
Hai, aku mau curhat sedikit mengenai episode yang lalu, karena ada beberapa komentar yang miring. Walaupun yang lebih banyak adalah komentar baik πππ
Maaf ya, aku bukannya membuat si jahat menang. Aku mau mengajak pembaca mengerti bahwa di dunia nyata, orang seperti Finly memang ada. Pekerjaanku sebagai seorang konselor, membuatku banyak berhadapan dengan orang seperti ini. Juga, realita sekarang ini menunjukan bahwa hampir 80% kasus yang aku tangani, semuanya tentang perselingkuhan, orang ketiga, dan kasus2 yang mirip seperti itu.
Dengan adanya orang seperti Finly, kita harus berhati-hati. Aku bukannya membuat tokoh Jero menjadi bodoh. Dia kan berada di apartemen itu juga karena Giani yang memintanya. Memangnya salah meminum kopi yang Finly buatkan? Dari awal cerita aku kan sudah gambarkan kalau Jero seorang pria yang suka dengan kopi. Bukan salah Jero pula jika diminuman itu Finly campurkan sesuatu. Jero itu niatnya hanya menolong Finly. Ingat ya, sudah beberapa part aku memberikan gambaran bahwa tokoh Jero sudah bertobat. Dan jalan untuk pertobatan itu kadang tak mudah. Cerita ini juga nggak bertele-tele. Aku kan sudah pernah bilang, Jero akan menerima karmanya karena pernah menyakiti Aldo dengan berselingkuh dengan Finly. Namun setelah mendapatkan karmanya, apakah Jero tak bisa mendapatkan kebahagiaannya kembali?
Giani bukan gadis yang mudah luluh. Kasihnya pada kak Aldo tak akan mampu dikalahkan oleh sejuta pesona Jero. Jadi Jero harus berjuang untuk memenangkan Giani. Bagaimana perjuangan Jero? Di sinilah puncak konflik novel ini berada. Karena perjuangan Jero bukan hanya sekedar untuk mendapatkan cinta Giani namun akan mengubah pribadi Jero menjadi manusia yang memiliki moral yang baik. Maaf jika jalan ceritanya tak seperti yang kalian inginkan.
***********
"Apa yang terjadi antara kita, Finly?" Tanya Jero setelah ia mengenakan lagi pakaiannya.
Finly tersenyum. "Ya, seperti yang kau lihat. Kita bercinta semalaman."
"Aku tak percaya!" teriak Jero, sedikit frustasi.
Finly turun dari tempat tidur. Ia mendekati Jero yang duduk di atas sofa. Namun saat melihat Finly mendekat, Jero justru menjauh.
"Apa yang terjadi semalam merupakan bukti bahwa kau masih menginginkanku!" Kata Finly.
"No! It's not true! Kenapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali? Yang aku tahu kalau semalam aku minum kopi yang kau buatkan. Setelah itu, aku merasa mengantuk!" Jeronimo tersentak kaget. Seolah ia baru menyadari sesuatu. "Kau menaruh obat tidur dalam kopi yang kuminum?"
"Mana mungkin?" Finly menggeleng. "Kau yang merayuku, Jero. Kau bahkan sedikit memaksa saat memintaku untuk bercinta denganmu."
"Tidak! Aku tidak mempercayainya." Jero menatap Finly dengan tajam. "I hate you!" Ujarnya dan segera keluar dari kamar. Mereka berada di kamar tamu yang ada di lantai bawa. Jero segera mencari kunci mobilnya. Setelah menemukannya, ia segera pergi. Tak peduli dengan suara Finly yang memanggilnya.
"Sial....! Sial....! " Jero mengumpat sambil memukul stir mobilnya dengan keras. Aku tak mungkin tidur dengannya? Mengapa aku tak ingat sama sekali?
Ponsel Jero berbunyi. Ternyata itu dari Giani. Hati Jero merasa berat untuk menerimanya, namun akhirnya ia pun mengangkatnya.
"Hallo, Gi!" Sapa jero berusaha menetralkan napasnya yang sesak.
"Apakah terjadi sesuatu?"
Deg! Bagaimana Giani bisa tahu?
"Maksudnya?" Jero berusaha mengendalikan dirinya.
"Aku sedang minum teh. Dan gelas yang kupegang tiba-tiba saja jatuh. Aku jadi takut. Perasaanku tiba-tiba saja nggak enak. Aku jadi kepikiran mama Sinta."
