Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Dia Suamiku


Di sebuah rumah mewah, nampak gadis cantik yang baru saja genap berusia 26 tahun sedang berdiri di balkon kamarnya. Dialah Anggita. Anak tunggal pemilik perusahaan furniture ternama di Indonesia.


Anggita dikenal sebagai anak yang cerdas, pandai bergaul dan sangat rajin bekerja. Begitu seriusnya dia mengolah perusahaan milik keluarganya, sampai ia tak punya waktu untuk mengenal lawan jenis. Namun semuanya berbeda semenjak ia mengenal Jeronimo Dawson sebulan yang lalu. Pria tampan itu langsung membuat Anggita jatuh hati pada pandangan pertama. Apalagi Anggita memang sangat menyukai pria bule.


Ada senyum dibibir Anggita saat membayangkan wajah tampan Jeronimo. Ah, Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta kepadaNya? Aku belum tahu siapa dia dan bagaimana pribadinya. Apakah dia sudah punya kekasih atau belum. Sungguh Anggita ingin tahu semua tentang Jero.


*********


Jero yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Giani yang sudah rapih.


"Sayang, kamu mau kemana?"


"Aku mau ke cafeku!" jawab Giani sambil merapihkan rambutnya..


"Mel, memangnya kamu sudah sehat? Kemarinkan masih muntah."


Giani tersenyum. "Bee, aku bosan di rumah terus."


"Tapi kamu nggak boleh capek, kan?"


"Aku hanya ingin melihat-lihat saja."


"Saat makan siang, harus sudah di rumah ya?"


"Ok!"


Jero mencium dahi istrinya. "Aku antar ke cafe, nanti siang biar sopir kantor yang akan mengantarmu pulang. Jangan dulu membawa kendaraan sendiri, ya?"


"Ok bos!" Kata Giani sambil menggandeng tangan Jero. Keduanya pun keluar kamar bersama menuju ke ruang makan.


Bi Lumi tersenyum melihat bagaimana Jero menyuapi Giani sambil sesekali ia menyuapi dirinya sendiri.


"Kalau ada tuan, nona makannya lahap, tapi kalaiu tuang nggak ada, nona terlihat lesu." Kata bi Lumi.


"Dede bayi maunya kayak gitu, bi." Kata Giani.


"Dede sama mamanya juga!" Goda Jero sambil membelai perut Giani.


"Memangnya dulu aku manja ke kamu, Bee? Nggak kan? Nanti juga saat aku hamil baru seperti ini."


"Iya...iya...., jangan merajuk gitulah. Semuanya mau si dede. Mamanya nggak mau dekat-dekat sama papanya."


Sekali lagi bi Lumi tersenyum. Giani yang dikenalnya sebagai gadis pendiam dan selalu mengalah, kini tak ada lagi.


Selesai sarapan, Keduanya langsung pamit pada bi Lumi untuk berangkat.


Sepanjang perjalanan menuju ke cafe, tangan Giani tak pernah lepas menyentuh tangan Jero. Ia selalu merasa senang saat bersentuhan langsung dengan suaminya.


"Ingat ya sayang, jangan sampai capek!" Kata Jero sebelum Giani turun.


"Iya. Aku hanya kangen saja ke sini." Giani mencium tangan Jero yang masih dipegangnya lalu bergegas turun. Ia melambaikan tangannya pada Jero lalu segera masuk ke dalam cafe.


Semua pelayan cafe langsung tersenyum senang melihat kedatangan Giani. Selama 4 bulan lebih Giani tak permah datang ke sini dan kini ia datang dengan berita bahagia yaitu mengenai kehamilannya.


Giani senang karena cafe nya semakin maju.


Sementara itu, Jero di kantor langsung disibukan dengan laporan bulanan yang kemarin hari tak sempat diperiksanya. Perusahaan keluarga Dawson semakin berkembang di Indonesia sehingga sebagai penanggungjawabnya, Jero pun semakin sibuk.


Pintu ruangannya di ketuk dan Beryl masuk dengan senyum menawannya seperti biasa.


"Hallo!"


Jero menatap sepupunya. "Hai, dude. Tumben loe datang cepat. Biasanya juga nanti bulan Maret."


"Jangan lupa kalau gue punya cafe di Jakarta dan di Bali. Lagi pula gue kangen dengan Giani."


"Apa?" Jero menatap Beryl dengan sorot mata yang tajam.


"Memangnya gue nggak boleh kangen sama Giani? Dia kan bukan tipenya loe." Ujar Beryl santai sambil duduk di depan meja Jero.


"Beryl!" Suara Jero sudah melengking tinggi membuat Beryl tertawa dengan sangat keras.


"Segitu aja marah. Gue hanya pingin lihat, apakah loe berani bilang lagi kalau Giani bukan tipe loe?"


"Giani istri gue. Dia sekarang sedang hamil anak kembar. Aku sangat bahagia."


