
Giani menatap penampilannya di cermin. Dress hitam tanpa lengan yang tidak terlalu pendek namun bagian punggungnya agak terbuka. Giani sengaja menggulung rambutnya ke atas. Ia menggunakan sepatu bertali yang tingginya 5 cm saja lalu. Giani memoles make up tipis.
"Jadi pergi, non?" Tanya Bi Lumi.
"Ya. Paman Leo selesai mengantarku langsung saja pulang. Aku bisa pulang dengan Jero."
30 menit kemudian, mereka tiba di club malam milik Frangky. Salah satu club malam dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
Ungtunglah usia Giani sudah 20 tahun. Setelah membayar uang masuk sebagai pengganti karena tak punya kartu anggota, Giani pun masuk ke dalam.
Sungguh ia merasa muak melihat kepulan asap rokok dan bunyi musik yang sangat memekan telinga.
Mata Giani mengitari seluruh bagian lantai satu club yang memang sangat luas. Ia tak menemukan Jero ada di sana. Perlahan ia menaiki tangga dan mencari di lantai 2 ini. Akhirnya Giani menemukan Jero. Sedang duduk di sudut ruangan. Finly ada di sampingnya dan sedang menyandarkan kepalanya dibahu Jero.
"I found you, baby!" guman Giani sambil tersenyum dengan tatapan mata tajamnya.
*********
1 jam sebelum kedatangan Giani....
"Ngapain loe datang ke sini? Istri lagi hamil seharusnya di jagain. Bukannya di biarin." Seru Frangky saat menemukan temannya duduk di meja bartender.
"Giani nggak hamil. Hasilnya negatif." Kata Jero. Terasa sesak di hatinya saat mengucapkan itu.
"Oh ya? Pantas saja loe kelihatan uring-uringan. Atau jangan-jangan loe kali yang bermasalah."
"Maksud loe?"
"Loe mandul."
"Apa?" Jero jadi emosi. Ia akan menghajar Frangki. Namun ia menurunkan tangannya. Apa mungkin dia yang bermasalah? Selama ini jika berhubungan dengan Finly, Jero memang jarang pakai pengaman karena ia tahu kalau Finly memakai kontrasepsi. Saat ia ada di Sidney dan dekat dengan beberapa wanita pun, Jero selalu memakai pengaman. Hanya dengan Giani saja ia tak pernah sekalipun menggunakan karet itu.Tapi bukan berarti dia mandul kan? Giani juga ternyata meminum pil anti hamil.
"Sayang, kau ada di sini?"
Suara itu mengagetkan Jero. Finly sudah berdiri di belakangnya sambil memeluk Jero dengan erat.
"Fin....!" Jero berusaha melepaskan tangan Finly yang memeluk tubuhnya, namun perempuan itu bersikeras menahannya.
"Kangen...!" bisik Finly manja dan menggoda. Ia memutar kursi yang diduduki Jero sehingga keduaya kini berhadapan. Finly berusaha menci Jero namun Jero segera berdiri.
"Kamu kenapa sih?" Finly kesal lalu menampar punggung Jero.
"Aku ke atas saja." Jero menuju ke lantai 2. Di sana memang agak prifat karena tak sembarangan orang bisa duduk di sana. Hanya yang memiliki golden card.
"Dia kenapa?" Tanya Finly pada Frangky.
"Kayaknya Jero kesal karena hasil tes kehamilan Giani negatif."
Finly tersenyum senang. Ia menyusul Jero ke lantai dua. Di lihatnya kalau Jero sedang duduk di salah satu sudut sambil menuangkan minumannya.
"Sayang....!" Finly langsung duduk di samping Jero. "Kau mau punya anak dariku?"
Jero menatap Finly dengan heran. "Kamu bicara apa?"
"Ayo kita buat anak kita sendiri. Aku yakin kalau anak itu akan setampan dirimu."Kata Finly sambil membelai wajah Jero.
"Fin, kita jangan seperti ini dulu. Jika Aldo tahu bagaimana? Aku kan sudah menikah dengan Giani. Aku takut papa dan mama juga akan tahu."
