Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Luka Dari Masa Lalu


Fidel menatap Giani yang sedang tertidur dengan begitu nyenyaknya. Ia seakan tak terbeban dengan statusnya sebagai tawanan Fidel.


Wanita yang unik. Aku belum pernah bertemu dengan wanita pemberani seperti dia. Sikapnya itu membuat rasa dendam yang ingin kubalaskan pada Jeronimo justru menjadi kabur. Pantas saja Jeronimo sangat tergila-gila padanya.


Fidel mendekati tempat tidur Giani. Ia duduk di pinggir ranjang sehingga bisa menatap wajah Giani dengan sangat erat. "Kau sungguh luar biasa, manis. Pantas saja aku langsung suka padamu dipertemuan pertama kita. Bukan hanya kopi buatanmu yang sangat kusukai, tapi juga kepribadianmu. Kau seharusnya menjadi istriku. Bukan istri si Jero yang play boy itu." Fidel membelai wajah Giani dengan punggung tangannya. Wajah si pemimpin mafia itu tersenyum. Perlahan ia menunduk dan mencium dahi Giani. Setelah itu ia meninggalkan kamar.


Giani langsung membuka matanya saat mendengar suara pintu yang ditutup. Sebenarnya ia sudah bangun sebelum Fidel masuk ke kamarnya. Tangan Giani menyeka dahinya yang dicium oleh Fidel. Perlahan ia turun dari tempat tidur. Ia pun keluar kamar setelah merapihkan rambutnya.


Fidel yang sedang berbicara dengan salah satu anak buahnya, menoleh ke arah kamar Giani saat mendengar suara pintu dibuka.


"Kau sudah bangun?" Tanya Fidel sambil tersenyum. Di matanya Giani semakin cantik dengan perut yang semakin membesar.


"Iya. Aku lapar."


"Akan kuminta pelayan menyiapkannya."


"Boleh aku masak sendiri?"


Tatapan mata Giani yang penuh permohonan membuat Fidel tak bisa menolaknya. Sial, kenapa tatapan matanya sangat meluluhkan hatiku?


"Ayo kita ke dapur!" Ajak Fidel.


Giani mengerjakan masakannya dengan wajah gembira. Seolah-olah ia senang berada di dapur musuhnya. Fidel semakin terpesona melihat Giani yang tetap lincah dengan perut besarnya.


"Ayo kita makan bersama!" Ajak Giani setelah selesai memasak. Fidel memang tetap menjaganya di dapur.


"Baiklah!"


Saat masakan Giani masuk ke mulut Fidel, pria bertatto itu memejamkan matanya saat merasakan betapa enaknya masakan Giani. Ini seperti saat pertama ia meraskan kopi buatan Giani. Perasaan hatinya langsung menjadi baik.


"Kau suka?"


Fidel mengangguk. "Kau sangat pintar memasak."


Giani tersenyum. Jika perut kenyang dengan rasa bahagia, maka bicara sebentar pasti jadi lancar.


Makanan yang disiapkan Giani membuat Fidel makan banyak hari ini.


"Tuan Fidel Yamamoto, bolehkah kita bicara dengan tenang?" Tanya Giani saat keduanya sudah selesai makan dan masih duduk di meja makan sambil menikmati kopi yang ada di hadapan mereka. Meja sudah dibersihkan olwh salah satu pelayan.


"Baik. Apa yang kau inginkan, manis?"


"Kamu percaya Tuhan itu ada?"


Fidel mengangguk. "Ya. Kenapa?"


"Berarti kamu juga percaya kalau Tuhan Maha kuasa kan?"


"Ya. Aku bahkan berdoa padaNya."


"Kalau memang kamu tahu kalau Tuhan Maha kuasa, seharusnya kamu juga sadar kalau Dialah penentu segala sesuatu dalam hidup manusia."


"Maksudnya?"


