
🍂🍂🍂
Keith dan Aludra sama-sama gugup ketika tubuh mereka saling bersentuhan. Keith merasakan ada getaran yang berbeda saat ia dekat dengan Aludra.
Ingin rasanya Keith membelai, memeluk, dan
mencium gadis cantik itu. Apakah ini naluri nya sebagai iblis? ataukah memang ada perasaan lain pada Aludra?
Namun, sayang sekali karena kedua tangannya terikat oleh tali sihir dan tidak bisa melakukan yang ia inginkan terhadap Aludra.
Ya Tuhan! apa yang ku lakukan? apa aku memeluk nya?. Aludra panik lalu menyingkirkan kedua tangannya, gadis itu berjalan mundur. Wajahnya memerah, hatinya berdebar tak karuan. Apa yang ia lakukan barusan membuat hatinya aneh.
Sial! kenapa aku ingin memeluk dan menciumnya? aku tidak pernah punya perasaan seperti ini pada wanita? apa ini yang namanya hasrat dan gairah? padahal selama ini aku hanya fokus menjerumuskan manusia ke jalan yang salah dan sama sekali tidak ada perasaan seperti ini? apalagi pada manusia.. batin Keith kebingungan dengan perasaan nya sendiri
"Pergilah dan jangan datang kemari lagi! atau kau akan mati kedinginan!" seru Keith pada Aludra mengingatkan nya.
"Aku tidak selemah itu, kau jangan khawatirkan aku" ucap Aludra sambil membereskan kotak obat yang dibawanya kesana.
"Cih! siapa juga yang mengkhawatirkan mu?!" Keith tersenyum tipis, menyangkal rasa khawatirnya itu.
"Baiklah kau mungkin tidak mengkhawatirkan ku tuan iblis, tapi aku khawatir padamu" ucap Aludra sambil tersenyum jujur
"A-apa yang kau bicarakan? cepat pergilah!" usir Keith pada Aludra
Perasaan ini.. seharusnya aku tidak memilikinya. Sebenarnya sejak kapan?
Tuan iblis, tenang saja aku akan membantu mu bebas dari sini. Aludra memikirkan Keith
Gadis itu pergi dari sana ditemani oleh Gordon. Mereka kembali ke istana Pragma.
Sementara itu di istana Fostiarus, Camellia masih menunggu Kainer yang belum juga menemuinya setelah 2 minggu tidak bertemu. Di malam yang dingin dan sunyi itu, Camellia berjalan di taman sendirian, dengan gaun tidur yang lumayan tipis. Rambut ny di ikat dengan pita berwarna merah, rambut perak itu semakin mempesona dibawah sinar bulan.
"Haahh.. ini sudah dua minggu dan dia belum menemui ku juga. Apa dia tidak merindukan aku? benar juga...disana kan baru dua hari jadi disana tidak lama. Oh ya, bagaimana dengan Greta, Monia dan Keith yang ada di penjara? apa mereka sudah bebas? aku yakin bukan mereka yang meracuniku" Camellia menggelengkan kepalanya, ia yakin kalau tiga orang itu tidak meracuni yang. Camellia merasa cemas pada Greta, Monia dan Keith.
Gadis cantik itu berjalan ke taman bunga matahari yang sering dikunjungi oleh Leticia dan Alexander. Taman itu juga dibuat oleh Leticia untuk menghidupkan istana Fostiarus yang sebelumnya suram karena aura si raja tiran.Taman yang cukup bersejarah, menjadi saksi kisah cinta orang tua nya.
Saat sedang asyik menikmati pemandangan malam, sebuah tangan membekap mulut nya dan menangkup tubuhnya.
"Hmphh!! umpphh!!" Camellia panik
Siapa yang membekap mulutku?! keterlaluan sekali!
Kemudian ia menggunakan sihir angin nya, membuat orang yang ada dibelakangnya itu jatuh terduduk di dekat nya.
WUSH~~~
"Lumayan juga kekuatan mu. Tapi tidak cukup untuk melawan iblis seperti ku" ucap pria berambut perak itu sambil berdiri di depan kekasihnya yang sudah dua minggu atau dua hari tak bertemu.
"Kau? seharusnya kau terpental jauh! bukan jatuh seperti itu saja?" Camellia berkacak pinggang, ia tampak kecewa karena serangannya hanya bisa membuat Kainer jatuh dan bukannya terpental jatuh
"Kau kecewa? kalau aku manusia biasa, mungkin aku sudah terpental seperti yang mau harapkan. Tapi, aku kan iblis" Kainer tersenyum bangga dengan kekuatannya
"Sayang sekali, aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Lebih baik kau pergi saja dari sini!" Camellia cemberut dan mengusir Kainer dari sana
Dia imut sekali kalau sedang marah. Kainer tersenyum melihat gadis nya yang cemberut.
