
...🍂🍂🍂...
Setelah selesai makan, Violet mulai membicarakan masalah pernikahan pada Leon. Lebih tepatnya dia marah-marah pada Leon yang sudah membuat ibunya setuju tentang pernikahan.
Leon merasa bahwa hal itu tidak menjadi masalah dan dia siap menikah kapan saja. Intinya dia ingin bertanggungjawab karena telah melakukan one night stand dengan Violet.
"Aku kan sudah bilang, bapak tidak perlu bertanggungjawab" ucap Violet tegas
"Tapi aku mau dan aku tidak masalah. Ibu dan kakak mu juga sudah menyetujui nya"
"Kapan kau meminta persetujuan dari mereka? Dan kenapa kakak ku yang keras kepala itu juga setuju padamu?" tanya Violet keheranan
"Menurutmu kenapa? Tentu saja karena aku adalah calon adik ipar dan menantu yang sesuai" kata Leon penuh percaya diri
"Hanya karena kita pernah tidur bersama, bukan berarti kita harus menikah kan?" tanya Violet pada Leon
Pria itu mendekat ke arah Violet yang sedang duduk di kursi. Kedua matanya membulat terkejut, hatinya berdebar ketika pria itu mendekat ke arahnya. "Nona Violetta, apa kau bermaksud menghindar dari tanggungjawab?" tanya Leon sambil menaikkan tubuh Violet dengan mudahnya ke pangkuan nya.
BRUGH!
Leon duduk di sofa, dengan berani dia memegang pinggul Violet. Semakin berdebar-debar saja hati Violet dengan dengan Leon.
"Ta-tanggung jawab?" tanya Violet gugup karena tubuhnya berada diatas tubuh Leon
Ada anakku di dalam sana, mana mungkin aku akan melepaskan mu Violet. Leon menatap ke arah perut datar milik Violet.
"Kau pikir cuma kau saja yang dirugikan? Aku juga merasa rugi! Aku kehilangan keperjakaan ku karena dirimu, kau pikir aku tidak rugi?" tanya Leon
"Tapi kau kan pria, kenapa kau meminta pertanggungjawaban pada wanita? Kau pasti berbohong, mana mungkin kau tidak pernah tidur dengan wanita lain. Kau kan tampan, kau kaya, semua wanita pasti akan mengantri untukmu"
"Itu benar bahwa aku tampan dan kaya, tapi apakah kau berfikir aku playboy? Mengapa dari dulu kau selalu saja berfikiran seperti ini tentangku?" tanya Leon tak mengerti.
"Dari dulu?" Violet terpana mendengar kata-kata Leon, seolah pria itu sudah mengenalnya sejak lama.
"Itu..." Leon teringat masa lalu nya sebagai Kainer.
#FLASHBACK
Ratusan tahun yang lalu...
Di istana Pragma---
Gadis berambut perak itu sedang berjalan di tepi danau buatan disana. Dia menikmati pemandangan di istana tempat tinggalnya selama berada di dunia iblis.
"Zevanya bilang kalau mereka sempat memiliki hubungan di masa lalu. Lalu apa saja yang mereka lakukan di masa lalu? Huh! Memikirkan nya saja aku sudah sangat kesal"
GREP
Sepasang tangan kekar, berperawakan tinggi itu memeluk tubuh kecil nya. "Siapa yang membuatmu kesal, Ellia?" tanya Kainer kepada kekasihnya itu.
Camellia berwajah muram, dia menyingkirkan tangan yang melingkar ditubuhnya. Tak ragu-ragu di menunjukkan wajah kesalnya pada pria itu. Camellia bahkan meninggalkan Kainer dan melangkah pergi menghindari nya.
Kainer keheranan melihat kekasihnya bersikap seperti itu, dia pun menyusul Camellia dan menghadang jalannya. "Kau kenapa? Siapa yang membuatmu kesal?! Katakan padaku! Akan aku buat dia menjadi bubur!" tangan Kainer menyentuh dagu Camellia. Wajah kesal gadis itu terlihat sangat cantik di mata si Raja iblis. Tapi dia juga tidak suka melihat kekasihnya marah-marah.
"Benarkah? Kau akan membuat orang itu jadi bubur? Sayangnya dia bukan orang!" Camellia menatap tajam ke arah Kainer ditambah dengan bibirnya yang mengerucut.
