Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
ada dan Kisah Cintanya (Episode 31)


Setengah jam sebelum kedatangan Alexa...


Oliver sedang membereskan beberapa dokumen yang harus ia tandatangani. Ia berharap akan cepat selesai dan pulang ke rumah. Oliver ingin memanjakan istri tersayangnya yang sedang manja-manjanya karena hamil. Oliver bertekad untuk melakukan apa saja demi menyenangkan istrinya itu.


"Tuan, di lobby ada nona Calina." Kata Kevin saat masuk ke dalam kantor Oliver.


"Calina? Sedang apa dia di sini. Bukankah ia ada di Jakarta."


"Kontraknya dengan perusahaan kita kan hanya 3 bulan. Mungkin perusahaannya hendak mengganti orang lain."


"Lalu, untuk apa dia ke sini?"


"Sepertinya membawa laporan. Apakah tuan ingin aku yang menemuinya saja?"


Oliver menggeleng. Ia tahu kalau Calina susah tak ada pengaruh apapun baginya. Jadi dia mau bertemu dengan mantan cinta pertamanya itu.


"Biarkan dia masuk!"


Tak sampai 5 menit, Calina sudah berada di ruangan Oliver. Ia memang membawa laporan mengenai kerja sama perusahaannya dan perusahaan Oliver.


"Apakah ada orang yang menggantimu di sana?" tanya Oliver selesai Calina menjelaskan detail laporannya.


"Iya. Namanya Jems Owen."


"Kenapa kamu kembali lagi ke sini?"


"Ibuku sakit. Kau tahu kan kalau semua kakak-kakakku tak memperdulikan ibuku."


"Iya. Tapi bagaimana jika pria itu...."


"Polisi sudah mengeluarkan surat perintah agar ia menjauhi ku dan anakku. Ia bisa datang menjumpai anak kami setiap 2 Minggu sekali itupun di kantor perlindungan anak."


"Baguslah. Semoga dengan jalan ini, ia akan sadar. Oh ya, mungkin sebaiknya kamu mencari pasangan Calina. Jika kamu terus sendiri, maka ia akan punya kesempatan untuk menganggu kamu terus."


Calina tertunduk dengan wajah sedih. "Aku belum mau memikirkan hal semacam itu sekarang. Karena tujuanku adalah membesarkan anakku dulu."


"Itu pilihanmu."


Calina berdiri. "Aku pulang dulu. Selamat ya atas pernikahanmu. Selamat juga, aku dengar kalau Alexa hamil. Pasti sangat menyenangkan saat tahu kalau Alexa hamil."


"Iya. Jantungku sampai berdetak dua kali saat melihat alat tes kehamilannya bergaris dua."


Calina tersenyum. Ia menatap Oliver dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Boleh aku memelukmu? Aku hanya ingin mengenang perpisahan kita kali ini dengan manis. Tak seperti waktu dulu."


Oliver mengangguk. Ia merentangkan tangannya dan Calina pun memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku, Oliver. Maafkan aku untuk semua luka yang pernah ku torehkan padamu di masa lalu. Andai saja waktu dapat diulang, aku tak akan pernah meninggalkan mu."


"Sudahlah, Calina. Kita sudah memilih jalan kita sendiri-sendiri. Aku hanya berharap kau menemukan seseorang yang akan membuatmu bahagia seperti juga aku dan Alexa."


Calina mengangguk dalam dekapan Oliver. Ia tahu kalau semuanya sudah terlambat.


Pintu ruangan Oliver tiba-tiba saja terbuka.


Sayang?" Oliver terkejut melihat Alexa. Pelukan mereka pun terurai.


Alexa menatap Oliver dengan tatapan dingin. "Maaf menganggu!" katanya lalu keluar sambil membanting pintunya.


"Alexa, tunggu!" Oliver mengejar Alexa namun terlambat. Istrinya itu sudah lebih dulu masuk ke dalam lift dan Oliver terlambat menyusulnya.