Finly melingkarkan tangannya di lengan Jero. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jero.
"Aku mencintaimu, Jer. Aku akan cerai dari Aldo. Kamu juga harus cerai dari Giani. Kita akan tinggal di Inggris. Aku ingin bahagia hanya denganmu saja."
Jero diam. Kepalannya sakit karena sebenarnya sejak siang ia hanya makan sepotong kue yang dibawa sekretarisnya bersama kopi pesanannya.
Jero memejamkan matanya. Seakan tak memperdulikan Finly yang bersandar di bahunya. Wajah Giani justru seperti menari-nari di pelupuk matanya.
Jero membuka matanya. kenapa aku seperti melihat Giani ya? Apa mungkin dia datang ke tempat ini? Ah, Jero , loe pasti sudah gila.
Tiba-tiba di lantai bawa terdengar suara sang DJ.
"Selamat malam semuanya. Malam ini, aku kedatangan tamu khusus. Temanku, si cantik Giani. Dia mau unjuk kebolehan menjadi DJ malam ini."
Jero menajamkan pendengarannya. Dj itu bilang Giani? Apakah Gianiku? Memangnya Gianiku bisa nge-DJ?
Terdengar lagu diputar.
"Boy's and girl's lets go dance!"
Deg!
Suara itu? Itukan suaranya Giani?
Terdengar teriakan para penggila disko. Lagu yang dimainkan oleh sang dj sungguh liar biasa membakar adrenalin untuk menggerakan tubuh.
Jero bangkit dari tempat duduknya.
"Jer, mau kemana?"
Mata Jero langsung terbelalak. What? Giani ada di atas panggung. Tangannya begitu lincah memegang semua alat-alat yang ada di sana.
Dan tubuhnya bergoyang ke sana kemari mengikuti irama lagu yang dimainkannya.
Giani tersenyum ketika ekor matanya melihat Jero. Lelaki bule itu tak pernah tahu kalau Giani punya mata-mata di club ini. Giani tahu suatu saat akan berguna memiliki kaki tangan di club ini. Salah satu mata-matanya adalah DJ perempuan yang bernama Luna ini. Giani memang sudah belajar tentang DJ dan segala alat-alatnya melalui internet. Ia juga sudah sering mengikuti simulator menjadi DJ. Makanya ketika Luna mengajarinya, hanya butuh 1 jam Giani sudah mengetahuinya. Frangky sendiri tak pernah tahu kalau Luna adalah mata-mata Giani.
"Waw....waw....aku suka DJ baru itu. Kecil, mungil, padat berisi, buatku menjadi gregetan hanya dengan memandangnya saja. Apalagi kalau aku memeluk pinggangnya yang kecil itu." Seorang pria di depan Jero berbicara pada temannya. Jero yang mendengarnya langsung panas. Ia menarik kaos pria itu.
"Hey, bocah, dia itu istriku!" Teriak Jero dengan tatapan tajam.
"DJ baru itu adalah istrimu? Mana mungkin? Dia masih sangat muda. Mana mungkin gadis muda mencintai pria tua sepertimu?"
buk!
Tanpa diduga, Jero melayangkan satu tinjunya pada pria muda itu.
"Jero...!" Teriak Finly histeris. Ia menahan tangan Jero namun cowok itu justru mendorong Finly ke belakang. Finly terjungkal dengan wajah yang menghantam tangga.
Frangky langsung memanggil petugas keamanan dan menyeret Jero dan pria mudah itu ke ruangannya sebelum membuat kekacauan di lantai 1.
"Lepaskan aku Frangky! Akan ku hajar lagi anak bau kencur itu." Jero berusaha lepas dari cengkraman anak buah Frangky yang menahan tangannya.
"Lepaskan aku. Mana mungkin aku takut padamu, bule. Dasar pedofil!" anak muda itu yang ternyata bernama Dodi tak mau kalah ingin menghajar Jero. Jero sudah dua kali memukul wajah dan perutnya sementara dia baru satu kali memukul wajah Jero.