"Wah, hebat juga loe. Sekali dapat langsung kembar. Namun keturunan Dawson kan ada kembarnya juga."


"Iya."


"Mana Giani?"


"Ada di cafe. Dia..." Kalimat Jero terhenti saat mendengar panggilan teleponnya. Ternyata dari Giani. "Hallo sayang....!"


"Aku bosan di sini. Pingin dekat sama kamu, Bee. Rasa mualnya kembali datang."


"Sayang, aku masih banyak pekerjaan."


"Giani ya?" tebak Beryl. Jero mengangguk.


"Itu suara Beryl ya?" Tanya Giani dari seberang.


"Iya, Mel."


"Salam untuk Beryl ya? Bye....!" Giani langsung menutup percakapannya membuat Jero sedikit bingung.


"Kenapa?" Tanya Beryl.


Jero mengangkat bahunya. "Sejak hamil, Giani jadi posesif dan sangat manja. Tapi aku suka!"


Pintu ruangan Jero kembali diketuk. Selly masuk sambil memberi hormat pada Beryl dan Jero.


"Ada apa, Sel?" Tanya Jero.


"Di lobby ada nona Anggita. Ingin ketemu untuk tanda tangan kontrak baru katanya."


"Oh....iya. Suruh saja dia masuk!"


Selly mengangguk. Ia kembali keluar tanpa mengunci pintunya.


"Loe akan ada tamu ya? Kalau begitu gue ke ruangan dulu ya. Ada ole-ole dari mamak untuk Giani. Nanti malam saja gue bawa ke rumah loe. Siapkan makan malam ya?" Ujar Beryl.


"Makan di restoran saja. Jangan menyibukan istri gue."


"Duh, pelit sekali." Beryl mendesah kesal.


Jero tertawa. "Nanti gue yang akan memasaknya."


"Memangnya loe bisa masak?"


"Bisalah. Giani aja suka dengan masakan gue!"


"Selamat siang!"Anggita masuk dan membuat Jero dan Beryl spontan menatap ke arah pintu.


"Anggita, ayo masuk!" Jero langsung berdiri.


Beryl menatap perempuan cantik yang sangat seksi menurutnya. Rok hitam ketat yang membungkus pinggang rampingnya, kaki yang panjang dan indah, serta kemeja yang juga sedikit ketat menunjukan bentuk gunung kembarnya yang Beryl dapat bayangkan bagaimana ukurannya. Rambut panjang yang tergerai indah. Sungguh tipe gadis yang sangat Beryl sukai.


"Hallo manis. Perkenalkan namaku Beryl Dawso. Sepupunya Jeronimo." Beryl mengulurkan tangannya.


"Anggita!"


"Waw, nama yang cantik. Secantik orangnya."


"Terima kasih!" Ujar Anggita. Ia nampak biasa saja menerima pujian dari Beryl.


"Aku ke ruanganku dulu ya?" Pamit Beryl. Ia sedikit kecewa karena Anggita menanggapi dingin pujian darinya. Biasanya juga para gadis akan tersipu malu.


"Mari duduk!" Jero mengajak Anggita duduk di sofa setelah Beryl pergi.


Sementara itu, Giani baru saja tiba di lobby kantor. Ia menyapa para resepsionis dan langsung menuju ke lift khusus untuk menemui suaminya.


"Hallo Selly!" Sapa Giani saat keluar dari lift.


"Nyonya Dawson!" Selly langsung berdiri dan menunduk hormat.


"Apakah suamiku ada?"


"Ada nyonya. Tapi sedang ada tamu!"


"Aku tunggu saja." Giani duduk di depan Selly.


"Apakah nyonya mau minum sesuatu?" Tanya Selly.


"Tidak. Saya masih kenyang. Oh ya, tamunya siapa ya?"


"Nona Anggita dari perusahaan furniture."


"Apa?" Jantung Giani langsung berdetak cepat. Rasa cemburu dan rasa mual langsung membuatnya berdiri.


"Aku masuk!" Giani langsung melangkah ke ruangan Jero. Di bukanya pintu dengan sedikit tergesa. Ia melihat suaminya sedang duduk saling berhadapan dengan seorang perempuan cantik yang berpakaian cukup seksi.


"Sayang......!" Giani langsung mendekat. Melihat istrinya, Jero pun langsung berdiri.


Giani langsung melingkarkan tangannya di bahu Jero lalu ia berjinjit sedikit dan mencium bibir suaminya dengan gaya sensual.


"Dedenya kangen ingin ke sini!" Ujar Giani sambil mengusap perutnya.


Jero tersenyum. Ia membelai perut istrinya. "Kangennya sekarang sudah terobati kan?"


"Belum. Aku mau makan disuapi oleh, Bee." Kata Giani manja.