"Ah...!" Oliver mengeram dengan wajah kesal. Lift menuju ke ruangannya ini memang hanya satu jadi Oliver harus menunggu. Dengan cepat ia membuka pintu darurat untuk lewat tangga. Ia berlari secepat mungkin namun saat tiba di lobby, Alexa sudah tak ada. Oliver ingin menelepon namun ponselnya ketinggalan di meja kerjanya.


"Minta Kevin membawakan ponselku sekarang juga." Kata Oliver pada resepsionis. Ia kemudian menatap petugas keamanan yang berdiri di sana. "Apakah kau melihat istriku?"


"Nyonya baru saja pergi dengan sopir yang bernama Gordon, tuan."


Kevin datang bersama Calina. Ia langsung menyerahkan ponsel Oliver.


Ia menghubungi ponsel Alexa namun tak diangkatnya. "Kevin, hubungi Gordon."


"Baik, tuan." Kevin menghubungi Gordon dari ponselnya. "Gordon, tuan ingin bicara."


Kevin menyerahkan ponselnya pada Oliver. "Hallo Gordon, kemana kau membawa istriku?"


"Nyonya baru saja turun di salah mall, tuan. Dia meminta saya untuk tak menunggunya karena ia ingin jalan-jalan katanya."


"Mall apa?"


Gordon menyebutkan salah satu mall yang terkenal di Madrid. Oliver mengangguk sambil menyerahkan kembali ponsel Kevin. Ia tahu mall itu tak jauh dari sini.


"Oliver, maafkan aku. Aku bisa menemanimu untuk menjelaskan pada Alexa." Kata Calina.


"Terima kasih, Calina. Aku ingin agar istriku percaya padaku tanpa harus mendengarkan orang lain. Kevin, mana kunci mobilku. Aku akan pergi sendiri." Oliver segera melangkah menuju ke tempat parkir mobilnya yang memang ada di depan lobby. Ia segera menuju ke mall yang disebutkan oleh Gordon.


********


Alexa menghapus air matanya dengan kasar. Ia tak mau menangis lagi dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di mall ini. Makanya Alexa langsung menuju ke toilet. Ia memperbaiki dandannya sebentar. Untunglah ia tak memakai maskara. Tadi selesai mandi, Alexa hanya menggunakan cream khusus wajah dan memberikan sedikit lipstick pada bibirnya. Alexa memang sedang malas berdandan sejak ia hamil.


Kenapa juga mereka berpelukan di dalam ruangan kerja Oliver? Aku sudah tertipu dengan kebaikan Calina waktu itu. Dasar pelakor! Oliver juga genit. Aku ingin sekali pulang ke Jakarta. Jadi kangen ingin ketemu pak guru Paul. Ingin rasanya memeluk pak guru Paul. Biarkan saja Oliver nggak suka dengan pak guru Paul.


Alexa menyelesaikan dandanannya. Ia segera keluar dari toilet dan mencoba menghibur dirinya dengan masuk ke salah satu butik. Alexa ingin shoping hari ini dan menghabiskan uang Oliver. Ia punya gold card nya Oliver yang pria itu berikan sehari setelah mereka menikah.


Setelah puas membeli beberapa baju dengan harga selangit, Alexa menuju ke toko sepatu. Ia sengaja masuk ke toko dengan merk ternama. Ia pun memilih beberapa sepatu dengan harga yang paling mahal. Setelah itu Alexa ke toko tas wanita. Ia juga memberi beberapa dompet dan tas di sana. Akhirnya, ia merasa kesusahan dengan banyaknya paper bag yang harus ia bawa. Alexa mampir di sebuah tempat makan. Ia memesan es coklat dan beberapa kue.


"Sayang, kau sudah selesai belanja?"


Alexa hampir berteriak saat Oliver tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Perempuan itu langsung memasang wajah kesalnya. Ia memalingkan wajah. Jadi malas harus bertatapan dengan wajah bule sok tampan di depannya.


"Aku bawakan belanjaannya ya? Ini terlalu berat untuk kau angkat." Ujar Oliver saat melihat kalau Alexa mulai bersiap-siap akan pergi.