"Jodoh, rezeki, maut, semuanya Dialah yang menentukan. Kita tak bisa melawan kehendak Tuhan."


"Jadi?"


"Yang terjadi dengan adikmu tak sepenuhnya kesalahan Jeronimo. Mereka memang tak berjodoh. Seperti aku juga. Tujuan ku pertama menikahi Jero karena ingin menolong kakakku. Namun, aku ternyata jatuh cinta padanya. Sekuat apapun aku berusaha membuang perasaanku pada Jero, bahkan aku sudah pergi jauh darinya ke Amerika, nasib akhirnya membawa aku kembali padanya."


Fidel menatap Giani. "Kau berusaha memanipulasi pikiranku?"


"Tidak. Aku hanya mencoba membuka pemikiranmu tentang hidup yang sebenarnya. Aku juga dulu berusaha mengatur hidupku sendiri. Namun pada akhirnya aku sadar kalau hidup kita ada yang mengaturnya."


"Tapi Feronika adalah adikku satu-satunya. Aku tak terima kalau Jero menyakitinya."


"Anggaplah Jero tak meninggalkan Feronika. Apakah kau bisa menjamin kalau dia dan Feronika akan bahagia sekarang ini? Perasaan cinta tak bisa dipaksa. Waktu itu, Jero mencintai orang lain."


"Jangan sok menasehatiku, Giani!" Fidel menampar meja di depannya. Sesungguhnya ia mulai terusik dengan kata-kata Giani.


"Maaf kalau aku membuatmu kesal!"


Fidel memalingkan wajahnya. Sungguh, ia tak kuasa menatap mata Giani yang teduh itu.


"Fidel, bolehkah aku mendapat baju ganti? Aku ingin mandi dan berganti pakaian." Suara Giani terdengar penuh permohonan setelah mereka saling diam beberapa saat.


"Aku sudah meminta asistenku untuk menyiapkan baju untukmu." Fidel menelepon seseorang. Ia menggunakan bahasa Jepang. Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki bertubuh kekar, mengenakan baju serba hitam. Di tangannya ada 2 paper bag yang besar.


"Ini baju untukmu, nyonya."


Giani menerimanya. "Aku mau mandi dulu!" Giani berdiri dari tempat duduknya. Ia melangkah ke kamar. Saat itulah ia mendengar Fidel berbicara pada anak buahnya menggunakan bahasa Spanyol. "Prepara todo. En tres días saldremos de este lugar." (Siapkan segala sesuatunya, 3 hari lagi kita akan meninggalkan tempat ini)


Giani menutup matanya, berusaha menenangkan dirinya. Ia harus melakukan sesuatu secara baik sebelum Fidel akan membawanya pergi.


********


"Kau tidak makan?" Tanya Fidel pada adiknya. Feronika, gadis berusia 28 tahun itu hanya memandang makanan yang sama sekali belum disentuhnya.


Mata Feronika masih selalu terlihat sembab. Itu karena ia selalu menangis.


"Kau sudah meminum obatmu?" Tanya Fidel lagi. Ia tahu kalau Feronika tak meminum obatnya, ia akan mudah gelisah dan akan berteriak histeris.


"Sudah." Jawab Feronika sambil menunjukan kotak obatnya yang sudah kosong.


"Jangan hanya minum obat. Kau butuh makanan."


Mata sipit Feronika menatap kakaknya. "Siapa perempuan itu?"


"Perempuan?"


"Yang ada di vilamu. Aku tadi ke sana dan melihat kalian sedang makan."


"Dialah gadis yang selalu kukirimkan bunga mawar putih."


"Si pembuat kopi?"


"Ya." Fidel senang karena adiknya mau berkomunikasi dengannya. Ia memang selalu mencerirakan apa saja pada Feronika agar adiknta itu mau bicara padanya.


"Cantik. Tapi dia hamil."


"Aku akan menjadi ayah bagi anak-anaknya. Dan kau akan menjadi bibi."


