
🍁🍁🍁
Kemarahan Kainer mulai meledak-ledak, ia menyemprot semua orang disana dengan pertanyaan sekaligus tuduhan. Siapa yang sudah membuat Camellia sampai tidak sadarkan diri seperti ini?
Saat Raja iblis itu mengamuk meminta penjelasan, tak satupun dari mereka yang bicara.
"Kenapa kalian diam saja?!! kalian ingin aku memotong-motong tubuh kalian!! kalian ingin masuk ke neraka mana?!!" teriak Kainer, yang bingung, marah, dan ketakutan melihat Camellia yang tidak sadarkan diri.
"Yang mulia! anda tenanglah dulu, bukankah lebih baik kita menolong dulu tuan putri. Kita bahkan belum tau apa yang terjadi pada tuan putri" ucap Gordon menyarankan agar Kainer menahan amarahnya lebih dulu
"Benar juga.. aku tidak berfikir panjang. Gordon, jangan biarkan satu orang pun keluar dari kastil iblis! Dan kau Keith, bawalah tabib manusia itu kemari!" ujar Kainer pada kedua anak buahnya
"Baik yang mulia!!!" jawab Gordon dan Keith bersamaan. Mereka pun langsung menghilang dalam sekejap mata untuk melaksanakan perintah dari Raja iblis.
Kainer bersama tabib iblis yang bernama Kara itu sedang bersama Camellia. Kara mencoba menekan racun yang ada di dalam tubuh Camellia.
"Kenapa tangannya sangat dingin? sebenarnya apa yang terjadi?? Kara, jelaskan padaku sekarang!" Kainer panik, ia menggenggam tangan Camellia yang terasa dingin.
"Saya tidak yakin ini racun apa, tapi dari gejala yang di tunjukkan oleh tubuh tuan putri. Saya yakin ini adalah racun dingin"
"Racun dingin??!" tanya Kainer dengan mata yang terbelalak.
Kainer tau benar apa itu racun dingin dan apa efeknya untuk seseorang yang terkena racun itu. Racun yang tidak mematikan, tapi akan membuat seseorang yang terkena racun itu memilih mati dari pada hidup dengan menahan rasa sakit ditubuhnya.
Menahan kedinginan pada tubuhnya, dan ketika kambuh orang yang terkena racun ini akan sangat menderita. Bagi bangsa iblis, racun ini sama sekali tidak berbahaya. Tapi untuk manusia. Racun ini sangat lah berbahaya, meski tidak mengancam nyawa.
"Kara, apa yang harus aku lakukan sekarang? cepat lakukan sesuatu agar dia cepat sadar!" ujar Kainer
"Saya sudah coba kekuatan penyembuhan saya untuk menetralisir racun yang ada di dalam tubuhnya. Tapi, entah kenapa kekuatan penyembuhan saya tidak berhasil menembus tubuh tuan putri" jelas Kara kebingungan
"Lalu apakah dia akan tetap kedinginan seperti ini?!! apa kau akan diam saja?!!" teriak Kainer marah-marah dan panik
"Yang mulia saya harap anda tenang dulu, sambil menunggu tabib manusia yang akan datang. Yang mulia bisa melakukan sesuatu untuk tuan putri" jelas Kara sambil melihat ke arah Camellia yang sedang tertidur
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kainer
"Sa-saya tidak yakin harus mengatakan nya atau tidak.. cara ini adalah.." Kara gugup seperti malu-malu, entah ia malu karena apa.
"Kenapa kau tergagap begitu? cepat katakan atau kesabaran ku akan habis!!" Kainer menajamkan pandangannya ke arah Kara
Bagaimana mengatakan nya? kalau kepalaku dipenggal bagaimana?
"Yang mulia, bisa menghangatkan tubuh tuan putri" jawab Kara pada akhirnya
Greta dan Monia yang ada disana langsung tercekat saat mendengar kata menghangatkan tubuh.
"Menghangatkan tubuh??" bisik Monia pada Greta
"Menghangatkan tubuh, bukannya melakukan itu?" bisik Greta pada Monia. Kedua dayang setia Camellia itu tampak kebingungan.
"Ehem ehem, menghangatkan tubuh bagaimana maksudmu?" tanya Kainer kebingungan sendiri dengan kata-kata Kara yang bermaksud lain.
"Mak-maksud saya, yang mulia bisa menghangatkan tubuh tuan putri dengan..."
