "Ada apa, kak?"


"Mengenai perpisahan kita..."


"Aku akan pergi besok pagi, kak."


Jero menggeleng. "Bukan tentang kepergianmu. Tapi ini tentang mama."


"Ada apa?"


"Mama ingin kamu hamil, Gi. Kata papa, mungkin saja kehamilanmu akan membuat mama sembuh."


"Hamil?"


Jero mendekat. Tiba-tiba saja ia sudah berlutut di depan Giani. Ia meraih kedua tangan Giani dan menggenggamnya erat.


"Kak, mengapa seperti ini?" Giani akan menarik tangan Jero akan pria bule itu berdiri namun Jero menggeleng.


"Aku mohon padamu, Gi. Mari kita tambah lagi waktu pernikahan kita. 1 bulan lagi. Dan kau jangan meminum pil kontrasepsi itu lagi. Aku ingin kau hamil anakku, Gi."


"Hamil? Kak, jika aku hamil maka kita tak akan pernah bisa berpisah."


"Kalau kau hamil, kita akan tetap berpisah, Gi. Aku akan memberikanmu kebebasan untuk menjalani hidupmu. Hanya sesekali ijinkan aku untuk bersama anak kita. Aku akan membiayai seluruh hidup anak kita. Kalaupun kamu tak mau mengurusnya, aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku. Demi mama, Gi. Papa bilang semalam mama mengutarakan keinginannya untuk melihatmu, hamil."


"Aku tak bisa, Kak." Giani akan melepaskan tangannya namun Jero masih menahannya dengan kuat.


"Aku mohon, Gi. Demi mama. Kau tahu mama sangat berarti bagiku. Aku mohon!" Jero menyandarkan dahinya pada tangan Giani. Pundak lelaki itu bergetar. Ia menangis. Jero yang selama ini dikenal sebagai pria arogan, cuek dan sangat menjunjung harga dirinya, kini terlihat rapuh dan tak berdaya.


Giani dapat merasakan kalau tangannya basah oleh air mata Jero.


"Kak, berdiri dulu.!"


"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu setuju dengan permintaanku. Hanya 1 bulan, Gi. Kalau ternyata kamu nggak hamil, maka aku akan melepaskanmu."


"Kak...!"


"Please, Gi.!"


Giani bingung. Ia tak bisa mengambil keputusan secepat ini.


"Ijinkan aku memikirkannya malam ini, kak."


Jero mendongak. Menatap Giani dengan mata yang bersinar penuh harap. Ia akhirnya berdiri. "Terima kasih, Gi. Terima kasih karena kamu mau memikirkannya." Jero langsung memeluk Giani. Walaupun Giani tak membalas pelukannya seperti biasanya, namun Jero merasa senang.


"Kak, aku ke kamar dulu. Kalau kakak lapar pesan saja melalui layanan internet. Aku capek." Giani mendorong tubuh Jero. Lalu ia segera menuju ke kamarnya yang ada di lantai bawa.


Jero melihat semua bahan makanan yang sudah dikeluarkan Giani dari dalam kulkas. Ia pun mengambil apron dan memakainya. Jero bertekad akan masak malam ini.


Hampir 2 jam, akhirnya masakan Jero selesai. Ia mengetuk pintu kamar Giani dan membukanya. Di lihatnya Giani sedang menelepon seseorang.


Giani sudah mandi dan mengenakan baju rumahan. Daster hello kitty yang pernah menjadi saksi percintaan mereka di taman samping rumah beberapa bulan yang lalu.


Perut Giani memang sangat lapar. Sejak siang ia tak makan.Ia hanya mengisi perutnya dengan segelas susu dan 2 potong roti tadi pagi.


"Baik, kak."


Keduanya pun makan dalam mode silent. Giani merasakan kalau makanan yang dibuat Jero sudah semakin enak.


Saat keduanya sudah selesai makan, Giani langsung membereskan meja makan. "Aku saja yang mencucinya, kak. Kakak mandilah dan segera beristirahat. Malam ini aku tidur di bawa."


"Baiklah." Jero melangkah pergi namun diujung dinding pembatas ruang makan dan ruang tamu, Jero membalikan badannya. "Gi, aku mohon berpikirlah dengan tenang ya. Jika kamu butuh waktu untuk berpikir, aku tak akan keberatan."


"Hanya satu malam, kak. Besok pagi aku akan memberikan jawabanku."


Jero mengangguk. Ia segera menuju ke lantai dua, tempat kamarnya berada.


***********


Malam telah semakin larut, namun Jero tak bisa memejamkan matanya. Ia begitu gelisah memikirkan jawaban Giani atas permohonannya.


Jero ingin Giani setuju atas permohonannya. Jero berharap kehamilan Giani nanti bukan hanya akan membahagiakan mama Sinta tapi juga menjadi jalan baginya dan Giani untuk tetap bersama.


Di kamarnya, Giani pun tak bisa tidur. Ia masih bingung memikirkan tawaran Jero. Pernikahan ditambah 1 bulan lagi? Bagaimana kalau aku hamil beneran? Haruskah aku membesarkan anak sendiri? Tadi kak Jero mengatakan kalau dia hanya ingin aku hamil untuk menyenangkan mama Sinta, dia akan membebaskan aku saat tahu kalau aku beneran hamil. Tapi, bukan seperti ini konsep pernikahan yang aku impikan.


