Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 10)


Kaki Alexa terhenti di depan pintu. Ia melupakan sesuatu. Dan sesuatu itu sebagai kata kunci dari semuanya.


Ia kembali masuk ke dalam kamar lalu mencari sesuatu yang tajam. Ia menemukan sebuah pisau kecil di laci nakas. Sambil mengigit bibirnya, Alexa melukai jari telunjuknya. Ia melihat darah yang mengalir. Segera ia meneteskannya di seprei warna putih. Ia mengambil tissue dan membungkus jarinya yang terluka. Setelah itu, ia benar-benar keluar kamar dengan perasaan lega.


**********


Kevin mengetuk pintu berulang kali. Ia tahu kalau bosnya ada di kamar ini. Sekarang sudah jam 9 pagi dan Oliver belum juga bangun.


"Tuan.....! Tuan.....!"


Karena tak ada sahutan, Kevin langsung memerintah seorang pegawai diskotik untuk mengambil kunci cadangan kamar ini. Ia takut terjadi sesuatu pada Oliver.


Saat pintu kamar terbuka, Kevin melihat bosnya masih tertidur nyenyak. Pakaiannya berantakan di atas lantai.


"Tuan.....!" panggil Kevin sambil mengguncangkan pundak Oliver.


Secara perlahan Oliver membuka matanya. Ia terkejut menatap Kevin. Perlahan ia bangun dalam keadaan yang masih bingung. Matanya menatap sekeliling. Ia terkejut melihat ada bercak darah di seprei putih yang ada di sebelahnya.


Saat ia menengok ke dalam selimut, ia terkejut melihat kalau ia sama sekali tak berpakaian.


Apakah semalam kami bercinta? Benarkah aku dan Alexa sudah.....


"Ah.....!" Oliver mengacak rambutnya. Yang dia ingat kalau semalam ia agak mengantuk saat menunggu Alexa yang sedang ke toilet.


"Tunggu aku di luar Kevin."


"Baik, tuan!"


Kevin segera meninggalkan kamar.


Oliver turun dari atas tempat tidur. Ia meraba perutnya yang terasa agak lengket. Ada sesuatu yang tumpah. Oliver mendekat dan menciumnya. Tercium aroma minuman yang disiapkan Alexa semalam.


Saat Oliver menatap badannya ke arah cermin, ia terkejut melihat ada dua tanda merah di sana. Apakah Alexa yang melakukan ini? Seliar itukah dia? Kenapa aku tak bisa mengingat semuanya? Tapi bercak darah itu?


Oliver kembali melangkah ke arah ranjang. Ia mencium bercak darah itu. Ini memang darah.


Karena merasa bingung dengan semua yang terjadi, Oliver memilih untuk mandi dan menanyakan langsung pada Alexa.


Selesai ganti baju yang sudah disiapkan oleh Kevin, Oliver langsung bertanya kemana rombongan pergi.


"Mereka sedang belanja, tuan. Selesai makan siang akan kembali ke jadwal yang ada."


"Dan Alexa?"


"Dia duduk dalam bus bersama Alista."


"Apakah kau tahu jam berapa Alexa meninggalkan diskotik?"


"Aku nggak tahu, tuan. Semalam aku ke kamarku sekitar jam 2 pagi. Aku melihat kalau Alista meninggalkan diskotik jam setengah dua pagi."


Oliver hanya mengangguk. "Antarkan aku ke tempat rombongan berada."


Kevin mengangguk dan segera menjakankan mobil.


*******


Alexa menatap belanjaannya yang lumayan banyak. Ada perhiasan, tas, kain tenun dan tentu saja cemilan.


Alista mendekatinya. "Alexa, semalam kamu pulang jam berapa?"


"Jam 3 pagi. Kenapa?" tanya Alexa sambil menatap seniornya itu.


"Kemana saja?"


"Ya di diskotik. Ketemu cowok ganteng yang asyik diajak ngobrol. Saat aku cari kakak, sudah nggak ada."