"Apa dia bangsa iblis? Maka akan aku buat dia menjadi abu!" Kainer mengepalkan tangannya dengan percaya diri, dia akan membuat iblis yang membuat Camellia kesal menjadi abu.
"Ah sudahlah! Aku sudah kesal.. aku tidak mau bicara padamu saat ini!" Camellia pergi dengan langkah besarnya, gadis itu masih mendengus kesal.
Camellia terus menghindar dan tidak mau bicara dengannya, akhirnya Kainer tak punya pilihan lain selain mengikat Camellia dengan tali sihirnya.
"Kau tidak memberiku pilihan" Kainer tersenyum menyeringai, dia menjentikkan jarinya dengan mudah dia membuat Camellia terjerat tali sihir itu.
SRET
"KYAA!! Kau sangat curang!!" Camellia marah ketika tubuhnya terikat oleh tali dan terbang ke pelukan Kainer
"Nah, begini lebih baik kan? Mari kita bicara, apa yang membuat wajah cantikmu itu menjadi kesal?" tanya Kainer dengan senyuman iblis nya.
"Huh!" Camellia gemas, dia tidak bisa bergerak dan hanya bisa duduk dipangkuan Kainer.
"Ayo katakan padaku, apa yang membuatmu kesal begini?" tanya Kainer sambil menatap kekasihnya yang sedang duduk dipangkuan nya dengan tangan terikat.
"Apa kita akan bisa bicara dalam posisi seperti ini? Kau tidak akan melepaskan aku?" tanya Camellia kesal.
"Haruskah aku melepaskan mu? Bagaimana kalau nanti kau kabur lagi?" tanya Kainer pada Camellia, dia tidak mau gadis itu menghindari nya lagi. Jika ada masalah harus cepat di selesaikan dengan komunikasi, begitulah pikir Kainer.
"Aku tidak akan kabur, jadi tolong lepaskan aku! Aku benar-benar tidak nyaman kalau kau mengikatku seperti ini!" protes nya pada Kainer yang mengikat nya dengan tali sihir.
"Tidak apa-apa, kau kan masih bicara dengan mulutmu. Kau simpan saja tangan dan kaki mu, sekalian beristirahat sebentar"
"Dasar iblis sialan!" maki Camellia pada Kainer kesal
"Katakan padaku apa yang membuatmu kesal, lalu aku akan melepaskan ikatan ini?" tanya Kainer sambil menatap tajam kekasihnya.
"Ehem.. kenapa kau tidak tanyakan saja pada mantan tunangan mu?" Camellia malah bertanya baik dan terlihat kesal.
"Kenapa jadi dia? Apa dia yang membuat wajah cantik mu jadi semakin imut begini?" goda Kainer pada kekasihnya
"Apa kau sedang menggodaku?! Aku tidak bercanda!" Camellia gemas pada Kainer, saat dia bicara serius. Pria itu malah bercanda dan menggoda nya.
"Baiklah, aku juga akan serius. Apa yang membuatmu marah? Apa ada yang dia katakan padamu?" tanya Kainer sambil membelai lembut pipi Camellia.
"Dia bilang bahwa saat kalian bertunangan dulu, kalian pernah tinggal bersama.. apa itu benar?" tanya Camellia pada Kainer dengan tatapan mata curiga.
"Itu benar" jawab Kainer cepat
"Tuh kan!" Camelia melotot kearah Kainer dengan kesal.
"Tuh kan apa? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?!" tanya Kainer heran melihat Camellia yang kesal.
"Kau pasti sudah berbuat macam-macam saat kau tinggal dengannya kan?" Camellia menuduh.
"Apa kau sedang menuduhku?" tanya Kainer sambil tersenyum tipis.
"Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya. Melihat wajahmu yang kesal ini, seperti nya aku benar ya?"Camellia jadi semakin yakin kalau Kainer adalah seorang playboy. Iblis tidak mungkin bisa menahan godaan apalagi jika itu soal nafsu birahinya, begitu lah pikir Camellia.
"Sayang, hal macam apa yang mau maksudkan ini? Seperti apa?" tanya Kainer penasaran dengan apa yang ada di pikiran.
"Hal seperti.. seperti..."Camellia bingung bagaimana menjelaskan nya, lebih tepatnya dia tak mau menjelaskan nya.
