Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus part 21)


Empat hari lagi Oliver akan ulang tahun. Alexa bingung mau memberikan kado apa. Sementara Oliver sendiri sudah mengatakan di malam ulang tahunnya, ia hanya ingin berdua dengan Alexa saja.


Siang hari akan ada perayaan di kantor. Makan siang yang telah disiapkan oleh mama Elvira. Dan malamnya Oliver tak ingin diganggu. Inilah saat pertama dia akan merayakan ulang tahun dengan kekasih yang ia cintai semenjak ia patah hati dulu.


"Aku bingung harus memberikan hadiah apa. Oliver kan sudah punya segalanya. " Giani dan Joana saling berpandangan saat mendengar keluhan Alexa. Hari ini, mereka bertiga ada di cafe Giani sambil mencoba resep kopi baru yang diracik oleh Giani.


"Oliver sukanya koleksi apa?" Tanya Joana.


"Nggak tahu, mami."


"Kok nggak tahu? Kalian kan sudah hampir 2 bulan jadian. Seharusnya sudah tahu."


"Kami kan jarang menghabiskan waktu berdua. Sudah untung kalau seminggu itu bisa ketemu sampai dua kali."


"Memangnya kamu belum pernah ke apartemen Oliver?" tanya Giani.


"Hanya sekali. Itu pun waktu aku dan dia belum jadian. Aku mengantarnya saat sedang sakit."


"Kamu seharusnya harus datang ke sana dan melihat barang apa saja yang Oliver sukai. Pura-puralah membawa kue. Nah, kebetulan besok hari Minggu kan? Sepulang gereja, kamu ke apartemen Okan dan membawa kue. Ada jadwal penerbangan?" Tanya Giani lagi.


"Nanti Minggu malam jam 7."


"Kalau begitu, ayo bibi bantu untuk menyiapkan kue. Bibi yakin kalau Oliver akan menyukainya." ujar Giani diikuti anggukan setuju dari Joana. Alexa jadi bersemangat. Besok ia akan membuat kejutan untuk Oliver. Malam ini mereka memang tak bisa bertemu karena Oliver sedang tugas keluar kota. Pulangnya mungkin sudah tengah malam.


*******


Alexa tersenyum saat memarkir mobilnya di halaman apartemen Oliver. Semalam, Oliver Videocall saat waktu sudah menunjukan pukul setengah satu malam. Ia baru saja tiba. Mereka berbincang agak lama sampai akhirnya Oliver pamit untuk tidur karena ia sangat capek.


Di tangan Alexa sudah ada kue dan kopi cappucino kesukaan Oliver. Alexa sengaja memilih ibadah jam 8 pagi sehingga jam 10 pagi ia sudah sampai apartemen Oliver. Walaupun semenjak mereka pacaran Alexa belum pernah datang ke apartemen Oliver, namun Oliver sudah memberikannya kartu akses untuk masuk ke lobby apartemen. Oliver juga sudah mengatakan kalau kode masuk ke apartemennya sudah diganti Oliver dengan tanggal kelahiran Alexa.


Makanya, gadis itu merasa senang ia bisa membuat Oliver terkejut dengan kedatangannya. Mungkin saja Oliver belum bangun.


Lift berhenti di lantai 10. Ini adalah lantai paling atas. Alexa berhenti di depan pintu nomor 1001


Dengan lincah, Alexa memasukan tanggal lahirnya pada layar pintu dan pintu terbuka dengan sempurna. Senyumnya langsung hilang saat melihat ada perempuan yang keluar dari kamar Oliver, mengenakan kaos Oliver yang nampak kebesaran di tubuhnya tanpa ada bawahan. Gadis itu terlihat agak mungil untuk ukuran orang bule.


"Hai.....!" Sapa gadis itu pada Alexa. Terlihat agak kaku.


"Baby, who's coming?" Oliver keluar dari kamar yang sama. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Rambutnya terlihat masih basah.


"Eca?" Oliver terkejut.


Jantung Alexa bagaikan ditarik keluar dari tempatnya. Ia merasa hancur.


"Maaf, aku salah masuk apartemen. Permisi!" Alexa membuang tas berisi kue dan kopi yang dibawanya dengan kasar. Ia segera berbalik dan pergi.


"Eca...tunggu....!" Oliver berlari hendak mengejar Alexa namun gadis itu sudah menghilang di balik pintu.


"Sial....!" Oliver mengumpat. Ia membuka pintu namun Alexa sudah terlanjur naik lift. Oliver menuju ke lift yang lain namun lift itu sangat lama. Tanpa sadar, Oliver memukul pintu lift dengan kesal.


Saat lift akhirnya terbuka, Oliver segera masuk ke dalam menuju ke lantai 1. Lift terasa sangat lambat, apalagi di beberapa lantai ada orang yang masuk. Para wanita tersenyum melihat Oliver yang bertelanjang dada. Namun pria itu tak memperhatikannya. Pikirannya hanya tertuju pada Alexa.