"Sudah lama aku tidak berjumpa dengan mu, lalu kau malah mengusirku?" Kainer sedih
"Untuk apa kau kemari? ini sudah pulang, pergilah ke dunia mu sendiri!" gerutu Camellia sebal pada kekasihnya yang baru datang.
Kainer tersenyum melihat tingkat Camellia yang kekanak-kanakan, ia menggendong gadis itu sampai kakinya tidak menyentuh tanah.
"KYAA!! Kainer apa yang kau lakukan?!" tanya Camellia kaget dengan kedua tangan kuat Kainer menggendong nya sampai ke atas.
"Ellia aku merindukan mu, sangat merindukan mu.." ucap pria itu menatap Camellia dengan lembut.
"Benarkah? sayang sekali aku tidak rindu padamu" Camellia masih kesal pada Kainer
"Kau marah ya? karena aku terlambat menjemputmu?" Kainer duduk di kursi, ia menurunkan Camellia lalu mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Tubuh mereka berhadapan, tangan Kainer memegang pinggang Camellia.
"Aku tidak marah" Camellia memalingkan wajahnya.
"Pembohong!"
"Aku tidak bohong!" sangkal Camellia
"Lalu apa? yang sedang rindu yang bilangnya marah, apa yang bukannya pembohong?" tanya Kainer
"Kau semakin pandai berbicara. Huh!" Camellia ngambek
"Ellia, apa kau tidak rindu padaku?" tanya Kainer. Kedua tangan Kainer beralih membelai pipi lembut gadis cantik itu.
"Aku.."
"Aku duluan yang bilang! Ellia aku rindu padamu"
"Aku juga rindu" Camellia tersipu, ia mengakui bahwa dirinya memang rindu pada Kainer.
Tatapan Kainer mengarah pada mata cantik berwarna biru itu, tangannya menyentuh bibir Camellia dengan lembut. Tubuh Kainer memanas, rindu dan gejolak bir*hinya mulai membuncah. Dua hari tidak bertemu dengan Camellia, rasanya seperti ratusan tahun tidak bertemu.
Kedua pasang mata itu bertemu, memancarkan kerinduan dan cinta.
"Ellia, bolehkah aku?" Kainer menatap bibir Camellia
Camellia melingkarkan tangannya pada leher Kainer, ia membenamkan bibir cantiknya pada bibir panas milik Kainer. Raja iblis terkejut dengan tindakan kekasihnya, perlahan lahan Kainer menikmati pelepasan rindu mereka melalui satu tubuh.
"Haaahh..." Camellia menghela napas setelah berciuman dengan kekasihnya.
"Kau sangat agresif, ini jarang terjadi" Kainer tersenyum puas
"Apa kau tidak suka?" tanya Camellia dengan mata manja nya
"Camellia si gadis tangguh yang suka menendang dan memukul, aku tidak percaya kalau kau bisa melakukan ini. Mata manja dan genit" Kainer membelai pipi Camellia
"Lalu, kau tidak suka?"
"Aku suka, tapi kau hanya boleh menunjukkan wajah seperti ini padaku saja. Mata, bibir, hanya aku yang boleh melihatnya"
"Kau sangat posesif!"
"Kau tidak tau apa-apa. Aku posesif lebih dari yang kau kira, aku bahkan cemburu pada kakak mu yang menyentuh mu"
"Apa kau benar-benar cemburu? pada kakak ku sendiri?" tanya Camellia tak percaya
"Iya, aku juga cemburu pada pria yang menatapmu" Kainer membelai rambut perak milik Camellia
Kainer jadi teringat saat Theodore sedang bersama Camellia. Tiba-tiba saja wajahnya berubah jadi marah.
"Ada apa?"
Kenapa wajahnya memerah seperti kepiting rebus?
"Selain ciuman, apa dia melakukan hal yang lain lagi?" tanya Kainer
"Siapa?"
"Pria menyebalkan yang pernah menjadi tunangan palsu mu itu" Kainer enggan menyebutkan namanya, wajahnya masih tampak kesal
Apa dia sedang cemburu pada putra mahkota Theodore?.
"Oh.. dia. Sama sekali tidak terjadi apapun dan masalah ciuman itu kan tidak disengaja" jelas Camellia
"Sungguh! aku serius! apa kau tidak percaya pada prinsip ku?" tanya Camellia sambil tersenyum
"Kau percaya padamu, tapi aku tidak percaya padanya" Kainer memalingkan wajahnya
"Kalau kau percaya padaku, apapun ucapan ku bukannya kau harusnya setuju?" tanya gadis itu seraya membujuk kekasihnya
"Apapun yang kau katakan aku selalu percaya" Lagi-lagi mereka berpelukan.
