Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Maaf, Aku pergi


Ingatan Wulan kembali pada saat ia datang ke rumah ini pertama kali. Cara Alexa dan Felicia memeluknya seperti sudah lama tak bertemu dengannya. Kini Wulan mengerti, mengapa Alexa dan Felicia seperti itu. wajahnya mengingatkan mereka pada ibu mereka.


Dan Juan? Tentu saja lelaki itu menciumnya karena kesamaan wajahnya dengan mendiang istri si duda tampan itu.


Bodohnya aku! Mana mungkin pria mapan dan tampan seperti itu akan tertarik pada seorang pengasuh anak? Aku terlalu tinggi bermimpi, pada akhirnya sangat sakit saat aku terjatuh. Dan aku hampir saja menyerahkan kesucian diriku. Oh Tuhan, ingin rasanya aku pergi dari sini.


Wulan keluar dari kamar Alexa dengan hati yang perih. Ia bergegas ke kamarnya. Ia segera mandi dan berganti pakaian. Di temuinya Joana yang baru saja pulang dari pasar.


"Nyonya, bolehkah hari ini saya minta ijin ke panti asuhan? Saya rindu dengan anak-anak yang ada di sana."


"Boleh. Jam berapa kau akan kembali?"


"Apakah aku boleh kembali malam?"


Joana mengangguk. "Bawakan kue untuk anak-anak di sana." Joana mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Makasi, nyonya. Saya pergi dulu, ya?"


"Minta pak Leo antarkan."


"Nggak perlu nyonya. Saya sudah pesan taxi online. Mungkin taxinya sudah di depan." Wulan langsung pamit. Ia begitu rindu bercerita dengan bibinya Widuri.


********


Tangis Wulan pecah saat ia menceritakan semua yang dialaminya di rumah nyonya Joana.


"Bibi bersyukur karena hubunganmu dengan tuan Juan tak sampai melakukan Zinah. Kau sudah dewasa tapi tak berpengalaman dengan pria." Widuri membelai rambut keponakannya yang berbaring di pangkuannya.


"Apa yang harus aku lakukan, bibi? Aku sangat suka bekerja di sana. Selain gajinya besar, mereka sangat ramah padaku. Aku juga terlanjur menyayangi Alexa, Felicia dan Joaldo. Anak-anak itu sudah mencuri hatiku."


"Semua terserah padamu. Kamu mau terus bekerja, ataukah akan berhenti bekerja. Yang akan bibi ingatkan adalah, menjauhlah dari tuan Juan. Bibi takut kalian akan lupa diri dan terlanjur tidur bersama. Nak, apakah kau jatuh cinta pada tuan Juan?"


Tangis Wulan semakin dalam. "Aku nggak tahu, bi. Setiap kali berdekatan dengannya, jantungku selalu berdetak. Tiap kali dia memelukku, tubuhku terasa panas. Aku sering merindukannya jika dia ada di kantor. Aku terlalu tinggi bermimpi sampai lupa diri. Aku memang bodoh!"


"Kita memang sering terlihat bodoh saat jatuh cinta. Tapi perasaan memang tak dapat kita kontrol kemana akan mendarat."


Wulan tak bisa membantah kata-kata bibinya. Ia hanya bisa menekan perasaannya.


********


Juan tak menemukan Wulan saat makan malam bersama di rumah Aldo. Memang, sejak Wulan menjadi pengasuh anaknya, Juan sangat suka makan malam bersama di rumah Aldo karena Wulan juga akan makan malam di meja yang sama.


"Mami bule, bibi Wulan dimana?" Tanya Alexa.


"Bibi minta ijin ke panti asuhan hari ini. Katanya sih akan pulang malam ini." Kata joana. Ia dapat melihat kalau Juan terlihat gelisah.


Selesai makan malam, Juan menemani Felicia bermain. Anaknya itu terus bertanya kemana Wulan. Akhirnya setelah dibujuk, Felicia akhirnya mau tidur juga.


