Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Tak Bisa Menghindar


Hai readers...sorry ya lama up ceritanya.


Aku lagi super duper sibuk...harap permaklumannya.


Selanjutnya, yang minta supaya cerita ini jangan ada konflik yang berat, aku justru ingin membuat konflik yang berat. Aku ingin melalui beberapa kejadian, Jeronimo dan Giani akan saling mengerti perasaan masing-masing. Bagiku, cinta itu butuh proses agar bisa menguatkan ikatannya. Jadi maaf ya jika alurnya tak seperti yang kalian inginkan. Happy reading.


************


Dalam perjalanan ke apartemen Finly, Jero menelepon Giani. Ia ingin memberitahukan pada Giani perihal kepergiannya ke apartemen itu. Ia bahkan mengirim isi inbox yang Finly kirim untuknya.


"Pergilah, sayang. Kalau perlu panggil orang untuk menemanimu." Kata Giani.


"Aku bingung mau panggil siapa, Gi. Frangky juga nggak ada. Kak Dion nggak ada."


"Kalau ada sesuatu, panggil satpam."


"Iya. Kalau begitu aku tutup dulu ya?"


Jero memaju mobilnya menuju ke apartemen Finly. Ia berusaha untuk tiba tepat waktu. Jika sesuatu terjadi pada perempuan itu, mama Sinta pasti tak akan pernah sembuh.


20 menit kemudian, Jero sampai di apartemen Finly. Ia memanggil pengurus apartemen untuk membawa menemaninya. Untunglah Jero masih ingat dengan kode masuk ke apartemen itu karena ia sendiri yang membuatnya.


Saat pintu terbuka, Jero langsung memanggil Finly. Ruang tamu tampak berantakan dengan pecahan botol alkohol.


"Finly....!" Jero berlari ke kamar. Ia terkejut melihat Finly yang baru saja akan meminum racun itu langsung dari botolnya.


"Kamu sudah gila, ya?" Jero menyambar botol itu. Saling rebut dengan Finly sampai akhirnya botol itu terlempar ke sudut ruangan dan isinya tumpah. Petugas apartemen yang datang bersama Jero langsung mengambil botol racun itu. Ia membuang isinya di kamar mandi, kemudian membersihkan sisa tumpahan racun yang ada di lantai.


Plak....!


Jero menampar Finly dengan sangat keras karena perempuan itu berteriak menangis ingin lepas dari Jero.


"Biarkan aku mati....! Biarkan aku mati...! Aku tak mau hidup jika kamu tak bersamaku."


Finly bau minunan. Sepertinya ia sedikit mabuk. Jero dengan cepat langsung mengangkat tubuh Finly dan membawanya ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuh Finly dengan air. Tangannya dengan cepat membuka baju Finly. Setelah dilihatnya Finly agak kedinginan, Jero segera mengambil jubah handuk dan memakaikannya pada Finly, lalu menggendong ia kembali keluar. Petugas apartemen itu sudah tak ada.


Jero membuka lemari Finly, lalu mengambil celana panjang dan mantel. Ia memakaikannya pada Finly. Perempuan itu seperti tak berdaya. Ia hanya diam saja, bahkan saat Jero menyisir rambutnya.


Setelah selesai, Jero membawa Finly keluar dari kamar karena bau racun masih menyengat. Saat ia menurunkan tubuh Finly di atas sofa, ternyata petugas apartemen itu sudah membereskan ruang tamu dari pecahan botol.


"Tuan, sebaiknya pintu kamar dan jendela dibiarkan terbuka supaya udara segar akan masuk untuk menghilangkan bau racunnya." Kata pria itu. Ia kelihatan berusia sekitar 40-an.


"Baiklah. Saya akan membukanya. Tolong jaga, dia ya?" Jero menatap Finly yang sedang tidur di atas sofa. Matanya menatap kosong ke depan.


Jero kembali ke kamar Finly. Ia mematikan ac, membuka jendela kamar, pintu balkon dan juga pintu kamar. Ia bahkan mengepel kamar itu untuk menghilangkan bekas-bekas racun. Setelah kamar menjadi rapih, Jero kembali turun ke bawa.


Ia melihat petugas apartemen itu sedang mencuci piring. Entah sudah berapa lama Finly tak mencuci piringnya.


"Terima kasih, pak. Apartemen ini sudah rapih kembali." Jero mengambil dompetnya dan mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribuan.


"Ini buat bapak."


"Jangan tuan, saya ikhlas membantu."


Jero tersenyum. "Saya juga ikhlas memberinya, pak. Saya masih mau meminta pertolongan bapak untuk membelikan makanan di sekitar sini. Ada nggak?"


"Di depan apartemen ini ada restoran Cina. Mau makanan Cina?Oh ya nama saya Rudy. Panggil saja paman Rudy."


"Baiklah paman Rudy. Tolong belikan nasi cap cai dan ifu mie." Jero menambah lagi jumlah uangnya.


Pak Rudy langsung pergi. Jero mendekati Finly yang masih berbaring. Mata perempuan itu terpejam. Napasnya nampak teratur. Sepertinya Finly tidur.


Jero mengambil ponselnya, ia agak menjauh lalu menelepon Giani.


"Bagaimana kabar kak Finly?" Tanya Giani dari seberang.


"Finly sudah tertidur sekarang ini. Ia terlihat sangat stres."


