Kekasihku Raja Iblis

Kekasihku Raja Iblis
Bab 13. Tuan tidak tahu sopan santun


...🍂🍂🍂...


Leon menangkup tubuh gadis itu dengan kedua tangan kekarnya. Kedua mata mereka bertemu dan saling menatap.


Ya Tuhan mengapa jantungku berdebar seperti ini saat di dekatnya? dan kenapa dia menatapku dengan tatapan sedihnya?


Aku pasti tidak menyangka bahwa aku akan kembali bertemu denganmu kehidupan kali ini. Camellia, aku berjanji dalam kehidupan ini aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak mau kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya. Seandainya aku kehilangan dirimu lagi, bahkan hanya dalam waktu 1 hari itu lebih buruk daripada ratusan tahun yang aku lewati tanpa ada dirimu.


"Kau! tuan yang tidak tau sopan santun! lepaskan aku!" seru Violet pada Leon yang masih memegang erat pinggulnya itu.


Leon tersentak kaget begitu mendengar Violet memanggilnya dengan sebutan tidak tahu sopan santun. Refleks ia menjatuhkan Violet ke tanah.


BRUGH


"Aduh! lepaskan boleh saja lepaskan, tapi jangan sampai menjatuhkanku ke tanah juga!" gerutu Violet kesal pada Leon yang membuatnya jatuh ke tanah dengan posisi terduduk.


Eh? kenapa dia malah melamun?


"Pak Presdir? apa anda baik-baik saja?" Violet berusaha menyadarkan Leon dari lamunannya, namun pria itu masih tenggelam dalam lamunannya sendiri.


Dengan mata sedihnya, dia teringat wanita berambut putih yang selalu ada di dalam mimpinya.


#FLASHBACK


Ratusan tahun yang lalu, pertemuan pertama Camellia dan Kainer.


BUK


" Jadi nama mu Claude ya?" tanya seorang pria tampan berambut keperakan sama seperti rambut Camelia. Dia adalah Kainer sebelum menjadi iblis


Siapa pria tampan ini? aku pikir hanya aku, ibu dan paman Derrick saja yang memiliki rambut berwarna perak di dunia ini. Karena ayah pernah bilang kalau rambut ku ini unik.


Pria itu memegang tangan Camelia, dan menahan nya. " Kau mau kabur lagi tuan Claude?" tanya Kainer dengan seringai di wajahnya


Setelah mengambil alih pekerjaan ku, membuat ku menganggur, dan menjadi terkenal di masyarakat bawah. Akhirnya aku bisa menemukan master bertopeng yang meresahkan itu. Aku tidak akan melepaskan nya. batin Kainer kesal pada Camellia yang menjadi master bertopeng.


"Lepaskan aku tuan tidak tau sopan santun !" seru Camelia kesal, sambil berusaha melepaskan dirinya dari Kainer.


Sial! kuat sekali pria ini!


"Wah.. wah, kita baru pertama kali bertemu dan kau sudah mempunyai julukan untukku. Wahai master bertopeng. Saat nya kau mempertanggungjawabkan perbuatan mu " kata pria itu dengan senyuman dingin di wajahnya.


"Perbuatan apa?" tanya Camelia dengan wajah polosnya yang ditutup topeng


"Kau kan yang sudah menculik anak-anak itu dan membawanya kesini? aku tau.. menjadi pahlawan itu adalah kedok mu kan?" tanya pria itu tajam dan menuduh Camellia.


"Selain tidak sopan, kau juga suka menuduh ya. Tanya saja mereka, apa aku berkomplot dengan mereka atau tidak?" tanya Camelia sinis dan tidak suka dituduh oleh Kainer.


"Hey! apa dia berkomplot dengan kalian untuk menculik anak-anak?" tanya pria tampan itu sambil melirik ke arah dua pria yang terikat oleh tali.


"I-iya dia berkomplot dengan kami ! dia ketuanya !" ujar salah satu pria itu berbohong


" Apa? kalian benar-benar kurang ajar ya, sudah untung ku ampuni nyawa kalian... tapi kalian malah ..Woah..woah.. aku merasa di khianati" Camelia kesal dengan kedua pria yang ia tangkap itu. Dia menyesal karena sudah mengampuni pria yang sudah menculik anak itu.


