Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Semakin Mesra


2 hari menghabiskan waktu dipuncak membuat Jero jadi malas untuk ke kantor senin ini. Ingin rasanya ia di rumah saja sambil terus memelyk Giani. Namun sejak jam 6 pagi, Selly sudah mengirim jadwal kerjanya yang ternyata padat sampai jam 4 sore.


Setelah mandi dan mengenakan baju kantornya, Jeronimo pun turun ke lantai satu. Di lihatnya Giani baru selesai mengatur sarapan untuknya. Ada kopi, roti dan tumisan sayur. Jero memang jarang makan nasi saat hari masih pagi.


"Good morning, baby!" Sapa Jero sambil memeluk Giani dari belakang.


"Aku suka wangimu, sayang."


Jero terkekeh. "Pantas saja semalam tidurnya di atas aku terus."


Giani membalikan badannya. "Nggak suka ya? Kalau gitu aku sebentar peluk bantal aja."


"Eh....!" Jero menahan tubuh Giani yang akan pergi dari hadapannya. "Suka, sayang. Tapi kalau kamu sering bergerak, si palo kadang puyeng. Maunya langsung tancap aja."


"Genit, ah..."


Jero langsung mencium bibir Giani dengan sangat lembut. Giani pun membalas ciuman itu dengan sama lembutnya.


"Sayang, kamu akan terlembat ke kantor jika masih terus menciumku!" Giani mendorong tubuh Jero lalu segera duduk di depan meja makan. Jero memilih duduk di samping istrinya.


"Aku nggak masuk kantor ya?" rengek Jero setelah selesai menikmati sarapannya.


"Nggak. Mau ngapain coba kalau nggak masuk kantor?"


"Maunya peluk kamu terus."


"Sayang, hari ini kamu ada rapat dengan Beryl kan?"


Wajah Jero langsung cemberut. "Beryl yang bilang ke kamu?"


"Iya. Sebenarnya kami mau lihat persiapan cafe yang ada di mall itu. Namun karena Beryl juga sibuk jadi aku sendiri saja yang pergi."


"Kenapa nggak besok saja?"


"Besok ulang tahun Alexa. Aku mau bersamanya dari pagi sampai malam."


"Oh..."


"Mau ikut? Ulang tahunnya Eca mau dilaksanakan di panti asuhan."


"Nanti ketemu Finly."


"Takut tergoda lagi?"


Jero menggeleng. "Nggak. Hanya saja aku belum ingin ketemu dengannya."


Giani membelai wajah Jero. "Terserah kamu, deh. Ayo sekarang berangkat. Nanti terlambat."


Jero berdiri. Giani memorrbaiki letak dasinya. Ciuman manis mendarat di pipi Jero. "Selamat bekerja, sayang."


Jero mengangguk. Kata-kata Giani setiap kali mengantar Jero untuk berangkat ke tempat kerjanya selalu membuat pria bule itu melayang. Hatinya selalu mengembang dengan rasa bahagia. Kata-kata Giani bagaikan vitamin yang membuat semangatnya untuk bekerja selalu ada.


**********


Senyum dibibir Alexa menunjukan suasana hatinya yang sedang berbahagia. Ia mengenakan kostum princes Anna, salah satu tokoh kartun dalam film Frozen. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai dengan mahkota yang menghiasi kepalanya.


Perayaan ulang tahun ke-6 dari Alexa dilaksanakan di panti asuhan yang berada di bawa naungan yayasan Prayudinata. Ada sekitar 30-an anak-anak yang hadir sebagai penghuni panti asuhan ini. Selain menyiapkan makanan, kue dan pakaian, Geraldo juga menyiapkan tas dan alat-alat perlengkapan sekolah untuk mereka. Ada badut dan pesulap cilik yang sengaja diundang untuk menghibur anak-anak.


"Kak, kenapa kak Finly tidak datang?" tanya Giani heran karena sampai acara selesai, Finly tak juga kelihatan.


"Finly sudah pergi dari rumah. Besok adalah sidang perceraian kami yang pertama."


"Apa?" Giani terkejut.