"Eca.....!" Oliver melihat mobil Alexa yang baru saja diundurnya. Ia berlari dan menghadang mobil itu.


"Honey, dengarkan dulu penjelasan ku."


Alexa menurunkan kaca mobilnya. Oliver langsung mendekat ke sisi kaca yang terbuka itu.


"Sayang....!"


"Kau memang tak layak dipercaya." Alexa membuka cincin yang disematkan Oliver di jari manisnya, lalu membuangnya. Dengan cepat Alexa menjalankan lagi mobilnya bahkan kaca spionnya sampai mengenai tubuh Oliver.


Oliver terjatuh. Ia tak sempat lagi mengejar Alexa. Saat bangun, ia mencari cincin yang dibuang Alexa. Ketika cincin itu sudah ditemukan, Oliver segera masuk kembali ke apartemennya.


*********


Sudah 2 jam Alexa menangis. Hatinya masih sakit. Ia sudah membayangkan apa yang Oliver dengan gadis itu lakukan. Mereka keluar dari kamar yang sama.


Alexa menghidupkan lagi ponselnya. Masuk beberapa pesan dari Oliver. Gadis itu langsung menghapusnya tanpa membaca semua pesannya. Ia langsung memblokir nomor Oliver. Ia pun menghubungi Felicia.


"Ada apa kak?"


"Kamu di mana?"


"Baru aja mau pergi."


"Kalau begitu segera ke kamar kakak di rumah sebelah, ambil koper kakak yang sudah kakak siapkan di sana. Di rumah memang nggak ada orang karena papa Aldo dan mami bule sedang ke acara teman papi. Joaldo kayaknya lagi main di luar. Kalau kau melihat ada Oliver di sana, jangan katakan apapun. Begitu juga kalau papi Juan dan mami Wulan bertanya. Mengerti?"


"Ada apa sih, kak?"


"Pokoknya bawa saja kopernya ke alamat yang kakak sudah SMS."


"Siap.....!"


Alexa menyimpan kembali ponselnya. Ia menghapus air matanya. Cukup Alexa! Jangan menangis lagi untuk pria brengsek itu.


*********


Felicia memarkir mobilnya di belakang mobil kakaknya. Mereka sedang berada di taman bermain, dekat apartemen mama Finly.


"Kak....!" panggil Felicia.


Alexa turun dari dalam mobilnya. Felicia terkejut. "Kakak kenapa? Baru selesai menangis? Bertengkar dengan Kak Oliver? Atau ada apa?" tanya Felicia panik melihat mata Alexa yang sembab dan hidungnya yang merah.


"Aku baik-baik saja. Seorang Oliver nggak akan membuatku patah hati."


"Memangnya apa yang dilakukan oleh si bule itu? Beraninya dia menyakiti kakakku yang cantik ini."


"Aku menemukan dia di apartemennya dengan seorang gadis."


"Apa? Dasar bule tengik! Akan ku hajar dia." Felicia jadi emosi.


"Tenang, dek. Aku nggak mau memberontak seolah-olah aku akan mati tanpa dia. Pokoknya kamu nggak boleh bilang ini pada siapapun. Aku malu karena pernah membelanya di depan semua orang. Mengatakan kalau dia bisa aku percayai."


"Tenanglah, kak. Rahasia kakak aman bersamaku." Felicia memeluk kakaknya. Ia memang sangat menyayangi kakaknya.


"Sekarang, kakak mau ke mana?" tanya Felicia saat keduanya sudah duduk di bangku taman.


"Aku pasti akan merindukan kakak."


Alexa menatap adiknya."Waktu kamu masih balita, aku dan mama selalu membawamu ke taman ini. Masa itu sangat indah. Aku jadi kangen dengan mama."


"Kata orang-orang, mama sangat mirip dengan kakak ya? Rambut mama seindah rambut kakak."


"Mungkin. Namun mata indah mama yang berwarna coklat tua, sangat mirip denganmu."


Mata Felicia berkaca-kaca. "Walaupun aku tak sempat mengenal mama dalam waktu yang lama, namun aku bersyukur karena mama meninggalkanku di tengah-tengah wanita hebat. Ada mama Wulan, mami bule, dan bibi Giani. Aku tak pernah merasa kehilangan kasih sayang karena mereka sangat baik padaku."


"Ya. Kita memang dikelilingi wanita-wanita hebat dan pria-pria tampan yang sangat menyayangi kita. Jadi, seorang Oliver, tak akan bisa meruntuhkan kehidupan ku."


Felicia mengangguk.


"Tolong panggil temanmu untuk membawa mobil kakak ya? Kakak akan naik taxi ke bandara supaya Oliver tak akan menemukan jejak kakak."


"Beres kakak. Panggil pacarku boleh kan?"


"Memangnya dia ada di sini?"


"Ya. Sebenarnya kami janjian mau makan siang bareng. Tapi aku membatalkannya karena ingin bersama kakak."


