
...🍀🍀🍀...
Leon mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, mengapa dia bisa berada satu ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Otaknya sedang mencerna apa yang terjadi padanya dan Violet.
Leon kaget bukan main ketika melihat noda darah itu, dia mulai berfikir apakah semalam dia sudah menerobos pintu masuk itu? Leon panik, jika itu benar. Bisa-bisa Violet membencinya seperti Camellia di masa lalu. Belum selesai masalah yang satunya sudah muncul masalah yang lain.
Sial! gawat! apakah aku benar-benar telah menghancurkan prinsip Violet? matilah aku!
"Ughh" Violet terbangun, dia merasa tubuhnya remuk seperti terlindas truk. Semua badannya pegal-pegal, belum lagi tanda merah bertebaran banyak ditubuhnya. Leon melihat ke arah Violet dengan cemas.
"Se-selamat pagi" sapa Leon gugup, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Violet menajamkan pandangannya pada Leon, dia terlihat sangat marah.
Semalam dia benar-benar sudah.. semua ini bukan mimpi.. aku sudah ternoda.batin Violet sedih dan marah
Sambil memegang selimutnya, satu tangan Violet melayangkan pukulan nya pada wajah Leon.
PLAK
Anehnya Leon tidak terlihat kesakitan sama sekali, malah Violet yang merasa sakit. "Auw!!" rintih nya sambil melihat telapak tangan nya yang memerah
Apa aku memukul tembok? kenapa kulitnya keras sekali?
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leon sambil memegang tangan Violet. Leon merasa bersalah karena di kehidupan kali ini dia tidak bisa menjaga prinsip Camellia pada diri Violet.
"Diam kau pria bajingan! kau benar-benar br*ngsek!" gadis itu murka, dia mengumpat Leon sampai mengeluarkan kata-kata kasarnya.
Violet beranjak duduk di ranjang itu dan membungkus tubuhnya dengan memakai selimut. Dia melihat-lihat pakaiannya yang berserakan di lantai, dari mulai dalaman sampai baju kerjanya. Semuanya sudah robek dan tidak ada yang bisa di pakai lagi.
Violet bingung, dia harus segera pergi dari sana tapi dia tidak ada pakaian yang bisa dipakai.
"Bagaimana ini? bagaimana aku bisa pergi?" gumam Violet bingung
"Aku akan menyuruh Thomas membawakan pakaian wanita kemari, kau tidak usah cemas" ucap Leon sambil memakai celananya.
"... "Violet terlihat marah dan tidak menjawab pertanyaan Leon.
Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat begini? dia terlihat santai. batin Violet kesal sekali dengan Leon
Dia pasti marah? minta maaf saja seperti nya tidak akan cukup. Baiklah, aku hanya tinggal bertanggungjawab saja padanya. Mungkin ini cara dari Tuhan agar aku bisa menikah dengannya. pikir Leon dalam hatinya
BRUK
Leon berlutut di depan gadis itu, dia mengatupkan kedua tangannya. "Violet aku minta maaf, tadi malam aku benar-benar berada dalam pengaruh alkohol..tapi sepertinya kita sudah melakukan itu. Jadi, aku pasti akan bertanggungjawab"
"Semudah itu? kau pikir aku akan membiarkan mu bertanggungjawab??!" Violet meledak
"Kau tidak mau aku bertanggungjawab? aku sudah merusak prinsip mu! bukankah kau.."
"Untuk apa aku meminta pertanggungjawaban pada pria yang memiliki wanita lain di hatinya" kata Violet sinis, dia sakit hati karena semalam saat melakukan itu dengan nya. Leon memanggil nama gadis lain yaitu nama Camellia.
"Wanita lain? di hatiku? siapa maksudmu?" tanya Leon tak mengerti
Wanita lain? siapa maksud nya?. Leon bingung
"Maaf tapi aku tidak mau siapa wanita itu, kau sendiri yang paling tau" jawab Violet sinis, "Dan cepat kau suruh orang kemari untuk membawa pakaian, karena aku harus segera pergi bekerja" ucap Violet sambil duduk di ranjang itu dengan selimut di tubuhnya.
"Baiklah" jawab Leon patuh, dia merasa bersalah dan bertanya-tanya siapa wanita lain yang disebutkan oleh Violet. Leon pun menelpon Thomas, meminta sekretaris nya itu untuk membawakan sarapan pagi, juga pakaian wanita dan ********** secara diam-diam ke kantornya.