"Seperti apa? Apa kau berfikir kalau aku dan dia melakukan nya? Kau sungguh berfikir seperti itu? Bahwa aku tidak setia?" tanya Kainer sedikit kesal.
"Iya! Aku berfikir begitu! Kau kan iblis, semua orang tau seberapa besar nafsu dan hasrat seorang iblis" Camellia tersenyum, tatapan matanya masih mencurigai kekasihnya.
"Hanya karena aku iblis, lalu kau bisa menuduhku seenaknya?" tanya Kainer tidak senang.
Kainer melepaskan ikatan sihir yang mengikat tubuh Camellia. Kini tangan dan kaki Camellia sudah bebas dari tali sihir itu.
SLING
"Ah... Kainer.."
"Kenapa kau bersikap seperti ini? Kau mau berpura pura setia? Tidak ada yang tau bagaimana kau dimasa lalu, kau adalah seorang Raja.. pasti nya kau memiliki banyak kekasih di masa lalu, dan bukan hal yang tidak mungkin kalau kau melakukan..."
Sebelum gadis itu menyempurnakan kata-katanya, Kainer sudah melahap bibir cantik milik kekasihnya. Menyesap manisnya bibir itu, tangannya juga bergerilya ke bagian punggung Camellia.
"Ummmmm..."
Panas.. tubuhku menjadi panas.. batin Camellia merasa kepanasan.
Tangan Camellia mendorong tubuh Kainer menjauh, melepaskan ciuman dari kekasihnya itu.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menciumku seperti itu?!" tanya Camellia pada kekasihnya.
"Aku tidak mau mendengar tuduhan mu lagi, aku tidak suka. Aku ini pria setia, meskipun aku seorang Raja.. tapi aku tidak seperti raja manusia yang punya banyak selir, meski aku pernah mencintai satu wanita sebelum dirimu..Tapi sekarang hanya akan ada kau saja" jelas Kainer pada kekasihnya, dia menatap Camellia dengan tatapan penuh cinta.
"Siapa wanita sebelum aku itu?" tanya Camellia.
Pasti Zevanya kan?
"Ibumu, Leticia.. aku pernah mencintai nya" jawab Kainer jujur.
Deg!
Mendengar nama ibunya disebut, Camellia terlihat sedih.
"Ibu? Jadi dia cinta pertamamu? Bukan Zevanya?" tanya Camellia dengan suara yang sedikit lemah.
"Bukankah kau sudah tau kalau aku mencintaimu ibumu di masa lalu? Kenapa? Masih cemburu?" tanya Kainer sambil membelai rambut panjang berwarna perak yang menjuntai panjang itu.
"Syukurlah.. karena kau tidak mencintai Zevanya" Camellia tersenyum lega.
"Aku tidak pernah menyukai nya, aku hanya mencintai mu" ucap Kainer dengan ketulusan dari dalam hatinya.
"Lalu apa kau masih mencintai ibuku?" tanya Camellia.
"Itu hanya masa lalu dan hanya cinta sesaat. Yang jelas, aku hanya mencintaimu untuk sekarang dan selamanya" Kainer tersenyum lalu mencium kelopak mata Camellia dengan lembut.
"Benarkah kau tidak ada hubungan dengan wanita lainnya? Misalnya cinta satu malam?"
"Tidak ada hal seperti itu! Jika aku adalah iblis yang playboy seperti itu, mungkin saja aku sudah melahap mu dan menghancurkan prinsip mu" Kainer bicara dengan lemah lembut kepada kekasihnya.
Benar juga ya. Kalau Kainer adalah iblis yang seperti itu, dia pasti tidak bisa menahan hasrat nya padaku. Tapi dia begitu menjagaku dengan tidak menyentuhku, itu artinya dia sangat mencintai ku.
"Ya sudah, kita akhiri saja pembicaraan ini. Aku lapar dan aku ingin makan malam" kata Camellia pada si Raja iblis itu, tangannya melingkar ke leher Kainer.
"Jawab dulu, apa kau benar-benar percaya padaku?" tanya Kainer
CUP
Camellia mencium pipi Kainer dengan lembut, seraya menatapnya penuh cinta. "Aku percaya"
"Dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya, aku hanya akan mencintai mu"
"Tidak ada yang namanya kehidupan selanjutnya"
"Ada" jawab Kainer sambil tersenyum.