🍀🍀🍀
Kainer dan Camellia menikmati malam dengan melihat sinar bulan. Ditengah-tengah percakapan, Camellia tiba-tiba membahas perkataan Kainer tentang tawaran hidup abadi. Gadis itu mengatakan keresahan nya, ia kepikiran terus dengan ucapan Kainer.
"Diluar dingin, masuklah lebih dulu. Aku akan menjemputmu besok pagi" Kainer beranjak dari tempat duduknya, ia menghindari pertanyaan Camellia.
"Kau selalu menghindar ketika aku bertanya ini! kau hanya perlu menjawab benar atau tidak! Kainer apa kau pernah berfikir untuk menjadikan iblis agar bisa hidup abadi bersamamu?" tanya Camellia sambil memegang erat tangan Kainer.
"Camellia, darimana datangnya pikiran mu itu? hidup abadi bukan hanya berarti harus menjadi iblis" ucap Kainer tegas
"Lalu apa? selain menjadi iblis, kehidupan abadi itu bisa didapatkan dengan cara apa? katakan Kai !" teriak Camellia kesal, ia ingin pertanyaan nya dijawab oleh Kainer.
"Itu..."
"Apa kau pernah berfikir untuk menjadikan ku bagian dari bangsa iblis?" tanya Camellia dengan wajah yang sedih.
Kainer hening tak menjawab, ia takut menjawab pertanyaan dari Camellia. Salah salah kata, Camellia mungkin akan marah bahkan membencinya.
"Kainer jawab aku? bukankah kita saling percaya? bukankah kita sudah saling memahami satu sama lain? kau harus jujur padaku. Benar.. atau tidak kalau kau pernah berfikir begitu?" Camellia menatap Kainer penuh pertanyaan
"Ya, aku memang pernah berfikir begitu. Tapi, aku tidak pernah berniat melakukan nya" jawab Kainer pada akhirnya.
"Jika kau pernah berfikir begitu maka kau berniat melakukannya!" teriak Camellia marah
"Kau marah padaku? tapi aku tidak akan melakukan nya! aku tidak mungkin mengubah takdir mu! sekalipun aku ingin disisi mu selamanya!" Kainer melihat kemarahan di wajah Camellia. Kainer sudah menduga kalau Camellia akan marah padanya jika tau niatnya menjadi kan Camellia iblis.
"Saintess benar, kau tidak pernah mencintaiku dengan tulus! kau hanya memenuhi obsesi mu!"
"Kalau aku hanya memenuhi obsesi ku! aku mungkin sudah tidur denganmu sejak lama, atau aku akan memaksamu nikah denganku. Tapi aku tidak begitu kan? aku masih menunggu mu sampai sekarang karena aku menghargai mu! aku tidak obsesif!!" teriak Kainer membentak kekasihnya itu
Akhirnya mereka jadi berdebat. Perdebatan yang cukup panjang. Dan hal itu membuat Camellia memutuskan tidak mau kembali ke dunia iblis bersama Kainer.
Kainer terpaksa mengeluarkan ancamannya untuk membunuh Keith karena dia terbukti sebagai orang yang meracuni Camellia.
Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Camellia terhadap perdebatan tentang hidup abadi. Akhirnya keesokan harinya Camellia bersama Kainer kembali ke dunia iblis.
WUSH~~~
"Yang mulia anda sudah tiba, tuan putri" Gordon menyambut kedatangan Camellia dan Kainer. Kainer menurunkan Camellia dari dekapan nya.
"Tuan Gordon dimana tuan Keith?" tanya Camellia terburu-buru
"Dia ada di dalam penjara, tuan putri" jawab Gordon
"Kainer, antar aku kesana!" ujarnya tegas
"Ya baiklah kau tenang dulu, kau baru saja sampai. Kau bahkan belum sarapan sebelum kemari" ucap Kainer cemas pada Camellia
"Bagaimana aku bisa tenang? kau mengurung memvonis hukuman mati pada abdi setia mu? apa kau sudah gila?!" Camellia menggerutu marah-marah pada Kainer yang tidak peduli pada Keith.
"Dia sudah terbukti meracuni mu dan dia memiliki kebencian padamu, tentu saja dia harus dihukum"
"Tidak semua yang terlihat di mata bisa jadi bukti, lagipula disini yang membenciku bukan hanya dia saja. Sudahlah ayo pergi temui dia!" Camellia berjalan cepat mendahului Kainer dan Gordon.