"Kakak akan langsung menyetujuinya di persidangan pertama kami."


"Ha?" Giani semakin terkejut. Bukankah selama ini kak Aldo sangat mencintai Finly? Apa yang menyebabkan dia akhirnya menyerah?


"Kak, bukankah kakak masih mencintai kak Finly?"


Geraldo tersenyum kecut. "Untuk apa bertahan jika cintaku bertepuk sebelah tangan. Selama ini aku menahan sakit di hati demi Alexa. Namun saat aku bertanya pada Alexa bagaimana seandainya mamanya pergi, Alexa justru menjawab kalau ia tak akan sedih. Ia justru akan sedih kalau aku, kamu atau tante bule yang akan meninggalkannya."


Giani menatap ponakannya yang kini sedang disuapi puding oleh Joana. Ia nampak bahagia dan bercanda dengan Joana.


"Ni, karena kakak akan berpisah dengan Finly. Kamu berpisah saja dengan Jero. Biar saja kalau Jero dan Finly mau melanjutkan hubungan mereka. Kamu kan menikahi Jero karena ingin menjauhkan Jero dari Finly. Atau, kamu sudah nyaman bersama Jero?"


"Nggak, kak. Aku juga akan cerai darinya. Tunggu sampai mama Sinta selesai dengan proses pengobatannya di Singapura. Apakah papa dan mama sudah tahu?"


Aldo menggeleng. "Belum. Aku memang tak ingin menambah beban di hati papa dan mama. Nantilah jika putusannya sudah ada baru aku akan mengatakan kepada mereka."


Giani hanya mengangguk. Ia lega karena kakaknya ternyata sudah bisa move on dari Finly. Kini, ia akan bertahan. Sesuai dengan janjinya. Hanya 1 tahun. Dan itu berarti 6 minggu lagi.


***********


"Bagaimana perayaan ulang tahunnya Alexa?" tanya jero saat ia baru keluar dari kamar mandi. Jero pulang dari kantor sudah jam 8 malam. Sesampai di rumah ia langsung makan dan akhirnya mandi air hangat yang sudah disiapkan oleh Giani.


"Meriah. Alexa kelihatan sangat senang. Ia juga berterima kasih dengan boneka tokoh Anna yang kau kirimkan untuknya."


Jero tersenyum. Ia masuk ke dalam walk in closet lalu mengenakan kaos ablong dan celana pendek. Setelah itu ia naik ke atas tempat tidur dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Giani sedang membereskan baju kerja Jero yang dibukanya tadi sebelum mandi serta handuk yang baru saja digunakannya setelah mandi.


Jero memandang istrinya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Giani.


"Baby, something wrong?" Tanya Jero saat Giani baru kembali dari lantai satu.


Giani menggeleng. Ia mengambil ponselnya dari atas nakas lalu duduk seperti Jero di atas tempat tidur namun posisinya agak berjauhan.


Tangan Giani membuka aplikasi yang terhubung dengan cafe kopinya. Ia mau mengecek pendapatan hari ini.


"Gi, ada apa?" Jero menyentuh tangan Giani.


"Besok adalah sidang perceraian antara kak Aldo dan kak Finly." Kata Giani lalu meletakan ponselnya. Ia menatap Jero.


"Aku tahu!"


"Kamu tahu?"


"Ya. Finly mengatakannya padaku waktu ia datang dan menyerang aku di kantorku."


"Lalu?"


"Lalu apa, Gi? Walaupun Finly cerai dari Aldo, aku nggak akan kembali lagi padanya. Aku kan pernah bilang padamu, kalau aku adalah lelaki yang selalu memegang janjiku. Aku mau merubah. Aku ingin hidup bersih."


Giani menatap manik biru milik Jero. Ia tahu kalau lelaki itu tak berdusta. Kemarin saja saat mereka pergi ke puncak, pada saat hari minggu pagi, Jero mengajak Giani untuk ke gereja. Ia memang sedang membangun hubungannya agar menjadi semakin dekat dengan sang Pemilik Dunia ini.


"Terima kasih." Kata Giani sambil memegang pipi Jero.


