
Hai....pembaca setiaku...
makasi ya terus mendukung novel ini. Kalau aku agak lama up, harap maklum ya...aku kan kerja juga di dunia yang nyata ini he....he....
dari pada bosan menunggu, baca aja novelku yang sudah tamat dan pastinya juga bikin emosi naik turun :
I HATE YOU BULE
MY BEST PHOTO
LERINA
Terus jangan lupa vote ya kisah giani dan Jero. Siapa tahu bisa juara minggu ini 😅😅
(ngarep banget ya...)
**********
Wajah Jero yang tadinya begitu bersemangat saat memasuki kamar tiba-tiba langsung
berubah sedih.
"Ayo mandi, dan kita akan makan malam bersama." Kata Giani sambil membuka dasi Jero. Ia juga membantu Jero melepaskan jas kerjanya.
Jero melangkah ke kamar mandi dengan langkah berat. Hatinya bagaikan dihantam oleh palu yang sangat besar.
Ia mandi dengan sangat cepat. Saat ia keluar dari kamar mandi, Giani sudah tak ada. Namun ia sudah menyiapkan baju yang akan Jero pakai di atas tempat tidur. Celana kain hitam dan kemeja berwarna cream yang warnanya sama dengan gaun yang dipakai oleh Giani.
Selesai mengenakan pakaiannya dan menyisir rambutnya secara asal, Jero turun ke bawa. Giani sudah menunggunya di meja makan sambil menikmati coklat yang tadi di bawahnya.
"Coklat dari Inggris ya?" tanya Giani saat Jero sudah duduk di depannya.
"Iya. Dikirimkan oleh bibi Elisa dari London."
"Bibi Elisa?"
'Mamanya Beryl."
"Oh..."
Giani pun membuka semua penutup makanan. Ia menyiapkan untuknya dan Jero. Masakan yang sangat enak pastinya. Namun selera makan Jero telah hilang. Rasa lapar yang tadi membuatnya ingin cepat sampai ke rumahpun entah pergi kemana.
"Sayang, makanannya nggak enak ya?" Tanya Giani melihat Jero sama sekali belum menyentuh makanannya.
"Enak, kok."
"Bohong! Satu sendokpun makanannya belum masuk ke dalam mulutmu"
Jero segera memasukan suapan pertama di mulutnya. "Enak."
"Di habisin ya. Aku juga membuat kue tart. Selesai makan kita pasang lilin ulang tahun pertama pernikahan. Walaupun besok kita sudah harus berpisah." Giani tertawa diujung kalimatnya.
Jero merasakan kalau hatinya bukan hanya dihantam oleh benda yang sangat keras dan besar tapi juga ditusuk oleh pisau yang sangat tajam. Sakit! Membuat Jero ingin menangis rasanya.
"Sayang, mau aku suapin?" Tanya Giani. Ia langsung berdiri dan berpindah tempat duduk di sebelah Jero. Tangannya langsung mengambil sendok yang dipegang oleh Jero.
"Aa....!" Kata Giani saat sendok yang sudah berisi makanan itu berada di depan mulut Jero. Jero pun langsung membuka mulutnya. Ia berusaha untuk mengunyah makanannya walaupun terasa sangat hambar diindra perasanya.
Selesai menyuapi Jero, Giani pun mengambil piring makanannya yang masih berisi makanan.
"Sekarang gantian, ayo suapin aku." Kata Giani. Jero hanya mengangguk. Ia pun menyuapi Giani sampai semua makanan yang ada dipiring Giani habis.
"Makasi ya..." Kata Giani. Ia kemudian mengambil beberapa kotak makanan dan memasukan makanan di dalamnya.
"Sayang, tolong antarkan ini ke pos penjagaan ya?"
Jero hanya mengangguk. Ia tahu, istrinya itu memang berhati malaikat. Ia selalu berbagi dengan mereka yang berkekurangan.
Saat Jero kembali ke rumah, Giani memanggilnya dari luar rumah. Rupanya ia sudah duduk di pondok dekat danau. Di atas meja sudah ada kue tart dan 1 botol anggur dan 2 gelas.
"Ayo pasang lilinnya, sayang."
Jero mengambil korek api yang sudah tersedia di dekat kue. Ia memasang lilin angka 1 itu.
