
Selama 2 hari, Jero dan Giani menjalankan serangkaian tes untuk melihat apakah mereka pasangan yang subur atau tidak.
Di hari keempat, dokter Susan memanggil mereka, bersamaan dengan Giani yang mendapatkan tamu bukanannya.
"Semua hasil menunjukan bahwa kalian berdua adalah pasangan yang subur. Secara medis, baik tuan Jero dan nyonya Giani tak ada yang bermasalah. Namun yang menentukan semua itu adalah kuasa Tuhan. Sebagai dokter saya dapat mengatakan kalau bulan ini nyonya Giani bisa hamil namun saya hanya manusia." Kata dokter Susan.
Jero terlihat sangat senang. Harapannya sangat besar kalau Giani bisa hamil.
"Jadi, kapan kami harus memulainya, dok?" Tanya Jero tak sabar.
"Siklus haid nyonya Giani kan teratur. Jadi sangat gampang saja menghitung masa suburnya. Hari ini nyonya Giani haid di hari pertama. Jadi mulai hari ini sampai hari ke-14 nanti, disitulah dimulai masa suburnya. Mulai hari ke-14 setelah haid sampai hari ke-21 setelah haid. Namun, saran saya adalah jangan pikirkan hari. Bercintalah dengan penuh kasih sayang. Karena penentuan hamil juga tergantung kondisi hati yang gembira dan tidak stres. Jangan terlalu sering juga, supaya kualitas spermanya baik."
"Maksudnya, dok?" Jero jadi penasaran.
"Berapa ronde biasanya saat bercinta?"
Wajah Giani langsung memerah namun Jero terlihat biasa saja.
"Biasanya 3, dok. Namun pernah juga lebih. Iya kan sayang?" Ujar Jero sambil melirik Giani yang sudah salah tingkah.
Dokter Susan tertawa. "Apakah karena tuan Jero seorang bule sehingga bisa sekuat itu sekali main? Saran saya sebaiknya satu ronde saja. Setelah itu manfaatkan waktu untuk lebih banyak beristirahat. Nyonya Giani jangan terlalu sering memakai sepatu hak tinggi dan kurangi mengangkat barang yang berat-berat."
"Baiklah, dok. Terima kasih." Kata Giani. Dia ingin mengahiri percakapan ini.
"Saya akan resepkan vitamin dan obat penyubur kandungan. Bisa diminum mulai hari ini." Ujar dokter Susan sambil menyerahkan kertas yang sudah ditulis resep obat itu.
Giani dan Jero meninggalkan ruangan dokter Susan.
"Gi, aku mau tebus obat ini. Kamu tunggu aku di ruagan mama saja ya?" Kata Jero. Mama Sinta sudah dipindahkan di ruangan perawatan VVIP yang ada di lantai 5. Tekanan darahnya sudah stabil begitu juga dengan alat vitalnya yang lain sudah menunjukan perubahan ke arah yang lebih baik.
"Baiklah!" Giani segera masuk ke dalam lift sementara Jero memilih untuk menggunakan tangga untuk turun ke lantai 1.
Saat Giani membuka pintu ruangan VVIP bernomor 002 itu, tampak Finly ada di sana. Ketika Finly melihat Giani, wajahnya langsung berubah dingin.
"Sendiri?" tanya Finly sambil memainkan ponselnya.
"Bersama kak Jero. Saat ini kak Jero sedang ke apotik untuk menebus obat." Ujar Giani dengan suara yang agak pelan. ia mendekati tempat tidur mama Sinta. Di pegangnya tangan wanita paru bayah itu yang masih terlihat cantik walaupun sedikit pucat.
"Hallo, ma." Giani menyapa sambil mengusap tangan mama Sinta. Ia percaya bahwa kontak fisik dapat membuat orang yang tak sadarkan diri dapat merasakan sentuhan itu.
Pintu kamar kembali terbuka. Giani dan Finly sama-sama menoleh.
"Alexa?" Finly langsung berdiri melihat Alexa datang bersama Aldo.
"Hai, ma!" Alexa hanya melambaikan tangannya ke arah Finly lalu berlari dan memeluk Giani. Finly merasa cemburu karena Alexa seperti tak memperdulikan dirinya. Ia pun kembali duduk dengan kesal.
"Bibi, Eca kangen." Kata Alexa lalu mencium pipi Giani yang sedang berjongkok sambil memeluknya.
"Bibi juga kangen. Maaf ya, beberapa hari ini bibi sibuk jadi belum bisa menjenguk Eca di rumah."
Alexa tersenyum. "Nggak masalah, bi. Kan ada tante bule."
