
...🍂🍂🍂...
Theodore tercekat dan langsung menyeka air matanya, saat ia tau kalau Annelise lah gadis yang sedang menghiburnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu" Annelise menarik tangannya dari punggung Theodore
Annelise tau kalau Theodore tidak pernah menyukainya, tapi ia tidak bisa membenci orang yang tidak menyukainya. Hatinya sedih melihat Theodore yang bersedih karena Camellia.
Putera mahkota Ilios itu merasa tidak nyaman karena ia ketahuan menangis di depan Annelise. "Sial! kenapa aku menangis?"
"Kau tidak perlu malu, putra mahkota Theodore. Mau perempuan atau laki-laki, menangis bukanlah hal yang memalukan.Terkadang pria juga butuh menangis, bukan wanita saja yang bisa menangis" Annelise tersenyum menyemangati
Putra mahkota Theodore, melihatmu menangis seperti ini. Aku jadi percaya kalau kau sangat mencintai Lia. Cinta mu pasti sangat dalam untuknya.
"Tuan putri, apa kau sedang mengejekku?"
"Aku bermaksud menghibur mu, tapi kenapa kau malah menganggapnya begitu?" tanya Annelise. "Hem.. bolehkah aku duduk?"
"Silahkan" jawab Theodore singkat
Annelise duduk di samping Theodore, mereka pun memulai pembicaraan mereka. Annelise berusaha menghibur Theodore yang bersedih karena Camellia. Annelise tulus menghibur Theodore.
Mereka pun saling meminta maaf satu sama lain karena pernah bersikap tidak sopan. Terutama Theodore yang sudah mengatakan kata-kata kasar pada Annelise sebelumnya.
"Tidak usah meminta maaf, wajar jika putra mahkota Theodore berpikir seperti itu tentangku. Saat itu aku memang keterlaluan, aku cemburu pada Lia" jelas Annelise
"Cemburu? mengapa kau cemburu padanya?" tanya Theodore heran.
"Kenapa ya? karena banyak orang yang menyukainya"
"Hanya karena itu kau cemburu padanya? tuan putri kau memiliki segalanya yang tidak dimiliki nya. Keluarga yang lengkap, kau juga adalah seorang putri yang disanjung oleh semua orang, banyak orang yang menyukaimu di luar sana" jelas Theodore
Itu semua tidak penting, kalau kau tidak menyukaiku. Aku hanya ingin disukai olehmu. bibir Annelise mengerucut. Wajahnya kecut, dan galau.
"Kenapa malah diam saja?" tanya Theodore heran melihat Annelise yang tiba-tiba diam
"Tidak apa-apa. Percuma saja kalau aku disukai semua orang jika orang yang aku sukai tidak menyukaiku" Annelise tersenyum pahit melirik ke arah Theodore
"Apa ada seseorang yang kau sukai, tuan putri?" tanya Theodore
"Ada" jawab Annelise sambil berharap dalam hatinya kalau Theodore akan bertanya padanya siapa pria yang disukainya.
Theodore malah tidak bertanya lebih lanjut, ia diam saja karena tidak penasaran dengan siapa yang disukai oleh Annelise. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Camellia yang sekarang sudah tidak bersamanya. Hatinya cemas memikirkan Camellia dan pengalihan Gloria yang katanya melihat kematian dan penderitaan Camellia jika gadis itu berada di dunia iblis.
Annelise tersenyum pahit, tadinya ia ingin mengatakan perasaannya pada Theodore. Namun, ia mengurungkan niatnya itu. Mungkin bukan waktu yang tepat, aku akan mengatakannya di saat yang tepat nanti.
...🍀🍀🍀...
Kainer dan Camellia tiba di depan kastil iblis, disana banyak para iblis yang baru habis berperang. Iblis iblis itu menatap Camellia dengan tatapan tajam, seolah Camellia adalah tahanan.
Kenapa mereka menatapku begitu? sebelumnya mereka tidak pernah menatapku begini? Kenapa aku merasa seperti tahanan? Aku sudah tau kalau ini bukanlah tempatku.
Kainer melihat wajah Camellia yang sedih tanpa senyuman. Pria itu mencari cari apa yang membuat Camellia bersedih. Lalu, ia melihat semua pasukan iblis nya menatap Camellia dengan tatapan sinis dan tajam.