Alista hanya mengangguk. Semalam ia memang melelahkan dirinya sendiri dengan terus berdisko. Ia sangat suntuk karena hubungannya dengan sang pacar yang sudah berjalan selama 3 tahun, harus berakhir oleh sebuah perselingkuhan.


Selesai berbelanja, rombongan diarahkan ke sebuah restoran yang tak jauh dari sana. Alexa bermaksud akan menyimpan belanjaannya ke dalam bus saat sebuah tangan menariknya dan langsung membekap mulutnya dari belakang.


Hidung Alexa langsung mencium aroma khas yang sudah sangat dikenalnya.


Saat keduanya sudah berada di tempat yang agak tersembunyi, Alexa sendiri langsung membalikan tubuhnya. "Baru bangun?"


Oliver mendorong Alexa sampai punggung gadis itu bersandar pada dinding toko.


"Apa yang kita lalui semalam?"


Alexa tersenyum penuh misteri. "Kau lupa? Sayang sekali ya?"


"Memangnya kita bercinta?" tanya Oliver.


"Ternyata kau tak sehebat seperti apa yang kau katakan. Makanya, aku langsung meninggalkan mu." Alexa membebaskan dirinya dari cengkraman tangan Oliver.


Cowok itu masih nampak bingung dengan apa yang terjadi. Ia kembali mengejar Alexa yang sudah berjalan menjauhinya.


"Alexa, tunggu!" Oliver menahan lengan Alexa.


"Ada apa?"


"Apa kamu benar sudah tidak perawan lagi?"


"Menurutmu? Dengan semua yang kau lihat di ranjang itu?"


Oliver menatap mata Alexa. Ia berusaha menemukan kebenaran dibalik tatapan mata gadis itu.


"Apakah kau merasa sakit?" tanya Oliver. Entah mengapa ia ingin tahu apa yang terjadi.


"Lumayan."


"Apakah aku terlalu kasar padamu?" Suaranya semakin lembut. Ia sendiri heran mengapa harus bertanya seperti itu. Tak mungkinkan aku peduli dengan apa yang dirasakan oleh gadis ini?


"Lumayan."


"Shit....! Kenapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali? Aku tidak mabuk, aku hanya minum satu gelas." Oliver memijat pangkal hidungnya.


"Oliver, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jadi jauhilah aku. Aku tak mau berurusan lagi denganmu. " Alexa mengambil tas belanjaannya yang sempat jatuh. Ia langsung pergi meninggalkan Oliver.


Saat Alexa sudah menjauh, Oliver menelepon Kevin. "Periksa CCTV yang ada di diskotik itu. Aku harus tahu jam berapa Alexa meninggalkan tempat itu."


**********


Besok sore, rombongan akan kembali ke Jakarta. Makanya malam ini, mereka tiba di hotel sudah agak malam yaitu jam 10 malam. Alexa tak menemukan Alista ada di kamar. Mungkin gadis itu pergi lagi ke diskotik. Alexa merasa kalau ia sangat lelah. Makanya ia segera mandi dan ingin tidur.


Namun, saat Alexa membuka pintu kamar mandi, alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang sudah duduk di atas sofa.


"Hallo, sayang.....!" Sapa Oliver.


Hampir saja Alexa berteriak karena kaget. Ia pun bersyukur karena sudah ganti pakaian di dalam kamar mandi.


"Bagaimana kamu bisa masuk?"


Oliver tersenyum. "Apakah kamu lupa kalau hotel ini adalah milik keluargaku?"


Alexa berjalan cuek. Ia mendekati kopernya dan hendak membereskan belanjaannya namun Oliver tiba-tiba memeluknya dari belakang, mengangkat tubuh Alexa dan membantingnya di atas tempat tidur. Sebelum Alexa bangun, Oliver sudah menempatkan dirinya di atas Alexa sehingga gadis itu tak bisa bergerak.


"Sedikit." Alexa berusaha bersikap setenang mungkin.


"Supaya sakitnya akan cepat hilang, maka kita harus bercinta lagi."


"Aku tak mau."