"Sebaiknya kamu jangan tinggalkan kak Finly. Takutnya dia nekat lagi dan berbuat hal bodoh."


"Maksudmu, aku harus tidur di sini?" Jero terkejut. "Tapi, Gi...."


"Aku percaya padamu! Aku tahu kamu tak akan melanggar apa yang sudah kau janjikan. Jagalah kak Finly malam ini. Besok, minta bi Lumi untuk menemaninya. Besok kamu masih ada rapat kan?"


Jero menarik napas panjang.Ia tak menanggapi apa yang Giani katakan. Hatinya tak ingin ada di sini. Namun nuraninya menyetujui usul Giani untuk menjaga Finly karena tak ingin sesuatu terjadi. Finly memang terkenal sebagai orang yang sangat nekat.


"Sayang..., kamu mendengarkan aku?" Terdengar suara Giani dari seberang.


"Tapi Gi, nanti Finly merasa di atas angin jika aku ada di sini menjaganya."


"Biarlah dia merasa di atas angin. Yang pokok adalah kamu tak menanggapinya."


"Baiklah!"


"Kamu juga jangan lupa makan, sayang. Jangan lupa minum obat dan vitaminnya. Kalau mau tidur sebentar, telepon aku ya? Kita akan berdoa bersama."


"Ok. See you!"


Jero menyimpan lagi ponselnya ke dalam saku celananya. Tak lama kemudian, pak Rudy datang membawa makanan pesanan Jero.


"Tuan, apakah masih ada yang bisa ku bantu?"


Jero menggeleng. "Terima kasih, paman."


"Kalau begitu, aku kembali dulu ya? Jika ada sesuatu yang tuan inginkan, hubungi aku saja lewat intercom dengan menekan angka 1."


"Baik paman."


Pak Rudy pun pamit untuk kembali ke lobby apartemen.


Jero membangunkan Finly.


"Fin, ayo makan!"


Finly membuka matanya. "Aku tak lapar."


"Makanlah. Supaya kamu kuat dan dapat berpikir jernih." Jero membantu Finly bangun. Setelah itu ia meletakan piring yang sudah berisi nasi capcai dipangkuan Finly.


"Kamu masih ingat dengan makanan kesukaanku." Kata Finly terharu. "Aku akan memakannya."


Finly pun mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya, sementara Jero menikmati juga makanannya.


Keduanya pun makan tanpa bicara apa-apa. Hanya sesekali pandangan mata Finly tertuju pada Jero. Hatinya senang karena Jero masih menemaninya.


Selesai makan, Jero mengambil piring Finly dan segera mencucinya. Sementara Jero mencuci piring, Finly tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Aku senang karena kau ada di sini." kata Finly.


Jero mengeringkan tangannya dengan lap, lalu melepaskan tangan Finly yang melingkar di perutnya.


"Kita nggak boleh kayak gini lagi. Aku tak mau terjerat dalam lumpur dosa lagi, Fin." Jero memilih duduk di kursi meja makan. Finly pun duduk di depan Jero.


"Lalu mengapa kau masih di sini?" Tanya Finly.


"Karena Giani yang memintanya. Ia takut kalau kamu akan berbuat nekat lagi."


"Giani tahu?"


"Ya. Aku harus mengatakan pada istriku di mana aku sekarang."


Finly nampak kesal. Ia benci menerima kenyataan kalau Jero masih bertahan di apartemennya karena Giani yang memintanya.


Ponsel Jero berbunyi. Ia melihat kalau itu adalah panggilan videocall dari Giani. Ia berdiri lalu berjalan ke balkon untuk menerima panggilan itu.


Hati Finly semakin sakit. Namun ia tak akan pernah berhenti mengejar Jero dalam hidupnya.


Sementara itu di balkon, Jero sedang berbincang dengan Giani. Menatap wajah cantik Giani yang hanya mengenakan lingre membuat Palo bereaksi.


"Sayang, kenapa memakai gaun seperti itu?"


Giani tertawa. "Tergoda ya?"


"Iya. Palo jadi gregetan liatnya."


Lagi-lagi Giani hanya tertawa. "Aku sudah mengantuk."


"Mau doa sekarang?"


Giani mengangguk. Keduanya pun berdoa bersama. Seperti biasa, Jero yang memimpin doanya.


Begitu panggilan mereka berakhir, Jero masuk ke dalam. Di lihatnya Finly baru saja meletakan secangkir kopi. "Minumlah, Jer."


"Terima kasih." Jero meraih cangkir kopi itu dan langsung menuguknya. Finly tersenyum.


********


"Ah.....!" Jerit Giani saat gelas yang dipegangnya jatuh begitu saja. Gelas yang berisi teh panas itu lepas dari tangan Giani. Pagi ini ia memilih sarapan di kamar dan bersiap untuk pergi cafenya untuk melihat perbaikan yang mereka lakukan.


Kenapa hatiku merasa tak enak ya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di Jakarta??


Sementara itu, di apartemen Finly, Jero terbangun saat merasakan ada tangan halus yang melingkar di pinggangnya.


Jero membuka matanya. Ia terkejut melihat Finly tidur di sampingnya. Keduanya dalam keadaan polos tanpa satu benangpun yang melingkar di tubuh mereka.


Jero langsung duduk dengan jantung yang berdetak cepat. Ya Tuhan, apa yang terjadi???