"Terima kasih untuk apa?"


"Karena menjauh dari kak Finly."


Jero tersenyum. Ia langsung menarik Giani ke dalam pelukannya.


"Sayang, ke Malaysia nya kapan?" Tanya Giani dalam pelukan Jero.


"2 hari lagi. Kenapa?"


"Nggak sabar ingin merasakan suasana romantis di sana."


"Kenapa tak dimulai malam ini saja?"


Giani mendongak. "Sayang kan lagi capek."


"Aku yang capek. Tapi si palo nggak, tuh!"


"Ha?"


"Kan yang bekerja sepanjang hari ini adalah pikiran, tangan dan kaki. Si palo sejak pagi tidur. Makanya malam ini biarkan palo bekerja."


"Apaan sih!" Giani mencubit perut Jero.


"Aow....! Sakit sayang. Kok suka sekali mencubit perut aku."


"Soalnya perutmu keras dan berotot. Aku suka."


Jero membuka kaos oblongnya. Ia mengambil tangan Giani dan meletakannya di perutnya. "I am yours, baby!"


Giani hanya terkekeh. Ia mencium pipi Jero lalu berbisik," Siap-siap tidur subuh malam ini."


Jero tertawa lalu menarik tubuh Giani agar jatuh dalam pelukannya. "Aku suka!" Lalu ia mulai mencium bibir istrinya dengan sangat lembut namun penuh hasrat yang tak terbantahkan.


***********


4 hari di Kuala Lumpur membuat Jero sebenarnya enggan pulang ke Jakarta. Ia dan Giani menghabiskan banyak waktu berdua. Mereka seperti pasangan yang baru menikah beberapa hari. Di manapun mereka selalu mengumbar kemesraan.


Kamar hotel menjadi saksi, bagaimana mesranya pasangan ini saat sedang berdua di kamar. Saat makan saling menyuapi, nonton siaran bola bersama, mandi bersama. Dan semua itu mereka lakukan dalam keadaan polos. Jero sama sekali tak mengijinkan ada satu helai benang pun membungkus tubuh Giani.


Begitu kembali ke Jakarta, Giani harus meminta dikerokin sama bi Lumi karena ia sepertinya masuk angin.


Siang di kantornya Jero....


Jero menghungi Giani melalui panggilan videocall.


"Kamu ada di mana, sayang?" Tanya Jero.


"Di mall. Besok pembukaan cafe kopi yang ada di sini. Jadi aku pulangnya malam ya? Makan malamnya sudah aku siapkan. Tinggal dipanaskan saja."


"Pembukaannya besok? Jam berapa? Aku ada rapat."


"Jam 3 sore, Sayang. Sudah makan siang?"


"Belum."


"Kiriman makan siang dariku belum sampai?" Tanya Giani dengan dahi yang berkerut.


"Sudah. Hanya saja ingin disuapi olehmu."


"Ih...manja. Makan dulu ya, sayang. Aku mau menyelesaikan pekerjaan di sini. Bye..."


Jero tak rela Giani mengahiri panggilan videocallnya. Namun ia juga tak mau menganggu pekerjaan Giani. Ia membuka bekal makan siang yang dikirimkan Giani melalui paman Leo.


Saat Jero baru saja menikmati suapan pertamanya, ia ingat sesuatu. Percakapan antara dirinya, Beryl dan Giani. Cafe itu akan dibuka saat Giani ulang tahun.


Apakah besok ulang tahunnya Giani? Hadiah apa yang akan kuberikan ya? Tapi, jika ulang tahun Giani, bukankah sebentar lagi pernikahan mereka akan berakhir?


Jero menatap kalender duduk yang ada di depannya. Hatinya tiba-tiba saja bagaikan ditusuk oleh sesuatu yang sangat tajam. 34 hari lagi, maka pernikahan mereka akan genap 1 tahun.


Selera makan Jero tiba-tiba saja hilang.


Sakitnya nanti terasa disaat perpisahan....


so, bagaimana kelanjutannya?


Like, komen dan votenya di banyakin dong...(😂😂😂😂)