Giani meraih ponselnya. Ia tahu kalau ini sudah tengah malam. Ia butuh bercerita dengan Joana. Di dering yang kedua, Joana langsung menerima panggilannya.


"Hallo, Gi. Ada apa?" Tanya Joana.


"Aku bingung, Jo."


"Karena mama Sinta sakit?"


"Kamu sudah tahu?"


"Alexa yang bilang. Tadi, Aldo menitipkan Alexa padaku karena dia harus ke rumah sakit. Jadi, kamu nggak jadi pergi dari rumah itu?"


Giani menarik napas panjang. "Kak Jero mengajukan persyaratan lain."


"Persyaratan apa?"


"Dia meminta pernikahan kami ditambah 1 bulan lagi. Mama Sinta begitu ingin agar aku hamil. Jadi kami mencobanya selama sebulan ini. Aku hamil ataupun tidak, dia akan tetap bercerai dariku. Dia akan mengurus anak kami jika aku tak mau menjaganya."


"Memangnya kamu ingin hamil anak dari Jero?"


"Aku nggak tahu."


"Jujur padaku, Gi. Selama ini ketika kalian bersama, saat kalian bercinta, memangnya kamu tak memiliki perasaan apapun pada Jero?"


"Awalnya, aku memang merasa jijik setiap kali dia menyentuhku. Namun akhirnya rasa jijik itu hilang saat hatiku berkata, semua ini demi kak Aldo. Aku merasa kalau kedekatan kami hanya sebatas kebutuhan fisik belaka. Aku akui, Jero sangat memuaskanku saat kami bercinta. Namun sejak awal aku menikah, aku sudah membentengi diriku dengan sangat kuat. Aku tak akan pernah membiarkan hatiku terbuai dengan semua rayuannya. Tujuanku hanya satu, menyadarkan kak Jero bahwa apa yang dilakukannya dengan kak Finly adalah suatu kesalahan besar."


"Bagaimana kalau Jero yang jatuh cinta padamu?"


Giani tertawa. "Dari awal kan dia selalu bilang, kalau aku bukan tipe wanita yang diinginkannya. Semua yang dia lakukan bersamaku karena ingin menyenangkan mama Sinta."


"Ok. Yang penting kau tak akan patah hati saat berpisah dengannya."


"Nggaklah. Aku bahkan sudah tak sabar ingin kembali ke rumah kak Aldo. Rindu dengan kamarku."


"Tentang tawaran Jero, aku pikir diterima saja, Gi. Kamu juga kan menyayangi mama Sinta. Soal hamil atau nggak hamil kan tetap Jero akan membiarkanmu pergi."


"Aku takut justru aku yang nggak bisa pergi darinya."


"kenapa? Kamu berarti sudah punya rasa untuknya kan, Gi?"


"Bukan. Kamu tahu sendirikan prinsip hidupku, seorang anak harus dibesarkan oleh papa dan mamanya. Makanya aku mau berjuang untuk Kak Aldo demi Alexa. Namun sekarang kak Aldo sudah menyerah, aku merasa bahwa tugasku sudah selesai."


"Gi, kali ini aku ikut apa kata kamu saja, deh. Aku selalu mendukungmu."


"Makasi, Jo. Have a nice dream ya?"


"Kamu juga, Gi. Bye..."


Giani meletakan ponselnya kembali. Terbayang wajah mama Sinta yang begitu lembut dan menyayanginya. Giani memang menyayangi Mama Sinta.


Haruskah ia setuju?


***********


Hari ini Giani bangun kesiangan karena tisur saat menjelang pagi. Ia yakin kalau Jero pasti sudah pergi ke kantor karena ini sudah jam 9 pagi. Selesai mandi dan ganti pakaian, Giani keluar dari kamar. Ia hamoir berteriak kaget melihat Jero yang sudah siap dengan baju kerjanya namun masih duduk di ruang tamu sambil memainkan tabletnya. Sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu.


"Aku pikir kakak sudah pergi ke kantor." Kata Giani berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak cepat.


"Aku menunggu jawabanmu, Gi." Kata Jero sambil meletakan tabletnya di atas meja, bersebelahan dengan tas kerjanya.


Giani melangkah dan duduk di depan Jero.


"Aku sudah punya jawabannya, kak."


Jero menatapnya dengan wajah yang sedikit tegang."Jadi apa keputusanmu?"


"Aku bersedia kontrak pernikahan kita ditambah 1 bulan lagi. Aku tak akan meminum pil kontrasepsiku lagi. Namun aku mau, kita berhubungan saat masa suburku saja."


"Namun, kita tetap di kamar yang sama sampai waktunya selesai."


"Baiklah. Tapi kakak harus janji, tak akan menyentuhku lagi saat masa suburku sudah selesai."


"Baik, kita akan pergi konsultasi dengan dokter sore ini juga. Aku akan buat janji dengan dokter terbaik yang ada di kota ini."


Giani mengangguk.


Jero pun berdiri. Ia meraih tablet dan tas kerjanya. "Aku pergi ke kantor dulu ya."


"Hati-hati, kak."


Jero tersenyum sambil mengangguk. Ia jadi bersemangat pagi ini. Setidaknya, masih satu bulan lagi ia akan menikmati kebersamaannya dengan Giani. Dan Jero berharap, akan ada benihnya yang tumbuh di rahim Giani.


Nulis part ini agak berat untukku..


Kira-kira Giani hamil nggak ya....


Terus, apakah Finly sudah menyerah begitu saja?


Mana komen, like dan vote nya????