"Iya, Mel. Tapi tunggu sebentar ya? Aku ada tamu!" Jero menunjuk Anggita yang nampak salah tingkah melihat kemesraan pasangan itu. Bagaikan mendapat tanparan yang sangat keras, Anggita sungguh tak mengira kalau Jero sudah menikah.


Giani menoleh ke arah Anggita. Ia tersenyum manis walaupun sangat kesal saat menyadari betapa cantiknya gadis itu.


"Oh...rekan bisnisnya Bee?" Giani mendekat. Ia mengulurkan tangannya. "Saya Giani Fifera Dawson. Istri dari Jeronimo Dawson!"


Anggita berdiri dan menyambut uluran tangan Giani. "Anggita!"


"Kamu sungguh cantik, Anggita. Aku percaya suamimu sangat bangga memilikimu."


"Aku belum menikah!"


"Oh..., maaf ya? Aku pikir kalau kamu sudah menikah."


"Tidak apa-apa."


"Kamu gadis yang sangat menarik..Pasti banyak pria yang antri untuk mendapatkanmu. Ya kan sayang?" Tanya Giani sambil melingkarkan tangannya di lengan Jero.


Jero hanya mengangguk.


"Anggita, kamu kan rekan bisnisnya suami aku, kalau Jero disukai oleh gadis lain, bilang pada mereka ya, kalau Jero sudah punya istri dan istrinya sangat galak. Ia tak akan pernah tinggal diam jika suaminya diganggu oleh wanita lain." Kata Giani tegas membuat Jero sedikit terkejut mendengar perkataan istrinya.


Anggita berusaha tersenyum walaupun ada rasa sakit di hatinya. "Aku yakin kalau pak Jero adalah tipe pria yang setia."


Giani menatap suaminya. "Benarkah sayang?"


"Kamu yang lebih tahu, Mel." Kata Jero sambil menatap istrinya dengan lembut.


Anggita meraih tas tangannya. "Baiklah. Sekarang waktunya bagi saya untuk pergi. Nanti seminggu lagi, barang-barangnya akan masuk ke hotel."


"Ok. Terima kasih, Anggita!"


Anggita segera meninggalkan ruangan Jero dengan dada yang terasa sesak.


"Kalau aku nggak datang ke sini, kalian pasti akan keluar bersama lagi kan?"


"Mel, Anggita memang harus datang untuk tandatangan kontrak. Jangan salah mengerti ya?"


Giani menatap Jero dengan tajam. "Awas ya kalau kamu berani selingkuh di belakangku, akan ku potong si palo menjadi beberapa bagian."


Jero melotot. "Sekejam itukah kau padaku?"


"Ya. Ingat baik-baik, aku ini istrimu dan kau adalah suamiku!"


Jero memeluk Giani dengan sangat erat.


"Aku senang kamu posesif padaku. Itu tandanya kalau kamu sangat menyayangiku. Percayalah padaku, Mel. Tak ada wanita lain selain dirimu."


Giani tersenyum senang. "Sekarang pesan makanan dan suapi aku makan ya?"


"Siap, nyonya Dawson!"


Tawa keduanya terdengar bahagia, membuat Selly yang ada di luar ruangan dapat memdengarnya karena pintu ruangan Jero yang terbuka.


********


Anggita dengan sangat cepat keluar dari kantor Jero. Hatinya sesak karena menerima kenyataan kalau pria yang disukainya sudah menikah. Tanpa sadar kalau air mata Anggita mengalir. Ia berhenti di samping mobilnya dan menangis di sana. Sungguh, hatinya patah sebelum berkembang.


"Hei baby, are you ok?"


Anggita menoleh. Seorang pria bule sudah berdiri di sampingnya sambil mengulurkan sapu tangan. Anggita ingat, kalau pria bule itu ada di ruangan Jero tadi.


"Thanks." Anggita mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya.


"Please dont cry! Kau membuat hatiku sakit saat melihatmu bersedih."


Anggita menatap Beryl. Ia tersentuh dengan kata-kata Beryl.


"Tersenyum dong! Menangis saja kau tetap terlihat cantik, apalagi tersenyum? Kau bisa membuatku semakin terpesona!"


Anggita akhirnya tersenyum.


"Mau makan siang denganku?" Tanya Beryl manis.


"Apakah kau sudah menikah atau sudah punya pacar?"


"Aku jomblo!"


"Jangan-jangan kamu playboy!"


"Tidak. Aku takut mempermainkan wanita." Beryl berkata serius walaupun dalam hati dia tersenyum. Aku sudah berulang kali menyakiti wanita namun denganmu kayaknya aku tak akan bisa menyakiti.


"Baiklah. Naik mobilku saja? Tapi kamu yang jadi sopirnya.


"Ok." Beryl mengambil kunci dari tangan Anggita. Apa salahnya aku mencoba dengan Anggita saat gagal dengan Giani kan???


Jangan lupa dukung emak ya...


like, komen Vote...


Episode berikut kita akan tahu jenis kelamin anaknya Jegia....