"Diam kalian berdua atau aku cabut member kalian di club ini." Frangky berteriak membuat Jero dan Dodi diam. Finly yang sejak tadi ada disudut ruangan memegang pipinya yang agak memar.
"Panggil istriku, Frangky. Aku tidak suka dia menjadi DJ di atas sana. Dia itu istriku! Giani istriku!" Jero berteriak.
Frangky memerintah anak buahnya untuk memanggil Giani. Tak lama kemudian Giani datang.
"Ada apa? Menganggu kesenangan orang saja." Gerutu Giani saat masuk.
"Cantik, apakah benar bule tua ini adalah suamimu? Tidakkah kau menyesal menikah dengannya? Aku yang lebih cocok denganmu." Kata Dodi membuat Jero berusaha untuk memukulnya namun lagi-lagi anak buah Frangki menahan tubuh Jero.
"Memangnya berapa usiamu?" Tak disangka Giani menanggapi perkataan pria itu.
"21 tahun."
Giani tersenyum. "Sayang ya kita baru ketemu. Coba saja kalau kita bertemu setahun yang lalu. Pasti akan lebih muda menerimamu dari pada menerimanya."
"Giani....!" Jero semakin emosi. Apalagi dilihatnya Dodi tertawa penuh kemenangan.
Giani menatap Jero. "Jangan emosi, kak. Dia kan hanya sekedar mengagumiku saja." Giani mendekat lalu melingkarkan tangannya dilengan Jero. "Hai cowok ganteng, siapa namamu?"
"Dodi."
"Dodi, perkenalkan ini suamiku. Walaupun menurutmu dia bule tua, namun bagiku dia bule tampan. Usia kami memang bedanya 8 tahun 9 bulan tapi bagiku nggak masalah. Dia sangat memuaskanku di ranjang." Giani berkata nakal. Ia seakan tak peduli dengan mata Finly yang melotot kepadanya.
Dodi terlihat kecewa. Sedangkan Jero tersenyum senang. "Kau dengar itu bocah tengik? Dia ini istriku."
"Katakan sekali lagi sayang." kata Giani sambil mencium pipi Jero.
"Dia istriku. Istri yang paling aku sayangi. Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya." Kata Jero lalu menarik tengguk Giani dan langsung mencium istrinya dengan penuh gairah.
"Bubar. Norak loe, Jer!" Frangky mengibaskan tangannya. Ia mendorong Dodi dan anak buahnya untuk pergi meninggalkan ruangannya.
"Kak, pulang ya..." rengek Giani.
"Ya. Kau harus dihukum karena sudah berpakaian terbuka seperti ini. Aku kan sudah pernah bilang Giani, aku sangat posesif dengan apa yang kumiliki."
"Kau mau menghukumku dengan cara apa, kak?" Tanya Giani dengan gaya menantang.
"Aku tak akan membuatmu tidur malam ini." Kata Jero sambil memukul pantat Giani. Gadis itu hanya tertawa.
"Kak, di rumah saja ya." Giani menggandeng tangan Jero.
"Jero....!" Teriak Finly dengan kemarahan yang memuncak.
Giani menatap Finly. "Eh, ada kak Finly di sini."
Jero yang sudah sedikit mabuk hanya tersenyum. "Kami pulang dulu ya?"
"Aku mau bicara denganmu, Jero."Kata Finly dengan suara yang keras.
"Kak, mau bicara dengan kak Finly? Aku pulang duluan ya. Dan jangan harap kakak bisa masuk ke kamarku malam ini." ancam Giani.
"Maaf Finly. Aku harus pulang dengan istriku. Dia istriku dan aku suaminya." Jero langsung menarik tangan Giani meninggalkan ruangan kerja Frangky.
"Awas kau Giani! Aku tak akan membiarkanmu merebut Jeroku. Kau lihat saja nanti!" geram Finly sambil mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata yang menyala.
Apa strategi yang akan Finly lakukan untuk merebut Jero?
Dan bagaimana Joana mengatasi rasa kehilangannya?
Please...like, komen dan vote sebanyak-banyak ya (ngarep...☺☺☺😶)