Apakah Giani merasakan apa yang terjadi? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
"Sayang, mama Sinta baik-baik saja kan? Atau terjadi sesuatu dengan kak Finly?"
"Tidak. Semua di sini baik-baik saja."
"Baguslah."
"Gi, berapa lama kau akan di Bali?"
"Mungkin satu minggu. Temanmu mengerjakan semuanya dengan sangat cepat. Aku kaget saat datang pagi ini, atapnya sudah diganti, dindingnya sudah dicat."
"Gi, sore ini setelah selesai rapat, aku akan ke Bali menyusulmu."
"Kenapa? Takut masa suburku terlewati? Aku sudah menghitungnya. Masa suburku akan dimulai saat aku pulang ke Jakarta."
"Aku ingin bicara denganmu."
"Terjadi sesuatu kan?"
"Tunggu aku di sana ya. Bye." Jero mematikan sambungan telepon. Ia sudah bertekad untuk jujur pada Giani. Ia tak mau ada dusta ataupun rahasia diantara mereka.
**********
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Giani membuka pintu kamar tempatnya menginap. Ia terkejut melihat Jero.
"Katanya nanti sore. Jadi aku pikir kamu tibanya malam. Sekarangkan baru jam 4 sore."
Jero tak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu dibelakangnya, lalu menarik tubuh Giani dan memeluknya erat.
"Ada apa?" Tanya Giani sambil mengusap punggung Jero. Ia bingung dengan perubahan sikap Jero.
"Aku bingung, Gi. Aku tak tahu apakah aku sudah berbuat kesalahan atau tidak."
"Duduk dulu!" Kata Giani sambil melepaskan pelukannya. Ia menarik tangan Jero untuk duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar itu.
Giani mengambil air putih untuk Jero."Minum dulu. Setelah itu baru kita bercerita."
Jero melakukan apa yang Giani katakan. Ia merasa tenang saat melihat wajah Giani, namun agak gugup jika membayangkan apa yang akan diceritakannya.
Setelah Jero selesai minum, Giani mengambil tangan Jero, menggenggamnya erat. "Ceritakan!"
"Setelah Finly makan, aku menerima panggilan videocall darimu. Saat kita sudah selesai berdoa, aku masuk lagi ke dalam. Finly menyiapkan kopi. Aku meminumnya. Aku hanya merasa mengantuk. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Pagi ini, aku bangun dengan tubuh tanpa pakaian, sedang berpelukan bersama Finly." Jero terlihat kacau.
Giani dan Jero saling bertatapan. Ahak lama. Sampai akhirnya Jero mendesah frustasi. "Aku berani sumpah, Gi. Demi hidup mama Sinta. Aku tak mengingat apapaun kalau aku pernah tidur dengannya. Aku tak mungkin mengingkari semua yang pernah kujanjikan padamu. Aku sungguh-sungguh ingin mengahiri semua hubunganku dengan Finly. Aku..."
"Aku percaya!" Giani memotong kalimat Jero.
"Apa?" Jero tak mengerti. Ia semakin erat memegang tangan Giani. Ada rasa ketakutan saat memikirkan kalau Giani tak menginginkan dia lagi.
"Aku percaya kalau kak Finly menjebakmu dengan obat tidur. Aku percaya kalau kalian tidak bercinta. Aku percaya kalau kau tidak mengingkari apa yang pernah kau janjikan padaku!"
Jantung Jero seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Giani. Dengan cepat ia segera memeluk Giani dengan tangis yang tiba-tiba saja pecah. Hatinya lega, senang, terharu, bercampur aduk sehingga ia tak bisa menahan air matanya. Jero, pria yang pendiam, cuek dan sangat menjunjung tinggi harga dirinya, tiba-tiba menjadi pria cengeng dan tak berdaya saat berada di dekat Giani.
"Terima kasih, Gi. Terima kasih karena kau mempercayaiku."
Pelukan mereka terurai. Giani menghapus air mata Jero. "Sudah makan?"
"Aku belum makan apa-apa sejak pagi."
"Mandilah, setelah itu kita akan keluar untuk makan bersama."
Jero mengangguk. Ia pun segera berdiri, membuka pakaiannya. Dengan hanya menggunakan boxer, ia berjalan ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, keduanya sudah berada di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari hotel. Keduanya hanya berjalan kaki.