"Kenapa, sayang? Kamu kan bilang kalau aku kurang hebat. Akan kubuktikan padamu, dalam keadaan sadar kalau aku bisa membuatmu merasa sangat terpuaskan dalam percintaan kita kali ini."


"Oliver, please...., bolehkah kita menundanya besok saja?"


"Kenapa?"


"Agar sakitnya benar-benar sudah hilang."


"Besok jam berapa? Bukankah besok kita akan pulang?"


Alexa menarik napas panjang. Ia kembali harus menekan perasaannya yang ingin sekali menendang Oliver yang tak juga beranjak dari tubuhnya.


"Besok selesai sarapan, kami hanya akan pergi ke satu tempat. Kegiatan di sana sampai jam 10 pagi, kembali ke hotel, sekaligus makan siang di hotel. Pesawatnya akan berangkat jam 5 sore. Aku pikir kita akan punya waktu beberapa jam sebelum pulang."


"Ok. Tapi sebagai tanda bahwa kau tak akan ingkar janji, sebagai bukti bahwa kita sudah pernah bersentuhan sebelumnya, aku ingin kau menciumku."


"Apa?"


"Hanya ciuman."


Alexa mencium pipi Oliver.


"Itu bukan ciuman. Ciuman itu harus di bibir. "


Laki-laki ini. Sabar Alexa, besok kau akan membuat pria ini terjerat.


Alexa mengalungkan tangannya di leher Oliver. Perlahan ia menekan kepala Oliver dan mencium bibirnya. Oliver langsung menyambutnya dengan senang hati. Keduanya berciuman cukup lama. Oliver dapat merasakan kalau Alexa sangat kaku saat berciuman namun ia tetap menikmatinya.


Saat ciuman mereka terurai, Oliver langsung berdiri. Perasaannya terasa sangat lega. "Besok, kau tak akan lolos dariku." Ujarnya lalu segera meninggalkan kamar Alexa.


Saat pintu tertutup, Alexa langsung berlari ke kamar mandi. Ia menggosok bibirnya dengan odol. Duh, bibi Giani, aku tak bisa terus menerus bersikap seperti ini. Ciuman pertamaku seharusnya dengan orang yang aku cintai. Besok harus aku tuntaskan.


************


"Alexa, ada yang mencarimu." Kata Alista yang baru saja masuk kamar.


"Siapa?"


"Tuan Kevin."


"Tapi barang-barangku...."


"Kopermu dua ini kan? Biar aku saja yang membawanya ke bus. Lagi pula kita masih punya 3 jam sebelum ke bandara."


Alexa mengambil tas punggungnya. Ia berjalan keluar kamar. Kevin berdiri di depan pintu.


"Tuan Oliver sudah menunggumu di kamarnya."


Alexa menatap dua koper yang ada di samping Kevin. "Apakah ini barang-barang tuan Oliver?"


"Ya. Saya akan lebih dulu membawanya ke bandara bersama rombongan yang lain. Nona akan berangkat dengan tuan Oliver bersama pesawat pribadinya."


"Dan kamu?"


"Aku akan menunggu di bandara."


"Baiklah!" Alexa segera menuju ke kamar Oliver yang memang tidak dikunci. Ia masuk dan menutup pintunya.


Oliver ada di balkon dan sepertinya sedang menelepon. Jantung Alexa berdetak sangat cepat sambil berharap bahwa apa yang direncanakannya akan berhasil.


Ia bergegas ke kamar mandi, membasahi handuk yang ada di sana, lalu meletakannya kembali ke tempat handuk. Lalu ia keluar lagi dengan tenang.


Saat Oliver melihat kalau Alexa sudah ada di kamar, ia segera mengakhiri percakapannya. Sambil memasukan ponselnya ke dalam celananya, ia masuk dengan tatapan mata yang sepertinya ingin menelanjangi gadis itu.


"Kamu sudah siap?"


"Kita kan sudah sepakat kemarin." Alexa berdiri dan mendekati Oliver. Saat jarak keduanya sudah semakin dekat, Oliver segera menarik tubuh Alexa sehingga jarak diantara mereka sudah tak ada lagi.