Aldo menatap Finly. "Hai, Fin. Aku membawa Alexa ke rumah sakit karena papa yang memintanya. Kata papa, siapa tahu bisa membuat mama semakin cepat untuk sadar. "
Finly hanya mengangguk.
Alexa duduk di tepi ranjang omanya. "Hallo, oma. Bangun, dong. Eca kangen dipeluk oleh oma. Oma jangan bobo terus. Oma harus tahu kalau Eca sudah bisa mengucapkan hurur R dengan benar." Alexa mengulang beberapa kali mengucapkan huruf R.
Giani tak dapat menahan tawanya melihat tingkah Alexa yang semakin lucu. Finly pun tak luput memandang putrinya itu.
"Eca, sekarang duduk di sofa ya." Giani mengangkat tubuh Alexa. Tepat di saat itu Jero masuk. Saat melihat Giani yang akan mengangkat tubuh Alexa, Jero langsung mendekat sambil mengambil Alexa dari pelukan Giani.
"Ingat, Gi. Kamu nggak boleh mengangkat yang berat-berat." Kata Jero.
"Eca berat ya, paman." tanya Alexa.
"Iya. Perasaan badan Eca sudah lebih berisi sekarang." Kata Jero sambil terus memeluk Alexa.
"Tante bule selalu buat susu dan roti keju. Eca makannya banyak. Bahkan sering minta susunya ditambah. Makanya Kata bibi Lumi Eca agak gendut. Tapi tetap cantik kan?" Tanya Alexa lagi sambil mengedipkan matanya.
Semua tertawa melihat tingkah Alexa. Andai Alexa tak datang, pasti suasana di ruangan ini menjadi kaku. Finly dan Aldo yang sudah resmi bercerai, Jero yang pernah selingkuh dengan Finly dan Giani yang masih menjadi istri Jero.
"Bagaimana perkembangan mama?" Tanya Aldo yang duduk di depan Finly. Mereka duduk di kursi kayu dan hanya dibatasi dengan meja buat kecil. Sementara Giani dan Jero duduk di Sofa panjang yang ada di sudut yang lain. Jero masih memeluk Alexa sambil mendengarkan bagaimana gadis kecil itu bercerita tentang sekolahnya, dan dia yanh sudah semakin lancar berbahasa Inggris.
Hati Jero merasa bahagia saat melihat betapa menggemaskannya Alexa. Ia jadi membayangkan seandainya memiliki anak sendiri. Apakah anaknya akan berwajah sama seperti dirinya? Ataukah ia akan mirip dengan Giani? Tanpa sadar, Jero menatap perut Giani. Membayangkan jika di sana bisa tumbuh darah dagingnya sendiri.
"Paman, kok liatin bibi terus. Lihat Eca juga dong. Eca kan sama cantiknya dengan bibi."
Jero langsung mencium pipi Alexa karena semakin gemas melihat tingkah gadis berwajah oriental itu. Alexa memang sangat mirip dengan Aldo.
"Eca cantik. Bibi juga cantik. Paman liatin bibi terus soalnya paman ingin pamit." Kata Jero. Ia menurunkan Alexa dari pelukannya.
"Sayang, aku harus kembali ke kantor. Ada pertemuan dengan pihak perusahaan dari Malaysia yang menangani Dawson Company di sana. Beryl kan masih di London." Jero mencium puncak kepala Alexa. "Eca, paman pergi dulu ya?"
"Aku pulang dengan kak Aldo saja."
Jero mengangguk. Ia mencium dahi Giani sebelum berdiri.
Jero pun berpamitan pada Aldo dan Finly. Ia harus bergegas meninggalkan rumah sakit.
Tak lama kemudian Aldo pun berpamitan pulang. Ia tak ingin Alexa terlalu lama berada di rumah sakit karena tak baik untuk kesehatannya.
Mereka bertiga pergi dan meninggalkan rumah sakit. Finly tetap berjaga karena memang hari ini adalah tugasnya menjaga mama Sinta.
"Dalam perjalanan ke rumah Giani, Alexa tertidur di kursi belakang membuat Aldo bisa bebas berbicara.
"Katanya mau pisah dari Jero, kenapa tadi pakai acara cium segala?" Tanya Aldo.
"Pasti Jero lakukan itu karena ada kak Finly."
Aldi tersenyum sinis. "Pasti juga kalau kamu sudah pergi, Finly akan segera pindah ke rumah itu. Mereka sulit dipisahkan."
"Jero sudah berubah, kak. Dia sudah berjanji di hadapan Papa dan mama, bahwa ia tak akan pernah mendekati Finly lagi."