Alexa membiarkan semua tas belanjaannya yang jumlahnya bahkan Alexa lupa, diangkat oleh Oliver. Alexa melangkah lebih dulu membiarkan Oliver yang sedikit kerepotan membawa belanjaannya.


Setelah Oliver memasukan semuanya ke dalam bagasi, Oliver langsung membukakan pintu mobil bagi istrinya.


"Masuk, sayang!"


"Aku pulang naik taxi saja." Ujar Alexa dan mulai melangkah. Oliver dengan cepat menahan tangan istrinya.


"Eca, aku mengerti kalau kamu sekarang marah padaku. Tapi aku mohon, jangan pulang naik taxi. Kasihan bayinya nanti. Bagaimana kalau sopir taxi nya ugal-ugalan? Please, get in the car."


Alexa teringat dengan kondisinya yang sedang hamil. Ucapan Oliver ada benarnya juga. Ia kemudian menarik tangannya yang di pegang oleh Oliver kemudian masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan kembali ke mansion keluarga Pregonas, Alexa nampak cemberut. Ia tak menanggapi apapun yang diucapkan oleh Oliver. Begitu juga saat mereka Sudah sampai. Alexa dengan cepat membuka pintu mobil sebelum Oliver membukanya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah masih dengan wajah yang cemberut. Ia bahkan tak melihat mertuanya yang sedang duduk di ruang keluarganya. Langkahnya terlihat agak tergesa-gesa menaiki tangga membuat Elvira hampir jantungan karena mengingat kondisi menantunya yang hamil.


Oliver masuk sambil membawa semua belanjaan Alexa.


"Sayang, kenapa dengan Alexa? Kok wajahnya cemberut? Pada hal kalian baru habis belanja kan?" Tanya Elvira sambil matanya menatap satu persatu tas belanjaan yang ada ditangan kanan dan tangan kiri Oliver.


"Nggak tahu kenapa dengan Alexa."


"Mungkinkah ada sesuatu yang ingin dia beli lalu kamu melarangnya? Jadi suami jangan pelit, ya? Daddy mu tak pernah melarang apapun yang akan mommy ingin beli"


"Bukan, mom. Aku bahkan sudah memberikan gold card ku yang unlimited pada Alexa."


Elvira tersenyum. "Hormon ibu hamil memang suka berubah-ubah. Jadi kamu harus sabar ya, nak?"


Kepala Oliver mengangguk dan segera ke lantai dua menyusul istrinya. Saat ia membuka pintu kamar, Alexa terlihat baru ganti pakaian. Setelah itu ia naik ke atas tempat tidur dan menutup matanya.


"Sayang, aku nggak mau kamu salah mengerti dengan kedatangan Calina. Aku...." Oliver menceritakan tentang awal kedatangan Calina sampai bagaimana mereka bisa berpelukan. "Bukankah itu hal yang biasa? Memeluk hanya sekedar memberikan kekuatan. Aku nggak ada maksud apa-apa padanya. Sumpah demi apapun perasaanku padanya sudah nggak ada, sayang. Aku hanya mencintai kamu!"


Alexa tetap tak bergeming. Ia tidur membelakangi Oliver.


"Sayang.....!" Oliver naik ke atas tempat tidur setelah melepaskan kaos kaki dan sepatunya. Ia membalikan tubuh Alexa agar berhadapan dengannya. Mata Alexa sudah basah. Ternyata diam-diam dia menangis.


"Maafkan aku jika aku menyakitimu. Aku tak mau kamu bersedih. Oh Tuhan, aku sungguh bodoh membuatmu seperti ini." Oliver langsung memeluk Alexa. Untunglah tak ada penolakan dari istrinya itu. Hormon kehamilan Alexa telah membuatnya luruh. Alexa saat ini ingin dipeluk oleh Oliver. Ia sebenarnya percaya dengan apa yang Oliver katakan. Ia percaya kalau Oliver tak akan mengkhianatinya dengan Calina. Hanya saja ia tak rela Oliver memeluk mantannya itu.