"Senyum dong sayang." Kata Giani yang sementara memegang ponselnya. Sepertinya ia sedang merekam.
Jero memasakan sebuah senyum. Ia berusaha berwajah ceriah seperti Giani di malam ini. Apakah mungkin Giani begitu senang malam ini karena mereka akan berpisah? Begitu inginkan Giani meninggalkan dirinya?
Selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Giani memotong kue tart itu. Ia menyuapi Jero setelah keduanya duduk berdampingan dibangku yang ada di pondok itu.
"Enak?" Tanya Giani.
"Ya."
"Sesuatu yang dibuat dengan cinta memang rasanya enak."
"Gi, apakah kau mencintaiku?"
"Ya. Aku mencintaimu seperti cintaku untuk kak Aldo."
Entah mengapa, Jero kecewa mendengarnya. Namun ia tersenyum. Di lepaskannya gelasnya yang sudah kosong. Ia kemudian menepuk pahanya. "Duduk sini, Gi."
Giani mengangguk. Ia duduk di atas paha Jero. Agak menyamping.
"Gi, kita masih tetap berhubungan kan kalau sudah pisah?" Tanya Jero sambil melingkarkan tangannya dipinggang Giani.
"Berhubungan lewat telepon? Bolehlah."
"Kalau sesekali aku mengajakmu makan siang atau makan malam bersama kamu mau kan?"
"Tentu saja boleh."
"Kalau aku minta dikirimin makan siang buatanmu masih boleh?"
Giani menatap Jero. "Boleh. Tapi nggak boleh keseringan ya?"
Giani membuang muka. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Tugasku untuk memuaskan palo tinggal malam ini, sayang. Jika kita sudah pisah, palo tak boleh lagi merindukan aku. Itu dosa namanya."
Jero menarik napas panjang. "Tapi, setahun belakangan ini, palo memang hanya mau sama kamu. Dia bahkan tak pernah tertarik dengan perempuan lain."
"Sama kak Finly?"
"Nggak, Gi. Palo nggak akan pernah masukin Finly lagi. Aku janji padamu, aku sungguh-sungguh saat mengatakan kalau ingin menjauhi Finly. Aku ingin menjalani hidup secara benar."
Giani melihat ada kesungguhan di mata Jero saat ia mengatakan itu.
"Palo mungkin awalnya akan merindukan aku namun aku yakin kalau dia akan terbiasa jika kamu sudah mendekati gadis lain."
"Bagaimana kalau palo nggak mau?" Tanya Jero dengan wajah khawatir.
Giani tertawa. "Kamu yang seharusnya mengendalikan palo. Aku akan bilang ke palo malam ini kalau dia harus nurut sama kamu. Aku yakin palo akan setuju."
Tangan Jero membelai wajah Giani. Tangan itu berhenti dibibir Giani. Ibu jarinya menyapu bibir merah Giani yang memakai lipstick warna pink itu. Ia tahu, kalau mereka berpisah, ia akan merindukan bibir Giani yang selalu membuatnya ingin menciumnya.
"Gi, ini malam terakhir kita bersama kan? Kita boleh bercinta sampai berapa ronde?" Tanya Jero.
"Berapapun yang kamu mau."
"Benar?"
Giani mengangguk.
"Kita akan bercinta di mana?"
"Di mana saja yang kamu mau, sayang."
Jero tersenyum. "Aku ingin satu ronde di sini, lalu kita pindah ke dapur, lalu ke ruang tamu dan akhirnya kita akan ke kamar. Kamu siap?"
"Aku siap, sayang." Kata Giani lalu ia mulai membuka kancing baju Jero dengan senyumnya yang sangat menggoda.
***********
Malam ini keduanya benar-benar menghabiskan waktu untuk saling memuaskan raga. Giani bahkan sangat proaktif dalam percintaan mereka malam ini. Mereka berhenti, ketika jam dinding sudah menunjukan pukul 4 pagi dan Giani langsung tertidur tanpa memakai lagi bajunya. Ia terlihat sangat lelah sehingga langsung terlelap.
Jero memandang wajah Giani terlihat damai dalam tidurnya.