Tak lama kemudian, beberapa prajurit menangkap kedua pria penculik itu dan membebaskan anak-anak lain yang diculik dan dijual oleh seseorang yang bernama Tuan Lucas yang juga adalah ketua sindikat penculikan dan penjualan anak di negeri Fostiarus. Dan tuan Lucas itu adalah salah satu pria yang ditangkap oleh Camelia.


"Ikut aku, kau harus diintrogasi master bertopeng!" ujar Kainer sambil menarik tangan Camellia dengan keras.


Kainer Romanov Ascart adalah duke muda sekaligus jenius pedang yang baru saja lulus dari akademi pada usia 16 tahun. Ia sudah mengikuti berbagai macam peperangan, dan kini ia ditugaskan menjaga keamanan masyarakat.


Camelia celingukan mencari cari celah untuk kabur, tapi tangan Kainer memegangnya dengan kuat dan erat.


Gawat kalau identitas ku sebagai putri terbongkar. Putra mahkota dan paman Gustaf akan menghukum ku. Bisa jadi masalah besar. Aku harus kabur.


"Lihat itu, ada kambing terbang !" ujar Camelia dengan wajah panik dan tangannya menunjuk ke langit.


Tangan Kainer secara otomatis melepaskan tangan Camelia yang tadi ia pegang ,dan melihat ke arah langit. Begitu pula dengan para pasukannya yang ada disana. Mereka tertipu oleh akal cerdik Camelia.


HAP, HAP, HAP!


Gadis itu melompat ke atas gedung dengan mudah, lalu tersenyum mengejek pada Kainer dan bawahannya.


"Dasar idiot, sudah kubilang. Aku bukan penjahat. Aku akan menagih permintaan maaf mu, saat kita bertemu lagi tuan yang tidak tau sopan santun!!" Camelia tersenyum tipis sambil menunjukkan jari tengah pada Kainer, gadis itu mengejeknya.


Kainer terpana melihat Camelia, bibirnya yang merah itu sudah menggoda nya. Seketika akal sehatnya kembali "Sialan, dia itu kan laki-laki" pekik nya sebal


"Hey ! apa kau monyet atau kau kelinci? bagaimana bisa di melompat-lompat seperti itu? " tanya seorang prajurit keheranan


Camelia menghilang dengan cepat dari pandangan mereka. Kainer memegang sapu tangan milik Camelia yang ia curi dari sakunya, sapu tangan yang terukir bunga Camelia di sana.


Mata yang berwana biru itu, sangat indah. Kainer tersenyum sendiri melihat mata biru milik Camellia.


#END FLASHBACK


"Pak presdir? halo, pak? apa anda mendengar saya?"


Kenapa dia selalu melamun di depanku?


Kepala Leon menggeleng, dia tersadar dari lamunannya. Menyeka air mata yang menggenang di bawah matanya.


Leon sadarlah! kenapa kau seperti ini?


"Bapak menangis?" tanya Violet cemas melihat mata Leon yang basah dan mulai memerah.


Kenapa hatiku sedih melihat pak Presdir menangis?


"Si-siapa yang menangis?!" sanggahnya kesal


"Lalu kenapa mata bapak basah dan merah?" tanya Violet sambil menunjuk ke arah mata Leon yang berkaca-kaca.


"Mataku kelilipan. Sudahlah, kita cari tempat makan disekitar sini. Apa kau kuat berjalan?" tanya Leon pada Violet yang tadi perutnya sempat kesakitan.


"Saya bisa, tapi sepertinya saya harus pulang" Violet teringat pad ibu dan kakak nya yang ada di rumah.


Gawat! aku baru ingat kalau kakak dan ibu pasti mencari ku. Ponselku juga rusak, bagaimana aku bisa menghubungi mereka.


"Bagaimana bisa aku mengantar mu dalam kondisi seperti ini? aku bukan orang yang tidak bertanggungjawab. Kemalangan mu hari ini karena diriku. Kita makan dulu saja, apa kau suka fried chicken?" Leon melihat ke arah tempat makan ayam yang tak jauh dari klinik itu. Leon merasa tanggungjawab dengan keadaan Violet.


"Pak Presdir.. maafkan saya tapi sepertinya saya harus pulang" Violet menolak ajakan Leon


"Kenapa?"