"Teleponlah pacar bule mu itu. Aku akan melihatnya. Semoga saja ia tak seburuk Oliver."


"Tentu saja tidak." Felicia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon pacarnya.


***********


Setelah berhasil menghindar dari pantauan Oliver, Alexa akhirnya bersyukur karena ia bisa masuk ke dalam pesawat. Ia langsung berbaur dengan teman-temannya.


1 jam kemudian, pesawat pun tinggal landas. Alexa berusaha menarik napas panjang beberapa kali untuk melepaskan beban di hatinya.


**********


Joana dan Aldo saling berpandangan saat mendengar penjelasan Oliver.


"Aku juga jika ada di posisi Alexa pasti akan berpikiran sama dengannya. Alexa belum pernah pacaran. Makanya ia langsung berpikir kalau Oliver menghianati nya. Tunggulah dia pulang dan jelaskan segalanya." kata Joana.


"Menurut jadwal sebenarnya Eca akan pulang tadi malam dari Singapura. Aku menunggunya sampai hampir pagi di bandara. Namun ternyata dia tak ada dalam penerbangan dari Singapura." Kata Oliver.


"Mungkin ada pergantian jadwal keberangkatan." kata Aldo.


"Iya. Semalam dia memang menghubungi mami. Eca mengatakan kalau ia masih di Singapura. Dia bilang nanti besok akan kembali. Tapi sepertinya akan langsung berangkat kembali." Ujar Joana.


Oliver yakin kalau Alexa sengaja menghindarinya. Namun cowok itu berusaha tegar dan sabar.


*********


"Alexa, Yulinda sakit. Ia tak dapat melaksanakan penerbangan ke Sidney. Maukah kau menggantikannya?" Tanya Ibu Vivian. Dia adalah perwakilan maskapai di Singapura.


"Sebenarnya, aku akan pulang ke Jakarta sore ini. Tapi nggak masalah juga jika harus ke Sidney. Aku siap menggantikan Yulinda."


"Terima kasih ya? Yulinda memang ingin kembali ke Indonesia. Ia butuh istirahat karena mungkin kelelahan. Ia melaksanakan penerbangan tanpa henti selama 2 Minggu ini."


"Iya. Aku melihat memang wajahnya agak pucat. Jam berapa pesawatnya berangkat?"


"2 jam lagi."


"Ok." Alexa segera ke ruangan tunggu khusus pramugari. Ia siap-siap di sana. Sebenarnya jadwal kembalinya ke Jakarta masih 4 jam lagi. Sementara berdandan, Felicia menghubunginya.


"Hallo tuan putri, jam berapa aku harus menjemputmu di bandara?"


"Kakak nggak pulang hari ini. Kakak akan ke Sidney. Nanti dari Sidney, kakak akan menghubungimu lagi. Ok?"


"Ok. Jangan lupa oleh-oleh nya ya?"


"Siap sayang. Mudah-mudahan kakak punya cukup untuk mencari sesuatu untukmu."


"Siap boss. Eh, kemarin aku lihat bule tengik sedang ngobrol sama papa Juan dan mami bule. Aku nggak dengar apa yang mereka katakan. Wajahnya si bule kelihatan sedih."


"Jangan omongin dia.Kakak nggak suka!"


"Ok, deh. Bye kakak"


Alexa membereskan peralatan make up nya. Ia menyanggul rambut panjangnya dan segera melangkah menuju ke dalam pesawat.


**********


4 jam kemudian......


Joana yang sedang menyiapkan makan malam bersama bibi lumi melihat berita kecelakaan pesawat di TV.


"Lho itukan pesawat milik maskapai penerbangan tempat Alexa bekerja? Lokasi jatuhnya pesawat belum diketahui."


Tiba-tiba terdengar teriakan Felicia. Di belakangnya ada Juan dan Wulan.


"Ada apa Feli?" tanya Joana bingung.


"Kakak, mi. Kakak ada dalam pesawat itu."


"Apa maksud kamu, Feli? Bukankah Alexa baru saja berangkat dari Singapura menuju Jakarta? Pesawat itukan dari Singapura menuju ke Sidney."


"Kakak tukar tugas dengan temannya yang sakit. Aku tadi teleponan dengan kakak. Kakak bilang dia akan ke Sidney." teriak Felicia histeris. Ia langsung memeluk Joana erat.


"Tidak mungkin!" Joana menggeleng.


Aldo yang ada di ruangan kerjanya keluar dengan wajah pucat.


"Pihak maskapai baru saja menelepon. Pesawat mereka yang melakukan penerbangan dari Singapura Sidney mengalami hilang kontak. Dan Alexa salah satu kru di dalamnya." ujar Aldo tanpa bisa menahan air matanya.


Jaoana terkejut. "Anakku...., tidak....!" Lalu perempuan itu pun pingsan.


So, bagaimana kisah ini berakhir???


jangan protes ke emak ya????