
"Papi....! Papi....!" terdengar suara Alexa yang mengetuk pintu kamar.
Juan yang hampir saja menyatukan dirinya dengan Wulan sedikit mengeram kesal. Ia bangun dengan cepat lalu mengenakan pakaiannya. Begitu juga dengan Wulan.
Perlahan Juan membuka pintu kamarnya setelah memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
"Eca?"
"Kata Felicia, dia melihat bibi Wulan masuk ke kamar papi sambil digendong oleh papi. Apa benar? Bibi Wulan tak jadi menikah?"
Sebelum Juan menjawab, Wulan sudah muncul di belakang Juan sambil tersenyum. "Hallo Eca..!"
Alexa langsung menubruk Wulan dan memeluknya erat. "Terima kasih, bibi Wulan. Terima kasih mau kembali ke sini. Jangan pergi lagi ya?"
"Iya sayang!" Jawab Wulan sambil membelai kepala Alexa dengan sangat lembut.
"Sekarang, ayo kita temui Felicia di kamarnya. Dia pasti senang kalau bibi sudah datang." Alexa menarik tangan Wulan.
Wulan menatap Juan."Tuan, saya ke kamar nona Felicia dulu ya.." Wulan segera pergi ke luar bersama Alexa. Juan mengacak rambutnya kacau. Ia segera menelepon sekretarisnya. "Siapkan pernikahan antara aku dan nona Wulan untuk 3 hari ke depan."
********
Wulan sangat senang ketika ibu dan adiknya boleh ada bersama dengan mereka. Juan sebenarnya menginginkan agar calon ibu mertuanya boleh tinggal bersama mereka. Namun ibu Wulan lebih memilih tinggal di panti asuhan dan membantu saudaranya mengurus panti itu.
Pernikahan Wulan Juan terpaksa ditunda selama seminggu karena Giani dan Joana ingin mempersiapkannya secara istimewa. Ini memang pernikahan ketiga bagi Juan namun yang pertama bagi Wulan. Walaupun Wulan inginnya sederhana namun Joana dan Giani mau semua nampak istimewa.
Hari ini, Juan mengajak Wulan ke makam Finly. Semalam, Alexa menunjukan surat peninggalan mamanya.
"Mba, aku tak tahu kriteria apa yang mba lihat dari diriku sehingga aku mba anggap cocok untuk menggantikan mba. Aku janji mba, akan mencintai mas Juan dan anak-anak dengan segenap hatiku. Aku nggak akan membeda-bedakan mereka. Alexa dan Felicia juga sudah mencuri hatiku sejak pertama bertemu mereka." Kata Wulan sambil membersihkan pusara Finly.
"Sayang, terima kasih sudah menyiapkan Wulan untukku. Kau memang wanita hebat karena mau memikirkan siapa yang akan menjadi jodohku kelak. Doakan agar kami bahagia ya? Sebagaimana engkau yakin dan memilih Wulan, aku juga sangat yakin untuk melangkah bersamanya." Juan menggenggam tangan Wulan. Keduanya saling bertatapan sambil tersenyum.
Tak jauh dari situ, si penjaga kubur tersenyum melihat Wulan dan Juan. "Mereka sangat serasi ya? Kelihatannya bahagia."
Seseorang yang berdiri di sampingnya, berpakaian putih dengan wajah yang berseri tersenyum juga. "Aku bahagia. Sangat bahagia."
"Kau tak akan pernah ke sini lagi?"
Perempuan itu tersenyum. "Tidak. Karena sekarang aku sangat tenang. Saatnya bagiku untuk pergi." Ia menoleh kembali ke arah Juan dan Wulan. Lalu ia menatap ke arah langit. Perlahan tubuhnya menghilang membuat si penjaga kubur hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Juan dan Wulan kembali ke mobil mereka. Saat keduanya sudah duduk, Juan meraih tangan Wulan dan menciumnya perlahan.
"Wulan, kau sungguh mau menghabiskan hidupmu bersamaku kan? Usia kita jaraknya 14 tahun, lho."
"Di mataku, kita terlihat sama, mas. Nggak ada bedanya. Kau tidak terlihat lebih tua dariku. Aku bangga dipersunting olehmu."
"Aku tak sabar menunggu besok."
"Aku juga, mas."
"Selesai pesta, kita langsung ke hotel ya? Aku nggak mau diganggu oleh apapun juga. Kali ini aku harus berhasil bercinta denganmu."
"Mas Juan...! Mesum banget pikirannya." Wulan mencubit lengan Juan.
"Memangnya kamu nggak menginginkan malam pertama kita?"
Wajah Wulan memerah. "Ingin si mas. Hanya saja sedikit takut. Ini kan yang pertama untukku."
"Kamu masih perawan?"
"Iya dong mas. Aku masih perawan."
"Untung saja waktu itu kita nggak jadi bercinta ya? Pasti akan lebih nikmat mendapatkan mu di saat kita sudah resmi."
"Mas sih, setiap ketemu selalu main sosor aja."
"Habis, kamu itu menggiurkan sih. Setiap dekat kamu inginnya memeluk dan mencium mu. Lagian kamu sendiri kan nggak pernah menolak ku."
Wajah Wulan semakin merah. Ia kembali mencubit perut Juan. "Ayo kita pergi, mas."
Juan mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.
********
Acara pemberkatan nikah dan pesta kecil namun sangat meriah yang digelar di belakang rumah Juan sudah selesai. Yang datang hanyalah keluarga Finly, keluarga Aldo dan keluarga inti Juan. Ada juga petinggi perusahaan yang hadir. Semua mengakui kalau Wulan dan Juan sangat serasi.
Selesai semua acara, Juan dan Wulan segera pamit untuk pergi ke hotel.