"Kakak dan ibu saya akan mencari saya" Violet khawatir


Kakak dan ibu? aku harus memastikan orang seperti apa yang menjadi kakak dan ibunya di di kehidupan ini. Leon penasaran seperti apa sosok Kakak dan ibu Violet.


"Tinggal hubungi saja, apa susahnya?" kata Leon simple


"Ponsel ku kan rusak, bagaimana aku bisa meng.."


Presdir Maxton grup itu melempar ponselnya pada Violet. Dengan cepat Violet menangkap ponsel itu.


"Pak Presdir! anda melempar barang mahal seperti melempar sendal murah saja! huuhh.. hampir saja, kalau jatuh bagaimana?!" gerutu Violet yang tidak menyangka kalau Leon akan melempar ponselnya.


"Tinggal beli lagi, apa susahnya" jawab Leon menyombongkan dirinya yang punya banyak uang.


"Orang kaya memang bebas ya" Violet tersenyum tipis, lalu melihat ponsel Leon.


"Ya sudah, ayo hubungi kakak mu. Lalu kita pergi makan siang. Aku juga sudah lapar.." ucap Leon sambil memegang perutnya


"Ya, tapi kode ponselnya!" seru Violet pada Leon


Dengan mudahnya Leon membuka kunci ponselnya dengan sidik jari. Violet segera menelpon kakak nya itu, berharap agar kakak nya tidak marah.


Tut...


Tut...


Telpon itu masih berdering, tapi belum diangkat. Leon menatap Violet sesekali, mencoba untuk membaca pikiran nya. Namun tetap saja dia tidak bisa.


Kenapa kakak belum mengangkat nya? apa kakak sedang mencari ku?. batin Violet bertanya-tanya.


Berapa kali pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa membaca pikiran nya. Haihh... aku hanya bisa menebak dari raut wajahnya saja. batin Leon yang sangat ingin tau isi pikiran Violet.


"Halo.."


"Kakak!" Violet menyapa kakak nya di telpon


"Violet?! kau Violet??!" teriak Mike, "Kau ada dimana? dan ini nomor siapa? hey Violet! apa kau mau mati?! beraninya mematikan telpon mu?! kau tau betapa ibu sangat mencemaskan mu, dia bahkan sampai ingin menelpon polisi?!"


Violet mengorek-ngorek telinganya seolah kesakitan. Sakit sekali telingaku mendengar suara kakak! ya ampun!


Suara apa itu? kenapa keras sekali suaranya? batin Leon yang mendengar suara keras dari ponselnya. Leon mengerutkan dahinya melihat Violet.


"Hehe.. seperti nya ponsel bapak mahal sekali ya, sehingga suara nya terdengar kencang meski tidak di loud speaker" Violet menutup ponsel itu dan tersenyum pada Leon, dia malu karena suara kakak nya sangat kencang.


Pria itu hanya tersenyum dengan kata-kata Violet.


"Maafkan aku kak, aku akan jelaskan nanti saat di rumah ya" pinta Violet pada kakak nya


"Kau dimana, hah?! aku akan kesana!" seru Mike dengan suara yang marah


"Sebentar lagi aku pulang kak, aku makan siang dulu" jawab Violet lemah lembut


"Makan siang pada sore begini? dengan siapa kau makan siang? pria atau wanita?" tanya Mike dengan nada introgasi nya sebagai pengacara


Haihh.. nada introgasi ini lagi. batin Violet lelah dengan kakak nya yang overprotektif itu


"Violet? apa kau dengar aku?! atau jangan-jangan kau punya pacar dan kau tidak bilang padaku?!" teriak Mike pada Violet kesal


Leon menahan tawa mendengar suara dari ponselnya yang kencang itu. Sebenarnya mau suara Mike kencang atau tidak, Leon bisa mendengar nya.


Seperti nya kakak Violet sangat menyayanginya sampai marah-marah begini..Dia seperti putra mahkota Dimitri, atau mungkin pangeran Arthur? Aku jadi penasaran seperti apa wajahnya.


"Aku tidak punya pacar, aku sedang menjalankan tugas dari bos ku. Kakak, maaf aku akan jelaskan nanti saat aku pulang ya!"