Greta, Monia dan Kainer menantikan kata selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Kara. Mereka bertiga kompak menatap Kara dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Jika demi menolong nyawamu, aku harus melakukan itu. Aku tidak apa-apa. Kainer juga seperti nya mulai berfikir yang bukan-bukan. Wajahnya tiba-tiba memerah tanpa sebab.
Apakah tuan putri dan yang mulia Raja akan melakukan nya??. Monia juga memikirkan hal yang sama.
"Mak-maksud saya, yang mulia Raja bisa memeluk tuan putri dan memberikan kehangatan untuk menetralisir racun dingin nya" jelas Kara
Kainer, Monia, dan Greta tampak kecewa mendengar penjelasan yang di katakan oleh Kara.
"Pelukan? baiklah, aku akan memeluknya" jawab Kainer sambil menatap Camellia
Syukurlah bukan melakukan itu, karena jika melakukan nya. Camellia pasti akan marah. Kainer dasar kau iblis! kenapa kau memikirkan hal itu?
"Ta-tapi yang mulia.."
"Apa lagi? jelaskan yang jelas sejelas jelasnya agar aku tidak salah paham lagi!!" ujar Kainer pada Kara yang selalu bicara gagap itu.
"Yang mulia harus menyatukan kulit dengan kulit, ha-harus bersentuhan"
"Kenapa kau masih gagap begitu? jelaskan yang benar!!" seru Kainer tegas pada Kara
"Ampuni saya yang mulia, maksud saya adalah yang mulia dan tuan putri harus berpelukan dan kulit kalian harus bertemu. Artinya adalah.. yang mulia dan tuan putri harus melepaskan baju lalu berpelukan!!" ucap Kara dengan suara lantang tanpa jeda
"Apa?!! apa maksudmu? aku dan Camellia harus berpelukan dalam keadaan telanjang??"tanya Kainer tercengang.
"Yang mulia maaf saya menyela, jika yang mulia keberatan biarkan saya saja yang melakukan nya" ucap Monia menawarkan diri
"A-apa kau bilang?!! beraninya kau mengatakan itu! tidak ada yang boleh memeluk Ellia ku, selain aku!"
"Yang mulia tapi saya adalah wanita" jawab Monia
"Tidak boleh! meksi kau adalah wanita, kau tidak boleh melakukan itu! aku yang akan melakukan nya" kata Kainer sambil menatap Camellia yang masih terbaring tak sadarkan diri, dengan hati yang berdebar-debar.
"Kalau begitu, kami permisi dulu. Saya akan tunggu diluar, jika suhu tubuhnya menurun.. yang mulia mohon beritahukan pada saya" jelas Kara
"Yang mulia, apa perlu saya buka kan dulu baju tuan putri?" tanya Greta hati-hati
"Tidak perlu! kalian keluar lah!" Titah nya pada Kara, Greta dan Monia yang masih berada dalam ruangan itu. Perkataan Kainer tak bisa dibantah lagi, ketiga wanita itu pun keluar dari kamar Camellia.
Mereka menutup pintu rapat-rapat, lalu Kainer memasang sihir pembatas agar tidak ada yang bisa masuk ke kamar itu. Kainer melihat Camelia dengan wajah yang malu-malu.
"Camellia, maafkan aku.. tidak apa-apa kan aku yang membuka bajumu? aku janji tidak akan melakukan apapun selain memelukmu. Aku tidak mau orang lain menyentuh tubuhmu. Tak apa kan? aku juga akan jadi suamimu. Maafkan aku..." Kainer mendekati Camellia perlahan-lahan ia duduk di sudut ranjang.
GLEK
Kainer menelan saliva nya, ia bersiap-siap untuk membuka gaun yang dipakai oleh Camellia. Pelan-pelan Kainer membuka resleting gaun itu, ia bisa merasakan bahwa tubuh Camellia sangat dingin. Setelah berhasil membuka gaun yang dipakai oleh gadis itu, Kainer mulai membuka bajunya. Kini ia bertelanjang dada, bersiap-siap lah ia naik ke atas ranjang itu.
Kainer menatap Camellia dengan cemas, lalu memeluk nya dengan erat. Kainer menutup matanya dari hawa n*fsu yang mulai menggerogoti nya ketika melihat tubuh Camellia yang telanjang.
Kenapa Keith lama sekali? gerutu nya dalam hati
"Camellia cepatlah sadar! jangan buat aku khawatir dan jangan siksa aku seperti ini. Kau sungguh menggoda ku" Kainer memeluk gadis itu di dalam dekapan eratnya. Tubuh mereka bersentuhan, Kainer menyalurkan panas di tubuhnya untuk menurunkan suhu dingin pada tubuh Camellia.
...***...