"Jangan peluk Calina lagi. Aku bisa gila. Kamu hanya milikku, baik hati dan tubuhmu. Aku tak mau melihatmu menyentuh perempuan lain walaupun itu hanya sekedar pelukan perpisahan." Isak Alexa dalam pelukan Oliver.


"Iya sayang. Aku janji." Oliver menarik napas lega. Ia mencium puncak kepala istrinya sambil mengusap punggung polos Alexa yang hanya mengenakan gaun tidur bertali spageti.


Perlahan Alexa mendongakkan kepalanya. Tatapan mereka bertemu.Dan tanpa pernah Oliver duga, Alexa mencium bibirnya dengan penuh gairah. Mata Oliver membulat. Sejak tahu Alexa hamil, ia tak pernah menyentuh istrinya itu. Bukannya Oliver tak berhasrat, namun setiap kali ia ingin mengajak Alexa bermesraan, istrinya itu sudah tertidur, atau kelihatan lemah dan pucat. Oliver takut menyakitinya. Namun kali ini, Alexa sendiri yang menggodanya. Mana bisa Oliver menolak? Apalagi Alexa terlihat begitu bersemangat kali ini. Makanya tanpa menunggu lagi, Oliver membalas ciuman istrinya itu. 3 minggu tanpa sentuhan? Sebenarnya Pajaro hampir frustasi.


Saat Oliver sudah pada posisi siap dengan gairah yang sudah tak terbendung lagi, Alexa tiba-tiba mendorong tubuh Oliver.


"Ada apa sayang?" tanya Oliver dengan suara serak menahan hasratnya yang menggebu.


"Mandi! Bersihkan dirimu dari bekas pelukan Calina." kata Alexa sedikit ketus.


"Sayang, aku akan membuka bajuku supaya..."


"Mandi, atau tidak ada pajaro dan jaula."


Oliver sedikit kesal turun dari tempat tidur. Ia harus belajar bersabar dengan hormon kehamilan Alexa yang moodnya kadang naik turun. Ia pun masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Saat keluar dari kamar mandi, Oliver terkejut melihat Alexa sudah dalam keadaan polos, berbaring di atas ranjang sambil tersenyum dengan gaya menggoda padanya.


"Sayang, kau sungguh tak terduga!" Kata Oliver sambil melemparkan handuk yang melilit tubuhnya.


"Jaula....., Pajaro datang!" serunya dan langsung naik ke atas ranjang.


*********


Setelah usia kandungan Alexa genap 3 bulan, mereka pun kembali ke Indonesia. Alexa ingin melahirkan di Indonesia. Makanya dengan berat hati Elvira melepaskan menantu dan anaknya itu pulang.


Dan sepanjang perjalanan dari Madrid ke Indonesia, Alexa mengalami mual dan muntah yang cukup banyak. Ia merasa aneh, karena naik pesawat membuatnya mengalami mabuk perjalanan. Untunglah Oliver dengan sabar mendampingi istrinya itu. Alexa benar-benar merasa dimanjakan.


Sampai di Jakarta, mereka langsung menuju ke rumah baru Oliver yang sudah selesai dibangun. Kedatangan mereka sekaligus dengan acara syukur menempati rumah baru yang sudah dipersiapkan oleh ke-3 wanita kesayangan Alexa.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Oliver saat melihat Alexa duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang terlihat sedih.


"Oliver, entah kenapa aku ingin bertemu dengan pak guru Paul. Aku ingin sekali ngobrol dengan dia. Kamu mau kan mengantarkan aku ke sekolah tempat pak guru Paul mengajar?"


"What?"


"Please...., ini keinginan si jabang bayi. Aku juga tak tahu kenapa. Boleh ya?" mohon Alexa dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, apa nggak ada keinginan lain?"


"Kamu nggak mau mengantar? Ya sudah, aku pergi sendiri!" Alexa langsung bangun. Ia meraih kunci mobil yang digantung di tempat kunci. Lalu tanpa menoleh ke arah Oliver, Alexa segera menuju ke garasi.


Pak guru Paul....., aku membencimu! Seru Oliver dalam hati.