"Pak, saya sudah bawa pesanan yang bapak minta" Thomas senyum-senyum sendiri membawa kantong besar di tangannya.
KLAK
Leon membuka pintunya pelan-pelan, dia segera mengambil kantong itu dari tangan Thomas.
"Hey! kenapa kau masih berada disini? dan apa arti senyuman bodoh mu itu?" tanya Leon tak senang melihat raut wajah sekretaris nya itu
"Hem.. tidak pak, saya hanya ingin tau siapa wanita itu.. wanita yang sudah membuat bapak melepaskan keperjakaan bapak" Thomas bergumam pelan, dia tak bisa menahan rasa penasaran
"Kau juga tau siapa dia. Sudah ya! kerjakan tugasmu dan tolong absen kan Violet hari ini pada ketua tim nya. Hari ini dia tidak akan bekerja" titah Leon pada Thomas
Pikirannya mudah terbaca bahkan sebelum aku membacanya. batin Leon melihat ke arah Thomas dengan tatapan tajam.
"Ba-baik pak" jawab Thomas patuh dan setengah gugup
Violet? apa itu adalah nona Violet? hebat sekali dia bisa membuat pak Presdir yang dingin tergila-gila padanya. Thomas kagum pada Violet yang bisa meluluhkan hati dan tubuh presdir nya itu
"Jangan sampai ada yang tau hal ini! kalau ada yang tau berarti itu karena kau!" ancam Leon seraya menunjuk ke arah Thomas
"Tenang saja pak, ini akan menjadi rahasia sampai saya mati. Jika bapak meminta saya melakukannya" Thomas mengangguk-angguk patuh, dengan senyum lebar di bibirnya melihat tanda merah di tubuh Leon, dan bibir Leon yang bengkak.
Pikirannya sudah benar-benar melayang kemana-mana.
"Bagus" jawab Leon lalu menutup dan mengunci pintunya kembali. Thomas membalikkan badannya, dia tampak bahagia setelah melihat presdirnya itu.
"Akhirnya presdir ku yang sudah menjomblo lama itu berbuka puasa juga" Thomas sangat bahagia dengan kebahagiaan Leon.
Dengan deg degan Leon menunggu Violet yang masih berada di kamar mandi. Violet keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian lengkap.
Wajah gadis itu masih tampak marah pada Leon. Dia tidak banyak bicara seperti biasanya atau tersenyum, wajahnya tampak dingin. Leon takut melihatnya, saat ini Violet mengingatkan nya seperti Camellia di masa lalu. Saat Camellia marah padanya, ketika Camellia tau identitas Kainer sebagai iblis.
"Violet.. aku benar-benar akan bertanggungjawab, aku sungguh akan melakukan nya. Aku sudah ada niat ingin menikahi mu" jelas Leon bersungguh-sungguh pada Violet
"Saya sudah bilang kan tidak usah! lupakan saja semua yang terjadi tadi malam" kata Violet sambil menahan tangisnya. Dia sakit hati dengan nama Camellia itu.
"Violet, kenapa kau seperti ini? jelaskan padaku kenapa kau menolak ku lagi-lagi?" tanya Leon sambil memegang tangan Violet, menatapnya penuh rasa penasaran.
"Dengan mudahnya kau memperkosa ku, lalu mengatakan ingin menikah denganku seolah pernikahan itu adalah permainan! padahal kau sendiri memiliki wanita lain di hatimu, aku tau kau adalah orang kaya, kau juga tampan.. tapi kau jangan mempermainkan ku seperti ini! aku benar-benar tidak suka!" amarah Violet meledak
"Wanita siapa yang kau maksud? siapa? katakan siapa namanya?!"
"Kau menyebutnya semalam! saat kau melakukan itu padaku, masa kau tidak ingat?" tanya balik Violet
"Aku sungguh tidak ingat apa-apa, semalam..aku benar-benar lupa"
"Ya sudah kalau sudah lupa, maka lupakan saja kau sudah melakukan nya padaku!" seru Violet semakin marah
"Hey Violet! bagaimana bisa aku tau kalau kau tidak mengatakan nya padaku?" tanya Leon sambil menahan Violet keluar dari ruangan itu.
"Camellia!! kau menyebut namanya!" teriak Violet menjawab pertanyaan Leon
Leon bungkam, dia terpana mendengar nama itu bisa keluar dari mulut Violet.
...---***---...