Ketika, Felicia sudah tidur, Juan berjalan ke luar rumah. Entah mengapa hatinya ingin tahu apakah gadis itu sudah pulang atau belum.


Tepat di saat itu ia melihat Wulan turun dari taxi online. Juan menyeberangi halaman dan menuju ke halaman rumah Aldo.


"Wulan.....!" panggil Juan.


Langkah Wulan terhenti. Ia menarik napas panjang sebelum membalikan badannya. "Selamat malam, tuan....!" Sapa Wulan berusaha bersikap sewajar mungkin.


"Kau baru pulang?"


"Iya." Jawab Wulan.


Juan mendekat. Wulan merasakan jantungnya berdebar kencang karena harum minyak wangi Juan selalu membuatnya terlena.


Saat tangan Juan terulur, bermaksud untuk memeluknya seperti biasa, Wulan tiba-tiba mundur.


"Ada apa?" tanya Juan heran. Ia begitu ingin memeluk dan mencium Wulan seperti biasa.


"Tuan, jangan mencium aku karena wajahku mirip dengan mendiang nyonya Finly. Aku tahu kalau aku hanyalah gadis miskin yang terlalu percaya diri saat dicium olehmu. Maafkan aku." Wulan langsung membalikan tubuhnya. Namun sebelum ia pergi, Juan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Wulan..., jangan pergi. Aku selalu merasa senang saat bersamamu."


"Jangan jadikan aku sebagai pelampiasan rasa rindu tuan pada nyonya Finly. Aku tak bisa." Wulan melepaskan tangan Juan yang melingkar di pingangnya, ia langsung berlari memasuki rumah Aldo. Sebenarnya dia begitu ingin dipeluk oleh Juan. Dia juga merasa senang setiap kali tubuh kekar itu memeluknya. Namun dia tak ingin dijadikan pelampiasan. Wulan ingin dicintai sebagai Wulan bukan hanya karena wajahnya mirip Finly.


"Bibi Wulan....!" Alexa masuk ke kamar Wulan.


"Ada apa, nak?"


Alexa duduk di samping Wulan. "Bibi lihat barang-barang Eca yang ada di atas tempat tidur?"


"Bibi sudah masukan ke laci nakas."


Alexa menelan salivanya. "Bibi sudah lifat foto mama?"


"Iya."


Alexa memeluk lengan Wulan. "Jangan benci Eca, ya? Eca yang minta mama Joana untuk mengajak bibi supaya tinggal di sini."


Alexa menunjukan foto Wulan yang diambil oleh Finly secara diam-diam. "Mama Finly sudah mengenal kakak sebelum dia meninggal."


Wulan menatap fotonya. "Lalu mengapa mamamu ingin aku di sini? Apakah nyonya Finly ingin aku menjadi penggantinya? Aku nggak bisa menjadi seperti mamamu, Eca. Aku bukan wanita dari kelas atas. Aku hanya gadis kampung."


Alexa menangis. "Aku tahu bibi nggak bisa kayak mama. Aku juga awalnya melihat bibi karena mirip mama. Namun saat bermain bersama bibi, aku sadar bibi bukan mama. Namun Eca tetap sayang sama bibi."


Wulan memeluk Alexa namun dia tak bisa lebih lama di sini. Dia takut akan semakin suka dengan Juan.


*********


Joana terkejut saat bangun pagi hari dan menemukan sebuah surat di atas meja.


Nyonya, maaf aku pergi tanpa pamit


aku sudah tahu kalau kehadiranku


di sini sebagai pengganti nyonya Finly.


Maaf, aku tak bisa seperti dia.


Aku juga tak mau menjadi seperti dia.


Aku menyayangi Alexa, Felicia dan Joaldo.


Tapi aku ingin mereka menganggap ku sebagai


Wulan bukan sebagai nyonya Finly.


Joana memandang surat itu dengan hati yang sedih. Ia tahu Alexa dan Felicia bahkan Joaldo akan sedih. Mereka sudah menyayangi Wulan.