Ya Tuhan, mengapa aku sangat berat ingin berpisah dengannya? Apakah satu tahun ini telah membuat aku terbiasa dengan dirinya?
Mata Jero menatap dua koper besar yang sudah terisi pakaian Giani. Ia teringat dengan perkataan Giani saat mereka akan bercinta di tepi danau tadi.
"Palo, jangan cari aku ya? Selama ini aku sudah puasin kamu, kan? Jangan minta Jero untuk merindukan aku. Cari gadis lain ya? Aku yakin akan ada gadis cantik, seksi dan baik hati yang akan menjadi teman barumu."
Giani begitu mudahnya mengucapkan kata-kata itu tanpa ia sadari kalau hati Jero justru tercabik-cabik.
Jero bangun. ia berjalan ke arak walk in closet dan mengambil baju lain karena baju yang ia pakai tadi ada di pondok dekat danau.
Setelah mengenakan celana pendek, masih bertelanjang dada, Jero melangkah ke arah balkon. Ia mengambil rokok dan koreknya di dalam tas kerjanya. Sebenarnya Jero sudah jarang merokok karena Giani memang mau berdekatan dengannya jika Jero bau rokok. Namun subuh ini, Jero memang ingin sekali menikmati rokoknya untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.
1 tahun rasanya begitu cepat berlalu dan jero seakan tak siap untuk berpisah dengan Giani.
***********
Tangan Jero merabah tempat kosong di sampingnya. Matanya langsung terbuka. Ia tak menemukan Giani.
Sebenarnya Jero masih merasa sangat mengantuk karena ia tidur saat jam sudah menujukan pukul 5 lewat 10 menit. Matahari sudah hampir terbit saat Jero naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Giani.
Matanya langsung menoleh ke arah koper Giani yang semalam masih ada di dekat walk in closet. Koper itu sudah tak ada.
Jantung Jero bagaikan ditarik keluar dari tempatnya. Ia melompat turun dari tempat tidur sambil mencari ponselnya. Setelah menemukan benda itu di dalam tas kerjanya, ia menghubungi nomor Giani. Namun tidak aktif. Jero mendengus kesal. Matanya melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 pagi. Ia sudah kesiangan. Tapi haruskah Giani pergi tanpa pamitan padanya?
Jero berlari keluar kamar dan menuruni tangga sambil terus menghubungi ponsel Giani. Langkahnya terhenti di ujung tangga saat melihat Giani yang sedang menarik 2 kopernya dan melangkah ke arah pintu depan.
"Gi!" Panggilnya.
Langkah Giani terhenti. Ia menoleh. "Hai, kak!"
Kak? Giani kembali menyapanya dengan kata 'kak' setelah 2 bulan ini memanggilnya 'sayang'. Benarkah semuanya telah selesai?
"Kamu akan pergi sekarang?" Tanya Jero berusaha menekan rasa sesak yang kembali menyeruak dalam hatinya.
"Iya."
"Harus sekarang?"
"Kak, aku sudah meminta paman Leo untuk menjemputku."
"Memangnya kamu sudah siapkan sarapan untukku?"
"Itu bukan tugasku lagi, kak. Namun kalau kakak mau sarapan, di meja masih roti dan susu."
"Maksudku...." Jero kehilangan kata-kata. Dia masih berharap Giani akan tinggal di rumah selama 1 atau dua hari lagi. Namun dia gengsi untuk memintanya.
"Kak, kayaknya paman Leo sudah ada di depan." Kata Giani saat mendengar suara klakson mobil. Pagarnya memang belum Giani buka.
"Gi....!" Jero akan bicara namun ponselnya berbunyi. Ia melihat nomor telepon Dion.
"Ya kak Dion. Ada apa?" Tanya Jero. Tak lama kemudian wajah Jero langsung pucat. "Baik, kak. Aku ke sana sekarang."
Jero menatap Giani yang masih berdiri di dekat pintu masuk. "Gi, aku mohon, jangan dulu pergi. Kita ke rumah sakit sekarang ya? Mama Sinta sakit dan saat ini sedang kritis di rumah sakit."
Giani terpana. Ia mengangguk dan segera melepaskan tangannya yang memegang kopernya.
what next?...
Jangan cuma komen Lanjut ya....
vote nya mana??? 😁😁😁