Violet langsung menutup telponnya secara sepihak. Dia takut kalau terus meneruskan obrolan itu, pasti akan memanjang. Apalagi saat si brother complex itu bicara menggunakan nada introgasi nya, seolah dia adalah pelaku kejahatan. Wajah Violet langsung cemberut, lalu ia mengembalikan ponsel itu kembali pada pemilik nya.


"Kakak mu seperti nya sangat menyayangi mu, apa dia polisi? atau jaksa? hakim? pengacara?" tanya Leon menebak-nebak profesi Mike dari gaya bicaranya


"Bapak seperti peramal saja hehe, kakak saya adalah seorang pengacara" jawab Violet sambil tersenyum.


"Pekerjaan yang hebat. Oh ya, jadi apa kau tidak apa-apa? kita makan sekarang?" ajak Leon


Setelah ini, aku akan menemui kakak violet itu.


"Iya pak, ayo" ucap Violet sambil memegang perutnya, "Auch..!!!"


"Kenapa?" tanya Leon sambil memegang tangan Violet, matanya menatap cemas.


"Saya baik-baik saja pak" jawab Violet dengan senyuman yang dipaksakan.


Tanpa mereka sadari ada seorang dua orang wanita teman kantor Violet yang sedang melintas di jalan, melihat Leon bersama Violet. "Bukankah itu Violet? kenapa dia bisa berpegangan tangan pak Presdir?" tanya Sonya sambil melihat ke arah Violet dan Leon


"Benarkah? apa kau tidak salah lihat? masa Pak Leon bisa ada di pinggir jalan?" tanya Maysa sambil melihat ke pinggir jalan.


Mata Maysa terbuka lebar dan terbelalak melihat Violet dan Leon berjalan sambil bergandengan tangan. "Hah! ini benar-benar nyata? apa mereka berpacaran?!" Maysa tercengang tak percaya


"Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan pesta penyambutan karyawan semalam. Ternyata mereka pacaran, aku akan mengambil gambarnya!" Sonya mengambil ponselnya di dalam saku, dia hendak memotret Leon dan Violet.


Leon yang sedang berjalan bersama Violet, mendengar ucapan Sonya dan Maysa, Leon menggunakan kekuatan nya untuk menghancurkan ponsel Sonya. Sonya yang sedang berada di dalam mobil taksi, terkejut melihat ponselnya hancur tanpa sebab


****


Di dalam rumah makan fried chicken, Violet dan Leon makan disana. Violet heran karena Leon bersedia makan di tempat umum, padahal dia pernah mendengar gosip tentang Leon yang tidak pernah keluar kantor saat siang hari.


Saat sedang makan bersama, Violet terus menatap Leon dengan tatapan aneh, sebenarnya dia ingin bertanya pada Leon tentang rumor itu tapi dia ragu. Tatapan Violet,membuat Leon tidak nyaman, karena dia tidak bisa membaca pikiran Violet.


Apa yang dia pikirkan? mengapa aku tidak bisa membaca pikiran nya? kali ini aku tidak bisa menebak dari wajah.


"Kau kenapa? mau tanya apa?" tanya Leon sambil mengambil daging satu persatu dengan tangannya.


Violet menghentikan aktivitas makan nya, di melihat ke arah Leon, "Ah? ti-tidak pak!"


Tanpa sadar karena rasa penasaran ku ini, aku jadi bersikap tidak sopan. Padahal dia adalah Presdir ku, aku harus sopan.


"Katakan saja! jangan membuatku gila karena aku tidak bisa membaca mu!" ujar Leon yang sangat penasaran dengan raut wajah kesal


"Mem-membaca? membaca apa, pak?" tanya Violet dengan wajah bingungnya.


"Kau salah dengar! bilang saja apa yang mau kau tanyakan padaku, aku tau kau punya pertanyaan. Tatapan mu itu mengatakan segalanya" jelas Leon pada Violet.


"Pertanyaan saya mungkin terdengar tidak sopan, jadi saya tidak akan bilang" kata Violet jujur


Camellia, kau selalu jujur dan blak-blakan sama seperti dulu.


"Kau sudah membuatku penasaran, jadi kau harus bertanya!" seru Leon penasaran


"Sa-saya ingin bertanya apakah bapak benar-benar manusia?" tanya Violet ragu ragu


PRANG


Mata Leon membulat menatap ke arah Violet, dia tercengang mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.


...---***---...