"Mami bule, kita harus bagaimana sekarang?" tanya Alexa saat Joana mengatakan padanya kalau Wulan sudah pergi. Ia bahkan tak mengambil sisi gajinya. Memang diawal ia kerja, ia sudah meminta sebagian gajinya untuk dikirimkannya pada ibunya di kampung.


"Mami nggak tahu, sayang. Wulan pikir kalau kita menganggapnya sebagai pengganti mama Finly. Awalnya memang benar. Namun lama kelamaan Wulan yang sifatnya berbeda justru membuat mami sayang padanya. Dia yang tomboy dan pintar sekali bercerita bahkan membuat Joselin yang masih kecil pun sangat menyukainya."


Alexa memandang adiknya yang sejak tadi malam menangis terus mencari Wulan. Felicia bahkan tak mau bersekolah hari ini.


********


Juan memandang Finly yang berdiri si hadapannya. "Sayang....kau kembali? Aku sangat mencintaimu!" Juan langsung memeluk istrinya itu dengan luapan kerinduan.


"Juan, jangan rindu lagi padaku. Kau harus bahagia, Alexa dan Felicia juga harus bahagia."


"Hanya kamu yang bisa membuat kami bahagia, sayang."


Finly membelai kepala Juan. Lalu ia menujuk ke suatu arah. "Dia bisa membahagiakan kalian."


Juan mengikuti arah telunjuk Finly. Nampak Wulan, dengan kaos kebesaran dan celana jeans selututnya. "Wulan?"


Juan tersentak bangun dari tidurnya. Mimpi yang sangat aneh. Apakah maksud Finly dengan mengatakan kalau Wulan yang bisa membuatnya bersama anak-anak bahagia?


Tangan Juan mengusap wajahnya perlahan. Sudah satu bulan lebih Wulan meninggalkan rumah Joana. Menurut Alexa, Wulan sudah pulang ke kampungnya. Juan sebenarnya sangat merindukan Wulan. Rindu pada suara merdunya yang bernyanyi saat menidurkan Felicia. Rindu pada tawa khasnya yang berlarian mengejar Felicia atau Joaldo. Juan rindu makan nasi goreng buatan Wulan. Ya Tuhan, apakah Juan sudah jatuh cinta pada Wulan?


Juan bergegas ke kamar mandi. Ia mandi dan segera berganti pakaian. Hari ini hari sabtu. Anak-anak juga tak ke sekolah.


"Eca, ikut papi, yuk!" Ajak Juan.


"Mau kemana?"


"Kita akan mencari bibi Wulan. Mita minta bibi untuk kembali bersama kita. Papi merindukannya. Bukan karena dia mirip mama Finly namun karena perbedaan sifatnya dengan Finly."


Akexa tersenyum bahagia. "Ayo papi! Tapi apakah papi tahu alamatnya?"


"Mami punya!" Joana tiba-tiba muncul dan memberikan secarik kertas. Ibu Widuri tak mau memberitahukannya. Namun salah satu anak panti yang berasal dari desanya Wulan bersedia memberikan alamatnya."


Juan tersenyum pada Joana. "Makasi, ya."


"Yakinkan Wulan kalau kau menginginkannya sebagai Wulan bukan karena wajahnya mirip Finly." Ujar Joana.


"Tentu!"


Alexa dan Juan berangkat ke Bandung, ke salah satu desa tempat Wulan berada.


Saat mereka tiba di sana, nampak rumah yang mereka tujuh sedang ramai dengan adanya janur kuning dan sebuah tenda.


"Maaf ya, boleh tanya, nggak. Apakah di sini rumah Wulan?" Tanya Juan.


"Ya. Besok dia mau menikah."


"Apa?" Alexa jadi terkejut. Air mata langsung mengalir di pipi mulusnya. Mami Finly, maaafkan aku yang tak bisa mewujudkan keinginanmu.


Ya....Wulan menikah guys....


Juan terlambatkah???