Saat tiba di restoran, sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Giani mengajak Jero duduk berdekatan dengannya. Kemudian Giani membaringkan kepalanya di bahu Jero. "Sayang, aku ambil gambar kita berdua!" Kata Giani sambil menyerahkan ponselnya pada Jero. Keduanya berfoto berdua dengan beberapa pose mesra. Giani pun memuat foto itu diakun instagram dan facebooknya.
NGGAK TAHAN SEHARI SAJA JAUH DARIKU
MAS BULE NYUSUL KE BALI.
JADI DEH MAKAN SORE ROMANTISππ
Giani menulis semua itu sambil tersenyum. Tak sampai 2 menit, sudah banyak komentar yang muncul.
Di apartemennya, Finly langsung melempar ponselnya saat melihat unggahan Giani. Hatinya sesak. Tak terima kenyataan kalau Jero justru langsung ke Bali untuk menemui Giani. Usahanya agar Giani menjauh sehingga semua rencananya boleh berjalan mulus, kini kandas sudah.
Finly mengambil minuman beralkohol dari dalam lemari penyimpanan. Ia mengambil es batu, meletakannya dalam gelas lalu menuangkan minuman itu ke dalam gelas. Ia meneguknya sampai habis. Ia kemudian menuangkannya lagi dan menghabiskannya lagi.
Hatinya sakit membayangkan hari-hari bahagia yang selama ini dilaluinya bersama Jero. Kehadiran Giani telah membuat Jero jauh darinya.
"Aku akan membunuhmu, Giani. Aku akan merusak wajah sok polosmu, itu! Ah....!" Finly berteriak sambil melemparkan gelas yang ada ditangannya. Ia sungguh tak mau berpisah dengan Jero.
************
Di atas ranjang, Jero sudah tertidur dengan sangat nyenyak. Giani yang tadinya memeluk Jero, perlahan melepaskan diri dari pelukan Jero. Ia mengambil ponselnya dan berjalan ke arah balkon kamar. Ia ingin menghubungi Joana.
"Hei, apakah aku sudah membangunkan tidurmu?" Tanya Giani saat mendengar suara berat Joana dari seberang sana.
"Tentulah. Ini kan sudah hampir jam 12 malam. Ada apa? Terjadi sesuatu di Bali?"
Giani menceritakan tentang kejadian yang menimpah Jero saat menjaga Finly di apartemennya.
"Apa kamu yakin kalau Jero mengatakan yang benar?" Tanya Joana.
"Aku awalnya merasa tak percaya. Bagaimanapun mereka dulu pernah sangat intim. Namun saat ku tatap matanya, hatiku berkata kalau Jero tak bohong. Aku percaya kalau dia mengatakan yang sebenarnya. Ini sepertinya jebakan Finly untuk membuat Jero dekat dengannya lagi."
"Gi, kalau hatimu begitu percaya padanya, apakah kau tak merasa kalau kau sudah jatuh cinta padanya?"
"Tidak, Jo. Aku selalu membentengi diriku dengan tidak akan hadir cinta diantara kami. Aku hanya ingin menyelesaikan satu bulan ini, setelahnya, aku akan pergi. Aku tak ingin lagi dalam ikatan ini."
"Ya sudahlah. kalau kamu memang percaya, aku juga yakin kalau Finly melakukan banyak cara agar bisa mendapatkan Jero lagi. Hati-hati, Gi. Finly pasti akan menyerangmu jika ia tak berhasil dengan rencananya pada, Jero."
"Aku akan siap menghadapi nenek lampir itu!"
Joana tertawa. "Kau sudah bisa bicara kasar ya sekarang."
Giani pun ikut tertawa. Setelah itu ia mengahiri percakapan mereka dan kembali masuk ke dalam kamar. Di tatapnya wajah tampan sang bule yang terlihat tenang. Giani ingin menyentuh wajah Jero namun ia menahan dirinya. Ia tak boleh terbawa perasaan dan membiarkan dirinya hanyut dalam pesona Jero.
Saat Giani akan ke kamar mandi, ia tiba -tiba mendengar Jero mengigau dalam tidurnya.
"Jangan pergi, Gi! Jangan tinggalin aku. Aku mencintaimu!" Kata Jero sambil memeluk guling yang ada di sampingnya.
Deg!
Jantung Giani berdetak sangat cepat mendengar perkataan itu. Benarkah Jeronimo mencintainya??
What next????