"Mengapa dia menyebutkan nama Jeronimo?" Tanya Feronika. Matanya mulai berkaca-kaca.


Fidel terkejut. Ia tak menyangkah kalau Feronika mendengarkan percakapan mereka.


"Dia...., dia..., dia saudaranya Jeronimo." Fidel memilih berbohong.


"Benarkah?" Mata Feronika berbinar. "Aku ingin bicara dengannya."


"Untuk apa?"


"Dia saudara Jero. Pasti tahu kabar tentang Jero."


"Adikku. Jero sudah menikah."


Fidel menjadi kesal. Sudah bertahun-tahun lamanya namun Feronika tak juga melupakan Jeronimo. Ia segera memanggil perawat yang bertugas menjaga Feronika karena tangis Feronika semakin dalam. Pasti tak lama lagi adiknya itu akan membanting semua barang yang ada di kamar ini. Perawat laki-laki itu segera memeluk Feronika. Memberikan ketenangan padanya lalu secara cepat menyuntikan obat penenang pada Feronika. Fidel pun terpaku melihat adiknya yang perlahan mulai tertidur. Ia kemudian meninggalkan vila adiknya dan kembali ke vila utama.


*********


"Aku bisa gila jika terus menerus seperti ini! Kita harus melakukan sesuatu Joana!" Jeronimo mengacak rambutnya kasar. Ia sungguh tak bisa berdiam diri saja tanpa mengetahui kabar istrinya.


"Tunggulah kabar dari Giani. Kita tak boleh gegabah. Kamu sendiri bilang kalau Fidel itu seorang mafia yang kejam. Salah bertindak, kita bukan hanya membahayakan nyawa Giani, tapi juga baby yang ada dalam perutnya."


"Itulah yang aku takutkan. Giani sedang hamil."


Beryl yang baru masuk langsung bergabung dengan mereka. Sementara Aldo pergi untuk menidurkan Alexa. Mereka kini berada di rumah Aldo.


"Aku sudah melacak gps yang ada di ponsel Giani. Dia ada di salah satu pulau pribadi yang tak jauh dari sini. Sepertinya mereka membawa Giani dengan helikopter." Kata Beryl.


"Ayo kita ke sana!" Jero langsung berdiri.


"Tunggu! Ada pesan dari Giani!" seru Joana saat ponselnya berbunyi.


...***Tunggulah 3 hari lagi...


...Aku akan berusaha menyelesaikan semuanya...


...Katakan pada buleku supaya jangan khawatir...


...aku dan si kembar baik-baik saja***....


"Sepertinya, Fidel tak kasar pada Giani. Tentu saja, Fidel suka dengan Giani. Sekarang kita tunggu saja." Kata joana.


"Tapi..."


"Percayalah pada istrimu, Jer."


Jero duduk kembali dengan wajah lesuh. Ia kini menyesal pernah memiliki hubungan dengan Feronika.


*******


"Bangun.....!"


Giani membuka matanya saat merasakan kalau ada orang yang menepuk pundaknya dari belakang. Giani memang tidur menyamping sambil membelakangi pintu kamar. Ia pun membalikan badannya. Matanya langsung membulat melihat seorang gadis yang berdiri di samping ranjang. Gadis bermata sipit yang maranya sembab seperti habis menangis. Rambut panjangnya sedikit berantakan.


"Kamu siapa?" Tanya Giani sambil berusaha duduk.


"Aku Feronika."


Deg!


Tangan Giani secara spontan memegang perutnya. Ia merasa bayi kembar dapat merasakan rasa khawatir yang tiba-tiba menyerang Giani karena tahu keadaan Feronika.


"Kamu mau apa?" Tanya Giani berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"Aku mau ketemu Jeronimo. Kata kakakku kalau kamu adalah saudaranya. Please, biarkan kami bertemu." Mohon Feronika.


Ada perasaan lega di hati Giani karena Fidel mengatakan pada Feronika kalau dirinya merupakan saudara Jero.