Pria itu menggandeng tangan Camellia, lalu mereka berjalan ke dalam istana Pragma untuk makan malam bersama.
#ENDFLASHBACK
Lama terdiam, Violet keheranan melihat Leon. Kenapa pria itu selalu saja melamun saat berada di dekatnya? Apa yang dia pikirkan? Lalu kenapa mata Leon tidak asing baginya?
Kedua mata berwarna biru itu berkaca-kaca, menatap dengan sedih ke arah Violet, akhirnya air disana tumpah membasahi wajah nya. Sontak saja hal itu membuat Violet bingung.
"Pak Leon? Kenapa kau menangis?" tanya Violet bingung, melihat Leon menangis Violet jadi ikut sedih.
Ada sesuatu yang berdenyut di dalam hatinya, dan ada rasa sakit saat dia melihat tatapan Leon. Tanpa sadar dia membenamkan kepala Leon dengan kedua tangannya, pada dekapan nya.
"Jangan sedih, aku sudah ada disini.. aku tidak akan kemana-mana" tanpa sengaja hal itu terucap dari bibirnya.
"Aku tau, kau sudah ada disini..hiks" Leon menangis di dalam dekapan Violet. Ada semacam kerinduan di dalam pelukan hangat itu.
Violet ikut menangis merasakan kesedihan Leon yang tidak tau dia sedih karena apa. Para pelayan melihat pemandangan itu dengan haru.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tersadar dan melepaskan pelukan mereka. Kedua mata mereka sama-sama sembab. Leon meminta maaf pada Violet karena dia sudah terbawa perasaan dan memeluk nya.
"A-aku benar-benar minta maaf, tiba-tiba aku teringat suatu hal yang menyedihkan dan tanpa sengaja aku terbawa suasana dan memelukmu seperti itu" jelas Leon sambil mengusap air matanya sendiri.
Jangan sedih Leon, kau tidak kehilangan Camelia. Dia ada disisimu sekarang engkau tidak akan pernah kehilangan nya lagi.
"Ti-tidak apa, sebenarnya akulah yang memeluk bapak! Aku juga tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, aku minta maaf pak Leon" Violet juga menyeka air matanya sendiri.
Leon terkejut melihat mata Violet yang merah dan terlihat sembab itu. "Apa aku membuatmu menangis?" Kedua tangan Leon meraih kedua pipi Violet dengan lembut.
Mengapa? Mengapa setiap disentuh olehnya.. aku merasa familiar dengan nya?
"Aku baik-baik saja.." jawab Violet dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi pipi mu basah? Kau menangis? Kenapa?" tanya Leon menatap Violet dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak tahu" jawab Violet bingung kenapa dia menangis.
Tiba-tiba saja mata Violet membulat ketika melihat pada Leon. Violet menyingkirkan kedua tangan Leon dan menepisnya. Gadis itu terlihat terkejut dan entah apa yang dia lihat pada diri Leon.
"Kau! Kau siapa?!!" teriak Violet bertanya pada Leon.
"Apa maksudmu?Ini aku Leon" Leon tak mengerti maksud pertanyaan Gadis itu dan apa maksud tatapannya.
Semakin Leon mendekat pada Violet, gadis itu malah semakin menjauh. Violet gemetar ketakutan melihat Leon.
"Ada apa? Kau kenapa Violet?!" tanya Leon yang terus melangkah mendekat ke arah Violet.
"Menjauh dariku! Kau jangan dekat-dekat dengan ku!!" teriak Violet histeris.
"Apa aku ada salah? Ada apa sebenarnya?" tanya Leon tak paham dengan sikap Violet padanya.
"Kau jangan dekat-dekat denganku! Sudah kuduga, kau bukan manusia!" seru Violet sambil melangkah ke arah pintu dengan ketakutan.
Deg!
Leon tersentak kaget melihat Violet bereaksi histeris seperti itu.
Apa sebenarnya yang dilihat Violet pada Leon? Mengapa gadis itu ketakutan?
Bersambung dulu ya ...
...---***---...
Maaf readers up nya lama, Alhamdulillah anak saya sudah sembuh, baru bisa up lagi untuk yang ini.. maaf sudah menunggu..❤️❤️🤧