"Kalian mau mati ya?!" Kainer menatap iblis iblis itu dengan tatapan maut nya. "Berani menatap wanitaku seperti itu, kalian akan mati!" ancamnya
Para iblis itu menunduk hanya dengan satu kata dari Kainer. Jelas sekali kalau mereka semua tidak menerima keberadaan Camellia disana. Selain berasal dari bangsa manusia, Camellia juga adalah gadis yang menghentikan perang. Hal itu membuat para iblis marah padanya.
Hidupnya di dunia iblis seperti nya tidak akan mudah. Karena sekarang akan ada Zefanya dan ayahnya dari klan serigala yang tinggal juga di kastil itu bersama Camellia.
"Jangan khawatir, aku bersamamu" Kainer tersenyum sambil memegang tangan Camellia.
"Tanganmu masih terasa hangat, kau juga masih bisa tersenyum seperti ini." gumam Camellia heran
Aku akan membuatmu betah tinggal disini dan tidak akan meninggalkanku.
Saat berjalan di lorong menuju ke kamar Kainer. Camellia takjub melihat ada beberapa hal yang berbeda disana, tidak tampak suram sejak terakhir kali ia melihatnya. Ada banyak lampu berkelap-kelip disana bunga yang bertebaran berwarna-warni menghiasi kastil itu. Dekorasi di lorong itu persis dengan dekorasi yang ada di kerajaan Fostiarus.
"Apa kau suka dekorasinya?" tanya Kainer sambil tersenyum melihat Camellia yang sedang menengok kesana kemari memperhatikan sekeliling.
"Mirip dengan kastil istana Fostiarus" jawab Camellia
"Aku tanya, apa kau suka?" tanya Kainer dengan nada yang sedikit meninggi
Camellia terpana mendengar suara Kainer yang meninggi seperti bentakan untuknya. Seolah menginginkan jawaban yang baik dan dia menyukainya. Dalam sekejap sikap Kainer yang lembut berubah menjadi tajam.
"Kalau aku bilang aku tidak suka, apa yang akan kau lakukan?" tanya Camellia dengan tatapan yang sayu
"Kau benar-benar tidak suka dekorasinya?!" tanya Kainer dengan suara yang keras
"Ya, aku tidak suka karena mengingatkan ku pada rumah yang dihancurkan bangsa iblis. Dekorasinya hanya membuatku sedih" Tutur Camellia jujur
"Oh, jadi kau tidak suka ya?" Kainer tersenyum sinis
Tangan pria itu mengeluarkan api, ia membakar semua bunga, lampu berkelap-kelip yang ada disana dengan api itu. Wajahnya terlihat emosi, Camellia terkejut melihat sosoknya yang seperti itu.
WUSH
WUSH
BLARR
"Apa yang kau lakukan? kau membakar semuanya? kau sudah gila ya!" Camellia tercengang melihat Kainer begitu marah
"Kau kan bilang tidak suka" jawab Kainer dingin." Keith! Monia!! KEMARI!" teriak Kainer kepada Keith dan Monia dengan suara yang menggelegar.
Dengan cepat kedua orang kepercayaan di kastil iblis itu menghadap di depan Kainer setelah mendengar suara Kainer yang terdengar murka.
"Hamba menghadap yang mulia" ucap Keith dan Monia sama-sama membungkuk di depan Kainer
"Siapa Iblis bodoh yang sudah mendekorasi ruangan ini?" tanya Kainer
"Sa-saya.. yang mulia" jawab Monia
"Kau?!" Kainer melotot dan mencekik Monia tanpa perasaan iba apapun.
Rasa bersalah semakin menumpuk di hati Camellia, melihat Monia satu satunya iblis yang baik padanya diperlakukan seperti itu oleh Kainer karena dirinya.
"Kkeukkk. Kkeukkk.." Monia kesulitan bernapas
Keith terdiam dan tak berani bicara melihat kemarahan Kainer yang berapi-api. Ia takut kalau terkena imbasnya juga.
"Hentikan! aku mohon jangan lakukan itu, kenapa kau seperti ini?" tanya Camellia kebingungan dan panik
"Dia sudah membuat dekorasi ini dan membuatmu sedih. Dia harus mati!" seru Kainer yang mencengkram leher Monia semakin erat.
"Kkeukkk!!" Monia semakin kesakitan
"Hentikan! kumohon.. ini bukan salahnya.."Camellia memohon pada Kainer agar Monia di lepaskan
Mengapa Kainer menjadi seperti ini?
...---***---...