Baguslah, dalam sementara waktu Camellia akan melupakan tentang hidup abadi itu. batin Kainer bersyukur karena masalah Keith mengalihkan perhatiannya.
"Tunggu! dimana arah penjara nya? aku tidak tahu" Camellia nyengir dengan wajah polosnya
"PFut.." Gordon dan Kainer menahan tawa melihat Camellia yang berwajah lucu
Gordon, Kainer dan Camellia menemui Keith di penjara. Ketika mereka sampai di sana, Aludra menangis melihat Keith akan di hukum oleh algojo.
"Yang mulia Putri! tolong selamatkan tuan Keith!" pinta Aludra pada Camellia, untuk keselamatan Keith yang saat itu akan di eksekusi.
"Aludra! Kainer lakukan sesuatu!" Camellia meminta Kainer untuk mengampuni Keith
"Hentikan eksekusinya!!" seru Kainer pada algojo yang akan mengakhiri hidup Keith
Tepat saat Keith akan dipenggal oleh alat sihir milik Kainer, algojo itu menghentikan aksinya oleh satu kata dari Kainer..
Aludra merasa lega karena Keith tidak jadi di hukum mati. Keith terharu melihat Aludra menangis dan bahagia untuknya yang tidak jadi di hukum mati.
Tampaknya perasaan Aludra dan Keith sudah berjalan jauh. Mereka menjadi saling peduli satu sama lain, namun ada yang membatasi hubungan mereka. Yaitu fakta kalau mereka berasal dari dua bangsa berbeda, yang pada dasarnya tidak akan bersatu. Sama seperti hubungan Camellia dan Kainer.
Camellia lega karena Keith selamat dari hukuman. Sebaliknya ia malah memarahi Kainer karena sudah menghukum Keith.
"Bagaimana bisa kau menghukum orang kepercayaan mu seperti itu? kau sangat kejam ya!" Camelia duduk disudut ranjangnya dan menyilangkan tangan di dada, matanya menatap kesal ke arah Raja iblis
"Kau akan terus mengoceh berapa lama lagi? jawaban nya tetap sama, aku melakukan ini untukmu" Kainer sudah pusing dengan Camellia yang terus mengoceh padanya. Mengulang-ulang pertanyaan yang sama.
Kenapa dia menjadi sangat cerewet?
"Jadi sekarang kau marah padaku? aku sedang mengingatkan mu kembali ke jalan yang benar!"
"PFut.. jalan yang benar? sejak kapan iblis ke jalan yang benar? kau benar-benar ya.." Kainer menertawakan ucapan Camellia, lalu ia duduk di sisi Camellia
"Lagi-lagi kau menertawakan ku! kau selalu membuatku kesal akhir-akhir ini, sudahlah aku mau pulang saja!" gerutu Camellia kesal
"Hey hey.. sudah lah jangan marah-marah terus. Aku minta maaf, aku salah" Kainer membujuk Camellia dan memegang tangannya.
"Ya sudah kalau kau mengaku salah. Kelak di masa depan kau tidak boleh menyimpan rasa dendam atau membunuh orang seenaknya. Janji?" Camellia menunjukkan jari kelingking nya pada Kainer.
Bodoh! kau tidak tau apa pura-pura tidak tau? tugasku adalah menjerumuskan manusia ke dalam neraka dan membawa mereka ke jalan yang sesat. Membunuh orang sudah biasa dariku, tapi aku tidak akan membiarkan mu melihatku sosokku yang sebenarnya.
"Hey! ayo janji? tidak boleh ada pertumpahan darah, tidak boleh ada dendam?" tanya Camellia yang menanti janji kelingking nya dengan Kainer
"Oke, tapi kita harus baikan"
"Memangnya kita bertengkar?" tanya Camellia polos
"Kita berdebat sebelumnya" jawab Kainer
"Baiklah, karena kau sudah minta maaf dan memang tidak ada keinginan untuk menjadikan ku iblis. Aku maafkan" ucap Camellia tulus
"Sungguh??"
"Iya, ayo janji kelingking!" ajak Camellia
Asalkan kau tidak mengubah takdirku, aku akan baik-baik saja Kainer. Aku tidak akan marah.
Kainer menautkan jari kelingkingnya, sebagai tanda bahwa mereka sudah berjanji. Camellia tersenyum senang. Tiba-tiba saja Camellia memegang dada nya dan terlihat kesakitan.
"ARGH!! Aaahh.."
Dingin yang menusuk, dada ku sakit, kepalaku sakit!
"Ellia!!" teriak Kainer panik
...---***---...