Di sinilah mereka berdua berada. Sebuah kamar termewah di hotel milik Jero yang diberikan khusus oleh Jero selama 2 hari untuk pasangan pengantin baru itu.
Wulan sudah sangat gugup dengan gaun tidur super tipis yang disiapkan Joana untuknya. Tak ada baju lain di lemari hotel ini.
Juan yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum melihat istrinya itu.
"Ada apa, sayang?" Tanya Juan sambil melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Wulan langsung memalingkan wajahnya melihat betapa sempurnanya tubuh suaminya itu.
Juan yang hanya menggunakan boxer berjalan mendekati Wulan. Ia berlutut di depan istrinya itu sehingga tinggi mereka menjadi sejajar.
"Kau gugup?" tanya Juan sambil membelai wajah Wulan dengan punggung tangannya.
"Kita bisa memulainya sekarang?" Tanya Juan.
"Ya."
Juan tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dengan cepat ia bangun lalu membawa tubuh Wulan ke tengah-tengah ranjang dan mulai mencumbunya.
Wulan pasrah dalam dekapan suaminya. Ia kini tak takut untuk melakukannya karena mereka sudah resmi menikah.
Saat Juan akan memasukan juniornya, Wulan tiba-tiba bangun.
"Ada apa, sayang?"
"Pasti sakit sekali kan? Anu....punyamu be...besar.."
"Sayang, mungkin awalnya memang agak sakit namun semuanya akan menjadi hal yang biasa. Aku janji akan sangat lembut."
"Ta....pi..."
"Please...aku sudah menahan ini sekian waktu lamanya." Juan mulai frustasi.
Wulan tidur lagi. Ia menarik napas panjang. "Ba...baiklah. Aku siap....!"
Juan kembali mencium istrinya. Ia ingin Wulan merasa tenang kembali. Sampai akhirnya secara perlahan dinding kesucian Wulan dimasuki olehnya. Perempuan itu merintih kesakitan. Ia bahkan mencakar punggung Juan. Air matanya mengalir. Sampai akhirnya semua berjalan secara pelan dan lembut.
Wulan bisa tersenyum dalam dekapan suaminya. Ia sudah merasakan indahnya sorga dunia. Ia tak menyesal menikah dengan duda beranak 2. Wulan mencintai Juan dan anak-anaknya.
**********
2 bulan kemudian....
"Mel, kok belum bangun? Ini sudah hampir jam 8, lho. Nggak mau sarapan bareng?" Tanya Jero sambil membelai wajah istrinya.
"Rasanya malas, bee. Aku agak pusing." Jawab Giani tanpa membuka matanya.
"Apa mungkin tekanan darahmu rendah? Kita ke dokter, yuk!"
"Nggak, ah. Aku hanya mau bobo saja. Tolong temani anak-anak sarapan ya? Si kembar di mana?"
"Masih main bola di lapangan depan. Kalau Joselin masih berenang dengan pengasuhnya."
Giani hanya mengangguk. Ia terus memejamkan matanya sampai akhirnya ponselnya berbunyi. Giani meminta Jero untuk menekan tombol speaker saat Jero mengatakan kalau itu dari Joana.
"Hallo, Jo. Apa kabar?"
"Kamu masih tidur ya? Kok suaranya serak begitu."
"Iya nih. Badanku kurang enak rasanya. Mual dan agak pusing aku pagi ini."
"Wah, jangan-jangan kamu kayak Wulan. Wulan sekarang sedang hamil. Dia juga mual dan muntah sepanjang hari. Aku jadi kasihan melihatnya."
"Wulan hamil? Wah, senang sekali mendengarnya."
"Makanya, kamu periksa aja deh. Siapa tahu beneran hamil. Nanti aku telp lagi ya. Selamat beristirahat."
Giani menatap suaminya saat Joana sudah menutup sambungan teleponnya. "Bee, apa iya aku hamil? Perasaan baru bulan lalu aku berhenti minun pil KB ku."
"Sayang, awalnya memang palo agak susah menghamili mu, namun semenjak si kembar lahir, prosesnya semakin cepat aja. Aku beli testpack ya?"
Jero langsung meninggalkan kamar. Tak sampai 20 menit ia sudah kembali dengan testpack ditangannya.
"Ayo dites, sayang!"
Giani menurut. Ia segera masuk ke kamar mandi sambil membawa testpack itu.
7 menit kemudian....
"Bagaimana?" Tanya Jero saat Giani keluar dari kamar mandi.
"Aku hamil!" seru Giani sambil menunjukan 2 garis yang muncul di testpack itu.
"Ah, sayang..., aku bahagia. Kita akan punya anak lagi." Seru Jero sambil memeluk Giani.
Giani pun tenggelam dalam dekapan suaminya. Ia memang sangat bahagia bisa hamil lagi. Jero begitu ingin menambah momongan dan Tuhan sudah mengabulkannya.
*********
Wulan melahirkan seorang anak laki-laki tampan. Juan menamakannya Fiero Arjuna Fernandez. Kehadiran Fiero membuat kebahagiaan Juan dan Wulan semakin bertambah.
Sedangkan Giani melahirkan anak keempatnya 2 minggu kemudian. Giani dikaruniai anak perempuan. Jero sangat senang karena anak bungsunya ini sangat mirip dengannya. Jero menamainya Stevany Abelia Dawson.
So guys....
2 episode lagi si Jero dan Giani akan tamat. Aku akan rilis kisah si kembar.
Terima kasih ya atas doa dan dukungannya di saat aku mengalami dukacita dan sakit. Membaca semua komentar kalian sangat memberikan aku kekuatan untuk melewati pergumulan hidup ini.