Tangan kanan Oliver membelai pipi Alexa. "Aku melihat CCTV yang terpasang di lorong kamar tempat kita berada. Kita masuk ke kamar itu pukul setengah sebelas malam, dan kau keluar pukul 11 lewat 15 menit. Apakah kita bercinta secepat itu?"


Alexa menelan ludahnya. Sekali lagi ia berusaha membuat dirinya agar tak gugup.


"Kita memang bercinta sangat cepat. Dan aku langsung keluar saat kau tertidur karena aku tak mau terlihat pulang pagi bersamamu. Bagaimanapun, aku harus menjaga nama baikku."


Oliver menunduk. Menyatukan keningnya dengan kening Alexa. "Kalau begitu, kita akan tebus dengan bercinta sepuasnya hari ini. Kevin sudah mengatakan padamu, kan? Kita akan pulang dengan pesawat pribadiku."


"Baiklah, Oliver."


Oliver langsung mencium bibir Alexa dengan penuh gairah. Alexa berusaha membalasnya untuk melancarkan semua yang sudah direncanakannya.


Satu persatu kancing kemeja Alexa mulai dibuka oleh Oliver sambil perlahan-lahan keduanya melangkah menuju ke arah ranjang.


Alexa tiba-tiba melepaskan pelukannya dan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Oliver sedikit kecewa.


"Aku mau kamu mandi dulu, sayang!" Kata Alexa sambil melepaskan juga kancing kemeja Oliver.


"Aku sudah mandi tadi pagi."


"Sekarang sudah jam Setengah tiga sore, tampan. Aku juga baru selesai mandi. Aku ingin kau benar-benar bersih sebelum kubuat tanda-tanda merah di sekujur tubuhmu." kata Alexa dengan gaya yang sensual. Kemeja Oliver lepas dari tubuhnya. Menampakan badan kekarnya dengan perut kotak-kotak. Tangan Alexa juga melepaskan tali pinggang dan membuka celana jeans yang Oliver kenakan.


"Kau gadis nakal ya..." Oliver senang.


Saat celana jeans Oliver meluncur dan mengisahkan boxernya, Oliver menahan tangan Alexa yang akan membuka penutup terakhir tubuhnya itu.


"Aku curiga kalau kau akan pergi saat aku mandi."


Alexa mengambil borgol yang ada dalam tasnya. Ia memborgol satu tangannya di kepala ranjang.


"Baiklah." Oliver tersenyum senang. "Aku mandi dulu."


"Oliver....!" panggil Alexa, menghentikan langkah pria itu.


"Ada apa lagi?"


"Bukalah boxermu. Aku ingin melihat bokong indahmu."


Oliver menuruti keinginan Alexa. Ia pun berjalan ke kamar mandi dalam keadaan polos.


Alexa dengan cepat mengambil jepit rambutnya dan membuka kunci borgol itu. Setelah borgol itu lepas, Alexa dengan cepat mengambil gunting dari dalam tasnya. Ia menggunting kabel telepon yang ada. Lalu merapihkan kemejanya. Tangan Alexa dengan cepat mengambil pakaian Oliver. Ia membuka lemari pakaian dan mengeluarkan jubah mandi yang ada di sana. Semuanya ia masukan ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkannya. Alexa memeriksa lagi dan semuanya aman. Ia mengambil semua yang sudah dikumpulkannya. Lalu dengan cepat ia keluar dari kamar setelah terlebih dahulu mengambil kursi yang ada di depan meja kerja. Kursi itu ditaruhnya di bawa gagang pintu sehingga membuat gagang pintu itu tak bisa bergerak saat di buka dari luar.


Bagaimana Oliver akan keluar dari kamar itu tanpa ada satu kain pun untuk menutup tubuhnya? Saat tak ada telpon kamar dan ponsel untuk menghubungi Kevin?


Maaf ya, baru up....


sudah berusaha untuk up pagi tapi aku bangunnya agak kesiangan. Capek banget....