"Kakak gak percaya janjinya. Makanya, cepatlah keluar dari rumah itu. Alexa sangat bersemangat saat bibi Lumi menyiapkan kamarmu."
"Tunggulah sedikit lagi, kak. Kasihan mama Sinta masih belum sadar." Giani memilih tak mengatakan tentang perjanjian untuk menambah 1 bulan lagi pernikahan mereka. Ia tahu Aldo tak akan pernah setuju jika Giani hamil.
Akhirnya mereka tiba di rumah Giani. Aldo tak bisa mampir karena ia sangat lelah. Baru semalaman ia pulang dari luar kota untuk urusan bisnisnya.
***********
Giani tersentak kaget ketika sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Ia tak mendengar bunyi suara mobil di luar.
"Selamat sore, baby." Kata Jero lalu mencium bahu Giani.
"Selamat sore, kak." balas Giani. Tangannya masih sibuk membersihkan sayur brokoli. Sebenarnya ia kaget kalau Jero memeluknya seperti ini. Semenjak mama Sinta masuk rumah sakit, Jero tak pernah lagi bersikap mesra padanya. Apakah karena apa yang dikatakan oleh dokter Susan tadi pagi?
"Gi, boleh nggak panggil aku sayang lagi?" Tanya Jero sambil terus memeluk Giani.
"Sebenarnya aku lebih suka panggil kakak."
"Tapi aku lebih suka kamu panggil sayang. Kalau kakak kesannya aku jadi tua. Dokter juga mengatakan kalau kita harus saling membangun perasaan yang saling membahagiakan. Supaya si dede boleh tumbuh di sini." Kata Jero sambil mengusap perut Giani.
Giani terkekeh. "Baiklah sayang."
"Nah, gitu dong. Apa yang bisa aku bantu?"
"Istirahat saja. Pasti capek kan?"
"Dokter juga bilang kalau kamu nggak boleh terlalu capek. Mulai besok aku panggil pelayan dari rumah mama ya?"
Giani membalikan badannya. "Sayang, kan prosesnya belum juga dimulai."
Jero menatap wajah Giani. Ia menunduk dan menempelkan dahinya di dahi Giani. Hidung mereka bersentuhan sehingga deru napas keduanya menyentuh kulit wajah masing-masing. Giani bingung dengan sikap Jero. Pria itu hanya memegang wajah Giani sambil menikmati kedekatan mereka.
"Sayang.....!" panggil Giani saat melihat mata Jero yang terpejam.
"Terima kasih mau bersama denganku lagi walaupun hanya untuk satu bulan ke depan." kata Jero sedikit berbisik. Ia lalu mencium bibir Giani perlahan. Setelah itu ia menarik tubuh Giani untuk dipeluknya. Giani tersenyum. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Giani merasa nyaman dengan pelukan Jero.
"Ayo kita memasak!" Ajak Jero setelah melepaskan pelukannya.
"Ok." Hanya itu yang Giani katakan. Ia menyerahkan beberapa bumbu masakan untuk dibersihkan oleh Jero.
Keduanya pun masak bersama sambil sesekali berbagi cerita.
Selesai memasak dan makan bersama, Giani mencuci peralatan yang kotor sementara Jero membersihkan meja makan dan menyapu lantai.
"Sayang, ponselmu berbunyi!" Jero menyerahkan ponsel Giani.
"Hallo...! Saoa Giani. Namun baru beberapa detik berbicara, Giani langsung tegang. "Baiklah. Saya akan ke Bali besok."
"Ada apa?"
"Cafe kami di Bali terbakar, kak. Aku harus ke sana besok. Beryl kan masih di New York."
"Astaga, Gi. Kenapa bisa terbakar? Aku besok dan lusa ada rapat penting lagi." Jero terlihat ingin menemani Giani.
"Aku pergi sendiri saja. Jangan terlalu khawatir."
"Aku akan menelepon orangku di sana untuk menemanimu."
"Baik, sayang." Giani bingung. Bukankah Beryl telah memasang sistem perlindungan tercanggih di cafe itu termasuk juga terhadap kebakaran?
Di apartemennya, Finly tersenyum puas saat menelepon seseorang. "Jadi adik iparku itu akan pergi ke Bali besok? Terima kasih ya, bayaranmu aku transfer sekarang juga. Bye..."
Finly tahu, besok ada rapat pemegang sahan di kantor papanya. Papa tak bisa hadir karena kurang sehat dan Dion kakaknya sedang berada di Spanyol. Rencananya akan berhasil.
Apa yang Finly rencanakan????
See you next part...
jangan lupa like, komen dan vote ya