"Jeronimo dan kamu sudah lama berpisahkan?"


Air mata Feronika jatuh. Ia jatuh tersungkur di kaki Giani. "Dia tiba-tiba saja meminta supaya hubungan kami berakhir. Pada hal aku sangat mencintai dia. Semenjak dia pergi dari apartemenku, Jero tak pernah datang lagi. Saat aku di rumah sakit, dia bahkan tak pernah menemuiku. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Ingin bertanya mengapa dia minta putus dariku."


Giani menatap wajah cantik Feronika. Ia turun dari ranjang dan ikut duduk bersama dengan Feronika di atas karpet.


"Fero, kamu sangat cantik. "


"Tapi tetap tak membuat Jero mencintaiku. Aku selalu ingin bunuh diri karena tak bisa mendapatkan cinta Jero."


Giani memberanikan diri meraih tangan Feronika. Ia menepuk punggung tangan gadis itu, berusaha menekan rasa cemburu dalam hatinya saat menyadari bahwa dalam keadaan berantakan seperti ini, Fero tetap terlihat cantik. Apalagi kalau ia berdandan? Fero pasti akan terlihat sangat luar biasa.


"Fero, apa kau tahu kalau Jeronimo sekarang sudah menikah?"


"Ya. Kakakku sudah mengatakannya. Dan aku ingin membunuh perempuan yang sudah mengambil Jeroku." Mata Feronika terlihat memancarkan raut kebencian.


Giani sedikit terkejut mendengarnya.


"Fero, bisa saja perempuan itu tak tahu mengenai kamu."


Feronika mengepal tangannya. Air matanya terus mengalir. "Aku hanya mencintai Jero."


"Fero, Jero bukan satu-satunya lelaki di dunia ini. Apakah kamu mau Jero hanya kasihan padamu dan berpura-pura mencintaimu?"


Feronika terdiam. Sesekali isak tangisnya terdengar. "Aku hanya ingin bertemu dengannya."


"Apa yang akan kau lakukan saat bertemu dengannya?"


"Aku ingin memeluknya. Aku ingin bercinta dengannya. Jero sangat memuaskanku di ranjang. Dia sangat luar biasa saat kami bercinta."


Duh, si bule tua itu telah membuat gadis ini patah hati hanya karena dia seorang petarung sejati di ranjang.


Giani membelai wajah Fero sambil menghapus air matanya. "Jero sekarang tak sehebat seperti dulu. Istrinya sering mengeluh padaku. Ia mengatakan kalau Jero tak perkasa lagi."


"Benarkah?"


Giani mengangguk. Maafkan aku, Bee.


"Iya. Makanya, kamu tak usah lagi mengejarnya. Mengapa tak mencoba dengan laki-laki yang lain?"


"Aku takut tak ada yang sehebat Jero."


Giani akan bicara namun pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Masuk Fidel dengan seorang pria berseragam putih-putih.


"Kami hanya mengobrol." Kata Giani langsung menetralkan suasana tegang dari wajah Fidel dan perawat itu.


"Feronika. Ayo tidur!" Perawat pria itu mengulurkan tangannya.


"Besok kita bisa bertemu lagi. Aku janji akan menemuimu!" Kata Giani. Feronika tersenyum. Ia menerima uluran tangan perawatnya dan langsung pergi tanpa membantah.


"Apakah adikku menyakitimu?" Tanya Fidel.


Giani berdiri dari lantai lalu duduk di tepi tempat tidur. "Tidak."


"Ya sudah. Tidurlah!"


"Fidel...!"


Fidel membalikan badannya. "Ada apa?"


"Ijinkan Jero bertemu dengan Feronika."


"Apa?" Fidel terkejut.


Apakah Fidel akan menyetujuinya?


Ada yang tahu apa yang Giani rencanakan?


Dukung emak terus ya lewat LIKE, KOMEN DAN VOTE